Ahmad Umar Hasyim

Ahmad Umar Hasyim

Ahmad Umar Hasyim

Ahmad Umar Hasyim
Ahmad Umar Hasyim

Biografi Ahmad Umar Hasyim

Syeikh Prof Dr Ahmad Umar Hasyim merupakan professor hadith dan ulum hadith di Universiti al-Azhar, Mesir. Beliau juga merupakan ahli Majma’ al-Buhuth al-Islamiyyah(Akademi Penyelidikan Islam) dan bekas ahli parlimen Mesir. Beliau dilahirkan pada 6 Februari 1941 di kampung Bani Amir, Zaqaziq, Mesir.

Syeikh Prof Dr Ahmad Umar Hasyim memperoleh ijazah sarjana muda(B.A) pada tahun 1967. Beliau kemudian telah dilantik sebagai pensyarah Fakulti Hadith, Kuliah Usuluddin. Beliau seterusnya menerima ijazah sarjana(M.A) dalam bidang hadith dan ulum hadith pada tahun 1969, dan menerima doktor falsafah dalam pengkhususan yang sama.
Syeikh Prof Dr Ahmad Umar Hasyim kemudian dilantik sebagai professor hadith dan ulum hadith pada tahun 1983. Beliau juga telah dilantik sebagai Dekan Fakulti Usuluddin di Universiti al-Azhar cawangan Zagazig pada tahun 1987. Seterusnya pada tahun 1995, beliau berkhidmat sebagai presiden Universiti Al-Azhar.[1]

Antara jabatan beliau adalah:
1. Ahli Parlimen Mesir. Beliau telah dilantik oleh bekas presiden Mesir Hosni Mubarak.
2. Anggota Biro Politik Parti Demokratik Kebangsaan.
3. Seorang ahli Majlis Syura.
4. Ahli Lembaga Pemegang Amanah Radio dan Televisyen.
5. Pengerusi program keagamaan di televisyen Mesir.

Karangan

Antara karangan beliau :
1. Al-Islam wa bina’ al-syakhsiyyah
2. Min huda al-sunnah al-nabawiyyah
3. Al-Syafaah fi dhauk al-kitab wa al-sunnah wa al-rad ‘ala munkariha
4. Al-tadamun fi muajihah al-tahadiyyat
5. Al-islam wa al-syabab
6. Qisah al-sunnah
7. Al-Quran wa lailah al-qadr
8. Faidh al-bari fi syarh Sahih al-Bukhari.

Pemikiran Ahmad Umar Hasyim tentang Hadits

Ahmad Umar Hasyim mendefinisikan riwayat sebagai berikut:

الرواية هي أداء الحديث وتبليغه مع إسناده الى من عزي اليه بصيغة من صيغ الأداء المطابقة لحالة التحمل

“Riwayah adalah menyampaikan hadits dan memberikannya disertai sanad-sanad kepada seseorang yang ditemuinya dengan suatu bentuk dari bentuk-bentuk penyampaian yang bertingkat karena keadaan tahammulnya.”
Ahmad Umar Hasyim mendefinisikan Ilmu Hadits riwayat adalah ilmu yang menjelaskan tentang pemindahan (periwayatan) segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw, berupa perkataan, perbuatan, takrir (ketetapan atau pengakuan), atau sifat.
Sedangkan ilmu hadits Dirayah adalah ilmu pengetahuan tentang kaidah-kaidah untuk mengetahui keadaan perawi (sanad) dan sesuatu yang diriwayatkan (matan).

Ada delapan cara dalam menerima suatu hadits diantara nya yaitu: dengan mendengarkan, membaca dengan hafalan, ijazah, Munawalah, Mukatabah, al-I’lam, al-Washiyyah dan al-Wijadah.

Dalam hal penerimaan hadits Ahmad Umar Hasyim mensyaratkan dalam as-Sima’ tidak diperbolehkan adanya kesibukan lain dari perawi misalnya (bercerita, menulis hal lain) ketika mendengarkan hadis. Jika terjadi kesibukan lain maka hadis tidak dapat dibenarkan dan ini disepakati oleh Ibrahim al-Harabi, Abu Ahmad bin ‘Adi al-Hafiz, Abu Ishaq al-Isfaraim namun menurut Musa bin Harun al-Hamal perawi yang memiliki kesibukan lain ketika mendengarkan hadis dapat dibenarkan dan hadisnya dapat diterima.

Dalam bukunya Ahmad Umar Hasyim yang berjudul Qawaid Ushul al-Hadis, menjelaskan bahwa ada enam hal yang menyebabkan kecacatan rawi yang diakibatkan oleh hilangnya syarat dhabit, hal tersebut adalah sebagai berikut:
1. Fahsy al-Galad (banyak/sering salah). Perawi yang memiliki sifat ini, menurut Ibnu Hajar, hadisnya munkar atau matruk.
2. Fahsy al-Gaflah (banyak/sering lupa), jika seorang perawi keadaannya seperti ini maka hadis yang diriwayatkanya tergolong hadis munkar atau matruk.

3. Suu al-hifzi orang yang tidak ­ditajrih (dikuatkan) sisi ketepatan (hafalannya) atau sisi kesalahan (hafalannya).
4. Al-Ikhtilat yaitu, rusaknya akal dan tidak teraturnya perkataan dan perbuatan disebabkan oleh hal-hal yang al-tariah (incidental), apakah karena usia, hilangnya penglihatan, hilangnya buku catatan hadis, atau sebab lain sehingga hafalannya menjadi buruk, pada hal sebelumnya ia dhabit. Maka semua perawi yang masuk dalam golongan ini jatuh dari derajat shahih dan hasan. Namun dapat naik ketingkat hasan jika ada syahid atau tabi’.

5. al-Wahm, jika didapatkan melalui qarinah-qarinah dan pengumpulan jalur-jalur, maka hadisnya mu’allal.
6. Mukhalafah al-Siqah. jika terjadi dengan mengubah siyaq, maka menjadi mudraj al-Isnad atau mencampurkan yang mauquf dengan yang marfu’ maka menjadi mudraj al-matan atau mentaqdimkan atau mentakhirkan, maka menjadi maqlub atau dengan penambahan seorang rawi .

Dalam beberapa indikator yang digambarkan oleh Ahmad Hasyim di atas tentang cacatnya sanad karena kurangnya kualitas kedhabitan, maka penulis berkesimpulan bahwa yang menjadi dasar penetapan kedhabitan periwayat, secara normatif adalah hafalannya bukan pada tingkat pemahamannya pada hadis yang diriwayatkan. Namun demikian, dapat juga dipahami bahwa periwayat yang paham hadis dan mampu menyampaikan hadis yang diriwayatkannya itu kepada orang lain, jelas lebih tinggi martabatnya dari pada periwayat yang hanya hafal dan mampu menyampaikan hadis yang diriwayatkan itu kepada orang lain.

