Ucapan Khulu’ dan Masa Iddah

Ucapan Khulu’ dan Masa Iddah

Ucapan Khulu’ dan Masa Iddah

Ucapan Khulu’ dan Masa Iddah

Ucapan Khulu’

Mengenai ucapan atau lafadl khulu’ para ulama terbagi kepada dua kelompok. Pertama, kelompok yang berpendapat bahwa untuk sahnya khulu’ haruslah diucapkan dengan menggunakan kata khulu’ atau kata yang diambil dari kata khulu’ atau kata lain yang mempunyai arti seperti khulu’, umpamanya mubara’ah (membebaskan) atau fidyah (tebusan). Apabila tidak dengan kata khulu’ atau kata yang tidak bermakna khulu’ maka tidak termasuk khulu’, seperti suami berkata: “engkau tertalaq (anti taliqun)” sebagai imbalan barang/uang seharga …., lalu isteri mau menerimanya. Maka perbuatan ini adalah talak dengan imbalan harta. Talaknya jatuh tetapi uangnya bukan khulu’.
Ibnul Qayim membantah pendapat di atas, ia mengatakan: barangsiapa mau memikirkan hakekat dan tujuan aqad atau perjanjian, bukan hanya melihat kata-kata yang diucapkan saja, tentu akan menganggap khulu’ sebagai fasakh, walaupun diucapkan dengan kata apapun juga, dengan kata talaq sekalipun. Alasannya, bahwa dalam kasus isteri Tsabit bin Qais, Nabi menyuruh Tsabit bin Qais mentalak isterinya secara khulu’ dengan sekali talak dan Nabi menyuruh isteri Tsabit beriddah dengan satu kali haid. Hal ini secara jelas menunjukkan fasakh, sekalipunterjadinyaperceraian dengan ucapan talak. Allah juga menghubungkannya dengan fidyah, karenamemangadatebusannya.Sudah maklum bahwa fidyah tidak mempunyai pernyataan dengan kata-kata khusus dan Allah tidak menetapkan lafadh yang khusus untuk itu. Thalaq dengan tebusan sifatnya terbatas, dan tidak tergolong kedalam hukum thalaq yang dibolehkan ruju’ kembali dan beriddah dengan tiga kali masa bersih hadits seperti ketentuan sunnah yang sah.

Iddah Istri yang Dikhulu’

Dalam hadis riwayat an-Nasai’ dari Muawidz bin ‘Afra’ mengenai khulu’nya istri Tsabit bin Qais :
خذ الذي لها عليك و خل سبيلها قال نعم فامرها رسول الله صلى الله عليه وسلم انتتربص حيضة وا حدة فتلحق با هلها (رواه النسا ء)
Ambillah miliknya untukmu dan mudahkanlah urusannya. Tsabit menjawab : ya. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan istri Tsabit beriddah satu kai haid dan dikembalikan kepada keluarganya.
Menurut hadis di atas bahwa iddahnya istri yang dikhulu’ itu hanya satu kali haid. Demikianlah pendapat Usman bin Affan, Ibnu Abbas, Abdullah bin Umar, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih (guru Imam Bukhari), Ibnu Taimiyah. Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa iddahnya istri yang dikhulu’ ialah tiga kali quru’ kalau mereka masih haid.
Menurut Ibnu Taimiyah, dalam talak biasa iddah itu tiga kali quru’ adalah untuk memperpanjang masa ruju’, agar suami bisa berpikir panjang untuk dapat meruju’ istrinya dalam masa iddah. Sedangkan dalam khulu’ ruju’ itu tidak ada, maka iddahnya hanya satu kali haid, ssdimaksudkan hanya untuk membersihkan kandungan saja.

Baca Juga:

Akibat Khulu’ & Perbedaanya dengan Fasakh

Akibat Khulu’ & Perbedaanya dengan Fasakh

Akibat Khulu’ & Perbedaanya dengan Fasakh

Akibat Khulu’ & Perbedaanya dengan Fasakh

Akibat Cerai dengan Khulu’

Jumhur ulama, termasuk imam mazhab empat berpendapat bahwa apabila terjadi khulu’, maka istri berkuasa atas dirinya dan perkara sepenuhnya terserah dia, serta tidak ada lagi haknya suami terhadapnya. Hal ini disebabkan istri telah mengeluarkan iwadh untuk melepaskan dirinya dari ikatan suami istri. Sekalipun suami bersedia mengembalikan tebusan istrinya, suami tetap tidak berhak meruju’ istrinya selama masa iddah.

Pendapat lain muncul dari riwayat Sa’id bin Musayyab dan Az-Zuhri (guru Imam Malik). Bahwa jika bekas suami ingin merujuk istri kembali maka ia harus mengembalikan tebusan yang diambil dari istrinya dalam masa iddahnya dan hendaklah disaksikan oleh orang lain ruju’nya itu. Namun pendapat Jumhur lebih rajih, karena kalau suami berhak meruju’ istri, maka tidak ada artinya tebusan istri terhadap suaminya.

Apabila suami ingin kembali kepada istri yang mengkhulu’nya hal ini diperbolehkan, asalkan sang istri setuju dan dilakukan dengan akad nikah yang baru. Dalam KHI bagian kelima Pasal 161 bahwa perceraian dengan jalan khulu’ mengurangi jumlah talak dan tak dapat dirujuk.

