4 GOLONGAN PRIA YANG MASUK NERAKA WALAUPUN SUDAH BERIBADAH

4 GOLONGAN PRIA YANG MASUK NERAKA WALAUPUN SUDAH BERIBADAH

4 GOLONGAN PRIA YANG MASUK NERAKA WALAUPUN SUDAH BERIBADAH
4 GOLONGAN PRIA YANG MASUK NERAKA WALAUPUN SUDAH BERIBADAH

 

Inilah 4 Golongan Pria Yang Masuk Neraka Walaupun Sudah Beribadah

1. Ayah Durhaka

Golongan pria pertama yang masuk neraka adalah ayah yang tidak bertanggungjawab terhadap anak­anaknya. Ayah bukan hanya sekedar pasangan dari ibu, ayah bukan sekedar mesin ATM, setelah itu selesai urusan, ayah bukanlah sosok asing di rumah yang bicara seperlunya, atau hanya diperlukan Ayah merupakan pria yang bertanggungjawab terhadap keluarga, istri dan putraputrinya.

Tidak hanya bertanggungjawab terhadap , tapi juga akhlaknya, pendidikan, dan keberhasilan dunia dan akhirat. Inilah pesan Rasulullah SAW dalam sabdanya;

“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin, Seorang lelaki adalah pemimpin bagi anggota keluarganya, dan Ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang telah dipimpinnya atas mereka.” (HR. Muslim)

Sementara dalam Alquran, Allah juga telah menggariskan tugas setiap orang beriman. “Hai orang­orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu atas api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat­malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan­Nya kepada mereka yang selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,” (QS.At Tahrim:6)

Tiga golongan yang Allah haramkan surga atas mereka adalah pecandu khamr, durhaka kepada orang tua dan dayus, yaitu orang yang tidak cemburu ketika bermaksiat orang bermaksiat dengan keluarganya. (HR Ahmad)

Ancaman terhadap ayah yang menjadi dayus sejatinya bertujuan agar mereka menjadi pemimpin yang baik bagi anggota keluarga lainnya. Hari­hari ini, banyak ayah yang merasa tanggungjawab dan pengasuhan anak sepenuhnya ada di Ibu. Ia sudah merasa cukup memenuhi mereka dengan berbagai fasilitas.

2. Suami yang Dzalim

Golongan kedua yang akan menjadi penghuni neraka yaitu suami yang durhaka dan dz4l!m kepada istrinya. Istri merupakan amanah yang dititipkan walinya kepada seorang pria yang bernama suami. Wali wanita itu tentu mau melepaskan anak, saudara mereka karena mereka yakin suaminya dapat menjaga anak dan saudara mereka dengan baik.

Pesan berbuat baik kepada wanita bukan saja harapan setiap wali, tetapi perintah yang jelas ditegaskan oleh Allah dan Rasul­Nya dalam kitab dan sunnah. Dan bergaullah dengan mereka secara baik, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kepadanya kebaikan yang banyak. (Q.S Annisa:19).

Termasuk dalam hal yang baik yaitu, baik dalam bertutur kata, baik memperlakukannya, tidak bermuka masam ketika bertemu, begitu juga baik dalam nafkah. Bergaul dengan baik, berarti juga kesamaan dan kesetaraan. Artinya suami akan mendapat perlakuan baik dari istri ketika suami memperlakukan istrinya dengan baik. Bahkan suami diminta bersabar, menerima kekurangan dari istrinya. Juga ketika istri, tidak melaksanakan kewajibannya dengan maksimal.]

“Janganlah suami yang beriman membenci istrinya yang beriman. Jika dia tidak menyukai satu akhlak darinya, dia pasti menyukai
akhlak lain darinya”(HR Muslim).

Merupakan hak istri untuk mendapatkan nafkah dari suaminya, baik itu pangannya, pakaiannya, tempat tinggalnya dan semua keperluan yang disesuikan dengan kemampuan suami dan status istri. Bahkan dalam hal pangan, hak istri untuk mendapatkan makanan siap santap dari suaminya, demikian juga butuh tempat tinggal.

Sebagian ahli fiqih mengatakan, tempat tinggal untuk istri, haruslah khusus untuk istri tersebut tidak boleh bercampur dengan keluarga lainnya. Dan jika istrinya berasal dari kalangan berada yang biasa dilayani dengan pembantu, maka haknya juga untuk mendapatkan pembantu yang disediakan oleh sang suami.

Baca Juga: Kalimat Syahadat

3. Saudara Laki­ Laki yang Tidak Bertanggung jawab

Golongan laki­laki yang tidak masuk surga adalah saudara laki­laki, sebab jika ayahnya telah tiada, tanggungjawab menjaga seorang wanita adalah saudara lelakinya.

Termasuk dalam hal ini paman, jika mereka hanya mementingkan keluarganya saja, sementara adik atau keponakannya dibiarkan jauh dari ajaran Islam, maka tunggulah ancaman neraka di akhirat kelak.

Saudara laki­laki memiliki kewajibann yang melekat terhadap saudara­saudara perempuannya. Mulai dari mendidik, menyayangi, melindungi, dan membela mereka.

Jika ayah telah wafat, maka saudara laki­laki berperan sebagai pengganti ayah, wajib memberikan nafkah kepada saudara perempuan yang belum menikah atau yang menjanda jika mereka tidak mampu.

4. Anak Laki­laki yang Tidak Merawat Orang tuanya

Golongan pria keempat yang masuk neraka karena gagal menjalankan tugasnya adalah anak laki­laki. “Seorang laki­laki datang kepada Rasulullah lalu bertanya, Wahai Rasulullah siapakah orang yang palign berhak aku pergauli dengan sebaik­baiknya?”Sabdanya, “Ibumu” Ia lalu bertanya “kemudian siapa ?” Sabdanya “Ibumu” “kemudian siapa lagi?” Sabdanya “Ibumu”, “Kemudian siapa lagi”, Sabdanya “Ayahmu” (HR. Muslim).

Secara khusus, Islam menekankan hak ibu terhadap laki­laki kandungnya, mengapa terhadap anak perempuan kandungnya tidak. Karena setelah anak perempuan menikah Ia lebih berkewajiban mentaati suaminya dibanding Ibunya, sedangkan anak laki­laki meski sudah menikah, tidak mengurangi kewajibannya untuk berbakti kepada orangtuanya. Dan berbakti kepada Ibu lebih di dahulukan dari pada kepada istrinya. Jadi pengabdian anak laki­laki kepada Ibu kandungnya tidak putus, tetapi pengabdian anak perempuan lebih utama kepada suaminya.