Baca Juga: 

KAJIAN ORIENTALIS TENTANG HADIS

KAJIAN ORIENTALIS TENTANG HADIS

KAJIAN ORIENTALIS TENTANG HADIS

KAJIAN ORIENTALIS TENTANG HADIS
KAJIAN ORIENTALIS TENTANG HADIS

Hadis merupakan segala sesuatu yang mengandung ucapan, perbuatan dan ketetntuan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sehingga bagi orientalis, hadis adalah sebuah kajian yang mudah bagi mereka untuk memutar balikkan kebenarannya secara keseluruhan.

Sejak awal, para orientalis tampaknya memiliki ambisi untuk merumuskan penemuan-penemuan, pengalaman-pengalaman, dan wawasan-wawasan mereka secara tepat dalam istilah-istilah modern, untuk mempertemukan gagasan-gagasan tentang Timur dengan realitas-realitas modern.

Gugatan orientalis terhadap hadis bermula pada pertengahan abad ke-19 M, dimana hampir seluruh bagian Dunia Islam telah masuk alam cengkeraman kolonialisme bangsa-bngasa Eropa. Alois Sprenger, adalah orang yamg pertama kali mempersoalkan status hadits dalam Islam. Orintalisme terhadap hadis ini berjalan dengan lancar bertahap, dan terencana. Ada yang menyerang matannya, ada yang menyerang sanadnya dan ada juga yang menyerang hadis sejarah yang dihubungkan dengan sirah.

Dalam hal ini, terdapat tiga hal yang sering dikemukakan kaum orientalis dalam penelitian mereka terhadap al-Hadis, yaitu tentang kepribadian Nabi Muhammad SAW, Aspek Asanid (Rangkaian perawi hadis), dan Aspek Matan.

a. Aspek Pribadi Nabi Muhammad

Argumen pertama orientalis meragukan otentisitas hadits adalah bahwa hadits-hadits itu buatan manusia dan bukan wahyu. Menurut orientalis pribadi Muhammad perlu dipertanyakan, mereka membagi status Muhammad menjadi tiga, sebagai rasul, kepala negara dan pribadi biasa sebagaimana orang kebanyakan. Sesuatu yang didasarkan dari Nabi Muhammad baru disebut hadits jika sesuatu tersebut berkaitan dengan hal-hal praktis keagamaan, karena jika tidak hal itu tidak layak disebut hadits, karena bisa saja hal itu hanya timbul dari status lain seorang Muhammad.

b. Aspek Asanid (Rangkaian Perawi)

Orientalis memiliki kesimpulan bahwa semua asanid itu fiktif atau bahwa yang asli dan yang palsu itu tidak bisa dibedakan secara pasti. Isnad yang sampai kepada Nabi Muhammad jauh lebih diragukan ketimbang isnad yang sampai kepada sahabat. Para orientalis sering mempertanyakan tentang para perawi yang banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah. seperti yang kita ketahui bersama para sahabat yang terkenal sebagai perawi bukanlah para sahabat yang yang banyak menghabiskan waktunya bersama Rasullah seperti Abu bakar, Umar, Usman dan Ali. Namun yang banyak meriwayatkan hadis adalah sahabat-sahabat junior dalam artian karena mereka adalah orang “baru” dalam kehidupan Rasulullah.

Baca Juga: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-ayat-kursi-beserta-terjemahan-dan-keutamaannya-lengkap/

c. Aspek Matan

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa ktirik isnad adalah satu-satunya metode yang dipraktekkan ahli-ahli hadits untuk menyaring mana hadits yang shahih dan hadits mana yang tidak shahih. Menurut orientalis matan hampir tidak pernah dipertanyakan, hanya jika isi sebuah hadits yang isnad-nya shahih jelas bertentangan dengan Al-Qur‟an, baru ditolak kalau isinya dapat diinterpretasikan sedemikian sehingga menjadi selaras dengan Al-Qur‟an dan hadits-hadits lain, hadits itu tidak dikritik

FAKTOR YANG MEMUNCULKAN ORIENTALISME

FAKTOR YANG MEMUNCULKAN ORIENTALISME

FAKTOR YANG MEMUNCULKAN ORIENTALISME

 

FAKTOR YANG MEMUNCULKAN ORIENTALISME
FAKTOR YANG MEMUNCULKAN ORIENTALISME

Dr. Musthafa As-Siba’iy menerangkan hal-hal yang mendorong kaum orientalisten Barat untuk menyelidiki dan mempelajari tentang ketimuran sebagai berikut :

1. Dorongan Keagamaan

Tentang hal keislaman, hal keadaan muslimin, peradaban, kehidupan, dan penghidupannya.Pokok penelitian kaum orientalis adalah bahwa orang-orang mulai mempelajari agama Islam dan peradabannya, mereka bermaksud untuk menyudutkan Agama Islam, memperburuk-burukkan Agama Islam dan memutarbalikkan kebenaran Islam.Maka, kaum orientalis yang terdahulu telah memanfaatkan hasil penelitiannya tentang agama Islam dan yang berhubungan dengan agama Islam, secara positif dan negatif. Dan banyak melontarkan hasil penelitian yang bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya dan membawa pengaruh yang jelek.

2. Dorongan penjajahan

Kekalahan orang salib pada perang salib (yang merupakan perang agama), yang menyebabkan orang Barat tidak berputus asa untuk tetap berusaha membalas dendam dan menduduki negeri Arab yang kemudian negara Islam.

3. Dorongan perniagaan

Merupakan dorongan yang nyata bagi negeri-negeri industri yang memerlukan pasaran untuk melemparkan hasil industrinya, mereka harus meneliti kesukaran negeri-negeri yang menjadi sasarannya, demi kemajuan negeri mereka sendri. Maka, kaum orientalis yang terdorong penelitiannya tentang Timur oleh dorongan ekonomi dan perniagaan, harus bekerja keras, agar tidak ketinggalan.

Baca Juga: https://www.dutadakwah.co.id/sayyidul-istigfar/

4. Dorongan politik

Hal ini yang menjadikan menonjol pada masa sekarang sesudah negeri-negeri Islam dan negeri Timur umumnya mencapai kemerdekaannya. Pada masa sekarang, setelah berkembang blok Timur dan blok Barat, maka masing-masing dari mereka berusaha mempengaruhi akan masyarakat, dimana mereka ditempatkan, untuk keuntungan politik dari negaranya.

