Faktor- faktor yang menentukan ekspor dan impor

Faktor- faktor yang menentukan ekspor dan imporFaktor- faktor yang menentukan ekspor dan impor

  1. Faktor- faktor yang menentukan ekspor

Suatu negara dapat mengekspor barang produksinya ke negara lain, apabila barang tersebut diperlukan oleh negara lain dan mereka tidak dapat memproduksi barang tersebut atau produksinya tidak dapat memenuhi keperluan dalam negeri.ekspor karet, kelapa sawit, petrolium dari beberapa negara asia tenggara berlaku oleh karena barang-barang tersenut dibeli oleh negara-negara yang tidak dapat memproduksinya. Sebaliknya pula, negara-negara Asia Tenggara mengimpor pesawat, dan berbagai jenis barang modal oleh karena mereka tidak dapat menghasilkan sendiri barang-barang tersebut.

Faktor yang lebih penting lagi adalah kemampuan  dari negara-negara tersebut untuk mengeluarkan barang- barang yang dapat bersaing dalam pasaran luar negeri. maksudnya, mutu dan harga barang yang diekspor tersebut haruslah sama baiknya dengan yang diperjual belikan di pasaran luar negeri.[3]

 

Pos-pos Terbaru

Komponen pengeluaran agregast

Komponen pengeluaran agregastKomponen pengeluaran agregast

Dalam ekonomi terbuka, pengeluaran agregat meliputi lima jenis pengeluaran :

  1. Pengeluaran konsumsi rumah tangga ke atas barang-barang yang dihasilkan di dalam negeri (Cdn)
  2. Investasi perusahaan (I) untuk menambah kapasitas sektor perusahaan menghasilkan barang dan jasa
  3. Pengeluaran pemerintah ke atas barang dan jasa yang diperoleh di dalam negeri (G)
  4. Ekspor, yaitu pembelian negara lain ke atas barang buatan perusahaan-perusahaan di dalam negeri (X)
  5. Barang impor, yaitu batang yang dibeli dari luar negeri (M)

Dengan demikian, komponen pengeluaran agregat dalam ekonomi terbuka adalah : pengeluaran rumah  tangga ke atas barang buatan dalam negeri, investasi, pengeluaran pemerintah, pengeluaran ke atas barang impor dan pengeluaran orang luar negeri ke atas barang buatan dalam negeri (ekspor). Pengeluaran tersebut (AE) dapat dinyatakan dengan menggunakan formula berikut:.

AE = Cdn + I + G + X + M

 

sumber :

http://blog.dinamika.ac.id/arya/2020/07/08/jasa-penulis-artikel/

Pengertian perekonomian empat sektor

Pengertian perekonomian empat sektorPengertian perekonomian empat sektor

Perekonomian terbuka atau perekonomian empat sektor adalah suatu sistem ekonomi yang melakukan kegiatan ekspor dan impor dengan negara-negara lain di dunia ini. Dalam perekonomian terbukan, sektor-sektornya dibedakan menjadi empat golongan yaitu: rumah tangga, perusahaan, pemerintah dan luar negeri. [1]

            Ekspor diartikan sebagai pengiriman dan penjualan barang-barang buatan dalam negeri ke negara-negara lain. Pengiriman ini akan menimbulkan aliran pengeluaran yang masuk ke sektor perusahaan. Dengan demikian pengeluaran agregat akan meningkat sebagai akibat dari kegiatan mengekspor barang dan jasa dan pada akhirnya keadaan ini akan menyebabkan peningkatan dalam pendapatan nasioanal.

            Impor merupakan pembelian dan pemasukan barang dari luar negeri ke dalam suatu perekonomian. Aliran barang ini akan menumbulkan aliran keluar atau bocoran dari aliran pengeluaran dari sektor rumah tangga ke sektor perusahaan. Aliran keluar atau bocoran ini pada akhirnya akan menurunkan pendapatan nasional yang dapat dicapai.

Dengan demikian, sejauh mana ekspor dan impor mempengaruhi keseimbangan pendapatan nasional tergantung kepada ekspor neto yaitu ekspor dikurangi impor. Apabila ekspor neto adalah positif, pengeluaran agregat dalam ekonomi akan bertambah. Keadaan ini akan meningkatkan pendapatan nasional dan kesempatan kerja..