Khulu’ itu Talak atau Fasakh

Para fuqaha berbeda pendapat apak khulu’ itu termasuk talak atau fasakh? Jumhur ulama berpendapat bahwa khulu’ itu termasuk talak ba’in sebagaimana disebutkan dalam hadis : اقبل حديقة و تطلقها تطليقة . Dalam hadis ini Nabi menyuruh agar mencerai istri dengan talak satu.
Sebagian fuqaha, seperti Ahmad bin Hanbal, Dawud ad-Dahiri, dan dari kalangan sahabat : Usman bin Affan, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, berpendapat bahwa khulu’ itu fasakh bukan talak.
Menurut Ibnnu Qayim, khulu’ itu fasakh bukan talak. Ada riga alasan yang menunjukkan bahwa khulu’ itu bukan talak :
Pertama, dalam talak suami berhak meruju’ istrinya, sementara dalam khulu’ suami tidak boleh meruju’ istrinya.
Kedua, kalau suami menjatuhkan talak yang ketiga kalinya ia tidak boleh kembali kepada istrinya, kecuali setelah istri nikah dengan laki-laki lain. Menurut mash bahwa khulu’ boleh dilakukan setelah talak yang kedua kali dan sesudah itu masih bisa menjatuhkan talak yang ketiga.
Ketiga, iddah talak ialah tiga kali quru’, sementara iddah quru’ adalah satu kali haid.
Perbedaan pendapat di atas berpengaruh terhadap jumlah talak yang dimiliki suami. Bagi yang berpendapat bahwa khulu’ termasuk talak, ia akan mengurangi jumlah talak, sedangkan bagi yang tidak memasukkan sebagai talak, maka tidak akan mengurangi talak yang dimiliki.

Sumber: https://www.wfdesigngroup.com/

Adab Dalam PUASA

Adab Dalam PUASA

Adab Dalam PUASA

Adab Dalam PUASA

Adab Puasa

1. Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra. telah bersabda Rasulullah saw: Apabila malam sudah tiba dari arah sini dan siang telah pergi dari arah sini, sedang
matahari sudah terbenam, maka orang yang puasa boleh berbuka. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

2. Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Manusia ( ummat Islam ) masih dalam keadaan baik selama mentakjilkan
(menyegerakan) berbuka. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

3. Diriwayatakan dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah saw berbuka dengan makan beberapa ruthaab (kurma basah ) sebelum shalat, kalau tidak ada maka dengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk. ( H.R : Abu Daud dan Al-Hakiem )

4. Diriwayatkan dari Salman bin Amir, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Apabila salah seorang diantara kamu puasa hendaklah berbuka dengan
kurma, bila tidak ada kurma hendaklah dengan air, sesungguhnya air itu bersih. ( H.R : Ahmad dan At-Tirmidzi )

5. Diriwayatkan dari Ibnu Umar : Adalah Nabi saw. selesai berbuka Beliau berdo’a (artinya) telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala
tetap ada Insya Allah. ( H.R : Ad-Daaruquthni dan Abu Daud hadits hasan )

6. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila makan malam telah disediakan, maka mulailah makan sebelum shalat Maghrib, janganlah mendahulukan shalat daripada makan malam itu ( yang sudah terhidang ). ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

7. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra: Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda : Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya makan sahur itu berkah. (H.R :
Al-Bukhary )

8. Diriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’di Yaqrib, dari Nabi saw. bersabda : Hendaklah kamu semua makan sahur, karena sahur adalah makanan yang penuh berkah. ( H.R : An-Nasa’i )

9. Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit t berkata : Kami bersahur bersama Rasulullah saw. kemudian kami bangkit untuk menunaikan shalat ( Shubuh ). saya berkata :
Berapa saat jarak antara keduanya ( antara waktu sahur dan waktu Shubuh )?Ia berkata : Selama orang membaca limapuluh ayat. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

10. Diriwayatkan dari Amru bin Maimun, ia berkata : Adalah para sahabat Muhammad saw. adalah orang yang paling menyegerakan berbuka dan melambatkan makan sahur. ( H.R : Al-Baihaqi )

11. Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila salah seorang diantara kamu mendengar adzan dan piring masih di tangannya janganlah diletakkan hendaklah ia
menyelesaikan hajatnya ( makan/minum sahur )daripadanya. (H.R : Ahmad dan Abu Daud dan Al-Hakiem )

Baca Juga:

Keutamaan dan Hikmah Puasa Ramadhan

Keutamaan dan Hikmah Puasa Ramadhan

Keutamaan dan Hikmah Puasa Ramadhan

Keutamaan dan Hikmah Puasa Ramadhan

 

1. Puasa Adalah Perisai [Pelindung]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka” [Hadits Riwayat Ahmad 3/241, 3/296 dari Jabir, Ahmad 4/22 dan Utsman bin Abil ‘Ash. Ini adalah hadits yang shahih].