5. Dorongan ilmiah

Kaum orientalisten beriat meneliti perihal ketimuran dengan bersusah payah, membuang tenaga dan umur yang amat berharga, oleh karena didorong oleh semangat ingin tahu dan cinta kepada perihal ketimuran.
Dr. Mustafa as-Siba’iy menerangkan lebih lanjut, bahwa golongan yang didorong oleh dorongan ilmiah, sangat sedikit yang salah pemahamannya tentang Islam dan peninggalan Islam. Karena mereka tidak sengaja untuk menyelewengkan agama Islam dan memasukkan yang bukan-bukan ke dalam Islam.

KETAHUILAH JIN QORIN, ADALAH PENDAMPING MANUSIA DAN BEGINI CARA MELIHATNYA

KETAHUILAH JIN QORIN, ADALAH PENDAMPING MANUSIA DAN BEGINI CARA MELIHATNYA

KETAHUILAH JIN QORIN, ADALAH PENDAMPING MANUSIA DAN BEGINI CARA MELIHATNYA

KETAHUILAH JIN QORIN, ADALAH PENDAMPING MANUSIA DAN BEGINI CARA MELIHATNYA
KETAHUILAH JIN QORIN, ADALAH PENDAMPING MANUSIA DAN BEGINI CARA MELIHATNYA

Jin Qorin

Tiap-tiap manusia di dunia ini nyatanya memiliki Jin Pendamping atau dimaksud Qorin. Jin Qorin umumnya memiliki muka, hoby, serta karakter yang sama juga dengan manusia yang didampinginya. Ada yang mengatakan kalau Jin Qorin yaitu kembarannya kita yang berwujud ghaib yang senantiasa ada mengikuti kita. Cuma saja sebagai manusia kita tidaklah bisa lihat rupa wujudnya dengan cara segera.

Lantas apa argumen Qorin ini mengikuti kita? Lantaran Qorin yaitu adalah setan dari kelompok Jin, jadi tugasnya yaitu menggoda serta menyesatkan manusia yang didampinginya. Ia memerintahkan kita untuk lakukan kemungkaran serta meremehkan hal yang ma’ruf, seperti dalam firman Allah SWT :

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُم بِالْفَحْشَآءِ وَاللهُ يَعِدُكُم مَّغْفِرَةً مِّنْهُ وَفَضْلاً وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Setan menjanjikan kefakiran untuk kalian serta memerintahkan kemungkaran. Sesaat Allah menjanjikan ampunan serta karunia dari-Nya. Allah Maha Luas lagi Maha Tahu. ” (QS. Al-Baqarah : 268) Walau demikian, bila Allah memberi karunia pada hamba-Nya berbentuk hati yang baik, jujur, senantiasa tunduk pada Allah, lebih inginkan akhirat serta tak mementingkan dunia jadi Allah bakal menolongnya supaya tak dipengaruhi masalah jin ini, hingga dia tak dapat menyesatkannya. (Majmu’ Fatawa, 17 : 427)

Dalam al-quran surat Zukhruf dijelaskan tentang Qarin yang berarti : Siapa saja yang berpaling dari pengajaran Al-Quran, kami selenggarakan baginya setan (yang menyesatkan), jadi setan tersebut sebagai qarin, serta sebenarnya mereka betul-betul menghambat mereka dari jalan serta mereka menganggap kalau mereka memperoleh panduan.

Prof. Dr. Quraish Shihab dalam tafsir Al-Mishbah

menerangkan pemakaian bentuk tunggal untuk kata qarin dalam ayat diatas menyaratkan kalau tiap-tiap orang yang malas ikuti tuntunan agama bakal mempunyai qarin. Ini berlangsung untuk perseorangan, bukannya sekumpulan yang peroleh satu qarin dengan cara berbarengan.

Maknanya yaitu kalau dalam tiap-tiap badan kita tentu ada Qarinnya. Qarin berikut yang bakal memengaruhi iman kita pada jalan yang sesat. Tetapi bila kita mempunyai iman yang kuat jadi godaan itu bakal gampang kita hadapi.

Di bawah ini sebagian dalil yang tunjukkan ada Qarin :

Firman Allah SWT Dalam Surat Qaf Ayat 27

قَالَ قَرِينُهُ رَبَّنَا مَا أَطْغَيْتُهُ وَلَكِنْ كَانَ فِي ضَلالٍ بَعِيدٍ

“Yang mengikuti manusia berkata : “Ya Tuhan kami, saya tak menyesatkannya namun dialah yang ada dalam kesesatan yang jauh. ” (QS. Qaf : 27)

Satu tafsir dari Ibn Katsir menyebutkan sebenarnya Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu, Mujahid, Qatadah serta sebagian ulama yang lain menyampaikan, “Yang mengikuti manusia yaitu setan yang ditugasi untuk mengikuti manusia. ” (Tafsir Ibnu Katsir, 7 : 403)

Hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasalam.

Baca Juga: 

4 GOLONGAN PRIA YANG MASUK NERAKA WALAUPUN SUDAH BERIBADAH

4 GOLONGAN PRIA YANG MASUK NERAKA WALAUPUN SUDAH BERIBADAH

4 GOLONGAN PRIA YANG MASUK NERAKA WALAUPUN SUDAH BERIBADAH

4 GOLONGAN PRIA YANG MASUK NERAKA WALAUPUN SUDAH BERIBADAH
4 GOLONGAN PRIA YANG MASUK NERAKA WALAUPUN SUDAH BERIBADAH

 

Inilah 4 Golongan Pria Yang Masuk Neraka Walaupun Sudah Beribadah

1. Ayah Durhaka

Golongan pria pertama yang masuk neraka adalah ayah yang tidak bertanggungjawab terhadap anak­anaknya. Ayah bukan hanya sekedar pasangan dari ibu, ayah bukan sekedar mesin ATM, setelah itu selesai urusan, ayah bukanlah sosok asing di rumah yang bicara seperlunya, atau hanya diperlukan Ayah merupakan pria yang bertanggungjawab terhadap keluarga, istri dan putraputrinya.

Tidak hanya bertanggungjawab terhadap , tapi juga akhlaknya, pendidikan, dan keberhasilan dunia dan akhirat. Inilah pesan Rasulullah SAW dalam sabdanya;

“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin, Seorang lelaki adalah pemimpin bagi anggota keluarganya, dan Ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang telah dipimpinnya atas mereka.” (HR. Muslim)

Sementara dalam Alquran, Allah juga telah menggariskan tugas setiap orang beriman. “Hai orang­orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu atas api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat­malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan­Nya kepada mereka yang selalu mengerjakan apa yang diperintahkan,” (QS.At Tahrim:6)

Tiga golongan yang Allah haramkan surga atas mereka adalah pecandu khamr, durhaka kepada orang tua dan dayus, yaitu orang yang tidak cemburu ketika bermaksiat orang bermaksiat dengan keluarganya. (HR Ahmad)

Ancaman terhadap ayah yang menjadi dayus sejatinya bertujuan agar mereka menjadi pemimpin yang baik bagi anggota keluarga lainnya. Hari­hari ini, banyak ayah yang merasa tanggungjawab dan pengasuhan anak sepenuhnya ada di Ibu. Ia sudah merasa cukup memenuhi mereka dengan berbagai fasilitas.

