AMALAN AGAR ANAK TERLAHIR SEMPURNA DAN MENJADI ANAK YANG SHALEH DAN SHALEHAH

AMALAN AGAR ANAK TERLAHIR SEMPURNA DAN MENJADI ANAK YANG SHALEH DAN SHALEHAH

AMALAN AGAR ANAK TERLAHIR SEMPURNA DAN MENJADI ANAK YANG SHALEH DAN SHALEHAH

 

AMALAN AGAR ANAK TERLAHIR SEMPURNA DAN MENJADI ANAK YANG SHALEH DAN SHALEHAH
AMALAN AGAR ANAK TERLAHIR SEMPURNA DAN MENJADI ANAK YANG SHALEH DAN SHALEHAH

Hadits

Dari Anas Malik, Rasulullah saw bersabda : Dzikrullah adalah suatu bukti adanya iman, bebas nifak dan benteng dari serangan setan serta api neraka. (Al-Hadits)

Sebagai seorang wanita muslimah khususnya seorang ibu yang sedang mengandung, tentu mulutnya tak henti-hentinya mengagungkan kebesaran sang Khaliq yaitu dengan cara berdzikir kepada Allah swt. Hal ini dimaksudkan agar anaknya kelak terlahir sempurna dan menjadi anak yang shaleh-shalehah.

Dzikir adalah aktifitas sadar pada setiap waktu atau sewaktu-waktu. Aktifitas ini suatu yang wajib bagi setiap orang-orang mukmin, yang berpengaruh teguh pada tali agama Allah. Allah swt berfirman :

“ Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyakbanyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang “. (QS.Al-Ahzab : 41-42)

Rasulullah bersabda :

“ Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Allah dengan yang tidak berdzikir itu seperti orang yang hidup dengan orang yang mati “.

Dalam Al-Waabilus-Shayyib, Ibnul Qayyim Rahimahullah menyebutkan sekitar 80 faedah dzikir, diantaranya :

Dzikir adalah makanan pokok bagi hati dan ruh.
Dzikir dapat mengusir setan dan menundukkannya, juga menjadikan kita diridhai dan dicintai Allah Ta’ala.
Dzikir juga menghilangkan kesedihan dan kegelisahan dari hati serta mendatangkan kegembiraan.
Dzikir memberikan cahaya bagi hati dan wajah, memberikan pakaian kewibawaan dan keindahan.
Dzikir menyebabkan seorang hamba diingat oleh Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya :

“Maka ingatlah kepada-Ku, pasti aku akan ingat kepadamu“. (QS.Al-Baqarah : 152)

Oleh karena itu seorang ibu muslimah sebaiknya memasukan kegiatan ini dalam agenda program pendidikan anak dalam kandungannya. Sebagaimana kita ketahui, metode dzikir itu sendiri dapat berupa dzikir dalam arti umum atau khusus.

Yang termasuk dzikir umum yaitu tindakan berupa kewaspadaan dan senantiasa mengingat bahwa ia berstatus sebagai hamba Allah. Sehingga setiap kegiatannya tiada lain kecuali pengabdian diri kepada Allah swt semata dalam keseluruhan waktunya.

Ia senantiasa menumbuhkan kesadaran untuk menyandarkan seluruh hidupnya hanya kepada Allah swt (tawakhal) dan menjauhi segala hal yang menjadi larangan-Nya dengan tidak melakukan tindakan yang menyimpang dari jalan Allah swt. Dengan kesadaran seperti ini, si ibu hamil akan berupaya keras untuk melibatkan anak dalam kandungannya secara terus menerus selama ia terjaga.

Dzikir Khusus

Sedangkan dzikir secara khusus berarti ia melakukan dzikir khusus seperti dengan lafadz khusus, tasbih, tahmid, takbir, tahlil, doa-doa istighatsah, istighfar, yang bisa dilakukan sewaktu-waktu sesuai kondisi yang menyertainya.

Cara melakukan dengan metode ini sangat mudah, yaitu tatkala sadar, ingat, dan berdzikir kepada Allah swt, jangan pernah lupa untuk mengusap perut si ibu hamil sambil mengatakan kepada anak dalam kandungannya, “ Nak mari berdzikir, Suhanallah Wal Hamdulillah Wala ilahailallah Wallahu Akbar “.

Baca Juga: Sifat Allah

Atau membacakan kalimat-kalimat thayyibah lainnya sambil terus melibatkan aktifitas dzikir tersebut dengan anak dalam kandungannya. Setiap hentakan dan tarikan nafas sang ibu senantiasa di rasakan anak atau janin dalam kandungannya.

Oleh karena itu, hendaknya seorang ibu senantiasa menggerakkan lidahnya untuk berdzikir. Apabila lidah seorang ibu tak pernah berhenti dalam berdzikir maka secara otomatis sang janin pun ikut berdzikir. Bahkan janin yang semula rewel selama dalam rahim sang ibu, maka ia akan tenang setelah mendengarkan lantunan dzikir yang di ucapkan oleh sang ibu. Allah swt berfirman :

“ Ingatlah dengan dzikir (ingat) kepada Allah, hatimu akan tentram “. (QS.Ar-Ra’du : 28)