2. Puasa Bisa Memasukkan Hamba ke Surga

Dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu katanya, “Aku berkata (kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) : “Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke surga.? Beliau menjawab : “Atasmu puasa, tidak ada (amalan) yang semisal dengan itu” [Hadits Riwayat Nasa’i 4/165, Ibnu Hibban hal. 232 Mawarid, Al-Hakim 1/421, sanadnya Shahih]

3. Pahala Orang Puasa Tidak Terbatas

4. Orang Puasa Punya Dua Kegembiraan

5. Bau Mulut Orang Yang Puasa Lebih Wangi dari Baunya MiskDari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, (bahwasanya) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Semua amalan bani Adam untuknya kecuali puasa [Baginya pahala yang terbatas, kecuali puasa karena pahalanya tidak terbatas] , karena puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah : ‘Aku sedang berpuasa’ [1]. Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesunguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau misk[2] orang yang puasa mempunyai dua kegembiraan, jika berbuka mereka gembira, jika bertemu Rabbnya mereka gembira karena puasa yang dilakukannya” [Bukhari 4/88, Muslim no. 1151, Lafadz ini bagi Bukhari].

6. Puasa dan Al-Qur’an Akan Memberi Syafa’at Kepada Ahlinya di hari Kiamat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada hamba di hari Kiamat, puasa akan berkata : “Wahai Rabbku, aku akan menghalanginya dari makan dan syahwat, maka berilah dia syafa’at karenaku”. Al-Qur’an pun berkata : “Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka berilah dia syafa’at karenaku” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Maka keduanya akan memberi syafa’at”

7. Puasa Sebagai Kafarat

Puasa dan shadaqah bisa menghapuskan fitnah seorang pria dari harta, keluarga dan anaknya. Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Fitnah pria dalam keluarga (isteri), harta dan tetangganya, bisa dihapuskan oleh shalat, puasa dan shadaqah” [Hadits Riwayat Bukhari 2/7, Muslim 144]

Baca Juga: nama bayi perempuan islam

8. Ar Rayyan Bagi Orang yang Puasa

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (bahwa beliau) bersabda (yang artinya) : “Sesungguhnya dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Rayyan, orang-orang yang puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut, tidak ada orang selain mereka yang memasukinya. Jika telah masuk orang terakhir yang puasa ditutuplah pintu tersebut. Barangsiapa yang masuk akan minum, dan barangsiapa yang minum tidak akan merasa haus untuk selamanya” [Hadits Riwayat Bukhari 4/95, Muslim 1152, dan tambahan lafadz yang akhir ada pada riwayat Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya 1903]

PENGERTIAN THAHARAH (BERSUCI) DAN PEMBAGIANNYA

PENGERTIAN THAHARAH (BERSUCI) DAN PEMBAGIANNYA

PENGERTIAN THAHARAH (BERSUCI) DAN PEMBAGIANNYA

PENGERTIAN THAHARAH (BERSUCI) DAN PEMBAGIANNYA

 

Ternyata masih banyak orang di kalangan kaum muslimin yang belum memahami pentingnya thaharah (bersuci). Seolah thaharah hanyalah bagian dari kurikulum pelajaran Agama Islam di sekolah, atau dalam bab Fiqih Ibadah, tapi dalam prakteknya, masih banyak yang belum mengaplikasikannya dengan benar sesuai dengan Al-Qur’an dan As Sunnah.
Apa itu thaharah? Dan apa saja pembagian thaharah?
Dalam bab ini insya Allah akan saya ulas sedikit tentang pengertian thaharah dan pembagiannya. Semoga bermanfaat.
مفهوم الطهارة
الطهارة لغة : النظافة، و التخلص من الأقذار ومن النجاسات.
الطهارة شرعاً : إزالة حكم الحدث، لأداء الصلاة أو غيرها مما تشترط فيه الطهارة بالماء أو بالبديل عنه وهو التيمم

Pengertian thaharah

Thaharah secara bahasa berarti bersih dan membebaskan diri dari kotoran dan najis. Sedangkan pengertian thaharah secara istilah (syara’) adalah menghilangkan hukum hadats untuk menunaikan shalat atau (ibadah) yang selainnya yang disyaratkan di dalamnya untuk bersuci dengan air atau pengganti air, yaitu tayammum.
Jadi, pengertian thaharah atau bersuci adalah mengangkat kotoran dan najis yang dapat mencegah sahnya shalat, baik najis atau kotoran yang menempel di badan, maupun yang ada pada pakaian, atau tempat ibadah seorang muslim.

الطهارة قسمان :
• الطهارة المعنوية : وهي الطهارة من الشرك والمعاصي ، وتكون بالتوحيد والاعمال الصالحة ، وهي أهم من طهارة البدن ، بل لا يمكن أن تقوم طهارة البدن مع وجود نجس الشرك. قال الله تعالى :{ إنا المشركون نجس } (التوبة :٢٨)، وقال تعالى: {أُوْلاَئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْي وَلَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمُ} (المائدة: ٤١). فيجب على كل مكلف أن يطهر قلبه من نجاسة الشرك والشك ، وذلك بالإخلاص والتوحيد واليقين . ويطهر نفسه وقلبه من أقذار المعاصي ، وآثار الحسد والحقد ، والغل والغش ، والكبر ، والعجب والرياء والسمعة . وذلك بالتوبة الصادقة من جميع الذنوب والمعاصي . وهذه الطهارة هي شطر الإيمان .
• الطهارة الحسية
وهي الطهارة من الأحداث والنجاسات ، وهذا هو شطر الإيمان الثاني ، قال عليه السلام : ( الطهور شطر الإيمان ) ـ وتكون بما شرع الله من الوضوء ، والغسل ، أو التيمم عن فقدان الماء ، وزوال النجاسة أو إزالتها من اللباس ، والبدن ، ومكان الصلاة

Pembagian thaharah

Thaharah itu terbagi menjadi dua :