 

Sumber :

http://dewi_marisa12u.staff.ipb.ac.id/2020/07/12/jasa-penulisan-artikel/

macam macam zalim

Zalim

a. Pengertian Aniaya / Zalim

Menurut bahasa kata aniaya sama dengan kata zalim yang artinya sewenang-wenang atau tidak adil. Seorang yang beriman kepada Allah dan memegang teguh prinsip keadilan, kesamaan derajat, tidak akan berbuat aniaya. Sebab ia sadar, bahwa kezaliman itu merupakan kegelapan yang akan menutup rapat hati orang yang melakukannya, sebagaimana diterangkan oleh Nabi Muhammad Saw di dalam hadis : “Jauhilah dan takutlah kamu berbuat zalim, sebab sesungguhnya kezaliman itu merupakan kegelapan di hari kiamat.” (HR Bukhari dan Muslim)
Lebih tegas lagi Nabi Muhammad saw menyatakan haramnya berbuat aniaya (berlaku zalim) dan harus dijauhi, karena ini adalah perintah Allah Swt. dan tidak perlu ditakwilkan dipikir lebih dalam lagi. Allah berrman:

Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh Maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan Barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, Maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabbmu Menganiaya hamba-hambaNya. (QS.Fushshilat [41] : 46)
Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa tidak mungkin Allah melakukan kezaliman atau aniaya kepada hamba-Nya. Allah adalah Maha Adil dan Maha Bijaksana. Karena itu keadilan Allah itu harus diikuti oleh manusia dengan berlaku adil terhadap yang lain. Janganlah sekali-kali manusia itu berlaku zalim atau aniaya kepada yang lain. Karena itu sangat dibenci oleh Allah Swt.
b. Contoh Perilaku Aniaya
Perilaku aniaya walaupun dilarang, tetapi masih saja kita melihat di tengah masyarakat adanya perilaku aniaya itu. Ini terjadi karena fondasi keimanan seseorang tidak dibina dan dijaga dengan baik. Di samping itu, perilaku aniaya bisa muncul karena ketidakmampuan diri menjauh dari godaan setan.
Perilaku aniaya dapat dicontohkan sebagai berikut:
1. Aniaya (zalim) terhadap diri sendiri. Zalim terhadap sendiri misalnya; sering melakukan perbuatan dosa, berzina, meminum-minuman keras, malas belajar, meninggalkan solat, dan sebagainya.
2. Aniaya (zalim) terhadap orang lain. Zalim terhadap orang lain misalnya; merusak lingkungan, mengganggu ketenangan orang lain, mengambil harta secara batil (merampok, mencuri, menipu) dan sebagainya.
3. Aniaya (zalim) terhadap Allah Swt. Zalim terhadap Allah Swt. misalnya; kufur, syirik (menyekutukan Allah), ingkar dan sebagainya..
c. Akibat Negatif Perbuatan Aniaya.
Aniaya akan mendatangkan akibat buruk bagi kehidupan, baik pribadi maupun masyarakat. Karena itu, aniaya adalah perbuatan yang harus kita hindari.
– Merusak persatuan dan persaudaraan.
– Merusak tatanan hidup di masyarakat.
– Menghilangkan akhlak atau sifat yang baik.
– Merugikan orang lain.
– Menghilangkan pahala amal perbuatan.
d. Hikmah Menghindari Aniaya
Melihat akibat negatif yang begitu besar dari perilaku aniaya, maka perilaku tersebut harus dihindari dengan sekuat-kuatnya. Islam mengajarkan agar pengikitnya melakukan perilaku terpuji. Kuncinya adalah keteguhan kita untuk berpegang kepada ajaran Islam. Sebab dengan menghindari aniaya maka akan memberikan hikmah yang besar antara lain:
1. Terwujudnya persatuan dan persaudaraan.
2. Terciptanya tatanan hidup yang baik di masyarakat.
3. Akan mendatangkan akhlak atau sifat yang baik.
4. Terciptanya kasih sayang antarsesama.
5. Akan mendapatkan pahala amal perbuatan.
6. Orang yang menghindari aniaya akan masuk ke dalam surga.