Wahyu pertama Nabi Muhammad Saw

Wahyu pertama Nabi Muhammad Saw

Wahyu pertama Nabi Muhammad Saw

Wahyu pertama Nabi Muhammad Saw
Wahyu pertama Nabi Muhammad Saw

Wahyu pertama

Menjelang usianya yang ke-40, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sering berkhalwat (menyendiri) ke Gua Hira, sekitar 6 km sebelah timur kota Mekah. Ia bisa berhari-hari bertafakur dan diberibadah disana. Suatu ketika, pada tanggal 17 Ramadhan/6 Agustus 611, ia melihat cahaya terang benderang memenuhi ruangan gua itu. Tiba-tiba Malaikat Jibril muncul di hadapannya sambil berkata, “Iqra’ (bacalah).” Lalu Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam menjawaban, “Mâ anâ bi qâri’ (aku tidak sanggup membaca).” Mendengar jawabanan Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, Jibril kemudian memeluk tubuh Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dengan sangat erat, kemudian melepaskannya dan kembali menyuruh Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam membaca. Namun sehabis dilakukan hingga 3 kali dan Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam tetap mempersembahkan jawabanan yang sama, Malaikat Jibril kemudian memberikan wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala pertama, yang artinya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Menciptakan. Ia membuat insan dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah yang Paling Pemurah. yang mengajar (manusia) dengan mediator kalam. Dia mengajarkan kepada insan apa yang tidak diketahuinya.” (QS. 96: 1-5)

Saat itu Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam berusia 40 tahun 6 bulan 8 hari berdasarkan perhitungan tahun kamariah (penanggalan berdasarkan bulan), atau 39 tahun 3 bulan 8 hari berdasarkan perhitungan tahun syamsiah (penanggalan berdasarkan matahari). melaluiataubersamaini turunnya 5 ayat pertama ini, berarti Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sudah dipilih oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai rasul.

Sesudah pengalaman luar biasa di Gua Hira tsb, dengan rasa ketakutan dan cemas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam pulang ke rumah dan berseru pada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku.” Sekujur tubuhnya terasa gerah dan hambar berganti-ganti. Sesudah lebih tenang, barulah ia menceritakan kepada istrinya. Untuk lebih menenangkan hati suaminya, Khadijah mengajak Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam hadir pada saudara sepupunya, Waraqah bin Naufal, yang banyak mengetahui kitab-kitab suci Katolik dan Yahudi. Mendengar kisah yang dialami Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, Waraqah pun berkata, “Aku sudah bersumpah dengan nama Tuhan, yang dalam tangan-Nya terletak hidup Waraqah, Tuhan sudah memilihmu menjadi nabi kaum ini. An-Nâmûs al-Akbar (Malaikat Jibril) sudah hadir kepadamu. Kaummu akan menyampaikan bahwa engkau penipu, mereka akan memusuhimu, dan mereka akan melawanmu. Sungguh, sekiranya saya sanggup hidup pada hari itu, saya akan berjuang membelamu.”

Dakwah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam

Baca Juga: Ayat Kursi

Wahyu diberikutnya yaitu surat Al-Muddatsir: 1-7,
yang artinya: Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, kemudian diberilah peringatan! dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu membersihkankanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan tidakbolehlah engkau memdiberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah. (QS. 74: 1-7)

melalui atau bersamaini turunnya surat Al-Muddatsir ini, mulailah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam berdakwah. Mula-mula ia melakukannya secara sembunyi-sembunyi di lingkungan keluarga dan rekan-rekannya.
Orang pertama yang menyambut dakwahnya yaitu Khadijah, istrinya. Dialah yang pertama kali masuk Islam. Menyusul sehabis itu yaitu Ali bin Abi Thalib, saudara sepupunya yang kala itu gres berumur 10 tahun, sehingga Ali menjadi lelaki pertama yang masuk Islam. Kemudian Abu Bakar, sahabat akrab karibnya semenjak masa kanak-kanak. Baru kemudian diikuti oleh Zaid bin Haritsah, bekas budak yang sudah menjadi anak angkatnya, dan Ummu Aiman, pengasuh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam semenjak ibunya masih hidup.

Abu Bakar sendiri kemudian berhasil mengislamkan beberapa orang mitra dekatnya, seperti, Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’d bin Abi Waqqas, dan Talhah bin Ubaidillah. Dari dakwah yang masih rahasia ini, belasan orang sudah masuk Islam.

Sesudah beberapa lama Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menjalankan dakwah secara diam-diam, turunlah perintah biar Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menjalankan dakwah secara terang-terangan. Mula-mula ia mengundang kerabat karibnya dalam sebuah jamuan. Pada peluang itu ia memberikan ajarannya. Namun ternyata spesialuntuk sedikit yang menerimanya. Sebagian menolak dengan halus, sebagian menolak dengan kasar, salah satunya yaitu Abu Lahab.
Langkah dakwah seterusnya diambil Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dalam pertemuan yang lebih besar. Ia pergi ke Bukit Shafa, sambil berdiri di sana ia berteriak memanggil orang banyak. Karena Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam yaitu orang yang terpercaya, penduduk yakin bahwa pastilah terjadi sesuatu yang sangat penting, sehingga mereka pun berkumpul di sekitar Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam.

Untuk menarik dan unik perhatian, mula-mula Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam berkata, “Saudara-saudaraku, kalau saya berkata, di belakang bukit ini ada pasukan musuh yang siap menyerang kalian, percayakah kalian?”
melaluiataubersamaini sekaligus mereka menjawaban, “Percaya, kami tahu saudara belum pernah berbohong. Kejujuran saudara tidak ada duanya. Saudara yang mendapat gelar al-Amin.” Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam meneruskan, “Kalau demikian, dengarkanlah. Aku ini yaitu seorang nazir (pemdiberi peringatan). Allah sudah memerintahkanku biar saya memperingatkan saudara-saudara. Hendaknya engkau spesialuntuk menyembah Allah saja. Tidak ada Tuhan selain Allah. Bila saudara ingkar, saudara akan terkena azabnya dan saudara nanti akan menyesal. Penyesalan kemudian tidak ada gunanya.”