1. Thaharah ma’nawiyah atau thaharah qalbu (hati)

yaitu bersuci dari syirik dan maksiat dengan cara bertauhid dan beramal sholeh, dan thaharah ini lebih penting dan lebih utama daripada thaharah badan. Karena thaharah badan tidak mungkin akan terlaksana apabila terdapat syirik. Dalilnya adalah sebagai berikut :
إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَس
“Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis” (QS. At-Taubah : 28)
أُوْلاَئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْي وَلَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمُ
“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan didunia dan diakhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS. Al-Maaidah: 41)
Maka wajib bagi seorang muslim yang berakal untuk mensucikan dirinya dari syirik dan keraguan dengan cara ikhlas, bertauhid, dan yakin. Dan juga wajib atasnya untuk mensucikan diri dan hatinya dari kotoran-kotoran maksiat, dengki, benci, dendam, penipuan, kesombongan, ‘ujub, riya‘, dan sum’ah.

Baca Juga: Sholat Rawatib

2. Thaharah hissiyah atau thaharah badan

yaitu mensucikan diri dari hadats dan najis, dan ini adalah bagian dari iman yang kedua. Allah mensyariatkan thaharah badan ini dengan wudhu dan mandi, atau pengganti keduanya yaitu tayammum (bersuci dengan debu). Penghilangan najis dan kotoran ini meliputi pembersihan pakaian, badan, dan juga tempat shalat. Dalilnya adalah sebagai berikut :
الطهور شطر الإيمان
“Sesungguhnya kebersihan itu sebagian dari iman”
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِن كُنتُم مَّرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَآئِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَآءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ مَايُرِيدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah (usaplah) kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau salah seorang dari kamu kembali dari tempat buang air (wc/kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu, Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmAt-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Maaidah: 6)
Sedangkan menurut Imam Ibnu Rusyd, thaharah itu terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Thaharah dari hadats, yaitu membersihkan diri dari hadats kecil (sesuatu yang diminta -bersucinya dengan- wudhu) dan dari hadats besar (sesuatu yang diminta -bersucinya dengan – mandi).
2. Thaharah dari khubts atau najis, yaitu membersihkan diri, pakaian, dan tempat ibadah dari sesuatu yang najis dengan air.

Ahmad Umar Hasyim

Ahmad Umar Hasyim

Ahmad Umar Hasyim

Ahmad Umar Hasyim
Ahmad Umar Hasyim

Biografi Ahmad Umar Hasyim

Syeikh Prof Dr Ahmad Umar Hasyim merupakan professor hadith dan ulum hadith di Universiti al-Azhar, Mesir. Beliau juga merupakan ahli Majma’ al-Buhuth al-Islamiyyah(Akademi Penyelidikan Islam) dan bekas ahli parlimen Mesir. Beliau dilahirkan pada 6 Februari 1941 di kampung Bani Amir, Zaqaziq, Mesir.

Syeikh Prof Dr Ahmad Umar Hasyim memperoleh ijazah sarjana muda(B.A) pada tahun 1967. Beliau kemudian telah dilantik sebagai pensyarah Fakulti Hadith, Kuliah Usuluddin. Beliau seterusnya menerima ijazah sarjana(M.A) dalam bidang hadith dan ulum hadith pada tahun 1969, dan menerima doktor falsafah dalam pengkhususan yang sama.
Syeikh Prof Dr Ahmad Umar Hasyim kemudian dilantik sebagai professor hadith dan ulum hadith pada tahun 1983. Beliau juga telah dilantik sebagai Dekan Fakulti Usuluddin di Universiti al-Azhar cawangan Zagazig pada tahun 1987. Seterusnya pada tahun 1995, beliau berkhidmat sebagai presiden Universiti Al-Azhar.[1]

Antara jabatan beliau adalah:
1. Ahli Parlimen Mesir. Beliau telah dilantik oleh bekas presiden Mesir Hosni Mubarak.
2. Anggota Biro Politik Parti Demokratik Kebangsaan.
3. Seorang ahli Majlis Syura.
4. Ahli Lembaga Pemegang Amanah Radio dan Televisyen.
5. Pengerusi program keagamaan di televisyen Mesir.

Karangan

Antara karangan beliau :
1. Al-Islam wa bina’ al-syakhsiyyah
2. Min huda al-sunnah al-nabawiyyah
3. Al-Syafaah fi dhauk al-kitab wa al-sunnah wa al-rad ‘ala munkariha
4. Al-tadamun fi muajihah al-tahadiyyat
5. Al-islam wa al-syabab
6. Qisah al-sunnah
7. Al-Quran wa lailah al-qadr
8. Faidh al-bari fi syarh Sahih al-Bukhari.

Pemikiran Ahmad Umar Hasyim tentang Hadits

Ahmad Umar Hasyim mendefinisikan riwayat sebagai berikut:

الرواية هي أداء الحديث وتبليغه مع إسناده الى من عزي اليه بصيغة من صيغ الأداء المطابقة لحالة التحمل

“Riwayah adalah menyampaikan hadits dan memberikannya disertai sanad-sanad kepada seseorang yang ditemuinya dengan suatu bentuk dari bentuk-bentuk penyampaian yang bertingkat karena keadaan tahammulnya.”
Ahmad Umar Hasyim mendefinisikan Ilmu Hadits riwayat adalah ilmu yang menjelaskan tentang pemindahan (periwayatan) segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw, berupa perkataan, perbuatan, takrir (ketetapan atau pengakuan), atau sifat.
Sedangkan ilmu hadits Dirayah adalah ilmu pengetahuan tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui keadaan perawi (sanad) dan sesuatu yang diriwayatkan (matan).

