Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid

Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid

Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid

Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid
Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid

Hukum mempelajari ilmu Tajwid

adalah Fardu kifayah, sedangkan mengamalkannya adalah Fardlu Ain bagi setiap orang yang membaca Al Qur an.
Dalam hal ini Imam Ibnu Jazari mengatakan :
وَالأَخْذُ بِالتَّجْوِيْدِ حَتْمٌ لازِمٌ – مَنْ لَمْ يُجَوِّدِ القُرْآنَ آ ِثمٌ
“Menggunakan atau mengamalkan Ilmu tajwid adalah merupakan suatu keharusan, maka barang siapa yang tidak memperbaiaki bacaan Al Qur a nya dia termasuk berdosa.

Qiro’ah

Seperti apa yang kita baca dan yang pernah kita dengar, bahwa Qiroah (bacaan) ayat-ayat Al Quran yang berlaku di negara Indonesia adalah Qiro’ah yang diriwayatkan oleh Hafs Bin Sulaiman bin Mughiroh bin Najwad “ Wafat tahun 128 H”, yang bacaannya disebut Qiroah Masyhuroh.
Perlu diketahui bahwa selain qiroah yang diriwayatkan oleh Imam Hafs an Ashim masih banyak lagi Imam yang meriwayatkan Qiro’ah .
Dibawah ini nama-nama Imam dalam qiro’ah Yang mutawatiroh atau yang disebut dengan Qiroah sab’ah ( Qiro’ah tujuh imam ) :
1. Abdullah bin Amr meninggal di Syam pada tahun 118 H. Perowi-perowinya yang terkenal (masyhur) adalah seperti Al Bazzi Abdul Hasan Hamid bin Muhammad dan Qonbul Abu Umar Muhammad.
2. Abu Ma’bad Abdullah bin Katsir, meninggal di Makkah pada tahun 120 H. Perowi-perowinya yang Masyhur adalah Abu Bakar Syu’bah bin Ilyas dan Abu Amr Hafah bin Sulaiman.
3. Abu Bakar “Ashim bin Abi An Nujud, meninggal di Kufah pada tahun 127 H. Perowi-perowinya yang Masyhur adalah Abu Syu’bah bin Ilyas dan Abu Amr Hafah bin Sulaiman
4. Abu Amr bin Al A’la, meninggal di Basrah pada tahun 154 H. Perowi-perowinya yang Masyhur adalah Ad Durawi, Abu Amr Hafas dan As Susi Abu Syu’aib Saleh bin Ziyad.
5. Nafi’ bin Na’im meninggal di Madinah tahun 109 H. Perowi-perowinya yang Masyhur adalah Qulum Abu Musa Isa bin Mina dan Warosy Abu Sa’id Utsman bin Sa’id.
6. Abdul Hasan Ali bin Hamzah Al Kisa’i, meninggal di Basrah pada tahun 189 H. Perowi-perowinya yang Masyhur adalah Abdul Harits Al Laits bin Khalid dan Ad Durawi.
7. Abu “Imarah Hamzah bin Habib, meninggal tahun 216 H. Perowi-perowinya yang Masyhur adalah Abu Muhammad Khalaf bin Hisyam dan Abu ‘Isa Khalid bin Khalid.

Methode Membaca Al Qur an

Perlu diingat bagi para Qori’, bahwa didalam membaca Ayat-ayat Al Qur an itu sendiri ada tata caranya (ukuran lambat dan cepat dalam membaca ayat Al Qur an) yang disahkan oleh Rasulullah SAW., begitu juga yang diberlakukan dikalangan para Ahlul Qurro’ wal Ada’ ada empat yaitu :
1.Tahqiq ( تحقيق ) : Membaca Al Qur an dengan menempatkan hak-hak huruf yang sesungguhnya. Yaitu menempatkan makhrorijul huruf, sifat-sifat huruf, mad-qoshr dan hukum-hukum bacaan yang telah ditetapkan oleh Ulama Ahlul Qurro’. Methode ini baik sekali untuk kalangan Mubtadiin (pemula).
2.Tartil (ترتيل ) : Membaca Al Qur an dengan pelan-pelan dan tanpa tergesa-gesa dengan memperhatikan makhrorijul huruf, sifat-sifat huruf, mad-qoshr dan hukum-hukum bacaan, sehingga suara bacaan menjadi jelas. Seperti bacaan Mahmud Al Qushairi. Bacaan Tartil belum tentu tahqiq akan tetapi tahqiq sudah pasti tartil.
3.Tadwir ( تد وير) : Membaca Al Qur an antara bacaan yang cepat dengan bacaan yang pelan (sedang).
4.Hadr ( حد ر ) : Membaca Al Qur an dengan sangat cepat , sehingga seakan-akan tidak jelas dalam suaranya.
Demikianlah beberapa methode membaca Al Qur an yang ada, dari masing masing methode harus menggunakan kaidah-kaidah Tajwid yang berlaku ( ketika seorang Qori’ membaca lambat atau cepat ), sehingga kesempurnaan bacaan masih tetap dan utuh. Sedangkan cara membaca yang terbaik adalah dengan methode yang pertama yaitu Tahqiq.