Tapi khotbah ini ternyata membuat orang-orang yang berkumpul itu marah, bahkan sebagian dari mereka ada yang mengejeknya gila. Pada ketika itu, Abu Lahab berteriak, “Celakalah engkau hai Muhammad. Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?”

Sebagai tanggapan terhadap ucapan Abu Lahab tsb turunlah ayat Al-Qur’an yang artinya:
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak ia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar. yang di lehernya ada tali dari sabut. (QS. 111: 1-5)

Pendidikan Ibadah Dalam Islam

Pendidikan Ibadah Dalam Islam

Pendidikan Ibadah Dalam Islam

Pendidikan Ibadah Dalam Islam
Pendidikan Ibadah Dalam Islam

Selain materi aqidah, juga diberikan materi ibadah. “Ibadah adalah perbuatan untuk manyatakan bakti kepada Allah SWT, atau untuk menunaikan segala kewajiban yang diperintahkan Allah SWT dengan sungguh-sungguh”. Materi ini menerangkan cara-cara beribadah. Terkadang menggunakan metode demonstrasi dalam mempraktekkan cara-cara melaksanakan ibadah, seperti wudhu’, cara shalat dan lain sebagainya. Dengan materi ini diharapkan anak akan menjadi orang yang taat beribadah serta mematuhi yang diperintahkan dan menjauhi segala yang dilarang agama.

Mendidik anak pada hakikatnya merupakan usaha nyata dari orang tua dalam rangka mensyukuri karunia dan mengemban amanat Allah SWT. Oleh karena itu pendidikan agama yang diterima merupakan hak anak. Dengan menyadari hakikat anak, orang tua diharapkan akan menyadari kewajiban dan tanggung jawabnya.

M. Fauzil Adhim

mengklasifikasikan pendidikan ibadah bagi anak sesuai umur dan perkembangan jiwa anak sebagai berikut:

1. Sejak dalam kandungan selama kurang lebih 9 bulan. Kebutuhan yang paling penting dalam masa ini adalah kerahiman (kasih sayang tulus) dari ibunya.

2. Selanjutnya adalah masa lahir sampai usia dua tahun, masa ini umum disebut masa bayi. Pada masa ini, anak memerlukan kasih sayang dan perhatian yang melibatkan langsung dirinya untuk menuju kehidupan berikutnya. Ibu diharapkan membimbingnya untuk mengenalkan lingkungan sosialnya.

3. Berikutnya adalah masa thufulah atau masa kanak-kanak, yang berlangsung antara usia dua sampai tujuh tahun. Pada masa ini, anak butuh dikembangkan potensinya seoptimal mungkin, karena sedang aktif-aktifnya, cerdas-cerdasnya, peka-pekanya, gemes-gemesnya bahkan cerewet-cerewetnya. Inilah masa yang tepat untuk memberikan dasar-dasar tauhid anak melalui sentuhan dzauq (rasa), sehingga nantinya akan lebih merangsang anak untuk memiliki tauhid yang aktif, kedalaman tauhid yang nantinya akan mendorongnya untuk bergerak melakukan sesuatu yang baik.

4. Kemudian usia tujuh tahun, dimana anak memasuki tahap perkembangan tamyiz atau kemampuan awal membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta benar dan salah melalui penalarannya. Pada tahap ini anak perlu mendapatkan pendidikan pokok syariat (ibadah) yang sifatnya mahdhah maupun ghairu mahdhah, disamping tentunya pendidikan tauhid, pendidikan akhlak dan lain sebagainya secara simultan yang berlangsung hingga usia 12 tahun.

Dari periodisasi dan klasifikasi diatas, maka orang yang paling bertanggung jawab dalam menyiapkan anak menuju taklif adalah orang tua. Sebagai realisasi tanggung jawab orang tua sebagai pendidik dan menyampaikan materi-materi pokok pendidikan bagi anak, ada beberapa aspek yang menjadi urutan prioritas utama.

Prof. Dr. Nashih Ulwan

menjelaskan bahwa dengan adanya pendidikan agama (ibadah) yang diberikan oleh orang tua sesuai dengan masa pertumbuhannya tersebut, maka ketika anak telah tumbuh dewasa akan terbiasa melakukan dan terdidik untuk mentaati Allah, melaksanakan hak-Nya, bersyukur kepada-Nya, kembali kepada-Nya dan berserah diri kepada-Nya.

Berkaitan dengan hal ini, Zakiah Daradjat memberikan argumen, bahwa apabila anak tidak terbiasa melaksanakan ajaran agama terutama ibadah dan tidak pula dilatih atau dibiasakan melaksanakan hal-hal yang disuruh Tuhan dalam kehidupan sehari-hari seperti shalat, puasa, berdo’a dan lain-lain maka, pada waktu dewasanya nanti ia akan cenderung kepada acuh tak acuh, anti agama, atau sekurang-kurangnya ia tidak akan merasakan pentingnya agama bagi dirinya. Sebaliknya, bila anak mendapat latihan dan pembiasaan agama, pada waktu dewasanya nanti akan semakin merasakan kebutuhan akan agama.[17]
Sebagai wujud dari tanggung jawab orang tua dalam mendidik dan menananmkan nilai-nilai ibadah kepada anak-anaknya, ada beberapa aspek yang sangat penting untuk diperhatikan orang tua. Sebagaimana diungkapkan Chabib Toha berdasarkan Al-Quran surah Lukman ayat 17: يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
“hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan-perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)”.

