Akal dan wahyu dalam islam

Akal dan wahyu dalam islam

Pengetahuan melalui kajian  epistimologi diperolehbmelalui akal yangsehat melaui pembuktian fakta-fakta yang rasional juga dengan cara indrawi melalui kepercayaan. (iman). Dalam pandangan islam akal manusia mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi, hal ini dapat dilihat dari beberapa ayat Al Qur’an, pengetahuan lewat akal disebut pengetahuan “aqli” akal dengan indra dalam kaitan dengan pengetahuan satu dengan yang lain tidak dipisahkan dengan tajam, bahkan sering berhubungan.

Dalam pandangan islam, akal mempunyai pengertian tersendiri dan berbeda dengan pengertian pada umumnya. Dalam pengertian islam,akla berbeda dengan otak, akal dalam pandangan islam bukan otak, melainkan daya berfikir yang terdapat dalam jiwa manusia. Akal dalam islam merupakan tiga unsur, yakni : fikiran, perasaan dan kemauan. Dalam pengertian ini biasa fikiran terdapat pada otak, sedangkan perasaan erdapat pada indra dan kemauan terdapat pada jiwa.

Di samping rasionalisme dan empirisme, masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain. Yang penting dari semua itu, menurut Jujun, adalah intuisi dan wahyu. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalahan tersebut. Tanpa melalui proses berpikir yang berliku-liku tiba-tiba saja dia sudah sampai di situ. Inilah yang disebut intuisi.

Sementara wahyu merupakan pengetahuan yang disampaikan oleh Tuhan kepada manusia. Pengetahuan ini disalurkan lewat nabi-nabi yang diutus-Nya di setiap zaman. Menurut Jujun, agama merupakan pengetahuan bukan saja mengenai kehidupan manusia sekarang yang terjangkau pengalaman, namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat transendental seperti latar belakang penciptaan manusia dan hari kemudian di akhirat nanti. Pengetahuan ini didasarkan kepada kepercayaan akan hal-hal yang gaib (supernatural). Akan tetapi pengetahuan jenis ini banyak tidak diakui oleh para ilmuwan yang kurang berpihak pada agama, seiring dibatasinya pengetahuan ilmiah pada logis-empiris.

Menurut Ahmad Tafsir, terdapat aliran lain yang mirip sekali dengan intuisionisme, yaitu iluminasionisme. Aliran ini berkembang di kalangan tokoh-tokoh agama; di dalam Islam disebut teori kasyf. Teori ini menyatakan bahwa manusia yang hatinya telah bersih, maka ia telah siap dan sanggup menerima pengetahuan dari Tuhan. Aliran ini lebih terfokus pada ilhâm yang diturunkan Allah swt kepada manusia. Menurut Ahmad Tafsir, aliran ini terbentang juga di dalam sejarah pemikiran Islam, boleh dikatakan dari sejak awal dan memuncak pada Mulla Shadra.

Jika kita menilik pemikiran para ulama Islam tentang sumber pengetahuan, akan didapati bahwa di antara mereka tidak ada yang hanya membatasi pada salah satu dari empat saluran pengetahuan sebagaimana dijelaskan Jujun di atas. Tidak seperti halnya di dunia Barat yang membatasi keilmiahan pada logis-empiris saja misalnya, dalam khazanah pemikiran Islam aliran semacam itu hampir tidak ditemukan.

Pos-pos Terbaru