Sejarah Kerajaan Cirebon

Sejarah Kerajaan Cirebon

Sejarah Kerajaan Cirebon

Sejarah Berdirinya Kerajaan Cirebon
Kerajaan Cirebon merupakan bagian dari administratif Jawa Barat. Cirebon didirikan pada 1 Sura 1445 M, oleh Pangeran Cakrabuana. Pada tahun 1479 M Pangeran Cakrabuana sebagai penguasa Cirebon yang bertempat di kraton Pakungwati menyerahkan kekuasaannya pada Sunan Gunung Jati. Sejak inilah Cirebon menjadi negara merdeka dan bercorak Islam.

B. Kondisi Sosial Budaya

Kondisi Sosial Kerajaan Cirebon tidak lepas dari pelabuhan karena pada mulanya Cirebon memang sebuah bandar pelabuhan. Dari sini tidak mengherankan juga kondisi sosial di Kerajaan Cirebon juga terdiri dari beberapa golongan. DI antara golongan yang ada, yaitu golongan raja beserta keluarga, golongan elite, golongan non elite, dan golongan budak.

Cirebon memiliki beberapa tradisi ataupun budaya dan kesenian yang sampai sampai saat ini masih terus berjalan dan masih terus dilakukan oleh masyarakatnya. Salah satunya adalah upacara tradisional Maulid Nabi Muhammad SAW yang ada sejak pemerintahan Pangeran Cakrabuana dan juga upacara Pajang Jimat.

 

Sumber: https://wisatalembang.co.id/

Macam – Macam Konflik Sosial

Macam – Macam Konflik Sosial

Macam – Macam Konflik Sosial

Munculnya konflik dikarenakan adanya perbedaan dan keragaman. Berdasarkan pernyataan tersebut, Indonesia adalah salah satu negara yang berpotensi konflik. Dapat kita lihat berita – berita di media massa, berbagai konflik terjadi di Indonesia baik konflik horizontal maupun vertikal. Konflik horizontal menunjuk pada konflik yang berkembang di antara anggota masyarakat. Konflik horizontal adalah konflik yang bernuansa suku, agama, ras dan antargolongan, seperti di Papua, Poso, Sambas, dan Sampit. Konflik vertikal adalah konflik yang terjadi antara masyarakat dengan negara. Umumnya konflik terjadi karena ketidakpuasan akan cara kerja pemerintah, seperti konflik dengan para buruh, konflik Aceh, serta daerah – daerah yang muncul gerakan separatisme. Namun, dalam kenyataannya ditemukan banyak konflik dengan bentuk dan jenis yang beragam.

1. Menurut Soerjono Soekanto

Soerjono Soekanto (1989) berusaha mengklasifikasikan bentuk dan jenis – jenis konflik tersebut. Menurutnya, konflik mempunyai beberapa bentuk khusus, yaitu sebagai berikut.

A. Konflik Pribadi
Konflik terjadi dalam diri seseorang terhadap orang lain. Umumnya konflik pribadi diawali perasaan tidak suka terhadap orang lain yang pada akhirnya melahirkan perasaan benci yang mendalam. Perasaan tersebut mendorong untuk memaki, menghina, bahkan memusnahkan pihak lawan. Pada dasarnya konflik pribadi sering terjadi dalam masyarakat. Misalnya individu yang terlibat hutang atau masalah pembagian warisan dalam keluarga.

B. Konflik Rasial
Konflik rasial umumnya terjadi di suatu negara yang memiliki keragaman suku dan ras. Lalu apa yang dimaksud dengan ras? Ras merupakan pengelompokan manusia berdasarkan ciri – ciri biologisnya, seperti bentuk muka, bentuk hidung, warna kulit, dan warna rambut. Secara umum, ras di dunia dikelompokkan menjadi lima ras, yaitu Australoid, mongoloid, Kaukasoid, Negroid dan ras – ras khusus. Hal ini berarti kehidupan dunia berpotensi munculnya konflik juga jika perbedaan antar ras dipertajam. Misalnya orang – orang kulit hitam dengan kulit putih akibat diskriminasi di Afrika.

C. Konflik Antarkelas Sosial
Kelas – kelas di masyarakat terjadi karena adanya sesuatu yang dihargai, seperti kekayaan, kehormatan, dan kekuasaaan. Semua itu menjadi dasar penempatan seseorang dalam kelas – kelas sosial, yaitu kelas sosial atas, menengah dan bawah. Seseorang yang memiliki kekayaan dan kekuasaan yang besar menempati posisi atas, sedangkan orang yang tidak memiliki kekayaan dan kekuasaan berada pada posisi bawah. Dari setiap kelas mengandung hak dan kewajiban serta kepentingan yang berbeda – beda. Jika perbedaan ini tidak dapat diatasi, maka situasi kondisi tersebut mampu memicu munculnya konflik rasial. Misalnya konflik antara buruh dengan pimpinan dalam sebuah perusahaan yang menuntut upah.