2. Suami yang Dzalim

Golongan kedua yang akan menjadi penghuni neraka yaitu suami yang durhaka dan dz4l!m kepada istrinya. Istri merupakan amanah yang dititipkan walinya kepada seorang pria yang bernama suami. Wali wanita itu tentu mau melepaskan anak, saudara mereka karena mereka yakin suaminya dapat menjaga anak dan saudara mereka dengan baik.

Pesan berbuat baik kepada wanita bukan saja harapan setiap wali, tetapi perintah yang jelas ditegaskan oleh Allah dan Rasul­Nya dalam kitab dan sunnah. Dan bergaullah dengan mereka secara baik, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kepadanya kebaikan yang banyak. (Q.S Annisa:19).

Termasuk dalam hal yang baik yaitu, baik dalam bertutur kata, baik memperlakukannya, tidak bermuka masam ketika bertemu, begitu juga baik dalam nafkah. Bergaul dengan baik, berarti juga kesamaan dan kesetaraan. Artinya suami akan mendapat perlakuan baik dari istri ketika suami memperlakukan istrinya dengan baik. Bahkan suami diminta bersabar, menerima kekurangan dari istrinya. Juga ketika istri, tidak melaksanakan kewajibannya dengan maksimal.]

“Janganlah suami yang beriman membenci istrinya yang beriman. Jika dia tidak menyukai satu akhlak darinya, dia pasti menyukai
akhlak lain darinya”(HR Muslim).

Merupakan hak istri untuk mendapatkan nafkah dari suaminya, baik itu pangannya, pakaiannya, tempat tinggalnya dan semua keperluan yang disesuikan dengan kemampuan suami dan status istri. Bahkan dalam hal pangan, hak istri untuk mendapatkan makanan siap santap dari suaminya, demikian juga butuh tempat tinggal.

Sebagian ahli fiqih mengatakan, tempat tinggal untuk istri, haruslah khusus untuk istri tersebut tidak boleh bercampur dengan keluarga lainnya. Dan jika istrinya berasal dari kalangan berada yang biasa dilayani dengan pembantu, maka haknya juga untuk mendapatkan pembantu yang disediakan oleh sang suami.

Baca Juga: Kalimat Syahadat

3. Saudara Laki­ Laki yang Tidak Bertanggung jawab

Golongan laki­laki yang tidak masuk surga adalah saudara laki­laki, sebab jika ayahnya telah tiada, tanggungjawab menjaga seorang wanita adalah saudara lelakinya.

Termasuk dalam hal ini paman, jika mereka hanya mementingkan keluarganya saja, sementara adik atau keponakannya dibiarkan jauh dari ajaran Islam, maka tunggulah ancaman neraka di akhirat kelak.

Saudara laki­laki memiliki kewajibann yang melekat terhadap saudara­saudara perempuannya. Mulai dari mendidik, menyayangi, melindungi, dan membela mereka.

Jika ayah telah wafat, maka saudara laki­laki berperan sebagai pengganti ayah, wajib memberikan nafkah kepada saudara perempuan yang belum menikah atau yang menjanda jika mereka tidak mampu.

4. Anak Laki­laki yang Tidak Merawat Orang tuanya

Golongan pria keempat yang masuk neraka karena gagal menjalankan tugasnya adalah anak laki­laki. “Seorang laki­laki datang kepada Rasulullah lalu bertanya, Wahai Rasulullah siapakah orang yang palign berhak aku pergauli dengan sebaik­baiknya?”Sabdanya, “Ibumu” Ia lalu bertanya “kemudian siapa ?” Sabdanya “Ibumu” “kemudian siapa lagi?” Sabdanya “Ibumu”, “Kemudian siapa lagi”, Sabdanya “Ayahmu” (HR. Muslim).

Secara khusus, Islam menekankan hak ibu terhadap laki­laki kandungnya, mengapa terhadap anak perempuan kandungnya tidak. Karena setelah anak perempuan menikah Ia lebih berkewajiban mentaati suaminya dibanding Ibunya, sedangkan anak laki­laki meski sudah menikah, tidak mengurangi kewajibannya untuk berbakti kepada orangtuanya. Dan berbakti kepada Ibu lebih di dahulukan dari pada kepada istrinya. Jadi pengabdian anak laki­laki kepada Ibu kandungnya tidak putus, tetapi pengabdian anak perempuan lebih utama kepada suaminya.

AMALAN AGAR ANAK TERLAHIR SEMPURNA DAN MENJADI ANAK YANG SHALEH DAN SHALEHAH

AMALAN AGAR ANAK TERLAHIR SEMPURNA DAN MENJADI ANAK YANG SHALEH DAN SHALEHAH

AMALAN AGAR ANAK TERLAHIR SEMPURNA DAN MENJADI ANAK YANG SHALEH DAN SHALEHAH

 

AMALAN AGAR ANAK TERLAHIR SEMPURNA DAN MENJADI ANAK YANG SHALEH DAN SHALEHAH
AMALAN AGAR ANAK TERLAHIR SEMPURNA DAN MENJADI ANAK YANG SHALEH DAN SHALEHAH

Hadits

Dari Anas Malik, Rasulullah saw bersabda : Dzikrullah adalah suatu bukti adanya iman, bebas nifak dan benteng dari serangan setan serta api neraka. (Al-Hadits)

Sebagai seorang wanita muslimah khususnya seorang ibu yang sedang mengandung, tentu mulutnya tak henti-hentinya mengagungkan kebesaran sang Khaliq yaitu dengan cara berdzikir kepada Allah swt. Hal ini dimaksudkan agar anaknya kelak terlahir sempurna dan menjadi anak yang shaleh-shalehah.

Dzikir adalah aktifitas sadar pada setiap waktu atau sewaktu-waktu. Aktifitas ini suatu yang wajib bagi setiap orang-orang mukmin, yang berpengaruh teguh pada tali agama Allah. Allah swt berfirman :

“ Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyakbanyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang “. (QS.Al-Ahzab : 41-42)

Rasulullah bersabda :

“ Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan yang tidak berdzikir itu seperti orang yang hidup dengan orang yang mati “.

