Akibat Khulu’ & Perbedaanya dengan Fasakh

Akibat Khulu’ & Perbedaanya dengan Fasakh

Akibat Khulu’ & Perbedaanya dengan Fasakh

Akibat Cerai dengan Khulu’

Jumhur ulama, termasuk imam mazhab empat berpendapat bahwa apabila terjadi khulu’, maka istri berkuasa atas dirinya dan perkara sepenuhnya terserah dia, serta tidak ada lagi haknya suami terhadapnya. Hal ini disebabkan istri telah mengeluarkan iwadh untuk melepaskan dirinya dari ikatan suami istri. Sekalipun suami bersedia mengembalikan tebusan istrinya, suami tetap tidak berhak meruju’ istrinya selama masa iddah.

Pendapat lain muncul dari riwayat Sa’id bin Musayyab dan Az-Zuhri (guru Imam Malik). Bahwa jika bekas suami ingin merujuk istri kembali maka ia harus mengembalikan tebusan yang diambil dari istrinya dalam masa iddahnya dan hendaklah disaksikan oleh orang lain ruju’nya itu. Namun pendapat Jumhur lebih rajih, karena kalau suami berhak meruju’ istri, maka tidak ada artinya tebusan istri terhadap suaminya.

Apabila suami ingin kembali kepada istri yang mengkhulu’nya hal ini diperbolehkan, asalkan sang istri setuju dan dilakukan dengan akad nikah yang baru. Dalam KHI bagian kelima Pasal 161 bahwa perceraian dengan jalan khulu’ mengurangi jumlah talak dan tak dapat dirujuk.

Khulu’ itu Talak atau Fasakh

Para fuqaha berbeda pendapat apak khulu’ itu termasuk talak atau fasakh? Jumhur ulama berpendapat bahwa khulu’ itu termasuk talak ba’in sebagaimana disebutkan dalam hadis : اقبل حديقة و تطلقها تطليقة . Dalam hadis ini Nabi menyuruh agar mencerai istri dengan talak satu.
Sebagian fuqaha, seperti Ahmad bin Hanbal, Dawud ad-Dahiri, dan dari kalangan sahabat : Usman bin Affan, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, berpendapat bahwa khulu’ itu fasakh bukan talak.
Menurut Ibnnu Qayim, khulu’ itu fasakh bukan talak. Ada riga alasan yang menunjukkan bahwa khulu’ itu bukan talak :
Pertama, dalam talak suami berhak meruju’ istrinya, sementara dalam khulu’ suami tidak boleh meruju’ istrinya.
Kedua, kalau suami menjatuhkan talak yang ketiga kalinya ia tidak boleh kembali kepada istrinya, kecuali setelah istri nikah dengan laki-laki lain. Menurut mash bahwa khulu’ boleh dilakukan setelah talak yang kedua kali dan sesudah itu masih bisa menjatuhkan talak yang ketiga.
Ketiga, iddah talak ialah tiga kali quru’, sementara iddah quru’ adalah satu kali haid.
Perbedaan pendapat di atas berpengaruh terhadap jumlah talak yang dimiliki suami. Bagi yang berpendapat bahwa khulu’ termasuk talak, ia akan mengurangi jumlah talak, sedangkan bagi yang tidak memasukkan sebagai talak, maka tidak akan mengurangi talak yang dimiliki.

Sumber: https://www.wfdesigngroup.com/