D. Konflik Politik Antargolongan
Dunia perpolitikan pun tidak lepas dari munculnya konflik sosial. Politik adalah cara bertindak dalam menghadapi atau menangani suatu masalah. Konflik politik terjadi karena setiap golongan di masyarakat melakukan politik yang berbeda – beda pada saat menghadapi suatu masalah yang sama. Perbedaan inilah yang menjadi peluang terjadinya konflik antargolongan terbuka lebar.

Salah satu contoh adalah undang – undang pornoaksi dan pornografi sedang direncanakan. Masyarakat Indonesia terbelah menjadi dua pemikiran, sehingga terjadi pertentangan antara kelompok masyarakat yang setuju dengan kelompok yang tidak menyetujuinya.

E. Konflik Bersifat Internasional
Konflk internasional biasanya terjadi karena perbedaan kepentingan yang menyangkut kedaulatan negara yang saling berkonflik. Akibat dari konflik ini adalah seluruh rakyat dalam suatu negara merasakannya. Pada umumnya, konflik internasional berlangsung dalam kurun waktu yang lama dan pada akhirnya menimbulkan perang antar bangsa. Misalnya konflik antara negara Irak dan Amerika Serikat yang melibatkan beberapa negara besar.

2. Menurut Mulyasa
Mulyasa (2003) membagi konflik berdasarkan tingkatannya menjadi enam, yaitu sebagai berikut.

A. Konflik Intrapersonal
Konflik intrapersonal yaitu konflik internal yang terjadi dalam diri seseorang. Konflik intrapersonal akan terjadi ketika individu harus emilih dua atau lebih tujuan yang saling bertentangan, dan bimbang mana yang harus dipilih untuk dilakukan. Misalnya, konflik antara tugas sekolah dengan acara pribadi. Konflik ini bisa diibaratkan seperti makan buah simalakama, dimakan salah tidak dimakan juga salah, dan kedua pilihan yang ada memiliki akibat yang seimbang. Konflik intrapersonal juga bisa disebabkan oleh tuntutan tugas yang melebihi kemampuan.

B. Konflik Interpersonal
Konflik interpersonal yaitu konflik yang terjadi antarindividu. Konflik yang terjadi ketika adanya perbedaan tentang isu tertentu, tindakan dan tujuan di mana hasil bersama sangat menentukan. Misalnya konflik antartenaga kependidikan dalam memilih mata pelajaran unggulan daerah.

C. Konflik Intragrup
Konflik intragrup yaitu konflik antara anggota dalam satu kelompok. Setiap kelompok dapat mengalami konflik substantif atau efektif. Konflik substantif terjadi karena adanya latar belakang keahlian yang berbeda, ketika anggota dari suatu komite menghasilkan kesimpulan yang berbeda atas data yang sama. Sedangkan konflik efektif terjadi karena tanggapan emosional terhadap suatu situasi konflik tersebut.
Sumber: https://pulauseribumurah.com/

Pada tanggal 20 November 1945 di pertempuran Ambarawa pecah pertempuran antara TKR di bawah pimpinan Mayor Sumarto dan pihak Sekutu

Pada tanggal 20 November 1945 di pertempuran Ambarawa pecah pertempuran antara TKR di bawah pimpinan Mayor Sumarto dan pihak Sekutu

Sejarah Pertempuran Ambarawa dan Isi Perjanjian Lengkap

Pertempuran Ambarawa pada tanggal 20 November berakhir tanggal 15 Desember 1945, antara pasukan TKR melawan pasukan inggris. Ambarawa merupakan kota yang terletak antara kota Semarang dan magelang, serta Semarang dan Salatiga. Peristiwa ini dilatarbelakangi oleh mendaratnya pasukan Sekutu dari Divisi India ke-23 di Semarang pada tanggal 20 oktober 1945. Pemerintah Indonesia memperkenankan mereka untuk mengurus tawanan perang yang berada di penjara Ambarawa dan Magelang.

Kedatangan pasukan Sekutu (Inggris) diikuti oleh pasukan NICA. Mereka mempersenjatai para bekas tawanan perang Eropa, sehingga pada tanggal 26 Oktober 1945 terjadi insiden di Magelang yang kemudian terjadi pertempuran antara pasukan TKR dengan pasukan Sekutu. Insiden berakhir setelah Presiden Soekarno dan Brigadir Jenderal Bethell datang ke Magelang pada tanggal 2 November 1945. Mereka mengadakan perundingan gencatan senjata dan memperoleh kata sepakat yang dituangkan da1am 12 pasal. Naskah persetujuan itu berisi antara lain:
Pihak Sekutu akan tetap menempatkan pasukannya di Magelang untuk melakukan kewajibannya melindungi dan mengurus evakuasi pasukan Sekutu yang ditawan pasukan Jepang (RAPWI) dan Palang Merah (Red Cross) yang menjadi bagian dari pasukan Inggris. Jumlah pasukan Sekutu dibatasi sesuai dengan tugasnya.
Jalan raya Ambarawa dan Magelang terbuka sebagai jalur lalu lintas Indonesia dan Sekutu.
Sekutu tidak akan mengakui aktivitas NICA dan badan-badan yang ada di bawahnya.
Terjadinya Pertempuran Ambarawa