Pendidikan Sholat

Pendidikan shalat dalam ayat diatas tidak hanya terbatas tentang kaifiyat shalat saja. Mereka harus mampu tampil sebagai pelopor amar ma’ruf nahi mungkar serta jiwanya teruji menjadi orang yang sabar. Berkenaan dengan penanaman nilai-nilai dibalik pendidikan ibadah bagi anak. Harun Nasution menjelaskan, bahwa manusia dalam Islam, tersusun dari dua unsur, yaitu unsur jasmani dan rohani.[18] Tubuh manusia berasal dari materi dan mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya material. Sedangkan rohani manusia bersifat immateri dan mempunyai kebutuhan spiritual. Pendidikan jasmani maupun rohani harus mendapatkan porsi seimbang. Oleh karena itu, sangatlah penting supaya rohani yang ada dalam diri manusia dilatih secara baik seperti halnya badan manusia yang dilatih dengan olahraga sehingga terwujud jasmani dan rohani yang sehat.

Dalam islam ibadahlah yang memberikan latihan rohani yang diperlukan manusia itu.[19] Semua ibadah yang ada dalam Islam seperti shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya bertujuan membuat rohani manusia senantiasa tidak lupa pada Tuhan, bahkan senantiasa dekat kepada-Nya. Keadaan senantiasa dekat kepada Tuhan sebagai Zat yang maha suci dapat mempertajam rasa kesucian seseorang. Rasa kesucian yang kuat dapat menjadi rem bagi hawa nafsu untuk melanggar nilai-nilai moral, peraturan dan hukum yang berlaku dalam memenuhi keinginannya.

Sementara itu mengenai materi pendidikan ibadah secara menyeluruh oleh para ulama telah dikemas dalam sebuah disiplin ilmu yang dinamakan ilmu fiqh atau fiqh Islam.[20] Fiqh Islam itu tidak hanya membicarakan hukum dan tata cara ibadah shalat, melainkan meliputi pembahasan tentang puasa, zakat, haji, tata ekonomi Islam (muamalat), hukum waris (faraid), tata pernikahan (munakahat), tata hukum pidana (jinayat dan hudud), tata peperangan (jihad), makanan sampai dengan tata negara (khilafah). Pendek kata, seluruh tata pelaksanaan mentaati perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya terbahas secara lengkap didalamnya.

Oleh karena itu cara peribadatan menyeluruh sebagaimana termaktub dalam fiqh Islam itu hendaklah diperkenalkan sejak dini dan sedikit demi sedikit dibiasakan dalam diri anak, agar kelak mereka menjadi insan yang benar-benar taqwa, yakni insan yang taat menjalankan segala perintah agama dan taat pula dalam menjauhi larangannya.

Pengalaman anak terhadap fiqh Islam hendaklah diawali dengan pengenalan ilmunya. Ia perlu mendapatkan bimbingan orang tua yang benar-benar tahu, sehingga kelak peribadatan yang diamalkan benar-benar berdasar pada syariat Islam, bukan berdasar perkiraan semata. Ibadah sebagai realisasi dari aqidah Islamiah harus tetap terpancar dan teramalkan dengan baik oleh setiap anak. Beribadah adalah kewajiban kepada Allah SWT seperti menganjurkan kebaikan, mencegah kemungkaran, berbudi pekerti baik, menolong yang teraniaya, melawan nafsu amarah dan berbagai perbuatan baik lainnya.

Sebelum usia baliqh, seorang anak harus sudah memiliki kesiapan yang cukup untuk melaksanakan taklif (tugas dan kewajiban) agama. Karena itu, pada usia tersebut, ia harus diajarkan bagaimana cara melaksanakan kewajiban agama, seperti shalat, puasa, dan ibadah lainnya. Selain itu, ia juga harus diberi penjelasan tentang segenap nilai-nilai penting yang berkaitan dengan peribadahan.

Baca Juga: 

Kemandirian Anak Dalam Perspektif Islam

Kemandirian Anak Dalam Perspektif Islam

Kemandirian Anak Dalam Perspektif Islam

Kemandirian Anak Dalam Perspektif Islam
Kemandirian Anak Dalam Perspektif Islam

Pendidikan Dalam Islam

Pendidikan dalam Islam mengajarkan untuk mendidik anak secara mandiri dengan mengatur anak secara jarak jauh.[1] Ketika mewasiatkan pada orang tua untuk memelihara dan membimbing pendidikan anak-anaknya, Islam tidak bermaksud memporak-porandakan jiwa anak dalam jangka pendek maupun jangka panjang, sehingga hidup dan urusannya hanya dipikirkan, diatur dan dikelola oleh kedua orang tuanya.
anak+mandiri

Memang kedua orang tualah yang bekerja banting tulang demi hidup dan masa depan anak-anaknya yang pada akhirnya anak menjadi beban tanggungan orang tua, akan tetapi tujuan utama islam adalah mengontrol perilaku anak supaya tidak terbawa oleh arus menyimpang dan keragu-raguan serta upaya membentuk kepribadian yang tidak terombang ambing dalam kehidupan ini.

Ajaran Rasulullah

Rasulullah sangat memperhatikan pertumbuhan potensi anak, baik dibidang sosial maupun ekonomi. Beliau membangun sifat percaya diri dan mandiri pada anak, agar ia bisa bergaul dengan berbagai unsur masyarakat yang selaras dengan kepribadiannya. Dengan demikian, ia mengambil manfaat dari pengalamannya, menambah kepercayaan pada dirinya, sehingga hidupnya menjadi bersemangat dan keberaniannya bertambah. Dia tidak manja, dan kedewasaan menjadi ciri khasnya.