Dalam Al-Waabilus-Shayyib, Ibnul Qayyim Rahimahullah menyebutkan sekitar 80 faedah dzikir, diantaranya :

Dzikir adalah makanan pokok bagi hati dan ruh.
Dzikir dapat mengusir setan dan menundukkannya, juga menjadikan kita diridhai dan dicintai Allah Ta’ala.
Dzikir juga menghilangkan kesedihan dan kegelisahan dari hati serta mendatangkan kegembiraan.
Dzikir memberikan cahaya bagi hati dan wajah, memberikan pakaian kewibawaan dan keindahan.
Dzikir menyebabkan seorang hamba diingat oleh Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya :

“Maka ingatlah kepada-Ku, pasti aku akan ingat kepadamu“. (QS.Al-Baqarah : 152)

Oleh karena itu seorang ibu muslimah sebaiknya memasukan kegiatan ini dalam agenda program pendidikan anak dalam kandungannya. Sebagaimana kita ketahui, metode dzikir itu sendiri dapat berupa dzikir dalam arti umum atau khusus.

Yang termasuk dzikir umum yaitu tindakan berupa kewaspadaan dan senantiasa mengingat bahwa ia berstatus sebagai hamba Allah. Sehingga setiap kegiatannya tiada lain kecuali pengabdian diri kepada Allah swt semata dalam keseluruhan waktunya.

Ia senantiasa menumbuhkan kesadaran untuk menyandarkan seluruh hidupnya hanya kepada Allah swt (tawakhal) dan menjauhi segala hal yang menjadi larangan-Nya dengan tidak melakukan tindakan yang menyimpang dari jalan Allah swt. Dengan kesadaran seperti ini, si ibu hamil akan berupaya keras untuk melibatkan anak dalam kandungannya secara terus menerus selama ia terjaga.

Dzikir Khusus

Sedangkan dzikir secara khusus berarti ia melakukan dzikir khusus seperti dengan lafadz khusus, tasbih, tahmid, takbir, tahlil, doa-doa istighatsah, istighfar, yang bisa dilakukan sewaktu-waktu sesuai kondisi yang menyertainya.

Cara melakukan dengan metode ini sangat mudah, yaitu tatkala sadar, ingat, dan berdzikir kepada Allah swt, jangan pernah lupa untuk mengusap perut si ibu hamil sambil mengatakan kepada anak dalam kandungannya, “ Nak mari berdzikir, Suhanallah Wal Hamdulillah Wala ilahailallah Wallahu Akbar “.

Baca Juga: Sifat Allah

Atau membacakan kalimat-kalimat thayyibah lainnya sambil terus melibatkan aktifitas dzikir tersebut dengan anak dalam kandungannya. Setiap hentakan dan tarikan nafas sang ibu senantiasa di rasakan anak atau janin dalam kandungannya.

Oleh karena itu, hendaknya seorang ibu senantiasa menggerakkan lidahnya untuk berdzikir. Apabila lidah seorang ibu tak pernah berhenti dalam berdzikir maka secara otomatis sang janin pun ikut berdzikir. Bahkan janin yang semula rewel selama dalam rahim sang ibu, maka ia akan tenang setelah mendengarkan lantunan dzikir yang di ucapkan oleh sang ibu. Allah swt berfirman :

“ Ingatlah dengan dzikir (ingat) kepada Allah, hatimu akan tentram “. (QS.Ar-Ra’du : 28)

Wahyu pertama Nabi Muhammad Saw

Wahyu pertama Nabi Muhammad Saw

Wahyu pertama Nabi Muhammad Saw

Wahyu pertama Nabi Muhammad Saw
Wahyu pertama Nabi Muhammad Saw

Wahyu pertama

Menjelang usianya yang ke-40, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sering berkhalwat (menyendiri) ke Gua Hira, sekitar 6 km sebelah timur kota Mekah. Ia bisa berhari-hari bertafakur dan diberibadah disana. Suatu ketika, pada tanggal 17 Ramadhan/6 Agustus 611, ia melihat cahaya terang benderang memenuhi ruangan gua itu. Tiba-tiba Malaikat Jibril muncul di hadapannya sambil berkata, “Iqra’ (bacalah).” Lalu Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam menjawaban, “Mâ anâ bi qâri’ (aku tidak sanggup membaca).” Mendengar jawabanan Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, Jibril kemudian memeluk tubuh Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dengan sangat erat, kemudian melepaskannya dan kembali menyuruh Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam membaca. Namun sehabis dilakukan hingga 3 kali dan Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam tetap mempersembahkan jawabanan yang sama, Malaikat Jibril kemudian memberikan wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala pertama, yang artinya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Menciptakan. Ia membuat insan dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah yang Paling Pemurah. yang mengajar (manusia) dengan mediator kalam. Dia mengajarkan kepada insan apa yang tidak diketahuinya.” (QS. 96: 1-5)

Saat itu Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam berusia 40 tahun 6 bulan 8 hari berdasarkan perhitungan tahun kamariah (penanggalan berdasarkan bulan), atau 39 tahun 3 bulan 8 hari berdasarkan perhitungan tahun syamsiah (penanggalan berdasarkan matahari). melaluiataubersamaini turunnya 5 ayat pertama ini, berarti Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sudah dipilih oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai rasul.

Sesudah pengalaman luar biasa di Gua Hira tsb, dengan rasa ketakutan dan cemas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam pulang ke rumah dan berseru pada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku.” Sekujur tubuhnya terasa gerah dan hambar berganti-ganti. Sesudah lebih tenang, barulah ia menceritakan kepada istrinya. Untuk lebih menenangkan hati suaminya, Khadijah mengajak Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam hadir pada saudara sepupunya, Waraqah bin Naufal, yang banyak mengetahui kitab-kitab suci Katolik dan Yahudi. Mendengar kisah yang dialami Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, Waraqah pun berkata, “Aku sudah bersumpah dengan nama Tuhan, yang dalam tangan-Nya terletak hidup Waraqah, Tuhan sudah memilihmu menjadi nabi kaum ini. An-Nâmûs al-Akbar (Malaikat Jibril) sudah hadir kepadamu. Kaummu akan menyampaikan bahwa engkau penipu, mereka akan memusuhimu, dan mereka akan melawanmu. Sungguh, sekiranya saya sanggup hidup pada hari itu, saya akan berjuang membelamu.”

Dakwah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam

Baca Juga: Ayat Kursi

Wahyu diberikutnya yaitu surat Al-Muddatsir: 1-7,
yang artinya: Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, kemudian diberilah peringatan! dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu membersihkankanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan tidakbolehlah engkau memdiberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah. (QS. 74: 1-7)

melalui atau bersamaini turunnya surat Al-Muddatsir ini, mulailah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam berdakwah. Mula-mula ia melakukannya secara sembunyi-sembunyi di lingkungan keluarga dan rekan-rekannya.
Orang pertama yang menyambut dakwahnya yaitu Khadijah, istrinya. Dialah yang pertama kali masuk Islam. Menyusul sehabis itu yaitu Ali bin Abi Thalib, saudara sepupunya yang kala itu gres berumur 10 tahun, sehingga Ali menjadi lelaki pertama yang masuk Islam. Kemudian Abu Bakar, sahabat akrab karibnya semenjak masa kanak-kanak. Baru kemudian diikuti oleh Zaid bin Haritsah, bekas budak yang sudah menjadi anak angkatnya, dan Ummu Aiman, pengasuh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam semenjak ibunya masih hidup.