Pertempuran Ambarawa

Pihak Sekutu temyata mengingkari janjinya. Pada tanggal 20 November 1945 di pertempuran Ambarawa pecah pertempuran antara TKR di bawah pimpinan Mayor Sumarto dan pihak Sekutu. Pada tanggal 21 November 1945, pasukan Sekutu yang berada di Magelang ditarik ke Ambarawa di bawah lindungan pesawat tempur. Namun, tanggal 22 November 1945 pertempuran berkobar di dalam kota dan pasukan Sekutu melakukan terhadap perkampungan di sekitar Ambarawa. Pasukan TKR di Ambarawa bersama dengan pasukan TKR dari Boyolali, Salatiga, dan Kartasura bertahan di kuburan Belanda, sehingga membentuk garis medan di sepanjang rel kereta api yang membelah kota Ambarawa.

Sedangkan dari arah Magelang pasukan TKR Divisi V/Purwokerto di bawah pimpinan Imam Androngi melakukan serangan fajar pada tanggal 21 November 1945. Serangan itu bertujuan untuk memukul mundur pasukan Sekutu yang bertahan di desa Pingit. Pasukan yang dipimpin oleh Imam Androngi herhasil menduduki desa Pingit dan melakukan perebutan terhadap desa-desa sekitarnya. Batalion Imam Androngi meneruskan gerakan pengejarannya. Kemudian Batalion Imam Androngi diperkuat tiga hatalion dari Yogyakarta, yaitu Batalion 10 di bawah pimpinan Mayor Soeharto, Batalion 8 di bawah pimpinan Mayor Sardjono, dan batalion Sugeng.

Akhirnya musuh terkepung, walaupun demikian, pasukan musuh mencoba untuk menerobos kepungan itu. Caranya adalah dengan melakukan gerakan melambung dan mengancam kedudukan pasukan TKR dengan menggunakan tank-tank dari arah belakang. Untuk mencegah jatuhnya korban, pasukan TKR mundur ke Bedono. Dengan bantuan Resimen Dua yang dipimpin oleh M. Sarbini, Batalion Polisi Istimewa yang dipimpin oleh Onie Sastroatmojo, dan batalion dari Yogyakarta mengakibatkan gerakan musuh berhasil ditahan di desa Jambu. Di desa Jambu, para komandan pasukan mengadakan rapat koordinasi yang dipimpin oleh Kolonel Holland Iskandar.

Rapat itu menghasilkan pembentukan komando yang disebut Markas Pimpinan Pertempuran, bertempat di Magelang. Sejak saat itu, Ambarawa dibagi atas empat sektor, yaitu sektor utara, sektor timur, sektor selatan, dan sektor barat. Kekuatan pasukan tempur disiagakan secara bergantian. Pada tanggal 26 November 1945, pimpinan pasukan dari Purwokerto Letnan Kolonel Isdiman gugur maka sejak saat itu Kolonel Sudirman Panglima Divisi V di Purwokerto mengambil alih pimpinan pasukan. Situasi pertempuran menguntungkan pasukan TKR.
Strategi Pertempuran Ambarawa
Musuh terusir dari Banyubiru pada tanggal 5 Desember 1945. Setelah mempelajari situasi pertempuran, pada tanggal 11 Desember 1945 Kolonel Sudirman mengambil prakarsa untuk mengumpulkan setiap komandan sektor. Dalam kesimpulannya dinyatakan bahwa musuh telah terjepit sehingga perlu dilaksanakan serangan yang terakhir. Rencana serangan disusun sebagai berikut.
Serangan dilakukan serentak dan mendadak dari semua sector.
Setiap komandan sektor memimpin pelaksanaan serangan.
Pasukan badan perjuangan (laskar) menjadi tenaga cadangan.
Hari serangan adalah 12 Desember 1945, pukul 04.30.
Akhir dari Pertempuran Ambarawa terjadi pada tanggal 12 Desember 1945 dini hari, pasukan TKR bergerak menuju sasarannya masing-masing. Dalam waktu setengah jam pasukan TKR berhasil mengepung pasukan musuh yang ada di dalam kota. Pertahanan musuh yang terkuat diperkirakan di Benteng Willem yang terletak di tengah-tengah kota Ambarawa. Kota Ambarawa dikepung selama empat hari empat malam. Musuh yang merasa kedudukannya terjepit berusaha keras untuk mundur dari medan pertempuran. Pada tanggal 15 Desember 1945, musuh meninggalkan kota Ambarawa dan mundur ke Semarang.