Baca Juga: Rukun Iman

Karena pada akhirnya nanti masing-masing individulah yang di mintai pertanggung jawaban atas apa yang di perbuatnya di dunia. Firman Allah yang termaktub dalam Al-Quran surat Al- Mudasir ayat 38 menyebutkan: كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ “tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang diperbuatnya”. Selanjutnya dalam surat Al-Mukminun ayat 62 disebutkan: وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا وَلَدَيْنَا كِتَابٌ يَنطِقُ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ “ kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi kami ada kitab yang berbicara benar, dan mereka telah dianiaya”.

Dari ayat tersebut menjelaskan bahwa individu tidak akan mendapatkan suatu beban diatas kemampuannya sendiri tetapi Allah Maha Tahu dengan tidak memberi beban individu melebihi batas kemampuan individu itu sendiri. Karena itu individu dituntut untuk mandiri dalam menyelesaikan persoalan dan pekerjaannya tanpa banyak tergantung pada orang lain. Abdullah menuturkan beberapa contoh tentang inti pandangan Islam terhadap pendidikan anak dengan didukung oleh berbagai bukti dan argumentasi.

Beliau mengatakan bahwa kemandirian dan kebebasan merupakan dua unsur yang menciptakan generasi muda yang mandiri. Keduanya merupakan asas bangunan Islam. Rasulullah membiasakan anak untuk bersemangat dan mengemban tanggung jawab. Tidak mengapa anak disuruh mempersiapkan meja makan sendirian. Ia akan menjadi pembantu dan penolong bagi yang lainnya. Daripada anak menjadi pemalas dan beban bagi orang lain.[6] Rasulullah bersabda: “bermain-mainlah dengan anakmu selama seminggu, didiklah ia selama seminggu, temanilah ia selama seminggu pula, setelah itu suruhlah ia mandiri”. (HR. Bukhari)

Dari hadits tersebut menunjukkan bahwa orang tua mempunyai andil yang besar dalam mendidik kemandirian anak. Ada upaya-upayayang harus dilakukan orang tua ketika menginginkan anak tumbuh mandiri. Dan upaya tersebut harus dilakukan setahap demi setahap agar apa yang diharapkan dapat terwujud. Dalam Islam, subtansi pembinaan adalah ajaran islam itu sendiri. Secara garis besar ada beberapa bidang materi pendidikan Islam, seperti aqidah, ibadah dan akhlak.
Untuk mengetahui dengan jelas materi pembinaan anak menurut Islam, berikut akan dijelaskan beberapa materi pembinaan anak.

Pendidikan Aqidah dalam Islam

Pendidikan Aqidah dalam Islam

Pendidikan Aqidah dalam Islam

Pendidikan Aqidah dalam Islam
Pendidikan Aqidah dalam Islam

Pendidikan Aqidah

Aqidah merupakan materi pembinaan anak dalam Islam. Kata “aqidah” menurut bahasa berasal dari bahasa Arab yang berarti pengikat. Aqidah merupakan kepercayaan penuh kepada Allah SWT dengan segala sifatnya dan ia merupakan pembeda antara orang mukmin dan orang kafir.[9] Hasan Al Banna mengatakan: “aqidah Islam adalah landasan atau asas kepercayaan dimana diatasnya dibina iman yang mengharuskan hati meyakininya. Membuat jiwa menjadi tentram, bersih dari kebimbangan dan keraguan menjadi sendi pokok bagi kehidupan setiap manusia”.

Pendidikan Aqidah Bagi Anak

Pendidikan aqidah bagi anak.seperti yang telah kita ketahui bahwasannya aqidah Islam adalah sebagai berikut :

1. Beriman kepada Allah
2. Beriman kepada para malaikat
3. Beriman kepada kitab-kitab Allah
4. Beriman kepara para rasul
5. Beriman kepada hari akhir
6. Beriman kepada qadha’ dan qadar yang baik maupun yang buruk

Baca Juga: Rukun Islam

Dalil

Dan tentunya pendidikan aqidah ini lebih baik ditanamkan sedari kecil kepada anak-anak kita, karena fase anak-anak itulah kita harus memulai mengenalkan akan aqidah, bahwasannya setiap anak dalam kelahirannya mengakui bahwa Allah adalah Tuhannya sebagai mana firman Allah Ta’ala :

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا

“Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).” (QS. Al Α’raf: 172)

Adalah salah satu bagian dari karunia Allah SWT pada hati manusia bahwa Dia melapangkan hati untuk menerima iman di awal pertumbuhannya tanpa perlu kepada argumentasi dan bukti yang nyata, dan kita sebagai orang tua perlu membuat suasana lingkungan yang mendukung dan positif, memberi teladan pada anak, banyak berdoa untuk anak, dan hendaknya kita tidak melewatkan kejadian sehari-hari melainkan kita menjadikannya sebagai sarana penanaman pendidikan baik itu pendidikan aqidah maupun pendidikan lainnya.

Jadi aqidah merupakan landasan atau asas kepercayaan yang ditanamkan kedalam jiwa seseorang sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Lukmanul Hakim ketika mendidik putranya yang telah digambarkan dalam Al-Quran surah Lukman ayat:13
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “dan ingatlah ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “ hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Lukman: 13)

Ayat diatas menunjukkan aqidah merupakan landasan utama dimana ditegakkan ajaran Islam. Dalam materi ini anak dibina dan ditanamkan rasa keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT. Dengan menjelaskan dalil-dalilnya. Apabila para ayah dan ibu terus berusaha membangkitkan dan mencerahkan fitrah makrifatullah dan keyakinan tentang Tuhan dalam diri sang anak, niscaya nilai-nilai spiritual dan keutamaan akhlaknya menjadi hidup.