Pos-pos Terbaru

contoh sifat serakah

Tamak dan Serakah

a. Pengertian

Dalam bahasa Arab, serakah disebut tamak yang artinya sikap tak pernah merasa puas dengan yang sudah dicapai. Menurut istilah tamak adalah cinta kepada dunia (harta) terlalu berlebihan tanpa memperhatikan hukum haram yang mengakibatkan adanya dosa besar. Karena ketidakpuasannya itu, segala cara pun ditempuh. Serakah adalah salah satu dari penyakit hati. Mereka selalu menginginkan lebih banyak, tidak peduli apakah cara yang ditempuh itu dibenarkan oleh syariah atau tidak, tidak berpikir apakah harus mengorbankan kehormatan orang lain atau tidak. Yang penting, apa yang menjadi kebutuhan nafsu syahwatnya terpenuhi. Sikap serakah dilarang oleh Allah Swt.
b. Ciri-Ciri Tamak.
1. Tidak mensyukuri nikmat yang telah dimiliki
2. Selalu merasa kurang padahal ia telah banyak mendapat nikmat
3. Ingin memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain
4. Panjang angan-angan yaitu suka menghayal dan tidak realistis
5. Kikir, ia tidak mau hartanya berkurang sedikitpun
6. Kurang menghargai pemberian orang lain jika tidak sesuai keinginan
7. Terlalu mencintai harta yang dimiliki.
8. Terlalu semangat mencari harta tanpa memperhatikan waktu dan kondisi tubuh.
9. Semua perbuatannya selalu bertendensi pada materi
c. Bahaya Tamak
1. Orang yang tamak selalu merasa kurang dan tidak pandai bersyukur
2. Sifat tamak dapat menimbulkan rasa dengki, hasul dan permusuhan
3. Sifat tamak akan membutakan orang sehingga menghalalkan segala cara dalam meraih tujuannya.
4. Sifat tamak akan menjauhkan seseorang daria Allah Swt.
5. Sifat tamak membuat orang menjadi bakhil, karena takut hartanya berkurang
d. Cara Menghindari Tamak
1. Mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan
2. Membiasakan diri dengan sifat ikhlas dan rendah diri
3. Membiasakan diri dengan sifat pemurah dan jujur
4. Membiasakan hidup sederhana, hemat, qana’ah dan zuhud
5. Meminta pertolongan kepada Allah agar dijauhkan dari sifat serakah
6. Menghindari sifat iri jika melihat orang lain banyak harta
7. Sadar bahwa meteri hanya hiasan hidup dan perantara menuju akhirat


Sumber: https://rollingstone.co.id/jasa-penulis-artikel/

contoh soal tentang licik

MENGHINDARI AKHLAK TERCELA LICIK, TAMAK, ZALIM DAN DISKRIMINASI

Mencelakakan orang lain adalah ciri perbuatan licik Ada dua sifat yang dimiliki manusia sejak menginjak dewasa. Dua sifat itu adalah sifat terpuji dan tercela. jika ingin menjadi orang baik, sudah sepantasnya kita memiliki sifat terpuji. Memiliki sifat terpuji akan disayang Allah Swt. dan menjadi ahli surga. Sebaliknya, sifat tercela harus dijauhi karena dapat menjerumuskan kita pada perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain.
Dalam kehidupan sehari-hari manusia akan selalu berhubungan dengan manusia lainnya. Hal itu disebabkan kedudukan manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan. Dalam pergaulan, terdapat etika yang harus dipenuhi supaya pergaulan dapat berjalan dengan baik tanpa adanya permasalahan. Agama Islam mengajarkan kepada manusia untuk bertata krama dan menjauhi sikap-sikap yang tercela. Apabila manusia dapat menjalankan tuntutan itu, niscaya kehidupan masyarakat akan berjalan dengan baik.
Selanjutnya Anda pelajari uraian berikut ini dan Anda kembangkan dengan mencari materi tambahan dari sumber belajar lainnya

1. Licik

a. Pengertian Licik
Licik merupakan salah satu sifat negatif yang sangat membahayakan bagi diri sendiri maupun orang lain. Licik berarti banyak akal yang buruk, pandai menipu, culas, curang, dan licin.
b. Ciri-Ciri Orang Licik
Sikap licik sangat berbahaya, sehingga jangan sampai sifat tersebut ada pada diri kita dan kita juga harus waspada terhadap orang yang bersifat licik. Berikut ini ciri-ciri sifat licik:
– Tidak suka melihat orang lain bahagia.
– Bahagia melihat orang lain menderita.
– Berpikir Untuk Mencelakakan Orang Lain.
– Ingin Serba Jalan Pintas.
– Pandai menipu, untuk memuluskan siasatnya yang licin, orang yang licik akan suka menipu dan berbohong serta bersilat lidah.
c. Bahaya Sifat Buruk Bagi Orang Lain
1. Seringkali kita jumpai orang yang sikut sana-sikut sini untuk mencapai tujuannya. Demi memuaskan hawa nafsunya ia tidak segan-segan berbuat licik. Padahal keinginan bisa terwujud tanpa harus berbuat licik. Bagaimana pun licik adalah sikap yang tidak disukai oleh manusia manapun.