Baca Juga:

Pengertian Ilmu Tajwid

Pengertian Ilmu Tajwid

Pengertian Ilmu Tajwid

 

Pengertian Ilmu Tajwid
Pengertian Ilmu Tajwid

Tajwid

menurut bahasa adalah tahsin : memperbaiki atau mendatangkan bacaan dengan baik. Sedangkan menurut istilah adalah Ilmu yang mempelajari cara mengucapkan huruf-huruf Al Qur an tentang tebal dan tipisnya, panjang dan pendeknya, sifat-sifatnya, dan hukum membaca huruf Hijaiyah bila bertemu dengan huruf yang lain. Sehingga menjadi suatu bacaan yang baik.

hukum tajwid lengkap

Contoh Ilmu Tajwid

Ringkasan Contoh ilmu tajwid(hukum bacaan)
Wakaf:
Dari sudut bahasa berarti berhenti/menahan.
Menurut istilah tajwid, memutuskan suara di akhir kata untuk bernafas sejenak dengan niat meneruskan kembali bacaan
jenis wakaf :
lazim
jaiz
muraqabah
mamnuu’
sakta lathifah
Qalqalah:

Qalqalah menurut bahasa, berarti getaran.
Menurut istilah tajwid, getaran suara terjadi ketika mengucapkan huruf yang sukun sehingga menimbulkan semacam aspirasi suara yang kuat, baik sukun asli ataupun tidak.
Huruf qalqalah ada 5, yaitu yang tergabung dalam Huruf Qalqalah yaitu: huruf Huruf Qaf, Huruf Tha, Huruf Ba, Huruf Jimdan Huruf Dal
Syarat qalqalah: Hurufnya harus sukun, baik sukun asli atau yang terjadi karena berhenti pada huruf qalqalah.
Iqlab, yaitu:
Menurut bahasa, berarti merubah sesuatu dari bentuknya.
Menurut istilah tajwid, meletakkan huruf tertentu pada posisi huruf lain dengan memperhatikan ghunnah dan penuturan huruf yang disembunyikan (huruf mim).
Dinamakan iqlab karena terjadinya perubahan pengucapan nun sukun atau tanwin menjadi mim yang tersembunyi dengan disertai dengung.
Huruf iqlab hanya 1, yaitu huruf ba.
Idgham, yaitu:
Menurut bahasa, berarti memasukkan sesuatu ke dalam sesuatu.
Menurut istilah tajwid, memasukkan huruf yang sukun ke dalam huruf yang berharakat, sehingga menjadi satu huruf yang bertasydid.
Idgham terbagi 2, yaitu: Idgham Bighunnah (disertai dengung) dan Idgham Bila Ghunnah (tanpa dengung).
Catatan: Idgham tidak terjadi kecuali dari 2 kata.
Idgham Bighunnah, yaitu:
Idgham bighunnah mempunyai 4 huruf, yaitu yang tergabung dalam kalimat: Nun & Tanwin Idgham Bighunnah yaitu: Huruf Ya, Huruf Nun, Huruf Mim dan Huruf Wau
Apabila salah satu hurufnya bertemu dengan nun sukun atau tanwin (dengan syarat di dalam 2 kata), maka harus dibaca idgham bighunnah, kecuali pada 2 tempat, yaitu: Nun & Tanwin Idgham Bighunnah dan Nun & Tanwin Idgham Bighunnah yang harus dibaca Izhar Muthlaq, berbeda dengan kaidah aslinya. Hal ini sesuai dengan bacaan yang diriwayatkan oleh Imam Hafsh
Idgham Bila Ghunnah, yaitu:
Idgham bila ghunnah mempunyai 2 huruf, yaitu: Huruf Ra dan Huruf Lam
Apabila salah satu hurufnya bertemu dengan nun sukun atau tanwin (dengan syarat di dalam 2 kata), maka bacaannya harus idgham bila ghunah kecuali nun yang terdapat dalam ayat Nun & Tanwin Idgham Bila Ghunnah, karena disini harus di baca saktah (diam sebentar tanpa bernafas) yang menghalangi adanya bacaan idgham.

Baca Juga: https://www.pendidik.co.id/doa-sebelum-belajar/

MATERI ILMU TAJWID – TANDA-TANDA WAQAF DAN WASHAL

Waqaf artinya: sebaiknya berhenti.
م ( وقف لا زم ) : harus berhenti
( معا نقه ) : berhenti di salah satu titik
ط ( وقف مطلق ) : sebaiknya berhenti
قلى ( الوقف اولى ) : sebaiknya berhenti
قف ( الوقف ) : sebaiknya berhenti
ج ( وقف جا ئز ) : boleh berhenti, juga boleh terus
Washol artinya : sebaiknya terus.
لا ( الوقف ممنوع ) : sebaiknya terus
صلى ( الوصل اولى ) : sebaiknya terus
ز ( مجوز الوقف ) : sebaiknya terus
ص ( مر خص الوقف ) : sebaiknya terus
ق ( قيل هو وقف ) : sebaiknya terus

Kegunaan Ilmu Tajwid

Kegunaan dari mempelajari Ilmu Tajwid adalah :
1. Agar tidak ada kesalahan dalam membaca ayat-ayat Allah (Al Qur an)
2. Agar aya-ayat yang kita baca sesuai dengan ketentuan-ketentuan bahasa Arab, baik cara pengucapan huruf, sifat-sifat huruf dan kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh Ulama Ahli Qurro.