Keyakinan tentang adanya Allah dan Pencipta yang kita wujudkan dalam bentuk amal perbuatan, akan senantiasa menjaga sang anak dari perbuatan dosa dan menyimpangan. Dan setiap kali keyakinan tersebut menguat, penjagaan diri sang anak pun akan menguat pula.

Di antara tugas terpenting para orang tua terhadap anak-anaknya adalah mengajarkan kewajiban agama dan amal ibadah. Semua itu harus diajarkan sebelum sang anak memasuki masa baligh. Semasa itu ia harus diajari cara mempraktikkan amal ibadah. Itu dimaksudkan agar pada masa baligh dan seterusnya ia tidak mengalami kesulitan melakukannya.
Mengajarkan Al-Quran dan hadits Nabi SAW serta riwayat para imam maksum, juga merupakan tugas penting dan berpengaruh besar terhadap pendidikan agama sang anak. Hal lain yang patut diperhatikan orang tua adalah bahwa sang anak memiliki jiwa yang lembut dan sangat sensitif sehingga segenap bentuk motivasi dan perasaan kasih sayang menjadi sangat berarti baginya. Sebaliknya, sikap keras dan pelimpahan tugas-tugas yang berat, dalam waktu singkat akan menjadikan jiwa dan mental sang anak melemah, yang pada gilirannya akan menyebabkan semangat dan kecenderungan dirinya berkurang.

Syarat Rukun Puasa

Syarat Rukun Puasa

Syarat Rukun Puasa

Syarat Rukun Puasa
Syarat Rukun Puasa

Sebelum menjalankan ibadah puasa seseorang tentunya harus memiliki hal-hal yang terpenuhi yang disebut dengan syarat wajib puasa. Syarat wajib puasadimaksud yaitu: Islam, baligh, berakal, mampu berpuasa.
Selain syarat wajib ada juga yang disebut dengan syarat sah puasa , syarat sahnya puasa juga ada empat, yaitu : Islam, tamyiz, bersih dari haidl atau nifas, pada waktu yang diperbolehkan. (Tanwir al-Qulub, hal. 217)

Selain itu, setiap muslim dan muslimah wajib menjalankan puasa Ramadhan apabila :

Pertama:

Bulan Sya’ban telah genap 30 hari, atau telah melihat hilal, atau telah ada ketetapan hakim berdasarkan kesaksian orang adil yang telah melihat hilal, atau menyangka telah masuk bulan Ramadhan berdasar ijtihad yang dilakukan. (Nihayah al-Zain, hal.184)

Kedua:

Setelah syarat wajib dan syarat sah puasa terpenuhi, barulah seseorang bisa menjalankan sesuatu yang wajib dilakukan ketika menjalankan puasa itu, dan rukun puasa itu hanya ada 2 perkara, yaitu niat dan imsak, yaitu menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa.

1. Niat Puasa

Yaitu menyengaja didalam hati untuk melakukan puasa. Jika puasa yang akan dilakukan merupakan puasa wajib, maka pada saat niat harus menentukan jenis kefardhuan tersebut, misalnya puasa Ramadhan, puasa nadzar, puasa kafarot dll., dan niat wajib dilakukan setiap malam. Imam Daruquthni meriwayatkan:

“Barang siapa tidak menginapkan niat puasa sebelum fajar, maka tidak sah puasa baginya”.

Sedangkan mengucapkan lafadznya niat hukumnya sunnah, yaitu : “Aku niat puasa besok hari menunaikan fardlu bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala”.

Atau cukup dengan:”Aku niat puasa Ramadhan”

Dan menurut sebagian ulama syafi’iyyah, boleh meniatkan puasa Ramadhan satu bulan sekaligus.

2. Menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa

Hal-hal yang dapat membatalkan puasa yang dimaksud adalah :

Memasukkan benda ke dalam lubang tubuh.
Berhubungan badan (jima’ atau wathi).
Mengeluarkan sperma.
Muntah.

Empat perkara tersebut dapat membatalkan puasa jika dilakukan dengan sengaja, tidak karena terpaksa dan sudah mengetahui bahwa hal tersebut dilarang. Oleh sebab itu, jika saat puasa makan, minum, keluar sperma, muntah, atau bersenggama, akan tetapi hal tersebut dilakukan karena lupa, atau karena dipaksa, atau karena belum tahu bahwa hal tersebut dilarang, maka puasanya tetap sah (tidak batal).

Selain itu, yang dapat membatalkan puasa adalah :

Membatalkan Puasa

Keluar darah haidl atau nifas.
Melahirkan.
Gila atau hilang akal, walaupun hanya sebentar.
Epilepsi atau ayan, jika menghabiskan seluruh waktu siang.
Mabuk, jika menghabiskan seluruh waktu siang.
Murtad atau keluar dari Islam. (Tanwir al-Qulub218)

Demikian uraian yang dapat kami sampakan terkait dengan syarat dan rukun puasasemoga bermanfaat dan barokah.Amiin.

