Adaptasi Sektor Pertanian Terhadap Perubahan Iklim Pendeteksi Sistem Informasi

Adaptasi Sektor Pertanian Terhadap Perubahan Iklim Pendeteksi Sistem Informasi

Adaptasi Sektor Pertanian Terhadap Perubahan Iklim Pendeteksi Sistem Informasi

Adaptasi Sektor Pertanian Terhadap Perubahan Iklim Pendeteksi Sistem Informasi
Adaptasi Sektor Pertanian Terhadap Perubahan Iklim Pendeteksi Sistem Informasi

Dalam dua dekade terakhir, isu perubahan iklim

Terus menguat dan menjadi entry point penting dalam menyusun perencanaan pengembangan pertanian, khususnya tanaman pangan. Perubahan iklim yang ditandai oleh perubahan pola dan distribusi curah hujan, peningkatan suhu udara, dan peningkatan muka air laut berdampak langsung terhadap kerentanan pertanian diwilayah tertentu (Badan Litbang Pertanian, 2012) Perubahan iklim telah membuat sebaran hujan tidak merata bahkan curah hujan harian ekstrim dapat mencapai 234 mm/hari (Farmanta, 2012).

 

Pertanian merupakan sektor yang mengalami dampak paling serius.

Tanaman pangan merupakan sub sektor yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Kegagalan panen disuatu sentra produksi dapat menyebabkan keguncangan di daerah lain, terlebih pada daerah yang bukan sentra pertanian. Perubahan pola curah hujan, peningkatan kejadian iklim ekstrim, serta kenaikan suhu udara dan permuakaan air laut telah menyebabkan produksi pertanian, terutama sub sektor tanaman pangan menurun secara signifikan (Kementerian Pertanian, 2012).

 

Di tengah krisis pangan dunia yang dipicu oleh perubahan iklim

Pemerintah tetap menargetkan swasembada pangan (Ditjen Tanaman Pangan. 2008). Sementara itu, produktivitas padi di Provinsi Bengkulu masih rendah yaitu 42,17 ku/ha  salah satunya akibat dari dampak negatif perubahan iklim yaitu pergeseran awal musim tanam dan pola tanam, ancaman kekeringan, banjir dan serangan organisme penggangu tanaman.  Untuk itu, Badan Litbang telah menyusun teknologi adaptif dengan perubahan iklim yaitu sistem informasi Kalender Tanam (KATAM) terpadu (Badan Litbang Pertanian, 2012).

Manfaat Kalender Tanam antara lain : (1) Menentukan waktu  tanam pada  setiap musim yaitu musim hujan (MH) dan musim kemarau (MK), (2) Menentukan pola, rotasi tanam dan rekomendasi teknologi pada skala kecamatan, (3) Menduga potensi luas tanam untuk mendukung sistem perencanaan tanam dan produksi tanaman pangan, (4) Mengurangi resiko penurunan dan kegagalan produksi serta kerugian petani akibat kekeringan, banjir dan serangan OPT.

 

Semakin menonjolnya isu perubahan iklim maka penerapan Katamsangat

mendukung upaya adaptasi sekaligus mitigasi dalam pengamanan/penyelamatanatau pengurangan resiko, pemantapan pertumbuhan produksi, dan mengurangidampak sosial-ekomomi. Oleh karenaituperanannya yang sangat strategis dan bersifat dinamis.

 

Perubahan Pola Curah Hujan dan Kejadian Iklim Ekstrim

Perubahan pola hujan sudah terjadi sejak beberapa dekade terakhir di beberapa wilayah di Indonesia, seperti pergeseran awal musim hujan dan perubahan pola curah hujan. Selain itu terjadi kecenderungan perubahan intensitas curah hujan bulanan dengan keragaman dan deviasi yang semakin tinggi serta peningkatan frekuensi kejadian iklim ekstrim, terutama curah hujan, angin, dan banjir rob. Beberapa ahli menemukan dan memprediksi arah perubahan pola hujan di Bagian Barat Indonesia, terutama di Bagian Utara Sumatera dan Kalimantan, dimana intensitas curah hujan cenderung lebih rendah, tetapi dengan periode yang lebih panjang. Sebaliknya, di Wilayah Selatan Jawa dan Bali intensitas curah hujan cenderung meningkat tetapi dengan periode yang lebih singkat (Naylor, 2007). Secara nasional, Boer et al. (2009) mengungkapkan tren perubahan secara spasial, di mana curah hujan pada musim hujan lebih bervariasi dibandingkan dengan musim kemarau.

Baca Juga :