Ruang Lingkup Ekonomi Mikro Islam

Ruang Lingkup Ekonomi Mikro Islam

Ruang Lingkup Ekonomi Mikro Islam

[10]Pada dataran teoritis, ada beberapa pokok bahasan ilmu mikro ekonomi yang telah menjadi kajian dari sudut pandang ilmu ekonomi Islam, diantaranya adalah:

  1. Asumsi Rasionalitas dalam Ekonomi Islami
  2. Perluasan konsep Rasionalitas melalui persyaratan transitivitas dan pengaruh infak (sedekah) terhadap utilitas.
  3. Perluasan spektrum utilitas oleh nilai Islam tentang halal dan haram
  4. Pelonggaran persyaratan kontinuitas, misal permintaan barang haram ketika keadaan darurat.
  5. Perluasan horison waktu (kebalikan konsep time value of money)
  6.  Teori – Teori Ekonomi Mikro Islam
  7. Teori Permintaan Islami

1)      Peningkatan Utilitas antara barang halal dan haram.

2)       Corner Solution untuk pilihan halal-haram.

3)      Permintaan barang haram dalam keadaan darurat (tidak optimal)

  1. Teori Produksi Islami

1)      Perbandingan pengaruh sistem bunga dan bagi hasil terhadap biaya produksi,

2)      pendapatan, dan efisiensi produksi.

  1. Teori Penawaran Islami

1)      Perbandingan pengaruh pajak penjualan dan zakat perniagaan terhadap surplus produsen.

2)      Internalisasi Biaya Eksternal.

3)      Penerapan Biaya Kompensasi, batas ukuran, atau daur ulang.

Sumber :

https://whypoll.org/

 

ADZAN DAN IQAMAH KETIKA SHALAT HARI RAYA IDUL FITRI DAN IDUL ADHA

ADZAN DAN IQAMAH KETIKA SHALAT HARI RAYA IDUL FITRI DAN IDUL ADHA

ADZAN DAN IQAMAH KETIKA SHALAT HARI RAYA IDUL FITRI DAN IDUL ADHA

ADZAN DAN IQAMAH KETIKA SHALAT HARI RAYA IDUL FITRI DAN IDUL ADHA
ADZAN DAN IQAMAH KETIKA SHALAT HARI RAYA IDUL FITRI DAN IDUL ADHA

Bismillahirrahmanirrahim

Tidak ada adzan pada shalat ‘ied dan tidak ada iqamah. Tapi disunnahkan mengucapkan nida’ pada shalat hari raya dengan mengucapkan kalimat “ASH-SHALATU JAMI’AH”. Sebagaimana telah disebutkan, ini diqiyaskan dengan shalat Kusuf.

Imam Syafi’i didalam Al-Umm berkata : aku menyukai seorang imam memerintahkan muadzdzin pada hari raya supaya mengucapkan : “ASJ-SHALATU JAMI’AH” atau “ASH-SHALAH”.

Jika misalnya muadzdzin mengatakan : “DATANGLAH MENUJU SHALAT”, maka tidak kami makruhkan dan apabila mengucapkan : “HAYYA ‘ALASH-SHALAH”, maka tidak apa-apa. Tapi aku suka untuk menghindari mengucapkan yang seperti itu karena itu bagian dari lafadz Adzan dan aku menyukai untuk menghindari semua ucapan yang mengandung lafadz-lafadz Adzan.

Dan apabila seandainya dilakukan adzan dan iqamah untuk shalat ‘ied, maka aku memakruhkannya dan tidak menjadikan sebagai kebiasaan, inilah perkataan Imam Syafi’i. Sedangkan Ad-Darimiy mengatakan : bahwa seandainya mengucapkan “HAYYA ‘ALASH-SHALAH” maka makruh, karena itu bagian dari lafadz Adzan.

Dan yang benar adalah sebagaimana nash Imam Syafi’i bahwa beliau tidak memakruhkannya, dan sungguh yang lebih utama adalah menghindarinya dan menghindari penggunaan seluruh lafadz-lafadz Adzan.

Refrensi

Kitab Majmu’ Syarah Muhadzdzab

قال المصنف رحمه الله تعالى ( ولا يؤذن لها ولا يقام لما روي عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : { شهدت العيد مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ومع أبي بكروعمر وعثمان رضي الله عنهم فكلهم صلى قبل الخطبة بغير أذان ولا إقامة } ” والسنة أن ينادى لها : الصلاة جامعة لما روي عن الزهري أنه كان ينادى به )

( الشرح ) حديث ابن عباس صحيح ، ورواه أبو داود بإسناد صحيح على شرطالبخاري ومسلم ، إلا أنه قال : وعمر أو عثمان ورواه البخاري ومسلم عن ابن عباس وجابر قالا : لم يكن يؤذن يوم الفطر والأضحى ، وفي صحيح مسلم عنجابر ” { شهدت مع النبي صلى الله عليه وسلم يوم العيد فبدأ بالصلاة قبل الخطبة بغير أذان ولا إقامة } ” وعن جابر بن سمرة ” { شهدت مع النبي صلى الله عليه وسلم العيدين غير مرة ولا مرتين بغير أذان ولا إقامة } ” رواه مسلم