Pos-pos Terbaru

Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra

Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra

20 Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno Lengkap Candi Prasasti

Kerajaan Mataram Kuno (Kerajaan Medang) merupakan salah satu kerajaan terbesar yang berdiri pada abad ke-8 yang berdiri di Jawa Tengah, namun pada abad ke-10 kerajaan ini berpindah ke Jawa Timur. Peningggalan sejarah dari kerajaan ini tersebar di seluruh penjuru Jawa Tengah dan Timur berupa prasasti dan candi.

Mataram Kuno merupakan kerajaan bercorak hindu-budha yang dibawah kepemimpinan 2 dinasti (wangsa) berbeda yaitu: Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Selama ini para peneliti menggunakan beberapa prasasti peningggalan untuk mengetahui seluk beluk kerajaan Mataram Kuno beberapa prasasti yang terkenal diantaranya Prasasti Canggal, Prasasti Klura, Prasasti Kalasan, dan Prasasti Kedu.
Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno Dinasti Sanjaya
Prasasti Canggal (732 M) Gunung Wukir di Desa Canggal
Prasasti Mantyasih (907 M) dan Prasasti Wanua Tengah III (908 M)
Prasasti Mantyasih

Prasasti Mantyasih

Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno Dinasti Syailendra
Prasasti Sojomerto, di Desa Sojomerto, Kec Reban, Kabupaten Batang
Prasasti Sangkhara, di Sragen
Prasasti Kalasan, di kec Kalasan, Sleman
Prasasti Klurak, di Desa Kelurak, di utara Kompleks Percandian Prambanan
Prasasti Ratu Boko (792 M) Yogyakarta
Prasasti Sojomerto
Prasasti Sojomerto
Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno Berupa Candi
Selain prasasti kerajaan ini juga memiliki peninggalan berupa candi dengan jumlah yang cukup banyak dan tersebar di pulau Jawa.
Candi Mataram Hindu
Candi Gatutkaca, Candi Bima, Candi Dwarawati, Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Puntadewa, Candi Sembrada, Candi Srikandi, Candi Gedong Songo.

Candi Gedong Songo
Candi Gedong Songo
Candi Mataram Budha
Candi Sari, Candi Mendut, Candi Sewu, Candi Pawon, Candi Borobudur.

SUmber: https://astalift.co.id/

Salah satu bagian dari kerajaan galuh yang dibagi menjadi dua tersebut merupakan cikal bakal kerajaan pajajaran

Salah satu bagian dari kerajaan galuh yang dibagi menjadi dua tersebut merupakan cikal bakal kerajaan pajajaran

Materi Lengkap Sejarah Kerajaan Pajajaran

Menurut beberapa sumber, Sejarah Kerajaan Pajajaran dimulai pada tahun 923 masehi. Pada tahun tersebut, Kerajaan Pajajaran didirikan oleh Sri Jayabhupati. Kisah pendirian tersebut dijelaskan dalam sebuah prasasti bernama Sanghyang Tapak yang ditemukan di kampung Pangcalikan dan Bantarmuncang, Sukabumi. Namun begitu, ada versi lain yang menceritakan tentang Kerajaan Pajajaran, sebab keberadaan kerajaan ini memang hingga saat ini menjadi misteri, sebab ada kabar yang mengatakan bahwa beberapa waktu setelah didirikan, kerajaan tersebut menghilang tanpa jejak.

Versi lain yang menceritakan tentang kerajaan pajajaran menyebutkan bahwa keberadaan kerajaan tersebut dimulai pada tahun 1475 masehi, yaitu pada saat setelah wafatnya Wastu Kencana. Keberadaan kerajaan pajajaran ini sangat berkaitan dengan kerajaan galuh, sebab dalam sejarahnya, kerajaan galuh dibagi menjadi dua setelah perginya Rahyang Wastu Kencana, Dewa Niskala, dan juga Prabu Susuktunggal.

Salah satu bagian dari kerajaan galuh yang dibagi menjadi dua tersebut merupakan cikal bakal kerajaan pajajaran. Tepatnya kerajaan yang berada di Bogor dan dalam kekuasaan pemerintahan Prabu Susuktunggal. Sedangkan kerajaan yang lainnya adalah kerajaan galuh yang mencakup Parahyangan.

Sejarah Kerajaan Pajajaran dimulai dari beberapa kerajaan terdahulu, seperti kerajaan tarumanegara, kerajaan sunda, kerajaan galuh, serta kawali. Jika dirunut, sebenarnya kerajaan kerajaan tersebut saling berkaitan. Dan keberadaan kerajaan pajajaran adalah kelanjutan dari kerajaan kerajaan tersebut.

Sumber sumber yang ditemukan menunjukkan bahwa beberapa raja yang pernah memimpin kerajaan pajajaran dapat ditelusuri. Beberapa sumber yang dapat menyebutkan nama nama raja yang pernah berkuasa di kerajaan pajajaran adalah naskah babad pajajaran, carita waruga guru, dan carita parahyangan. Sumber yang lain bahkan menyebutkan bahwa kerajaan pajajaran beribukota di wilayah Pakuan.