Abu Bakar sendiri kemudian berhasil mengislamkan beberapa orang mitra dekatnya, seperti, Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’d bin Abi Waqqas, dan Talhah bin Ubaidillah. Dari dakwah yang masih rahasia ini, belasan orang sudah masuk Islam.

Sesudah beberapa lama Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menjalankan dakwah secara diam-diam, turunlah perintah biar Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menjalankan dakwah secara terang-terangan. Mula-mula ia mengundang kerabat karibnya dalam sebuah jamuan. Pada peluang itu ia memberikan ajarannya. Namun ternyata spesialuntuk sedikit yang menerimanya. Sebagian menolak dengan halus, sebagian menolak dengan kasar, salah satunya yaitu Abu Lahab.
Langkah dakwah seterusnya diambil Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dalam pertemuan yang lebih besar. Ia pergi ke Bukit Shafa, sambil berdiri di sana ia berteriak memanggil orang banyak. Karena Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam yaitu orang yang terpercaya, penduduk yakin bahwa pastilah terjadi sesuatu yang sangat penting, sehingga mereka pun berkumpul di sekitar Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam.

Untuk menarik dan unik perhatian, mula-mula Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam berkata, “Saudara-saudaraku, kalau saya berkata, di belakang bukit ini ada pasukan musuh yang siap menyerang kalian, percayakah kalian?”
melaluiataubersamaini sekaligus mereka menjawaban, “Percaya, kami tahu saudara belum pernah berbohong. Kejujuran saudara tidak ada duanya. Saudara yang mendapat gelar al-Amin.” Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam meneruskan, “Kalau demikian, dengarkanlah. Aku ini yaitu seorang nazir (pemdiberi peringatan). Allah sudah memerintahkanku biar saya memperingatkan saudara-saudara. Hendaknya engkau spesialuntuk menyembah Allah saja. Tidak ada Tuhan selain Allah. Bila saudara ingkar, saudara akan terkena azabnya dan saudara nanti akan menyesal. Penyesalan kemudian tidak ada gunanya.”

Tapi khotbah ini ternyata membuat orang-orang yang berkumpul itu marah, bahkan sebagian dari mereka ada yang mengejeknya gila. Pada ketika itu, Abu Lahab berteriak, “Celakalah engkau hai Muhammad. Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?”

Sebagai tanggapan terhadap ucapan Abu Lahab tsb turunlah ayat Al-Qur’an yang artinya:
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak ia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar. yang di lehernya ada tali dari sabut. (QS. 111: 1-5)

Pendidikan Ibadah Dalam Islam

Pendidikan Ibadah Dalam Islam

Pendidikan Ibadah Dalam Islam

Pendidikan Ibadah Dalam Islam
Pendidikan Ibadah Dalam Islam

Selain materi aqidah, juga diberikan materi ibadah. “Ibadah adalah perbuatan untuk manyatakan bakti kepada Allah SWT, atau untuk menunaikan segala kewajiban yang diperintahkan Allah SWT dengan sungguh-sungguh”. Materi ini menerangkan cara-cara beribadah. Terkadang menggunakan metode demonstrasi dalam mempraktekkan cara-cara melaksanakan ibadah, seperti wudhu’, cara shalat dan lain sebagainya. Dengan materi ini diharapkan anak akan menjadi orang yang taat beribadah serta mematuhi yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang agama.

Mendidik anak pada hakikatnya merupakan usaha nyata dari orang tua dalam rangka mensyukuri karunia dan mengemban amanat Allah SWT. Oleh karena itu pendidikan agama yang diterima merupakan hak anak. Dengan menyadari hakikat anak, orang tua diharapkan akan menyadari kewajiban dan tanggung jawabnya.

M. Fauzil Adhim

mengklasifikasikan pendidikan ibadah bagi anak sesuai umur dan perkembangan jiwa anak sebagai berikut:

1. Sejak dalam kandungan selama kurang lebih 9 bulan. Kebutuhan yang paling penting dalam masa ini adalah kerahiman (kasih sayang tulus) dari ibunya.

2. Selanjutnya adalah masa lahir sampai usia dua tahun, masa ini umum disebut masa bayi. Pada masa ini, anak memerlukan kasih sayang dan perhatian yang melibatkan langsung dirinya untuk menuju kehidupan berikutnya. Ibu diharapkan membimbingnya untuk mengenalkan lingkungan sosialnya.

3. Berikutnya adalah masa thufulah atau masa kanak-kanak, yang berlangsung antara usia dua sampai tujuh tahun. Pada masa ini, anak butuh dikembangkan potensinya seoptimal mungkin, karena sedang aktif-aktifnya, cerdas-cerdasnya, peka-pekanya, gemes-gemesnya bahkan cerewet-cerewetnya. Inilah masa yang tepat untuk memberikan dasar-dasar tauhid anak melalui sentuhan dzauq (rasa), sehingga nantinya akan lebih merangsang anak untuk memiliki tauhid yang aktif, kedalaman tauhid yang nantinya akan mendorongnya untuk bergerak melakukan sesuatu yang baik.

4. Kemudian usia tujuh tahun, dimana anak memasuki tahap perkembangan tamyiz atau kemampuan awal membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta benar dan salah melalui penalarannya. Pada tahap ini anak perlu mendapatkan pendidikan pokok syariat (ibadah) yang sifatnya mahdhah maupun ghairu mahdhah, disamping tentunya pendidikan tauhid, pendidikan akhlak dan lain sebagainya secara simultan yang berlangsung hingga usia 12 tahun.

Dari periodisasi dan klasifikasi diatas, maka orang yang paling bertanggung jawab dalam menyiapkan anak menuju taklif adalah orang tua. Sebagai realisasi tanggung jawab orang tua sebagai pendidik dan menyampaikan materi-materi pokok pendidikan bagi anak, ada beberapa aspek yang menjadi urutan prioritas utama.

Prof. Dr. Nashih Ulwan

menjelaskan bahwa dengan adanya pendidikan agama (ibadah) yang diberikan oleh orang tua sesuai dengan masa pertumbuhannya tersebut, maka ketika anak telah tumbuh dewasa akan terbiasa melakukan dan terdidik untuk mentaati Allah, melaksanakan hak-Nya, bersyukur kepada-Nya, kembali kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya.