وأما هذا المروي عن الزهري فرواه الشافعي بإسناد ضعيف مرسلا فقال الشافعيفي الأم : أخبرنا الثقة عن الزهري قال : ” { لم يكن يؤذن للنبي صلى الله عليه وسلم ولا أبي بكر ولا عمر ولا عثمان في العيدين } حتى أحدث ذلك معاويةبالشام وأحدثه الحجاج بالمدينة حين مر عليها قال الزهري : { وكان النبي صلى الله عليه وسلم يأمر في العيدين المؤذن فيقول : الصلاة جامعة } ويغني عن هذا الحديث الضعيف القياس على صلاة الكسوف فقد ثبتت الأحاديث الصحيحة فيها ( منها ) حديث عبد الله بن عمرو بن العاص قال : ” { لما كسفت الشمس في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم نودي بالصلاة جامعة } ” وفي رواية ” { أن الصلاة جامعة } ” رواه البخاري ومسلم .

وعن عائشة ” { أن الشمس خسفت على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فبعث مناديا الصلاة جامعة } ” رواه البخاري ومسلم قوله : عن الزهري أنه كان ينادى به ، هو بفتح الدال وقوله ” الصلاة جامعة ” هما منصوبان ، الصلاة : على الإغراء ، وجامعة : على الحال ( أما الأحكام ) فقال الشافعي والأصحاب : لا يؤذن للعيد ولا يقام وبهذا قال جمهور العلماء من الصحابة والتابعين ومن بعدهم وعليه عمل الناس في الأمصار ، للأحاديث الصحيحة التي ذكرناها قال ابن المنذر : وروينا عن ابن الزبير أنه أذن لها وأقام قال : وقال حصين : أول من أذن في العيد زياد وقيل : أول من أذن لها معاوية وقيل غيره قال الشافعيوالأصحاب : ويستحب أن يقال : الصلاة جامعة ; لما ذكرناه من القياس على الكسوف قال الشافعي في الأم : وأحب أن يأمر الإمام المؤذن أن يقول في الأعياد ، وما جمع الناس من الصلاة : الصلاة جامعة أو الصلاة قال : وإن قال : هلم إلى الصلاة لم نكرهه وإن قال : حي على الصلاة فلا بأس وإن كنت أحب أن يتوقى ذلك ; لأنه من كلام الأذان وأحب أن يتوقى جميع كلام الأذان قال : ولوأذن أو أقام للعيد كرهته له ولا إعادة عليه هذا كلام الشافعي وقال صاحب العدة : لو قال : حي على الصلاة كره ; لأنه من ألفاظ الأذان والصواب ما نص عليهالشافعي أنه لا يكره وأن الأولى اجتنابه ، واجتناب سائر ألفاظ الأذان

Baca Juga:

CARA PELAKSANAAN SHALAT IDUL FITRI DAN IDUL ADHA

CARA PELAKSANAAN SHALAT IDUL FITRI DAN IDUL ADHA

CARA PELAKSANAAN SHALAT IDUL FITRI DAN IDUL ADHA

CARA PELAKSANAAN SHALAT IDUL FITRI DAN IDUL ADHA
CARA PELAKSANAAN SHALAT IDUL FITRI DAN IDUL ADHA

Bismillahirrahmanirrahim

Sholat ‘ied adalah

shalat dua rakaat, yaitu melakukan takbiratul ihram dua rakaat tersebut dengan niat shalat idul Fitri atau idul Adha dan membaca do’a iftitah.

Di dalam rakaat pertama membaca takbir tujuh kali selain takbiratul ihram, kemudian membaca ta’awudz (SUBHANALLAH WAL-HAMDULILLAH WALAA ILAAHA ILLAAHU ALLAHU AKBAR), membaca surat Al-Fatihah, dan kemudian membaca surah Qaf dengan mengeraskan suara.

Di dalam rakaat kedua membaca takbir lima kali selain takbir untuk berdiri, kemudian membaca ta’awudz (SUBHANALLAH WAL-HAMDULILLAH WALAA ILAAHA ILLAAHU ALLAHU AKBAR), lalu membaca surat Al-Fatihah dan kemudian membaca surah Al-Qamar dengan mengeraskan suara.

Di sunahkan berhenti sebentar sepanjang satu ayat diantara setiap takbir dan mengangkat kedua tangan saat melakukan takbir tambahan dan meletakan tangan kanan di atas tangan kiri diantara dua takbir tambahan.

Apabila tidak melakukan takbir tambahan, maka tdk disunnahkan sujud sahwi dan disunnahka membaca dengan keras saat membaca takbir dan ta’awudz diantara takbir dibaca secara pelan.

Refrensi

Kitab Fathul Qarib

(وهي) أي صلاة العيد (ركعتان) يحرم بهما بنية عيد الفطر أو الأضحى، ويأتي بدعاء الافتتاح؛ و (يكبر في) الركعة (الأولى سبعا سوى تكبيرة الإحرام)، ثم يتعوذ ويقرأ بعدها سورة «ق» جهرًا، (و) يكبر (في) الركعة (الثانية خمسا سوى تكبيرة القيام) ثم يتعوذ، ثم يقرأ الفاتحة وسورة «اقتَرَبَت» جهرا.