Ada delapan cara dalam menerima suatu hadits diantara nya yaitu: dengan mendengarkan, membaca dengan hafalan, ijazah, Munawalah, Mukatabah, al-I’lam, al-Washiyyah dan al-Wijadah.

Dalam hal penerimaan hadits Ahmad Umar Hasyim mensyaratkan dalam as-Sima’ tidak diperbolehkan adanya kesibukan lain dari perawi misalnya (bercerita, menulis hal lain) ketika mendengarkan hadis. Jika terjadi kesibukan lain maka hadis tidak dapat dibenarkan dan ini disepakati oleh Ibrahim al-Harabi, Abu Ahmad bin ‘Adi al-Hafiz, Abu Ishaq al-Isfaraim namun menurut Musa bin Harun al-Hamal perawi yang memiliki kesibukan lain ketika mendengarkan hadis dapat dibenarkan dan hadisnya dapat diterima.

Dalam bukunya Ahmad Umar Hasyim yang berjudul Qawaid Ushul al-Hadis, menjelaskan bahwa ada enam hal yang menyebabkan kecacatan rawi yang diakibatkan oleh hilangnya syarat dhabit, hal tersebut adalah sebagai berikut:
1. Fahsy al-Galad (banyak/sering salah). Perawi yang memiliki sifat ini, menurut Ibnu Hajar, hadisnya munkar atau matruk.
2. Fahsy al-Gaflah (banyak/sering lupa), jika seorang perawi keadaannya seperti ini maka hadis yang diriwayatkanya tergolong hadis munkar atau matruk.

3. Suu al-hifzi orang yang tidak ­ditajrih (dikuatkan) sisi ketepatan (hafalannya) atau sisi kesalahan (hafalannya).
4. Al-Ikhtilat yaitu, rusaknya akal dan tidak teraturnya perkataan dan perbuatan disebabkan oleh hal-hal yang al-tariah (incidental), apakah karena usia, hilangnya penglihatan, hilangnya buku catatan hadis, atau sebab lain sehingga hafalannya menjadi buruk, pada hal sebelumnya ia dhabit. Maka semua perawi yang masuk dalam golongan ini jatuh dari derajat shahih dan hasan. Namun dapat naik ketingkat hasan jika ada syahid atau tabi’.

5. al-Wahm, jika didapatkan melalui qarinah-qarinah dan pengumpulan jalur-jalur, maka hadisnya mu’allal.
6. Mukhalafah al-Siqah. jika terjadi dengan mengubah siyaq, maka menjadi mudraj al-Isnad atau mencampurkan yang mauquf dengan yang marfu’ maka menjadi mudraj al-matan atau mentaqdimkan atau mentakhirkan, maka menjadi maqlub atau dengan penambahan seorang rawi .

Dalam beberapa indikator yang digambarkan oleh Ahmad Hasyim di atas tentang cacatnya sanad karena kurangnya kualitas kedhabitan, maka penulis berkesimpulan bahwa yang menjadi dasar penetapan kedhabitan periwayat, secara normatif adalah hafalannya bukan pada tingkat pemahamannya pada hadis yang diriwayatkan. Namun demikian, dapat juga dipahami bahwa periwayat yang paham hadis dan mampu menyampaikan hadis yang diriwayatkannya itu kepada orang lain, jelas lebih tinggi martabatnya dari pada periwayat yang hanya hafal dan mampu menyampaikan hadis yang diriwayatkan itu kepada orang lain.

Baca Juga: 

KAJIAN ORIENTALIS TENTANG HADIS

KAJIAN ORIENTALIS TENTANG HADIS

KAJIAN ORIENTALIS TENTANG HADIS

KAJIAN ORIENTALIS TENTANG HADIS
KAJIAN ORIENTALIS TENTANG HADIS

Hadis merupakan segala sesuatu yang mengandung ucapan, perbuatan dan ketetntuan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sehingga bagi orientalis, hadis adalah sebuah kajian yang mudah bagi mereka untuk memutar balikkan kebenarannya secara keseluruhan.

Sejak awal, para orientalis tampaknya memiliki ambisi untuk merumuskan penemuan-penemuan, pengalaman-pengalaman, dan wawasan-wawasan mereka secara tepat dalam istilah-istilah modern, untuk mempertemukan gagasan-gagasan tentang Timur dengan realitas-realitas modern.

Gugatan orientalis terhadap hadis bermula pada pertengahan abad ke-19 M, dimana hampir seluruh bagian Dunia Islam telah masuk alam cengkeraman kolonialisme bangsa-bngasa Eropa. Alois Sprenger, adalah orang yamg pertama kali mempersoalkan status hadits dalam Islam. Orintalisme terhadap hadis ini berjalan dengan lancar bertahap, dan terencana. Ada yang menyerang matannya, ada yang menyerang sanadnya dan ada juga yang menyerang hadis sejarah yang dihubungkan dengan sirah.