2. Licik membuat seseorang menjadi serakah. Orang yang licik nafsunya tidak pernah ada ujungnya. Ia berbuat seperti orang haus yang meminum air laut, Makin diminum makin haus.
3. Orang yang licik inginnya menjadi nomor satu, tidak peduli dengan kemampuannya yang tidak seberapa. Ia akan berusaha menyingkirkan orang yang bisa menghalangi ambisinya.
d. Bahaya orang licik Bagi Diri Sendiri
– Batinnya selalu resah dan gelisah. Hatinya tidak akan tenang.
– Hidupnya tidak berkah. Jika ia menafkahi keluarga dengan jalan licik lalu anak diberi makan yang tidak halal, maka akan menjadi daging
– Hidupnya penuh dengan tnah. Orang yang licik hidupnya penuh dengan cobaan.
– Dimanapun ia berada selalu mengalami cobaan. Fitnah akan datang dikala orang melihat apa yang ia dapat tidak dengan cara yang wajar.
– Ia penuh dengan dosa, Karena berbuat licik tidak akan diridhoi Allah Swt. dan dikutuk orang-orang.
– Akhir hidupnya Su’ul Khotimah


Sumber: https://pengajar.co.id/jasa-penulis-artikel/

mengapa kita harus beriman kepada hari akhir

Pengertian Iman Kepada Hari Akhir

Yaumul akhir atau hari akhir menurut bahasa adalah kehancuran atau kebangkitan. Sedangkan menurut istilah hari akhir adalah hari kehancuran alam semesta beserta seluruh isinya kemudian manusia akan dibangkitkan dari alam kuburnya untuk dimintai pertanggung jawaban atas semua amal perbuatannya selama di dunia ini.
Beriman kepada hari akhir adalah rukun ke lima dari rukun-rukun iman. Artinya ialah menyakini dengan pasti kebenaran setiap hal yang diberitakan oleh Allah SWT dalam kitab sucinya dan setiap hal yang diberitakan oleh Rasulnya SAW mulai dari apa yang akan terjadi sesudah mati, fitnah kubur, adzab dan nikmat kubur, dan apa yang terjadi sesudah itu seperti kebangkitan dari kubur, tempat berkumpul di akhirat (mahsyar), catatan amal (shuhuf), perhitungan (hisab), timbangan (mizan), telaga (haudh), titian (shirath), pertolongan (syafa’ah), surga dan neraka serta apa-apa yang dijanjikan Allah SWT bagi para penghuninya.[1]

B. Macam-Macam Hari Akhir dan Tanda-tandanya

Meskipun waktu terjadinya hari kiamat tidak ada yang mengetahuinya, akan tetapi Allah SWT memberitahukan kepada Rasulnya SAW tentang tanda-tanda kiamat tersebut. Kemudian Rasulullah SAW menyampaikan kepada ummatnya tentang tanda-tanda kiamat. Para ulama membaginya menjadi dua: (pertama) tanda-tanda kecil dan (kedua) tanda-tanda besar.[2]