Kitab Fiqh Ibadah Madzhab Syafi’i

وهي ركعتان لقول عمر رضي الله عنه: “صلاة الأضحى ركعتان، وصلاة الفطر ركعتان” (النسائي ج 3/ ص 183)
وصفتها المجزئة كصفة سائر الصلوات، وسننها كغيرها من الصلوات، وينوي بها صلاة العيد، وهذا أقلها.
وأكملها أن يحرم بالركعتين مع النية- ولا بد فيها من التعيين- أم يأتي بدعاء الافتتاح، ثم يكبر قبل التعوذ (ولا يفوت التكبير بالتعوذ لكن بالبدء بالقراءة) سبع تكبيرات سوى تكبيرتي الإحرام والركوع، ويجهر بالتكبير ولو كان مأموماً أو قاضياً لها، ويرفع يديه حذو منكبيه في الجميع، ويضع يمناه على يسراه تحت صدره بعد كل تكبيرة، ويسن جعل كل تكبيرة في نَفَس، ويفصل بين كل تكبيرتين بمقدار آية معتدلة، بأن يقول: سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر (وهي الباقيات الصالحات، وعل صيغتها اتفق أكثر أصحاب الشافعي) ويقولها سراً، ويكره تركها، ثم يتعوذ بعد التكبيرات، ثم يقرأ الفاتحة، ثم يقرأ الفاتحة، ثم يقرأ سورة ق أو الأعلى أو الكافرون جهراً، وفي الثانية يكبر خمساً عدا تكبيرتي القيام والهوي إلى الركوع ثم يقرأ بعد الفاتحة سورة القمر إن قرأ في الأولى سورة ق (لحديث رواه أبو واقد الليثي، مسلم ج 2/كتاب صلاة العيدين باب 3/14) ، أو الغاشية إن قرأ في الأولى الأعلى (لحديث رواه النعمان بن بشير، مسلم ج 2/ كتاب الجمعة باب 16/62) أو الإخلاص إن قرأ في الأولى الكافرون. لما روي عن عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما قال: قال نبي الله صلى الله عليه وسلم: (التكبير في الفطر سبع في الأولى وخمس في الآخرة، والقراءة بعدهما كلتيهما) (أبو داود ج 1/ كتاب الصلاة باب 251/1151)

Sumber: https://www.dutadakwah.org/

Ucapan Khulu’ dan Masa Iddah

Ucapan Khulu’ dan Masa Iddah

Ucapan Khulu’ dan Masa Iddah

Ucapan Khulu’ dan Masa Iddah

Ucapan Khulu’

Mengenai ucapan atau lafadl khulu’ para ulama terbagi kepada dua kelompok. Pertama, kelompok yang berpendapat bahwa untuk sahnya khulu’ haruslah diucapkan dengan menggunakan kata khulu’ atau kata yang diambil dari kata khulu’ atau kata lain yang mempunyai arti seperti khulu’, umpamanya mubara’ah (membebaskan) atau fidyah (tebusan). Apabila tidak dengan kata khulu’ atau kata yang tidak bermakna khulu’ maka tidak termasuk khulu’, seperti suami berkata: “engkau tertalaq (anti taliqun)” sebagai imbalan barang/uang seharga …., lalu isteri mau menerimanya. Maka perbuatan ini adalah talak dengan imbalan harta. Talaknya jatuh tetapi uangnya bukan khulu’.
Ibnul Qayim membantah pendapat di atas, ia mengatakan: barangsiapa mau memikirkan hakekat dan tujuan aqad atau perjanjian, bukan hanya melihat kata-kata yang diucapkan saja, tentu akan menganggap khulu’ sebagai fasakh, walaupun diucapkan dengan kata apapun juga, dengan kata talaq sekalipun. Alasannya, bahwa dalam kasus isteri Tsabit bin Qais, Nabi menyuruh Tsabit bin Qais mentalak isterinya secara khulu’ dengan sekali talak dan Nabi menyuruh isteri Tsabit beriddah dengan satu kali haid. Hal ini secara jelas menunjukkan fasakh, sekalipunterjadinyaperceraian dengan ucapan talak. Allah juga menghubungkannya dengan fidyah, karenamemangadatebusannya.Sudah maklum bahwa fidyah tidak mempunyai pernyataan dengan kata-kata khusus dan Allah tidak menetapkan lafadh yang khusus untuk itu. Thalaq dengan tebusan sifatnya terbatas, dan tidak tergolong kedalam hukum thalaq yang dibolehkan ruju’ kembali dan beriddah dengan tiga kali masa bersih hadits seperti ketentuan sunnah yang sah.