Berkaitan dengan hal ini, Zakiah Daradjat memberikan argumen, bahwa apabila anak tidak terbiasa melaksanakan ajaran agama terutama ibadah dan tidak pula dilatih atau dibiasakan melaksanakan hal-hal yang disuruh Tuhan dalam kehidupan sehari-hari seperti shalat, puasa, berdo’a dan lain-lain maka, pada waktu dewasanya nanti ia akan cenderung kepada acuh tak acuh, anti agama, atau sekurang-kurangnya ia tidak akan merasakan pentingnya agama bagi dirinya. Sebaliknya, bila anak mendapat latihan dan pembiasaan agama, pada waktu dewasanya nanti akan semakin merasakan kebutuhan akan agama.[17]
Sebagai wujud dari tanggung jawab orang tua dalam mendidik dan menananmkan nilai-nilai ibadah kepada anak-anaknya, ada beberapa aspek yang sangat penting untuk diperhatikan orang tua. Sebagaimana diungkapkan Chabib Toha berdasarkan Al-Quran surah Lukman ayat 17: يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan-perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.

Pendidikan Sholat

Pendidikan shalat dalam ayat diatas tidak hanya terbatas tentang kaifiyat shalat saja. Mereka harus mampu tampil sebagai pelopor amar ma’ruf nahi mungkar serta jiwanya teruji menjadi orang yang sabar. Berkenaan dengan penanaman nilai-nilai dibalik pendidikan ibadah bagi anak. Harun Nasution menjelaskan, bahwa manusia dalam Islam, tersusun dari dua unsur, yaitu unsur jasmani dan rohani.[18] Tubuh manusia berasal dari materi dan mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya material. Sedangkan rohani manusia bersifat immateri dan mempunyai kebutuhan spiritual. Pendidikan jasmani maupun rohani harus mendapatkan porsi seimbang. Oleh karena itu, sangatlah penting supaya rohani yang ada dalam diri manusia dilatih secara baik seperti halnya badan manusia yang dilatih dengan olahraga sehingga terwujud jasmani dan rohani yang sehat.

Dalam islam ibadahlah yang memberikan latihan rohani yang diperlukan manusia itu.[19] Semua ibadah yang ada dalam Islam seperti shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya bertujuan membuat rohani manusia senantiasa tidak lupa pada Tuhan, bahkan senantiasa dekat kepada-Nya. Keadaan senantiasa dekat kepada Tuhan sebagai Zat yang maha suci dapat mempertajam rasa kesucian seseorang. Rasa kesucian yang kuat dapat menjadi rem bagi hawa nafsu untuk melanggar nilai-nilai moral, peraturan dan hukum yang berlaku dalam memenuhi keinginannya.

Sementara itu mengenai materi pendidikan ibadah secara menyeluruh oleh para ulama telah dikemas dalam sebuah disiplin ilmu yang dinamakan ilmu fiqh atau fiqh Islam.[20] Fiqh Islam itu tidak hanya membicarakan hukum dan tata cara ibadah shalat, melainkan meliputi pembahasan tentang puasa, zakat, haji, tata ekonomi Islam (muamalat), hukum waris (faraid), tata pernikahan (munakahat), tata hukum pidana (jinayat dan hudud), tata peperangan (jihad), makanan sampai dengan tata negara (khilafah). Pendek kata, seluruh tata pelaksanaan mentaati perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya terbahas secara lengkap didalamnya.

Oleh karena itu cara peribadatan menyeluruh sebagaimana termaktub dalam fiqh Islam itu hendaklah diperkenalkan sejak dini dan sedikit demi sedikit dibiasakan dalam diri anak, agar kelak mereka menjadi insan yang benar-benar taqwa, yakni insan yang taat menjalankan segala perintah agama dan taat pula dalam menjauhi larangannya.

Pengalaman anak terhadap fiqh Islam hendaklah diawali dengan pengenalan ilmunya. Ia perlu mendapatkan bimbingan orang tua yang benar-benar tahu, sehingga kelak peribadatan yang diamalkan benar-benar berdasar pada syariat Islam, bukan berdasar perkiraan semata. Ibadah sebagai realisasi dari aqidah Islamiah harus tetap terpancar dan teramalkan dengan baik oleh setiap anak. Beribadah adalah kewajiban kepada Allah SWT seperti menganjurkan kebaikan, mencegah kemungkaran, berbudi pekerti baik, menolong yang teraniaya, melawan nafsu amarah dan berbagai perbuatan baik lainnya.

Sebelum usia baliqh, seorang anak harus sudah memiliki kesiapan yang cukup untuk melaksanakan taklif (tugas dan kewajiban) agama. Karena itu, pada usia tersebut, ia harus diajarkan bagaimana cara melaksanakan kewajiban agama, seperti shalat, puasa, dan ibadah lainnya. Selain itu, ia juga harus diberi penjelasan tentang segenap nilai-nilai penting yang berkaitan dengan peribadahan.

Baca Juga: 

Kemandirian Anak Dalam Perspektif Islam

Kemandirian Anak Dalam Perspektif Islam

Kemandirian Anak Dalam Perspektif Islam

Kemandirian Anak Dalam Perspektif Islam
Kemandirian Anak Dalam Perspektif Islam

Pendidikan Dalam Islam

Pendidikan dalam Islam mengajarkan untuk mendidik anak secara mandiri dengan mengatur anak secara jarak jauh.[1] Ketika mewasiatkan pada orang tua untuk memelihara dan membimbing pendidikan anak-anaknya, Islam tidak bermaksud memporak-porandakan jiwa anak dalam jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga hidup dan urusannya hanya dipikirkan, diatur dan dikelola oleh kedua orang tuanya.
anak+mandiri

Memang kedua orang tualah yang bekerja banting tulang demi hidup dan masa depan anak-anaknya yang pada akhirnya anak menjadi beban tanggungan orang tua, akan tetapi tujuan utama islam adalah mengontrol perilaku anak supaya tidak terbawa oleh arus menyimpang dan keragu-raguan serta upaya membentuk kepribadian yang tidak terombang ambing dalam kehidupan ini.

Ajaran Rasulullah

Rasulullah sangat memperhatikan pertumbuhan potensi anak, baik dibidang sosial maupun ekonomi. Beliau membangun sifat percaya diri dan mandiri pada anak, agar ia bisa bergaul dengan berbagai unsur masyarakat yang selaras dengan kepribadiannya. Dengan demikian, ia mengambil manfaat dari pengalamannya, menambah kepercayaan pada dirinya, sehingga hidupnya menjadi bersemangat dan keberaniannya bertambah. Dia tidak manja, dan kedewasaan menjadi ciri khasnya.

Baca Juga: Rukun Iman

Karena pada akhirnya nanti masing-masing individulah yang di mintai pertanggung jawaban atas apa yang di perbuatnya di dunia. Firman Allah yang termaktub dalam Al-Quran surat Al- Mudasir ayat 38 menyebutkan: كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ “tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya”. Selanjutnya dalam surat Al-Mukminun ayat 62 disebutkan: وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا وَلَدَيْنَا كِتَابٌ يَنطِقُ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ “ kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi kami ada kitab yang berbicara benar, dan mereka telah dianiaya”.