Dalam hal ini, terdapat tiga hal yang sering dikemukakan kaum orientalis dalam penelitian mereka terhadap al-Hadis, yaitu tentang kepribadian Nabi Muhammad SAW, Aspek Asanid (Rangkaian perawi hadis), dan Aspek Matan.

a. Aspek Pribadi Nabi Muhammad

Argumen pertama orientalis meragukan otentisitas hadits adalah bahwa hadits-hadits itu buatan manusia dan bukan wahyu. Menurut orientalis pribadi Muhammad perlu dipertanyakan, mereka membagi status Muhammad menjadi tiga, sebagai rasul, kepala negara dan pribadi biasa sebagaimana orang kebanyakan. Sesuatu yang didasarkan dari Nabi Muhammad baru disebut hadits jika sesuatu tersebut berkaitan dengan hal-hal praktis keagamaan, karena jika tidak hal itu tidak layak disebut hadits, karena bisa saja hal itu hanya timbul dari status lain seorang Muhammad.

b. Aspek Asanid (Rangkaian Perawi)

Orientalis memiliki kesimpulan bahwa semua asanid itu fiktif atau bahwa yang asli dan yang palsu itu tidak bisa dibedakan secara pasti. Isnad yang sampai kepada Nabi Muhammad jauh lebih diragukan ketimbang isnad yang sampai kepada sahabat. Para orientalis sering mempertanyakan tentang para perawi yang banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah. seperti yang kita ketahui bersama para sahabat yang terkenal sebagai perawi bukanlah para sahabat yang yang banyak menghabiskan waktunya bersama Rasullah seperti Abu bakar, Umar, Usman dan Ali. Namun yang banyak meriwayatkan hadis adalah sahabat-sahabat junior dalam artian karena mereka adalah orang “baru” dalam kehidupan Rasulullah.

Baca Juga: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-ayat-kursi-beserta-terjemahan-dan-keutamaannya-lengkap/

c. Aspek Matan

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa ktirik isnad adalah satu-satunya metode yang dipraktekkan ahli-ahli hadits untuk menyaring mana hadits yang shahih dan hadits mana yang tidak shahih. Menurut orientalis matan hampir tidak pernah dipertanyakan, hanya jika isi sebuah hadits yang isnad-nya shahih jelas bertentangan dengan Al-Qur‟an, baru ditolak kalau isinya dapat diinterpretasikan sedemikian sehingga menjadi selaras dengan Al-Qur‟an dan hadits-hadits lain, hadits itu tidak dikritik

FAKTOR YANG MEMUNCULKAN ORIENTALISME

FAKTOR YANG MEMUNCULKAN ORIENTALISME

FAKTOR YANG MEMUNCULKAN ORIENTALISME

 

FAKTOR YANG MEMUNCULKAN ORIENTALISME
FAKTOR YANG MEMUNCULKAN ORIENTALISME

Dr. Musthafa As-Siba’iy menerangkan hal-hal yang mendorong kaum orientalisten Barat untuk menyelidiki dan mempelajari tentang ketimuran sebagai berikut :

1. Dorongan Keagamaan

Tentang hal keislaman, hal keadaan muslimin, peradaban, kehidupan, dan penghidupannya.Pokok penelitian kaum orientalis adalah bahwa orang-orang mulai mempelajari agama Islam dan peradabannya, mereka bermaksud untuk menyudutkan Agama Islam, memperburuk-burukkan Agama Islam dan memutarbalikkan kebenaran Islam.Maka, kaum orientalis yang terdahulu telah memanfaatkan hasil penelitiannya tentang agama Islam dan yang berhubungan dengan agama Islam, secara positif dan negatif. Dan banyak melontarkan hasil penelitian yang bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya dan membawa pengaruh yang jelek.

2. Dorongan penjajahan

Kekalahan orang salib pada perang salib (yang merupakan perang agama), yang menyebabkan orang Barat tidak berputus asa untuk tetap berusaha membalas dendam dan menduduki negeri Arab yang kemudian negara Islam.

3. Dorongan perniagaan

Merupakan dorongan yang nyata bagi negeri-negeri industri yang memerlukan pasaran untuk melemparkan hasil industrinya, mereka harus meneliti kesukaran negeri-negeri yang menjadi sasarannya, demi kemajuan negeri mereka sendri. Maka, kaum orientalis yang terdorong penelitiannya tentang Timur oleh dorongan ekonomi dan perniagaan, harus bekerja keras, agar tidak ketinggalan.

Baca Juga: https://www.dutadakwah.co.id/sayyidul-istigfar/

4. Dorongan politik

Hal ini yang menjadikan menonjol pada masa sekarang sesudah negeri-negeri Islam dan negeri Timur umumnya mencapai kemerdekaannya. Pada masa sekarang, setelah berkembang blok Timur dan blok Barat, maka masing-masing dari mereka berusaha mempengaruhi akan masyarakat, dimana mereka ditempatkan, untuk keuntungan politik dari negaranya.

5. Dorongan ilmiah

Kaum orientalisten beriat meneliti perihal ketimuran dengan bersusah payah, membuang tenaga dan umur yang amat berharga, oleh karena didorong oleh semangat ingin tahu dan cinta kepada perihal ketimuran.
Dr. Mustafa as-Siba’iy menerangkan lebih lanjut, bahwa golongan yang didorong oleh dorongan ilmiah, sangat sedikit yang salah pemahamannya tentang Islam dan peninggalan Islam. Karena mereka tidak sengaja untuk menyelewengkan agama Islam dan memasukkan yang bukan-bukan ke dalam Islam.