Baca Juga: 

Sunnah Sunnah Puasa

Sunnah Sunnah Puasa

Sunnah Sunnah Puasa

Sunnah Sunnah Puasa
Sunnah Sunnah Puasa

Ketika seseorang menjalankan ibadah puasa, ada hal-hal yang bersifat wajib dengan ketentuan apabila tidak dilakukan menyebabkan tidah sahnnya puasa, ada yang bersifat anjuran atau kesunnahan dengan mengikuti sunnah sunnah rasulullah SAW, dan ada juga yang bersifat kemakhruhan, hingga sampai pada yang bersifat ancaman yang apabila dilanggar mengakibatkan batalnya puasa bahkan mendapat dosa dan hukuman. Berikut kesunnahan kesunnahan puasa yang apabila kita mampu melaksanakannya akan mempertebal pahala di sisi Allah SWT. :

1.Ta’jil (menyegerakan berbuka)

Ketika yakin matahari telah benar-benar tenggelam, maka disunnahkan untuk segera berbuka. Dan jika belum yakin maka tidak boleh segera berbuka.

2.Berbuka dengan kurma

Artinya, saat berbuka sunnah mendahulukan makan kurma basah atau kurma kering dan dalam jumlah ganjil (tiga biji atau lebih). Dan jika tidak ada maka sunnah mendahulukan air atau manisan.

3.Berdo’a

Sebelum berbuka (menurut sebagian ulama setelah berbuka) puasa disunnahkan membaca do’a:

Syaikh Al-Wana’i meriwayatkan, barang siapa saat berbuka puasa membaca do’a berikut ini, maka dosa- dosanya akan diampuni oleh Allah SWT, yaitu :

4. Memberi makanan berbuka orang lain

Dalam Hadits Rosululloh SAW bersabda, “Barang siapa memberi makan berbuka terhadap orang yang berpuasa, maka dia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa itu”.

5. Sahur

Sesungguhnya Allah SWT memberikan rahmat kepada orang-orang yang menjalankan sahur, dan Malaikat mendo’akan terhadap orang yang sahur. Dalam riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim Rosululloh SAW bersabda: “Sahurlah kalian semua, (karena) sesungguhnya didalam sahur ada kebaikan”.

Waktu sahur adalah setelah pertengahan malam, dan lebih utama lagi jika dilakukan diahir malam (lebih mendekati fajar). Pahala sahur sudah dapat dihasilkan meskipun hanya minum seteguk air.

6. Mengakhirkan sahur

Rosulullah SAW telah bersabda: “Orang-orang senantiasa dalam kebaikan selagi mensegerakan puasa dan mengakhirkan sahur”. (HR. Bukhori & Muslim)

7. Mandi dari hadats besar sebelum fajar

Hal tersebut dimaksudkan, agar saat menjalankan ibadah puasa sudah dalam kondisi bersih. Selain itu, jika mandi besar dilakukan setelah fajar (siang) dikhawatirkan air masuk kedalam lubang tubuh. Namun hal tersebut bukan berarti tidak boleh melakukan mandi besar pada siang hari bulan Ramadlan. Selama mandi tersebut termasuk mandi wajib atau mandi sunnah, dan dilakukan dengan hati- hati serta tidak menyelam atau membenamkan kepala ke dalam air maka tetap diperbolehkan dan tidak membatalkan puasa.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/

Tanda Tanda Puasa Yang Diterima Allah SWT

Tanda Tanda Puasa Yang Diterima Allah SWT

Tanda Tanda Puasa Yang Diterima Allah SWT

Tanda Tanda Puasa Yang Diterima Allah SWT
Tanda Tanda Puasa Yang Diterima Allah SWT

Seperti halnya kepompong, saat masih sebagai ulat ia menakutkan dan menjijikkan itu ibarat diri kita yang penuh dengan kotoran penyakit hati, saat menjadi kepompong hanya bisa diam menunggu waktu yang telah ditentukan, dan ketika sudah menjadi kupu-kupu yang cantik, itu ibarat diri kita yang sudah bersih hatinya dari segala kotoran, semua orang menyukainya. Ibadah puasa ,baik itu puasa wajib seperti puasa ramadhan ataupun puasa nadzar, dan puasa sunnah seperti puasa rajab , puasa senin kamis , dan puasa sunnah lainnya, merupakan sebuah proses untuk kembali kepada fitrah kita sebagai manusia. Bertingkah laku sebagai manusia yang berbudaya tinggi. Bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk seluruh alam karena kita adalah kholifah Allah di muka bumi. Itulah orang yang bertaqwa. Oleh karenanya tanda-tanda yang bisa dijadikan parameter untuk mengukur keberhasilan puasa kita adalah :

1. Badan lebih sehat

Puasa yang baik adalah puasa yang mampu mengubah pola makan seseorang secara lebih sehat. Dan orang yang bertaqwa adalah orang yang mampu mengendalikan diri dalam hal makan, minum dan gaya hidupnya. Dan kebiasaan itu terus dibawa walaupun di hari-hari selain bulan puasa.

2. Emosi lebih rendah

Puasa yang benar itu tidak hanya menahan rasa lapar dan haus, tapi melatih emosi agar selalu dalam kendali akal. Emosi adalah manifestasi dari ego seseorang . Emosi biasanya terkait dengan kepentingan pribadi yang tidak kesampaian. Misalnya marah, dendam, iri, dengki dan sebagainya. Puasa yang baik adalah yang dapat mengendalikan itu semua.

3. Pikiran lebih jernih

Pikiran yang jernih disebabkan oleh dua hal. Pertama, makan yang tidak terlalu banyak, sehingga menyebabkan kerja otak terganggu oleh rasa kantuk. Dan yang kedua, emosi yang rendah. Oleh karenanya orang yang tidak terlalu kenyang dibarengi dengan emosi yang rendah, pikirannya jadi jernih dalam menghadapi berbagai macam persoalan. Dan pikiran yang jernih menyebabkan akal kita berjalan secara profesional. Orientasinya mengarah kepada kemanfaatan dan kemaslahatan bersama.