Sejarah Kerajaan Pajajaran sebenarnya sangat panjang. Beberapa nama kerajaan pendahulu yang disebutkan di atas sebenarnya belumlah semuanya. Namun, karena tidak ditemukan sumber sejarah yang benar benar mendukung, maka ulasan mengenai kerajaan kerajaan pendahulu yang jauh lebih tua sangat minim. Selain itu, misteri hilangan kerajaan pajajaran bagaikan ditelan bumi, hingga kini masih terus ditelusuri oleh para ahli dan memang belum ada jawaban pasti yang bisa menjelaskannya.

Hilangnya Kerajaan Pajajaran

Tepatnya, kerajaan pajajaran hilang pada tahun 1597 masehi. Beberapa sumber menyebutkan bahwa kerajaan tersebut menghilang atau hancur akibat diserang oleh kerajaan lain. Namun, tentang kerajaan apa yang menyerang kerajaan pajajaran saat itu, tak banyak yang mengulas. Hal ini juga masih menjadi pertanyaan yang belum dapat dijawab dengan tegas.

Beberapa sumber sempat menyebutkan bahwa kerajaan yang menyerang kerajaan pajajaran adalah kesultanan banten yang dipimpin oleh Maulana Yusuf. Namun, hal tersebut juga masih belum bisa diterima kebenarannya. Meskipun banyak pihak yang sudah mau mengakui hal tersebut sebagai pemecah misteri Sejarah Kerajaan Pajajaran yang hilang.

Sumber yang menyebu bahwa kesultanan bantenlah yang menyerang kerajaan pajajaran menunjukkan sebuah bukti peninggalan berupa singgahsana raja dari pakuan ke surasowan yang berada di banten. Dan hingga saat ini, keberadaan singgahsana yang berada di surasowan tersebutlah diyakini sebagai bukti bahwa bantenlah yang telah menghancurkan kerajaan pajajaran tanpa bekas.

Meski demikian, Sejarah Kerajaan Pajajaran tetap tak bisa dilupakan dari perjalanan panjang sejarah kerajaan kerajaan yang berada di nusantara. Ada banyak prasasti yang menunjukkan bahwa kerajaan pajajaran memang benar benar ada. Beberapa diantaranya adalah prasasti batu tulis yang ada di bogor, prasasti rakyan juru pengambat, prasasti astanagede, prasasti horren, dan lain lain.

SUmber: https://hopalleybrew.com/

 Suntikan dan Bocoran dalam perekonomian terbuka.

 Suntikan dan Bocoran dalam perekonomian terbuka.

 Suntikan dan Bocoran dalam perekonomian terbuka. Suntikan dan Bocoran dalam perekonomian terbuka.

I + G + X = S + T + M

Dalam pendekatan suntikan-bocoran, keseimbangan pendapatan nasional dalam perekonomian terbuka dicapai dalam keadaan berikut :

Uraian berikut menerangkan mengapa kesamaan tersebut perlu dicapai untuk menntukan keseimbangan pendapatan nasional dalam perekonomian terbuka.

Apabila kita perhatikan kembali gambar aliran pendapatan perekonomian terbuka, pada aliran 1 dasarnya menggambarkan pendapatan nasional (Y) yang telah dikurangi oleh pajak pendapatan perusahaan (aliran 2).Seterusnya, pendapatan nasional yang mengalir ke sektor rumah tangga dikurangi pula oleh pajak pendapatan individu (aliran 3).Sisa yang diperoleh merupakan pendapatan disposebel (Yd).

Maka dalam formula :

Yd = Y – Pajak perusahaan – pajak individu

Atau

Yd = Y – T

Seterusnya pendapatan disposebel tersebut digunakan untuk tujuan-tujuan berikut:

  1.             Untuk membeli barang buatan dalam negeri dan barang impor. Dalam  : C=Cdn+ M .
  2.             Untuk ditabung , yaitu sebanyak S

Berdasarkan kepada (i) dan (ii) maka Yd=C+S. oleh karena Yd= Y-T , maka dalam perekonomian terbuka berlaku persamaan berikut.

Y-T = C+S                        atau                 Y=C+S+T

Dimana C adalah dalam perekonomian rumah tangga untuk membeli barang dalam negeri dan barang impor .

Pos-pos Terbaru

KESEIMBANGAN PEREKONOMIAN TERBUKA

KESEIMBANGAN PEREKONOMIAN TERBUKA

KESEIMBANGAN PEREKONOMIAN TERBUKAKESEIMBANGAN PEREKONOMIAN TERBUKA

  1. Syarat keseimbangan perekonomian terbuka

Keseimbangan pendapatan nasional akan di capai pada keadaan dimana (i)penawaran agregat sama dengan pengeluaran agregat ,dan (i)suntikan sama dengan bocoran. Uraian tersebut akan menerangkan bagaimana keadaan tersebut tercapai dalam perekonomian terbuka.