KETAHUILAH JIN QORIN, ADALAH PENDAMPING MANUSIA DAN BEGINI CARA MELIHATNYA

KETAHUILAH JIN QORIN, ADALAH PENDAMPING MANUSIA DAN BEGINI CARA MELIHATNYA

KETAHUILAH JIN QORIN, ADALAH PENDAMPING MANUSIA DAN BEGINI CARA MELIHATNYA

KETAHUILAH JIN QORIN, ADALAH PENDAMPING MANUSIA DAN BEGINI CARA MELIHATNYA
KETAHUILAH JIN QORIN, ADALAH PENDAMPING MANUSIA DAN BEGINI CARA MELIHATNYA

Jin Qorin

Tiap-tiap manusia di dunia ini nyatanya memiliki Jin Pendamping atau dimaksud Qorin. Jin Qorin umumnya memiliki muka, hoby, serta karakter yang sama juga dengan manusia yang didampinginya. Ada yang mengatakan kalau Jin Qorin yaitu kembarannya kita yang berwujud ghaib yang senantiasa ada mengikuti kita. Cuma saja sebagai manusia kita tidaklah bisa lihat rupa wujudnya dengan cara segera.

Lantas apa argumen Qorin ini mengikuti kita? Lantaran Qorin yaitu adalah setan dari kelompok Jin, jadi tugasnya yaitu menggoda serta menyesatkan manusia yang didampinginya. Ia memerintahkan kita untuk lakukan kemungkaran serta meremehkan hal yang ma’ruf, seperti dalam firman Allah SWT :

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَآءِ وَاللهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلاً وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Setan menjanjikan kefakiran untuk kalian serta memerintahkan kemungkaran. Sesaat Allah menjanjikan ampunan serta karunia dari-Nya. Allah Maha Luas lagi Maha Tahu. ” (QS. Al-Baqarah : 268) Walau demikian, bila Allah memberi karunia pada hamba-Nya berbentuk hati yang baik, jujur, senantiasa tunduk pada Allah, lebih inginkan akhirat serta tak mementingkan dunia jadi Allah bakal menolongnya supaya tak dipengaruhi masalah jin ini, hingga dia tak dapat menyesatkannya. (Majmu’ Fatawa, 17 : 427)

Dalam al-quran surat Zukhruf dijelaskan tentang Qarin yang berarti : Siapa saja yang berpaling dari pengajaran Al-Quran, kami selenggarakan baginya setan (yang menyesatkan), jadi setan tersebut sebagai qarin, serta sebenarnya mereka betul-betul menghambat mereka dari jalan serta mereka menganggap kalau mereka memperoleh panduan.

Prof. Dr. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Mishbah

menerangkan pemakaian bentuk tunggal untuk kata qarin dalam ayat diatas menyaratkan kalau tiap-tiap orang yang malas ikuti tuntunan agama bakal mempunyai qarin. Ini berlangsung untuk perseorangan, bukannya sekumpulan yang peroleh satu qarin dengan cara berbarengan.

Maknanya yaitu kalau dalam tiap-tiap badan kita tentu ada Qarinnya. Qarin berikut yang bakal memengaruhi iman kita pada jalan yang sesat. Tetapi bila kita mempunyai iman yang kuat jadi godaan itu bakal gampang kita hadapi.

Di bawah ini sebagian dalil yang tunjukkan ada Qarin :

Firman Allah SWT Dalam Surat Qaf Ayat 27

قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَكِنْ كَانَ فِي ضَلالٍ بَعِيدٍ

“Yang mengikuti manusia berkata : “Ya Tuhan kami, saya tak menyesatkannya namun dialah yang ada dalam kesesatan yang jauh. ” (QS. Qaf : 27)

Satu tafsir dari Ibn Katsir menyebutkan sebenarnya Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, Mujahid, Qatadah serta sebagian ulama yang lain menyampaikan, “Yang mengikuti manusia yaitu setan yang ditugasi untuk mengikuti manusia. ” (Tafsir Ibnu Katsir, 7 : 403)

Hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam.

Baca Juga: 

4 GOLONGAN PRIA YANG MASUK NERAKA WALAUPUN SUDAH BERIBADAH

4 GOLONGAN PRIA YANG MASUK NERAKA WALAUPUN SUDAH BERIBADAH

4 GOLONGAN PRIA YANG MASUK NERAKA WALAUPUN SUDAH BERIBADAH

4 GOLONGAN PRIA YANG MASUK NERAKA WALAUPUN SUDAH BERIBADAH
4 GOLONGAN PRIA YANG MASUK NERAKA WALAUPUN SUDAH BERIBADAH

 

Inilah 4 Golongan Pria Yang Masuk Neraka Walaupun Sudah Beribadah

1. Ayah Durhaka

Golongan pria pertama yang masuk neraka adalah ayah yang tidak bertanggungjawab terhadap anak­anaknya. Ayah bukan hanya sekedar pasangan dari ibu, ayah bukan sekedar mesin ATM, setelah itu selesai urusan, ayah bukanlah sosok asing di rumah yang bicara seperlunya, atau hanya diperlukan Ayah merupakan pria yang bertanggungjawab terhadap keluarga, istri dan putraputrinya.