4. Sikap lebih bijaksana

Dari pikiran yang jernih itulah menimbulkan sikap bijaksana. Orang yang tidak bisa berfikir jernih, bisa dipastikan tidak bijaksana. Yang ada dibenaknya adalah kepentingan-kepentingan sempit. Misalnya hanya berpihak pada diri sendiri atau golongannya saja, atau berpikir jangka pendek saja.

5. Hati lebih lembut dan peka

Hati lembut dan peka sebenarnya dua hal yang terkait. Jika hatinya lembut, pasti juga peka. Hati ini adalah hati yang mudah tersentuh, punya kepedulian tinggi dan kepekaan terhadap penderitaan orang-orang di sekitarnya. Seperti hati para Nabi dan Rasul.

6. Ibadahnya lebih bermakna

Seseorang yang bisa mengontrol dirinya dengan baik, dia bahkan bisa meresapi makna ibadahnya. Karena makna ibadah adalah penyerahan sepenuhnya kepada Allah, merasa dirinya diperhatikan oleh Allah, dan bahkan merasa dekat dan dapat berdialog dengan Allah. Itulah makna ibadah.

7. Lebih tenang dan tawadhu’

Berpuasa adalah tingkat keikhlasan yang tinggi, karena ibadah ini tidak ada yang tahu kecuali Allah dan dirinya. Ketika seseorang mencapai tingkat keikhlasan yang tinggi, hatinya tidak bakal pernah gelisah dan khawatir. Ia telah dapat merasakan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini adalah kehendak-Nya belaka. Karena itu dia bisa mengikhlaskannya.

Demikian tentang tanda tanda seseorang yang menjalankan puasa dengan baik. Semoga bisa menjadi tolok ukur bagi ibadah kita. Amiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/

Harta suami dan istri tetap terjaga dalam islam

Harta suami dan istri tetap terjaga dalam islam

Harta suami dan istri tetap terjaga dalam islam

Harta suami dan istri tetap terjaga dalam islam
Harta suami dan istri tetap terjaga dalam islam

ditemani seorang Anshar

Dengan ditemani seorang Anshar, Zainab mendatangi Rasullullah untuk menanyakan sesuatu, Ketika berada didepan rumah beliau, mereka bertemu dengan sahabat Bilal ra.

“hai zainab, mau kemana kalian?” tanya bilal.

“katakan kepada Rasullullah, bahwa ada dua orang wanita yang punya kepentingan sama dan ingin menghadap beliau,” jawab zainab.

“Kalian mau menanyakan perihal apa?”

“Apakah cukup jika harta kami diberikan kepada suami-suami kami dan anak yatim dirumah-rumah kami?”

“baiklah.” sahut bilal.

pesan zainab

“tetapi, tolong jangan kau katakan kepada Rasullullah siapa kami ini,”pesan zainab.

bilal kemudian masuk dan menghadap Rasullullah meneruskan pertanyaan kedua wanita itu.

“siapa kedua wanita itu?” tanya Rasullullah setelah mendengar laporan bilal.

“Zainab dan seorang wanita anshar,” jawab bilal.

“Zainab? Zainab yang mana?”

“Zainab istri Abdullah bin Mas’ud,” jawab bilal.

Zainab adalah seorang wanita kaya

dari jawaban itu Rasullullah mulai memahami. Zainab adalah seorang wanita kaya. Dia menikah dengan Abdullah bin Mas’ud yang tergolong fakir. Zainab yang kaya ingin menyedekahkan harta kekayaannya kepada suaminya, sebab dalam hukum islam tak mengenal harta gono-gini seperti dalam hukum waris jawa.

Hasil usaha sang istri adalah menjadi hak sang istri, dan bukang langsung menjadi hak bersama alias gono-gini. Soal kemudian istri rela dan memberikan harta itu kepada suami, itu persoalan lain, yang hukumnya temasuk sedekah.

“mereka berdua (Zainab dan wanita anshar) akan mendapat dua pahala. Yang satu pahala ibadah, satulnya lagi pahala sedekah, “sabda Rasullullah, seperti diriwatkan dalam Hadist Bukhari dan Muslim.

Baca Juga:

Sakit Karena Takut

Sakit Karena Takut

Sakit Karena Takut

Sakit Karena Takut
Sakit Karena Takut

Karena Takut

Seorang imam yang zuhud, Yak’kub al-kisai, mengkisahkan: ketika hasim bin walid tergolek di atas ranjang, keluarganya segera memanggil seorang tabib untuk mengobatinya.

“ia tidak menderita sakit apa – apa,” kata sang tabbib setelah memeriksa tubuh hasim. ” coba kalian tanyakan kepadanya apa yang dikeluhkannya mengenai sakitnya itu. Sebab seseorang itu lebih tahu tentang keadaan dirinya sendiri.”

kemudian keluarganya bertanya kepada hasim.

“Aku memang tak sedang menderita sakit,” jawab hasim.

rasa takut kepada ALLAH

“sakitku adalah rasa takut kepada ALLAH Yang Maha Mulia dan Maha Memberi. Takut membanggakan amal. Takut perhitungan masalah amal. Takut kehilangan iman dari sanubariku. Takut aku akan menjadi golongan yang menerima adzab. Alangkah beruntungnya orang yang wafat dengan membawa iman. dan melangkah menuju pintu surga.

Semoga kisah ini menambah keimanan kita dan menjadikan kita pribadi yang lebih taat lagi kepada Rabb kita.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/tata-cara-sholat-tahajud-niat-doa-dan-keutamaan-lengkap/