  1. Penawaran dan pengeluaran agregat dalam perekonomian terbuka.

Dalam perekonomian terbuka barang dan jasa yang di perjualbelikan di dalam negeri terdiri dari 2 golongan barang : (i) yang di produksi di dalam negeri dan melalui pendapatn nasional (Y), demikian dalam perekonomian terbuka penawaran agregat atau AS terdiri dari pendapatan (Y) dan impor (M) dalam formula :

AS= Y+M

Uraian sebelum ini mengenai sirkulasi aliran pendapatan dalam pereknomian terbuka telah menunjukan bahwa pengeluaran agregat (AE) meliputi lima komponen berikut : pengeluaran rumah tangga keatas barang produksi dalam negeri (Cdn) , investasi swasta (I) ,pengeluaran pemerintah (G) .ekspor (X) dan pengeluaran keatas impor (M) .dalam persamaan :

Sumber :

https://deevalemon.co.id/

Folk sama artinya dengan kolektif (collectivity)

Folk sama artinya dengan kolektif (collectivity)

Fabel Lalu, Kini, dan Nanti

Folklore adalah kumpulan budaya ekspresif yang dimiliki oleh sekelompok orang tertentu. Ini mencakup tradisi yang sama dengan budaya, subkultur atau kelompok tersebut. Ini termasuk tradisi lisan seperti dongeng, ungkapan dan lelucon. Mereka termasuk budaya material, mulai dari gaya bangunan tradisional hingga mainan buatan tangan yang umum dilakukan kelompok ini. Cerita rakyat juga mencakup pengetahuan adat, bentuk dan ritual perayaan seperti Natal dan pernikahan, tarian rakyat dan ritus inisiasi. Masing-masing, baik secara tunggal atau kombinasi, dianggap sebagai artefak cerita rakyat. Sama pentingnya dengan bentuknya, Folklore juga mencakup transmisi artefak ini dari satu wilayah ke daerah lain atau dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Folklore yang berasal dari dua kata yaitu Folk dan Lore. Folk sama artinya dengan kolektif (collectivity). Menurut Dunles adalah sekelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok lainnya. Ciri-ciri pengenal fisik itu antara lain dapat berwujud: warna kulit yang sama, bentuk rambut yang sama, mata pencaharian yang sama, bahasa yang sama, taraf pendidikan yang sama, dan agama yang sama. Namun yang lebih penting lagi bahwa mereka telah memiliki suatu tradisi, yaitu suatu kebudayaan yang telah mereka warisi secara turun-temurun sedikitnya dua generasi yang dapat mereka akui sebagai milik bersama. Di samping itu bahwa mereka sadar akan identitas kelompok mereka. Jadi folk adalah sinonim dari kolektif, yang juga memiliki cirri-ciri pengenal fisik atau kebudayaan yang sama, serta mempunyai kesadaran kepribadian sebagai kesatuan masyarakat.

Lore adalah tradisi folk,

yaitu sebagai kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui suatu contoh yang disertai gerak isyarat atau alat bantu pengingat. Definisi folklore secara keseluruhan adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun-temurun, diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat bantu pengingat.(Sibarani, 2013)

Folklore mulai membedakan diri sebagai disiplin sendiri selama periode nasionalisme romantisisme di Eropa. Tokoh dalam perkembangan ini adalah Johann Gottfried von Herder, dalam tulisan-tulisannya pada tahun 1770-an mempresentasikan tradisi lisan sebagai proses organik yang berada di lokasi. Setelah negara-negara Jerman diserang oleh Napoleon Prancis, pendekatan Herder diadopsi oleh banyak orang Jerman yang mensistematisasikan Folklore yang tercatat dan menggunakannya dalam proses pembangunan bangsa mereka. Proses ini dengan antusias ditiru oleh negara-negara yang lebih kecil seperti Finlandia, Estonia, dan Hungaria, yang sedang mencari kemerdekaan politik dari tetangga mereka yang dominan. (Noyes, 2012)

Dalam buku The Types of the Folktale, Anti Aarne dan Stith Thompson membagi dongeng dalam Folklore menjadi empat bagian (Danandjaya, 1991):
1. Dongeng binatang (animal tales)
2. Dongeng biasa (ordinary folktales)
3. Lelucon dan Anekdot (jokes & anecdote)
4. Dongeng Berumus (formula tales)

Dalam artikel ini akan dibahas lebih lanjut mengenai dongeng binatang atau yang biasa kita kenal dengan fabel. Dongeng binatang atau fabel adalah salah satu karya sastra yang menampilkan binatang, makhluk legendaris, tumbuhan, benda mati, atau kekuatan alam yang antropomorfis dengan kualitas manusia, seperti kemampuan untuk berbicara bahasa manusia dan yang menggambarkan atau mengarah pada pelajaran moral tertentu, yang pada akhirnya dapat ditambahkan secara eksplisit sebagai pepatah yang bernas.