Tidak hanya bertanggungjawab terhadap , tapi juga akhlaknya, pendidikan, dan keberhasilan dunia dan akhirat. Inilah pesan Rasulullah SAW dalam sabdanya;

“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin, Seorang lelaki adalah pemimpin bagi anggota keluarganya, dan Ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang telah dipimpinnya atas mereka.” (HR. Muslim)

Sementara dalam Alquran, Allah juga telah menggariskan tugas setiap orang beriman. “Hai orang­orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu atas api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat­malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan­Nya kepada mereka yang selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,” (QS.At Tahrim:6)

Tiga golongan yang Allah haramkan surga atas mereka adalah pecandu khamr, durhaka kepada orang tua dan dayus, yaitu orang yang tidak cemburu ketika bermaksiat orang bermaksiat dengan keluarganya. (HR Ahmad)

Ancaman terhadap ayah yang menjadi dayus sejatinya bertujuan agar mereka menjadi pemimpin yang baik bagi anggota keluarga lainnya. Hari­hari ini, banyak ayah yang merasa tanggungjawab dan pengasuhan anak sepenuhnya ada di Ibu. Ia sudah merasa cukup memenuhi mereka dengan berbagai fasilitas.

2. Suami yang Dzalim

Golongan kedua yang akan menjadi penghuni neraka yaitu suami yang durhaka dan dz4l!m kepada istrinya. Istri merupakan amanah yang dititipkan walinya kepada seorang pria yang bernama suami. Wali wanita itu tentu mau melepaskan anak, saudara mereka karena mereka yakin suaminya dapat menjaga anak dan saudara mereka dengan baik.

Pesan berbuat baik kepada wanita bukan saja harapan setiap wali, tetapi perintah yang jelas ditegaskan oleh Allah dan Rasul­Nya dalam kitab dan sunnah. Dan bergaullah dengan mereka secara baik, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kepadanya kebaikan yang banyak. (Q.S Annisa:19).

Termasuk dalam hal yang baik yaitu, baik dalam bertutur kata, baik memperlakukannya, tidak bermuka masam ketika bertemu, begitu juga baik dalam nafkah. Bergaul dengan baik, berarti juga kesamaan dan kesetaraan. Artinya suami akan mendapat perlakuan baik dari istri ketika suami memperlakukan istrinya dengan baik. Bahkan suami diminta bersabar, menerima kekurangan dari istrinya. Juga ketika istri, tidak melaksanakan kewajibannya dengan maksimal.]

“Janganlah suami yang beriman membenci istrinya yang beriman. Jika dia tidak menyukai satu akhlak darinya, dia pasti menyukai
akhlak lain darinya”(HR Muslim).

Merupakan hak istri untuk mendapatkan nafkah dari suaminya, baik itu pangannya, pakaiannya, tempat tinggalnya dan semua keperluan yang disesuikan dengan kemampuan suami dan status istri. Bahkan dalam hal pangan, hak istri untuk mendapatkan makanan siap santap dari suaminya, demikian juga butuh tempat tinggal.

Sebagian ahli fiqih mengatakan, tempat tinggal untuk istri, haruslah khusus untuk istri tersebut tidak boleh bercampur dengan keluarga lainnya. Dan jika istrinya berasal dari kalangan berada yang biasa dilayani dengan pembantu, maka haknya juga untuk mendapatkan pembantu yang disediakan oleh sang suami.

Baca Juga: Kalimat Syahadat

3. Saudara Laki­ Laki yang Tidak Bertanggung jawab

Golongan laki­laki yang tidak masuk surga adalah saudara laki­laki, sebab jika ayahnya telah tiada, tanggungjawab menjaga seorang wanita adalah saudara lelakinya.

Termasuk dalam hal ini paman, jika mereka hanya mementingkan keluarganya saja, sementara adik atau keponakannya dibiarkan jauh dari ajaran Islam, maka tunggulah ancaman neraka di akhirat kelak.

Saudara laki­laki memiliki kewajibann yang melekat terhadap saudara­saudara perempuannya. Mulai dari mendidik, menyayangi, melindungi, dan membela mereka.

Jika ayah telah wafat, maka saudara laki­laki berperan sebagai pengganti ayah, wajib memberikan nafkah kepada saudara perempuan yang belum menikah atau yang menjanda jika mereka tidak mampu.

4. Anak Laki­laki yang Tidak Merawat Orang tuanya

Golongan pria keempat yang masuk neraka karena gagal menjalankan tugasnya adalah anak laki­laki. “Seorang laki­laki datang kepada Rasulullah lalu bertanya, Wahai Rasulullah siapakah orang yang palign berhak aku pergauli dengan sebaik­baiknya?”Sabdanya, “Ibumu” Ia lalu bertanya “kemudian siapa ?” Sabdanya “Ibumu” “kemudian siapa lagi?” Sabdanya “Ibumu”, “Kemudian siapa lagi”, Sabdanya “Ayahmu” (HR. Muslim).

Secara khusus, Islam menekankan hak ibu terhadap laki­laki kandungnya, mengapa terhadap anak perempuan kandungnya tidak. Karena setelah anak perempuan menikah Ia lebih berkewajiban mentaati suaminya dibanding Ibunya, sedangkan anak laki­laki meski sudah menikah, tidak mengurangi kewajibannya untuk berbakti kepada orangtuanya. Dan berbakti kepada Ibu lebih di dahulukan dari pada kepada istrinya. Jadi pengabdian anak laki­laki kepada Ibu kandungnya tidak putus, tetapi pengabdian anak perempuan lebih utama kepada suaminya.