1. Kiamat sughra atau kiamat kecil
Tanda-tanda kiamat kecil sangat banyak dan sudah terjadi sejak zaman dahulu dan akan terus terjadi. Diantaranya adalah wafatnya Nabi Muhammad SAW, munculnya banyak fitnah, munculnya fitnah dari arah timur (Iraq), munculnya orang yang mengaku sebagai Nabi, hilangnya amanah, diangkatnya ilmu dan merajalelanya kebodohan, banyaknya perzinaan, banyak orang yang minum khamr (minuman keras) dan merebaknya perjudian, masjid-masjid dihias, banyak bangunan yang tinggi, budak melahirkan anak tuannya, banyak pembunuhan, banyaknya kesyirikan, banyaknya orang yang memutuskan silaturahim, banyaknya orang bakhil, wafatnya para ulama dan orang-orang shalih, banyaknya wanita yang berpakaian telanjang, banyaknya bencana alam di dunia ini, dan lain-lain.
Banyak sekali dalil tentang hal ini, di antaranya sabda Rasulullah SAW:
“Perhatikanlah enam tanda-tanda hari kiamat: 1. Wafatku, 2. Penaklukan Baitul Maqdis, 3. Wabah kematian (penyakit yang menyerang hewan sehingga mati mendadak) yang menyerang kalian bagaikan wabah penyakit qu’ash yang menyerang kambing, 4. Melimpahnya harta hingga seseorang yang diberikan kepadanya 100 dinar, ia tidak rela menerimanya, 5. Timbulnya fitnah yang tidak meninggalkan satu rumah orang Arab pun melainkan pasti memasukinya, dan 6. Terjadinya perdamaian antara kalian dengan Bani Asfar (Bangsa Romawi), namun mereka melanggarnya dan mendatangi kalian dengan 80 kelompok besar pasukan. Setiap kelompok itu terdiri dari 12 ribu orang.”[3]

Pos-pos Terbaru

Hadis dalam bentuk hal-ihwal Nabi

Cara Nabi Menyampaikan Periwayatan Hadis

Cara-cara yang telah digunakan Nabi SAW dalam menyampaikan hadis kepada umatnya dapat diringkaskan sebagai berikut:

1. Hadis berupa sabda

ada kalanya Nabi menyatakan perintah kepada sahabat tertentu untuk menulisnya. Pada umumnya Nabi tidak menyertakan perintah tersebut. Juga, ada kalanya hadis dalam bentuk sabda itu dikemukakan Nabi karena sebab tertentu dan pada umumnya dikemukakan tidak karena sebab tertentu. Sabda Nabi ada kalanya dikemukakan di hadapan orang banyak dan ada pula yang dikemukakan dihadapan beberapa orang atau seorang saja.
2. Hadis berupa perbuatan
ada yang disampaikan oleh Nabi karena sebab tertentu, ada yang tanpa didahului oleh sebab tertentu, ada yang disampaikan di depan orang banyak dan ada pula yang disampaikan di hadapan orang-orang tertentu saja.
3. Hadis dalam bentuk taqrir
terbatas penyampaiannya. Sebab “kelahiran” taqrir Nabi berkaitan erat dengan peristiwa tertentu yang dilakukan oleh sahabat Nabi.
4. Hadis dalam bentuk hal-ihwal Nabi
sesungguhnya ia bukanlah merupakan aktivitas Nabi. Karenanya, Nabi dalam “menyampaikannya” bersifat pasif saja, pihak yang aktif adalah para sahabat Nabi, dalam arti sebagai “perekam” terhadap hal-ihwal Nabi tersebut.[4]
5. Pentahapan Periwayatan Hadis
Dari pengamatan dari sejumlah literatur, setidaknya ada tiga pentahapan yang telah dilalui, yang dapat member gambaran yang jelas bagaimana cara periwayatan memperoleh (menerima) dan menyampaikan hadis Nabi SAW, yaitu:
1) Periwayatan Hadis pada Zaman Nabi Saw.
2) Periwayatan Hadis pada Zaman Sahabat.
3) Periwayatan Hadis pada Zaman Sesudah Sahabat.

D. Periwayatan Hadis pada Zaman Nabi
Hadis yang diterima oleh sahabat cepat tersebar dimasyarakat. Hal itu karena para sahabat pada umumnya sangat berminat untuk memperoleh hadis Nabi SAW dan kemudian berminat menyampaikannya kepada orang lain. Hal demikian terbukti dari pengakuan sahabat sendiri, seperti dari Umar bin al-khaththab yang telah membagi tugas dengan tetangganya untuk mencari berita yang berasal dari nabi. Kata Umar, bila tetangganya hari ini menemui Nabi, Umar pada esok harinya menemui Nabi. Siapa yang bertugas menemui Nabi SAW dan memperoleh berita yang berasal atau berkenaan dengan Nabi SAW, maka dia segera menyampaikan berita itu kepada yang tidak bertugas.
Jelas bahwa periwayatan hadis pada zaman Nabi berjalan lancer. Kelancaran periwayatan hadis demikian, terjadi karena dua hal. Pertama, karena cara yang ditempuh oleh Nabi SAW dalam menyampaikan hadis sebagaimana dikemukakan diatas dan kedua, karena minat yang begitu besar dari para sahabat.