Salah satu fabulis terkemuka zaman Yunani yang bernama Aesop seorang budak yang hidup pada masa 620 – 564 SM menjadi salah satu pioneer dalam penulisan fabel. Hasil karya Aesop berjumlah 725 seperti yang telah diungkapkan oleh Ben Edwin Perry yang telah mengindekskan Aesop Fabel dalam Perry Index. Sedangkan fable-fabel yang berkembang di Indonesia banyak sekali pengaruhnya dari kawasan India karena erat sekali dengan pengaruh Hindu dari abad VII-XIII. Snouck Hurgronje, seorang warga negara Belanda yang mendalami penelitian daerah di Aceh, menemukan naskah fabel yang ditulis oleh seorang Aceh yang belum diketahui namanya. Hal ini menunjukkan bahwa di Indonesia juga telah berkembang literasi penulisan fabel. (Madjid, 2014)

Pos-pos Terbaru

Ranke pernah berujar : “Untuk mencapai apa pun dalam sejarah ada tiga persyaratan:

Ranke pernah berujar : “Untuk mencapai apa pun dalam sejarah ada tiga persyaratan:

Leopold von Ranke

Leopold von Ranke (12 Desember 1795 – 23 Mei 1886) adalah salahsatu tokoh sejarah yang berpengaruh, dia dijuluki sebagai Bapak Sejarah Modern. Walau, tidak menciptakan catatan kaki, atau konsep sumber primer, penelitian arsipnya bersifat revolusioner dalam implikasinya.

Minat keilmuan Ranke pada awalnya bukanlah dalam bidang sejarah, melainkan dalam bidang yang menjadi jurusannya ketika masih kuliah yaitu ilmu bahasa, penterjemahan, dan penguraian teks-teks lama. Akan tetapi, bidang-bidang tersebut telah memberi landasan serta dorongan yang kuat untuk terjun dalam bidang sejarah.

Ranke pernah berujar : “Untuk mencapai apa pun dalam sejarah ada tiga persyaratan: pemahaman yang baik tentang orang, keberanian, dan kejujuran. Yang pertama, hanya untuk memahami hal-hal; yang kedua, tidak terkejut pada apa yang ditemukan di sana, dan yang ketiga, tidak menyembunyikan secara khusus, bahkan pada diri sendiri. Jadi, kualitas moral yang paling sederhana berlaku, bahkan dalam sains. ”

Buku-bukunya pada akhir abad 18 dan awal abad 19 seperti “Die deutschen Mächte und der Fürstenbund, 1871–72; Ursprung und Beginn der Revolutionskriege 1791 und 1792,(1875); Hardenberg und die Geschichte des preussischen Staates von 1793 bis 1813”, (1877) menunjukkan secara halus peristiwa-peristiwa politik yang rumit tetapi ia hanya membahas secara tidak langsung masalah-masalah pokok dari suatu peristiwa yang berubah. Buku-buku ini menunjukkan bias tertentu terhadap perubahan politik dan sosial, terutama munculnya gerakan radikal.

Buah Pemikiran

“Ranke mungkin adalah sejarawan paling penting untuk membentuk profesi sejarawan seperti yang muncul di Eropa dan Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Ia mampu menerapkan metode pengajaran yang berfokus pada penelitian arsip dan analisis dokumen sejarah. Membangun metode Göttingen School of History, Ranke menetapkan standar untuk banyak tulisan sejarah kemudian, memperkenalkan ide-ide seperti ketergantungan pada sumber-sumber primer (empirisme) dan penekanan pada sejarah narasi.

Sejarah dianggap sebagai proses kompleks “kehidupan historis,” yang mengasumsikan bentuk “spiritual” -nya yang paling efektif di negara-negara besar dan ketegangan mereka. Sejarawan, seobyektif mungkin, harus menggambarkan “bagaimana sebenarnya,” menjaga seluruh gambar dalam pikiran saat mengekstraksi esensi. Jadi, Ranke bukan seorang analis tetapi seorang historiografer “visual”. Menyadari keterbatasan yang dikenakan oleh waktu dan tempat pada setiap sejarawan, ia berusaha untuk mencapai obyektifitas maksimum terutama dengan mengidentifikasi dirinya tidak dengan “pesta” tetapi dengan negara. Namun karyanya menunjukkan bahwa kredibilitas intelektualnya memengaruhi pandangan politiknya.

Metode yang ia kembangkan ialah metode sejarah kritis. Hal itu sebagai bukti ketidakpuasan dengan apa yang dianggap sebagai buku sejarah yang hanya kumpulan fakta disatukan oleh sejarawan modern. Ranke menunjukan sedikit minat dalam pekerjaan sejarah modern sehingga ia memutuskan untuk menolak segala gambaran yang bersifat khayalan dalam karya-karya sejarah, ia hanya percaya pada fakta-fakta sejarah. Inilah yang membedakan penulisan sejarah ala Von Ranke dengan para pendahulunya.