Iddah Istri yang Dikhulu’

Dalam hadis riwayat an-Nasai’ dari Muawidz bin ‘Afra’ mengenai khulu’nya istri Tsabit bin Qais :
خذ الذي لها عليك و خل سبيلها قال نعم فامرها رسول الله صلى الله عليه وسلم انتتربص حيضة وا حدة فتلحق با هلها (رواه النسا ء)
Ambillah miliknya untukmu dan mudahkanlah urusannya. Tsabit menjawab : ya. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan istri Tsabit beriddah satu kai haid dan dikembalikan kepada keluarganya.
Menurut hadis di atas bahwa iddahnya istri yang dikhulu’ itu hanya satu kali haid. Demikianlah pendapat Usman bin Affan, Ibnu Abbas, Abdullah bin Umar, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih (guru Imam Bukhari), Ibnu Taimiyah. Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa iddahnya istri yang dikhulu’ ialah tiga kali quru’ kalau mereka masih haid.
Menurut Ibnu Taimiyah, dalam talak biasa iddah itu tiga kali quru’ adalah untuk memperpanjang masa ruju’, agar suami bisa berpikir panjang untuk dapat meruju’ istrinya dalam masa iddah. Sedangkan dalam khulu’ ruju’ itu tidak ada, maka iddahnya hanya satu kali haid, ssdimaksudkan hanya untuk membersihkan kandungan saja.

Baca Juga:

Akibat Khulu’ & Perbedaanya dengan Fasakh

Akibat Khulu’ & Perbedaanya dengan Fasakh

Akibat Khulu’ & Perbedaanya dengan Fasakh

Akibat Khulu’ & Perbedaanya dengan Fasakh

Akibat Cerai dengan Khulu’

Jumhur ulama, termasuk imam mazhab empat berpendapat bahwa apabila terjadi khulu’, maka istri berkuasa atas dirinya dan perkara sepenuhnya terserah dia, serta tidak ada lagi haknya suami terhadapnya. Hal ini disebabkan istri telah mengeluarkan iwadh untuk melepaskan dirinya dari ikatan suami istri. Sekalipun suami bersedia mengembalikan tebusan istrinya, suami tetap tidak berhak meruju’ istrinya selama masa iddah.

Pendapat lain muncul dari riwayat Sa’id bin Musayyab dan Az-Zuhri (guru Imam Malik). Bahwa jika bekas suami ingin merujuk istri kembali maka ia harus mengembalikan tebusan yang diambil dari istrinya dalam masa iddahnya dan hendaklah disaksikan oleh orang lain ruju’nya itu. Namun pendapat Jumhur lebih rajih, karena kalau suami berhak meruju’ istri, maka tidak ada artinya tebusan istri terhadap suaminya.

Apabila suami ingin kembali kepada istri yang mengkhulu’nya hal ini diperbolehkan, asalkan sang istri setuju dan dilakukan dengan akad nikah yang baru. Dalam KHI bagian kelima Pasal 161 bahwa perceraian dengan jalan khulu’ mengurangi jumlah talak dan tak dapat dirujuk.

Khulu’ itu Talak atau Fasakh

Para fuqaha berbeda pendapat apak khulu’ itu termasuk talak atau fasakh? Jumhur ulama berpendapat bahwa khulu’ itu termasuk talak ba’in sebagaimana disebutkan dalam hadis : اقبل حديقة و تطلقها تطليقة . Dalam hadis ini Nabi menyuruh agar mencerai istri dengan talak satu.
Sebagian fuqaha, seperti Ahmad bin Hanbal, Dawud ad-Dahiri, dan dari kalangan sahabat : Usman bin Affan, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, berpendapat bahwa khulu’ itu fasakh bukan talak.
Menurut Ibnnu Qayim, khulu’ itu fasakh bukan talak. Ada riga alasan yang menunjukkan bahwa khulu’ itu bukan talak :
Pertama, dalam talak suami berhak meruju’ istrinya, sementara dalam khulu’ suami tidak boleh meruju’ istrinya.
Kedua, kalau suami menjatuhkan talak yang ketiga kalinya ia tidak boleh kembali kepada istrinya, kecuali setelah istri nikah dengan laki-laki lain. Menurut mash bahwa khulu’ boleh dilakukan setelah talak yang kedua kali dan sesudah itu masih bisa menjatuhkan talak yang ketiga.
Ketiga, iddah talak ialah tiga kali quru’, sementara iddah quru’ adalah satu kali haid.
Perbedaan pendapat di atas berpengaruh terhadap jumlah talak yang dimiliki suami. Bagi yang berpendapat bahwa khulu’ termasuk talak, ia akan mengurangi jumlah talak, sedangkan bagi yang tidak memasukkan sebagai talak, maka tidak akan mengurangi talak yang dimiliki.

Sumber: https://www.wfdesigngroup.com/

Adab Dalam PUASA

Adab Dalam PUASA

Adab Dalam PUASA

Adab Dalam PUASA

Adab Puasa

1. Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra. telah bersabda Rasulullah saw: Apabila malam sudah tiba dari arah sini dan siang telah pergi dari arah sini, sedang
matahari sudah terbenam, maka orang yang puasa boleh berbuka. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

2. Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Manusia ( ummat Islam ) masih dalam keadaan baik selama mentakjilkan
(menyegerakan) berbuka. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

3. Diriwayatakan dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah saw berbuka dengan makan beberapa ruthaab (kurma basah ) sebelum shalat, kalau tidak ada maka dengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk. ( H.R : Abu Daud dan Al-Hakiem )

4. Diriwayatkan dari Salman bin Amir, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Apabila salah seorang diantara kamu puasa hendaklah berbuka dengan
kurma, bila tidak ada kurma hendaklah dengan air, sesungguhnya air itu bersih. ( H.R : Ahmad dan At-Tirmidzi )