Sumber: https://voi.co.id/jasa-penulis-artikel/

pengertian hadits menurut bahasa dan istilah

Pengertian Hadis

Dari sudut etimologi, hadis secara umum berarty: sesuatu yang baru (al-jadid) lawan dari sesuatu yang lama (al-qadim). Ia juga berarty kabar atau berita (al-khabar).
Dari sudut terminologi, hadis memiliki beberapa pengertian tergantung dari sudut tinjauan masing-masing disiplin ilmu. Para ahli hadis mengartikan hadis yaitu: Segala sesuatu yang dihubungkan dengan nabi saw berupa pernyataan, perbuatan, penetapan atau sifat perangai atau perilaku atau perjalanan hidup, baik sebelum masa kenabian seperti bersemedinya di Gua Hira atau sesudahnya. Menurut mayoritas ahli hadis, istilah sunnah dianggap sinonim dengan istilah hadis.[2]

B. Cara Pentahapan Periwayatan Hadis

Secara etimologis, proses al-riwayat atau riwayat al-hadis ini dapat diaertikan dengan periwayatan atau periwayatan hadis.
Secara terminologis, al-riwayat berarti kegiatan penerimaan dan penyampaian hadis, serta penyandaran hadis itu kepada rangkaian periwayatannya dengan bentuk-bentuk tertentu. Dari arti ini, maka orang yang telah menerima hadis dari seorang periwayat, tetapi tidak menyampaikan hadis itu kepada orang lain, ia tidak dapat di sebut sebagai orang yang telah melakukan periwayatan hadis. Dan sekiranya orang tersebut menyampaikan hadis yang telah diterimanya kepada orang lain, tetapi ketika menyapaikan hadi itu dia tidak menyampaikan rangkaian para periwayatnya maka orang tersebut tidak dapat dinyatakan sebagai orang yang telah melakukan periwayatan hadis.
Dari pengertian diatas, setidaknya ada tiga unsure penting yang mesti dipenuhi bagi terjaadinya suatu aktivitas yang disebut dengan periwayatan hadis, yaitu:
a. Kegiatan menerima hadis dari periwayat hadis.
b. Kegiatan menyampaikan hadis itu kepada orang lain.
c. Ketika hadis itu disampaikan, susunan rangkaian periwayatnya itu disebutkan.
Ada beberapa peristilahan yang lazim dikenal disekitar periwayatan hadis, yaitu al-rawi, al-marwi, sanad dan matn. Masing-masing diatas dijelaskan sebagai berikut:
a. Al-Rawi (periwayat), yaitu orang yang melakukan periwayatan hadis.
b. Al-Marwi, yaitu apa yang diriwayatkan.
c. Sanad, atau apa yang biasa disebut isnad, ialah susunan rangkaian para periwayat hadis.
d. Matan, adalah kalimat (materi) yang disebut sesudah sanad.[3]


Sumber: https://pendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

Situasi harga

2.2.2                       Situasi harga

Situasi harga

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa tingkat harga jual akan menggerakkan perusahaan pada pencapaian laba optimal, ketidakakuratan informasi dapat mengakibatkan kesalahan dalam penetapan harga, apakah terlalu tinggi atau terlalu rendah. Penetapan harga yang terlalu tinggi dapat mengakibatkan ketidakmampuan bersaing dengan produk / jasa yang sejenis di pasar. Sedangkan penetapan harga terlalu rendah dapat mengakibatkan minimnya laba yang dihasilkan atau kerugian. Secara umum penetapan harga jual untuk mengoptimalkan pertumbuhan perusahaan, serta menjaga kelangsungan hidup perusahaan.

2.2.2                       Situasi harga

Situasi tersebut terdiri dari tiga faktor yang merupakan ringkasan dari faktor-faktor yang mempengaruhi kebijaksanaan harga jual yaitu :

  1. Laba dan tujuan-tujuan lain

Faktor-faktor lain selain pasar dan biaya bisa dimasukkan dalam faktor ketiga ini.

  1. Situasi pasar : disini meliputi konsumen,sifat produk,sifat pasar dan sebagainya.
  2. Biaya produksi dan operasi

Yaitu biaya yang dikeluarkan untuk membuat barang (produk) dan biaya produk tersebut bisa sampai ketangan konsumen.

 

Pos-pos Terbaru