Titik berat yang dijadikan pegangannya ialah fakta-fakta sejarah. Ia bersandar pada tradisi dari filologi, akan tetapi penekanannya hanya terhadap dokumen biasa dan sastra alam. Sejarah yang ia sajikan berdasarkan pada kenyataan yang benar-benar terjadi lebih menarik daripada sejarah yang diromantisir. Oleh karena itu, ia menolak khayalan-khayalan dalam karya sejarah.

Kritik sumber yang ia tonjolkan disebagian besar karyanya merupakan bukti bahwa sejarah bukan cerita semata, ia mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan sekitar memorialis sebagai pengamat dari tindakan yang ia uraikan.

Pergantian yang dia berikan untuk pengembangan ilmu sejarah memang memiliki pengaruh pada perkembangan ilmu-ilmu sosial di mana pandangannya merupakan faktor yang menentukan dalam “memprofesionalkan” sejarah.

Sejarah menjadi subjek akademis yang membutuhkan pelatihan khusus, dan penelitian arsip serta pengeditan bahan sumber menjadi bagian besar dari aktivitas sejarawan. Meskipun awalnya upaya semacam itu berfokus pada sumber untuk sejarah urusan luar negeri, mereka segera meluas ke aspek lain di masa lalu, seperti: sumber-sumber untuk perkembangan kelembagaan, ekonomi, dan sosial.

Dengan demikian, keilmuan historis telah menghasilkan materi yang signifikan untuk semua jenis penelitian sosial. Selain itu, dengan menekankan karakter khusus dan individu dari setiap periode masa lalu, Ranke secara implisit menyarankan keberadaan relativitas nilai-nilai dan membantu menghilangkan hambatan yang telah mencegah pemahaman budaya asing.

SUmber: https://digitalcamera.co.id/

PORI sebagai badan olahraga resmi di Indonesia

PORI sebagai badan olahraga resmi di Indonesia

PON I 1948 di Surakarta

Setelah dibentuk pada tahun 1947, Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) yang dibantu oleh Komite Olimpiade Republik Indonesia (KORI), keduanya telah dilebur dan saat ini menjadi KONI. Fungsinya mempersiapkan para atlet Indonesia untuk mengikuti Olimpiade Musim Panas XIV di London pada tahun 1948. Usaha Indonesia untuk mengikuti olimpiade pada saat itu menemui banyak kesulitan. PORI sebagai badan olahraga resmi di Indonesia pada saat itu belum diakui dan menjadi anggota Internasional Olympic Committee (IOC), sehingga para atlet yang akan dikirim tidak dapat diterima dan berpartisipasi dalam peristiwa olahraga sedunia tersebut.

Berawal dari PORI (saat ini KONI)

yakni Persatuan Olahraga Republik Indonesia yang mengirim sebuah surat permohonan untuk menjadi peserta di Olimpiade London pada tahun 1948, namun Surat jawaban dari International Olympic Comitee justru jatuh ditangan pemerintah Belanda di Jakarta, sehingga KORI saat ini (KOI) yang bertugas mengurus Olimpiade Indonesia tidak mendaptakan surat balasan tersebut. Jawaban yang harusnya oleh Indonesia memang masih sangat pahit yakni Indonesia belum dianggap bisa bergabung dalam ajang olahraga tersbesar dunia karena belum tergabung dalam PBB dan hanya mengundang Indonesia sebagai peserta peninjau.

Undangan sebagai peninjau (Observer) kemudian disambut hangat oleh Indonesia dengan membentuk sebuah delegasi Indonesia untuk Olimpiade London. Tim gabungan dari KORI dan PORI diutus oleh pihak Indonesia diantaranya adalah Sultan Hamengkubowono IX (Ketua Umum KORI), Letkol Azis Saleh (Wakil Ketua Bagian Atletik PORI), dan Mayor Maladi (Ketua bagian Sepakbola KORI).

Perjalanan Indonesia ke Inggris tidak berjalan dengan mulus, Belanda melakukan Blokade Politik dengan memberikan Paspor Belanda bukan Paspor Indonesia. Hal ini dilakukan Belanda dengan tujuan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Proklamasi Indonesia 3 tahun sebelumnya hanya sebuah isapan jempol (de Jure) dan secara de Facto tetap dalam kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.

Melalui masalah ini tercetuslah ide tandingan yang dimiliki oleh bung Karno yakni mengadakan pesta olahraga “tandingan” yang diberi nama PON. Para petinggi PORI kemudian mengadakan rapat darurat agar atlit Indonesia dapat bertanding di sebuah ajang dan hasilnya tercetuslah PON I yang jatuh di Solo. PON I adalah Pekan Olahraga Nasional pertama Indonesia yang diadakan di Kota Surakarta pada 9–12 September 1948. Tanggal pembukaannya, 9 September, kemudian diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Olahraga Nasional.

SUmber: https://cipaganti.co.id/