5. Diriwayatkan dari Ibnu Umar : Adalah Nabi saw. selesai berbuka Beliau berdo’a (artinya) telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala
tetap ada Insya Allah. ( H.R : Ad-Daaruquthni dan Abu Daud hadits hasan )

6. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila makan malam telah disediakan, maka mulailah makan sebelum shalat Maghrib, janganlah mendahulukan shalat daripada makan malam itu ( yang sudah terhidang ). ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

7. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra: Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda : Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya makan sahur itu berkah. (H.R :
Al-Bukhary )

8. Diriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’di Yaqrib, dari Nabi saw. bersabda : Hendaklah kamu semua makan sahur, karena sahur adalah makanan yang penuh berkah. ( H.R : An-Nasa’i )

9. Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit t berkata : Kami bersahur bersama Rasulullah saw. kemudian kami bangkit untuk menunaikan shalat ( Shubuh ). saya berkata :
Berapa saat jarak antara keduanya ( antara waktu sahur dan waktu Shubuh )?Ia berkata : Selama orang membaca limapuluh ayat. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

10. Diriwayatkan dari Amru bin Maimun, ia berkata : Adalah para sahabat Muhammad saw. adalah orang yang paling menyegerakan berbuka dan melambatkan makan sahur. ( H.R : Al-Baihaqi )

11. Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila salah seorang diantara kamu mendengar adzan dan piring masih di tangannya janganlah diletakkan hendaklah ia
menyelesaikan hajatnya ( makan/minum sahur )daripadanya. (H.R : Ahmad dan Abu Daud dan Al-Hakiem )

Baca Juga:

Keutamaan dan Hikmah Puasa Ramadhan

Keutamaan dan Hikmah Puasa Ramadhan

Keutamaan dan Hikmah Puasa Ramadhan

Keutamaan dan Hikmah Puasa Ramadhan

 

1. Puasa Adalah Perisai [Pelindung]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka” [Hadits Riwayat Ahmad 3/241, 3/296 dari Jabir, Ahmad 4/22 dan Utsman bin Abil ‘Ash. Ini adalah hadits yang shahih].

2. Puasa Bisa Memasukkan Hamba ke Surga

Dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘anhu katanya, “Aku berkata (kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) : “Wahai Rasulullah, tunjukkan padaku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke surga.? Beliau menjawab : “Atasmu puasa, tidak ada (amalan) yang semisal dengan itu” [Hadits Riwayat Nasa’i 4/165, Ibnu Hibban hal. 232 Mawarid, Al-Hakim 1/421, sanadnya Shahih]

3. Pahala Orang Puasa Tidak Terbatas

4. Orang Puasa Punya Dua Kegembiraan

5. Bau Mulut Orang Yang Puasa Lebih Wangi dari Baunya MiskDari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, (bahwasanya) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Semua amalan bani Adam untuknya kecuali puasa [Baginya pahala yang terbatas, kecuali puasa karena pahalanya tidak terbatas] , karena puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah : ‘Aku sedang berpuasa’ [1]. Demi dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesunguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau misk[2] orang yang puasa mempunyai dua kegembiraan, jika berbuka mereka gembira, jika bertemu Rabbnya mereka gembira karena puasa yang dilakukannya” [Bukhari 4/88, Muslim no. 1151, Lafadz ini bagi Bukhari].

6. Puasa dan Al-Qur’an Akan Memberi Syafa’at Kepada Ahlinya di hari Kiamat

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat kepada hamba di hari Kiamat, puasa akan berkata : “Wahai Rabbku, aku akan menghalanginya dari makan dan syahwat, maka berilah dia syafa’at karenaku”. Al-Qur’an pun berkata : “Aku telah menghalanginya dari tidur di malam hari, maka berilah dia syafa’at karenaku” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Maka keduanya akan memberi syafa’at”

7. Puasa Sebagai Kafarat

Puasa dan shadaqah bisa menghapuskan fitnah seorang pria dari harta, keluarga dan anaknya. Dari Hudzaifah Ibnul Yaman Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) : “Fitnah pria dalam keluarga (isteri), harta dan tetangganya, bisa dihapuskan oleh shalat, puasa dan shadaqah” [Hadits Riwayat Bukhari 2/7, Muslim 144]

Baca Juga: nama bayi perempuan islam

8. Ar Rayyan Bagi Orang yang Puasa

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (bahwa beliau) bersabda (yang artinya) : “Sesungguhnya dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Rayyan, orang-orang yang puasa akan masuk di hari kiamat nanti dari pintu tersebut, tidak ada orang selain mereka yang memasukinya. Jika telah masuk orang terakhir yang puasa ditutuplah pintu tersebut. Barangsiapa yang masuk akan minum, dan barangsiapa yang minum tidak akan merasa haus untuk selamanya” [Hadits Riwayat Bukhari 4/95, Muslim 1152, dan tambahan lafadz yang akhir ada pada riwayat Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya 1903]

PENGERTIAN THAHARAH (BERSUCI) DAN PEMBAGIANNYA

PENGERTIAN THAHARAH (BERSUCI) DAN PEMBAGIANNYA

PENGERTIAN THAHARAH (BERSUCI) DAN PEMBAGIANNYA

PENGERTIAN THAHARAH (BERSUCI) DAN PEMBAGIANNYA

 