Dari ayat tersebut menjelaskan bahwa individu tidak akan mendapatkan suatu beban diatas kemampuannya sendiri tetapi Allah Maha Tahu dengan tidak memberi beban individu melebihi batas kemampuan individu itu sendiri. Karena itu individu dituntut untuk mandiri dalam menyelesaikan persoalan dan pekerjaannya tanpa banyak tergantung pada orang lain. Abdullah menuturkan beberapa contoh tentang inti pandangan Islam terhadap pendidikan anak dengan didukung oleh berbagai bukti dan argumentasi.

Beliau mengatakan bahwa kemandirian dan kebebasan merupakan dua unsur yang menciptakan generasi muda yang mandiri. Keduanya merupakan asas bangunan Islam. Rasulullah membiasakan anak untuk bersemangat dan mengemban tanggung jawab. Tidak mengapa anak disuruh mempersiapkan meja makan sendirian. Ia akan menjadi pembantu dan penolong bagi yang lainnya. Daripada anak menjadi pemalas dan beban bagi orang lain.[6] Rasulullah bersabda: “bermain-mainlah dengan anakmu selama seminggu, didiklah ia selama seminggu, temanilah ia selama seminggu pula, setelah itu suruhlah ia mandiri”. (HR. Bukhari)

Dari hadits tersebut menunjukkan bahwa orang tua mempunyai andil yang besar dalam mendidik kemandirian anak. Ada upaya-upayayang harus dilakukan orang tua ketika menginginkan anak tumbuh mandiri. Dan upaya tersebut harus dilakukan setahap demi setahap agar apa yang diharapkan dapat terwujud. Dalam Islam, subtansi pembinaan adalah ajaran islam itu sendiri. Secara garis besar ada beberapa bidang materi pendidikan Islam, seperti aqidah, ibadah dan akhlak.
Untuk mengetahui dengan jelas materi pembinaan anak menurut Islam, berikut akan dijelaskan beberapa materi pembinaan anak.

Pendidikan Aqidah dalam Islam

Pendidikan Aqidah dalam Islam

Pendidikan Aqidah dalam Islam

Pendidikan Aqidah dalam Islam
Pendidikan Aqidah dalam Islam

Pendidikan Aqidah

Aqidah merupakan materi pembinaan anak dalam Islam. Kata “aqidah” menurut bahasa berasal dari bahasa Arab yang berarti pengikat. Aqidah merupakan kepercayaan penuh kepada Allah SWT dengan segala sifatnya dan ia merupakan pembeda antara orang mukmin dan orang kafir.[9] Hasan Al Banna mengatakan: “aqidah Islam adalah landasan atau asas kepercayaan dimana diatasnya dibina iman yang mengharuskan hati meyakininya. Membuat jiwa menjadi tentram, bersih dari kebimbangan dan keraguan menjadi sendi pokok bagi kehidupan setiap manusia”.

Pendidikan Aqidah Bagi Anak

Pendidikan aqidah bagi anak.seperti yang telah kita ketahui bahwasannya aqidah Islam adalah sebagai berikut :

1. Beriman kepada Allah
2. Beriman kepada para malaikat
3. Beriman kepada kitab-kitab Allah
4. Beriman kepara para rasul
5. Beriman kepada hari akhir
6. Beriman kepada qadha’ dan qadar yang baik maupun yang buruk

Baca Juga: Rukun Islam

Dalil

Dan tentunya pendidikan aqidah ini lebih baik ditanamkan sedari kecil kepada anak-anak kita, karena fase anak-anak itulah kita harus memulai mengenalkan akan aqidah, bahwasannya setiap anak dalam kelahirannya mengakui bahwa Allah adalah Tuhannya sebagai mana firman Allah Ta’ala :

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا

“Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).” (QS. Al Α’raf: 172)

Adalah salah satu bagian dari karunia Allah SWT pada hati manusia bahwa Dia melapangkan hati untuk menerima iman di awal pertumbuhannya tanpa perlu kepada argumentasi dan bukti yang nyata, dan kita sebagai orang tua perlu membuat suasana lingkungan yang mendukung dan positif, memberi teladan pada anak, banyak berdoa untuk anak, dan hendaknya kita tidak melewatkan kejadian sehari-hari melainkan kita menjadikannya sebagai sarana penanaman pendidikan baik itu pendidikan aqidah maupun pendidikan lainnya.

Jadi aqidah merupakan landasan atau asas kepercayaan yang ditanamkan kedalam jiwa seseorang sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Lukmanul Hakim ketika mendidik putranya yang telah digambarkan dalam Al-Quran surah Lukman ayat:13
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “dan ingatlah ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “ hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Lukman: 13)

Ayat diatas menunjukkan aqidah merupakan landasan utama dimana ditegakkan ajaran Islam. Dalam materi ini anak dibina dan ditanamkan rasa keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT. Dengan menjelaskan dalil-dalilnya. Apabila para ayah dan ibu terus berusaha membangkitkan dan mencerahkan fitrah makrifatullah dan keyakinan tentang Tuhan dalam diri sang anak, niscaya nilai-nilai spiritual dan keutamaan akhlaknya menjadi hidup.

Keyakinan tentang adanya Allah dan Pencipta yang kita wujudkan dalam bentuk amal perbuatan, akan senantiasa menjaga sang anak dari perbuatan dosa dan menyimpangan. Dan setiap kali keyakinan tersebut menguat, penjagaan diri sang anak pun akan menguat pula.

Di antara tugas terpenting para orang tua terhadap anak-anaknya adalah mengajarkan kewajiban agama dan amal ibadah. Semua itu harus diajarkan sebelum sang anak memasuki masa baligh. Semasa itu ia harus diajari cara mempraktikkan amal ibadah. Itu dimaksudkan agar pada masa baligh dan seterusnya ia tidak mengalami kesulitan melakukannya.
Mengajarkan Al-Quran dan hadits Nabi SAW serta riwayat para imam maksum, juga merupakan tugas penting dan berpengaruh besar terhadap pendidikan agama sang anak. Hal lain yang patut diperhatikan orang tua adalah bahwa sang anak memiliki jiwa yang lembut dan sangat sensitif sehingga segenap bentuk motivasi dan perasaan kasih sayang menjadi sangat berarti baginya. Sebaliknya, sikap keras dan pelimpahan tugas-tugas yang berat, dalam waktu singkat akan menjadikan jiwa dan mental sang anak melemah, yang pada gilirannya akan menyebabkan semangat dan kecenderungan dirinya berkurang.