Ternyata masih banyak orang di kalangan kaum muslimin yang belum memahami pentingnya thaharah (bersuci). Seolah thaharah hanyalah bagian dari kurikulum pelajaran Agama Islam di sekolah, atau dalam bab Fiqih Ibadah, tapi dalam prakteknya, masih banyak yang belum mengaplikasikannya dengan benar sesuai dengan Al-Qur’an dan As Sunnah.
Apa itu thaharah? Dan apa saja pembagian thaharah?
Dalam bab ini insya Allah akan saya ulas sedikit tentang pengertian thaharah dan pembagiannya. Semoga bermanfaat.
مفهوم الطهارة
الطهارة لغة : النظافة، و التخلص من الأقذار ومن النجاسات.
الطهارة شرعاً : إزالة حكم الحدث، لأداء الصلاة أو غيرها مما تشترط فيه الطهارة بالماء أو بالبديل عنه وهو التيمم

Pengertian thaharah

Thaharah secara bahasa berarti bersih dan membebaskan diri dari kotoran dan najis. Sedangkan pengertian thaharah secara istilah (syara’) adalah menghilangkan hukum hadats untuk menunaikan shalat atau (ibadah) yang selainnya yang disyaratkan di dalamnya untuk bersuci dengan air atau pengganti air, yaitu tayammum.
Jadi, pengertian thaharah atau bersuci adalah mengangkat kotoran dan najis yang dapat mencegah sahnya shalat, baik najis atau kotoran yang menempel di badan, maupun yang ada pada pakaian, atau tempat ibadah seorang muslim.

الطهارة قسمان :
• الطهارة المعنوية : وهي الطهارة من الشرك والمعاصي ، وتكون بالتوحيد والاعمال الصالحة ، وهي أهم من طهارة البدن ، بل لا يمكن أن تقوم طهارة البدن مع وجود نجس الشرك. قال الله تعالى :{ إنا المشركون نجس } (التوبة :٢٨)، وقال تعالى: {أُوْلاَئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْي وَلَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمُ} (المائدة: ٤١). فيجب على كل مكلف أن يطهر قلبه من نجاسة الشرك والشك ، وذلك بالإخلاص والتوحيد واليقين . ويطهر نفسه وقلبه من أقذار المعاصي ، وآثار الحسد والحقد ، والغل والغش ، والكبر ، والعجب والرياء والسمعة . وذلك بالتوبة الصادقة من جميع الذنوب والمعاصي . وهذه الطهارة هي شطر الإيمان .
• الطهارة الحسية
وهي الطهارة من الأحداث والنجاسات ، وهذا هو شطر الإيمان الثاني ، قال عليه السلام : ( الطهور شطر الإيمان ) ـ وتكون بما شرع الله من الوضوء ، والغسل ، أو التيمم عن فقدان الماء ، وزوال النجاسة أو إزالتها من اللباس ، والبدن ، ومكان الصلاة

Pembagian thaharah

Thaharah itu terbagi menjadi dua :

1. Thaharah ma’nawiyah atau thaharah qalbu (hati)

yaitu bersuci dari syirik dan maksiat dengan cara bertauhid dan beramal sholeh, dan thaharah ini lebih penting dan lebih utama daripada thaharah badan. Karena thaharah badan tidak mungkin akan terlaksana apabila terdapat syirik. Dalilnya adalah sebagai berikut :
إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَس
“Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis” (QS. At-Taubah : 28)
أُوْلاَئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْي وَلَهُمْ فِي اْلأَخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمُ
“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan didunia dan diakhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS. Al-Maaidah: 41)
Maka wajib bagi seorang muslim yang berakal untuk mensucikan dirinya dari syirik dan keraguan dengan cara ikhlas, bertauhid, dan yakin. Dan juga wajib atasnya untuk mensucikan diri dan hatinya dari kotoran-kotoran maksiat, dengki, benci, dendam, penipuan, kesombongan, ‘ujub, riya‘, dan sum’ah.

Baca Juga: Sholat Rawatib

2. Thaharah hissiyah atau thaharah badan

yaitu mensucikan diri dari hadats dan najis, dan ini adalah bagian dari iman yang kedua. Allah mensyariatkan thaharah badan ini dengan wudhu dan mandi, atau pengganti keduanya yaitu tayammum (bersuci dengan debu). Penghilangan najis dan kotoran ini meliputi pembersihan pakaian, badan, dan juga tempat shalat. Dalilnya adalah sebagai berikut :
الطهور شطر الإيمان
“Sesungguhnya kebersihan itu sebagian dari iman”
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلِكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِن كُنتُم مَّرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ الْغَآئِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَآءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ مَايُرِيدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan sapulah (usaplah) kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau salah seorang dari kamu kembali dari tempat buang air (wc/kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu, Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmAt-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Maaidah: 6)
Sedangkan menurut Imam Ibnu Rusyd, thaharah itu terbagi menjadi dua, yaitu :
1. Thaharah dari hadats, yaitu membersihkan diri dari hadats kecil (sesuatu yang diminta -bersucinya dengan- wudhu) dan dari hadats besar (sesuatu yang diminta -bersucinya dengan – mandi).
2. Thaharah dari khubts atau najis, yaitu membersihkan diri, pakaian, dan tempat ibadah dari sesuatu yang najis dengan air.