Menghindari Fitnah

Menghindari Fitnah

Menghindari Fitnah

Menghindari Fitnah
Menghindari Fitnah

Khalifah Ustman bin Affan

Ketika khalifah Ustman bin Affan mengutus seorang kurir ke negara tetangga untuk menjalin hubungan diplomatik, umi kaltsum , istri khalifah titip bingkisan minyak wangi untuk istri raja itu.

pulangnya, si kurir ganti membawa bingkisan balan dari istri raja berupa mutiara dan permata.

melihat kiriman itu, khalifah Ustsman bin Affan langsung menyita hadiah itu dan dianggap menjadi milik negara.

“kalau kau bukan istri khalifah, takmungkin kau akan menerima bingkisan ini,” kata khalifah kepada istrinya, umi kaltsum.

“yang kuterima itu hadiah balasan pribadi dari istri raja,” jawab umi kaltsum.

“benar, tetapi untuk urusan kirim – mengirim ini telah menggunakan fasilitas negara lewat kurir ke khalifahan,” ujur khalifah.

saling tak mau mengalah

karena saling tak mau mengalah, suami istri itu kemudian sepakat untuk menyelesaikan urusan itu lewat jalur hukum, maka diserahkan bingkisan hadiah itu kepada hakim.

setelah melewati persidangan yang panjang, akhirnya hakim memutuskan bingkisan hadiah itu sah menjadi milik pribadi Umi Kaltsum.

“sudah kuduga sebelum aku akan kalah dalam persidangan perkara ini,” kata khalifah Ustman .

“lalu mengapa Khalifah tetap mengajak ke pengadilan,” jawab Umi Kaltsum, istrinya.

jika tidak diselesaikan

“jika tidak diselesaikan lewat jalur hukum, aku khawatir perkara ini menjadi fitnah,” ujar khalifah.

“fitnah bagaimana?”

“orang akan berkata : lihatlah itu, istri khalifah menggunakan kesempatan dan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Alasan lain, aku khawatir caramu itu akan ditiru oleh istri-istri penjabat yang lain,” jawab khalifah.

Meskipun hal itu tidak apa – apa, tetapi bisa menimbulkan hal – hal yang tak diinginkan atau kesan negatif. Oleh sebab itu  harus dihindari oleh seorang muslim.

Setelah direnungkan dalam – dalam oleh Umi Kaltsum, kekhawatiran suaminya itu cukup beralasan. Maka, atas kesadarannya sendiri, malam itu juga ia menyerahkan bingkisan hadiah itu ke baitul maal, menjadi milik negara.

“Seseorang tidak akan sampai pada tingkatan taqwa yang tinggi sehingga rela meninggalkan hal – hal yang sepertinya tidak apa – apa, tetapi bisa menimbulkan apa – apa,”

Demikian sabda Rasullullah dalam hadistnya.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-tawasul-ringkas-dan-lengkap-hadhorot/

Faktor Khilafiyah Dalam Pernikahan Tanpa Wali

Faktor Khilafiyah Dalam Pernikahan Tanpa Wali

Faktor Khilafiyah Dalam Pernikahan Tanpa Wali

Faktor Khilafiyah Dalam Pernikahan Tanpa Wali
Faktor Khilafiyah Dalam Pernikahan Tanpa Wali

 

Dalil Utama

Tidak diketemukannya dua sumber dalil primer Al-Qur’an dan Hadits yang dalam tampilan teksnya menampakkan (dzohir) ketentuan hadirnya wali dalam prosesi akad nikah, lebih-lebih tampilan yang menjelaskan secara transparan (nash). Bahkan sumber-sumber dalil yang bisa digunakan refernsi oleh pendukung semuanya dalam kapasitas tak pasti (muhtamil) sebaliknya landasan ayat dan hadits yang dipakai sebagai hujjah oleh versi yang tidak setuju wali sebagai syarat akad nikah dalam kapasitas ayng bersifat tidak pasti. Sehingga semua denotasi referensi ayat maupun hadits tersebut selai kandungan teksnya tidak pasti juga keotentikannya (keshohihannya) masih diperdebatkan.

Wali Sebagai Prasyarat Nikah

Hujjah dari versi yang setuju hadirnya wali sebagai prasyarat nikah (versi pertama), Firman Allah SWT yang Artinya: “Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu habis masa idahnya. Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya apabila telah terdapat kerelaan diantara mereka dengan cara yang ma’ruf” (Q.S. Al-Baqoroh : 232)
Konteks ayat ini merupakan seruan dengan ditujukan pada wali pengantin perempuan dalam kapasitas sebagai pihak yang punya hak atau wewenang menikahkan.

Analisis

Persepsi ini dapat dianalisir dengan ada apa di balik larangan tersebut kecuali sang mukhatab (orang yang mendapat seruan) punya kemampuan menghalang-halangi yang dalam hal ini yang tepat adalah wali perempuan, sebab jika perempuan bisa menikahkan dirinya sendiri tentu keberadaan wali tidak akan mampu menghalang-halangi. Hadits yang Artinya: Rasulullah saw bersabda: siapa perempuan yang menikah tanpa izin dari wali, maka nikahnya batil, batil, batil. Apabila ia menjima’nya maka waib mahar baginya sebab apa yang tertimpa padanya. Apabila mereka (para wali) menolak (menikahkan) paka sulthan sebagai wali seseorang yang tidak ada walinya. (H.R. Tirmidzi)

Hujjah

Hujjah versi yang tidak setuju hadirnya wali dalam prosesi nikah sebagai prasyarat nikah (versi kedua). Firman Allah SWT yang Artinya: “Kemudian apabila telah habis masa idahnya maka tiada dosa bagimu membiarkan mereka berbuat terhadap mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (Q.S. Al-Baqoroh : 234)
Dari referensi hadits ini versi Abu Dawud Al-Dzohiri (versi ketiga) dengan analisa fundamentalitas (harfiyah) memilih persyaratan wali hanya pada pernikahan anak yang masih gadis. Tidak pada janda.

Baca Juga: 

Nikah Tanpa Wali Kajian Psikologis

Nikah Tanpa Wali Kajian Psikologis

Nikah Tanpa Wali Kajian Psikologis

Nikah Tanpa Wali Kajian Psikologis
Nikah Tanpa Wali Kajian Psikologis

NIKAH TANPA WALI

Imam Syafi’I, Maliki dan Hambali berpendapat jika wanita baligh dan berakal sehat itu masih gadis, maka hak mengawinkan dirinya ada pada wali. Akantetapi jika ia janda maka hak itu ada pada keduanya. Wali tidak boleh mengawinkan wanita janda itu tanpa persetujuannya. Sebaliknya wanita itupun tidak boleh mengawinkan dirinya tanpa restu sang wali. Akad yang diucapkan hanya oleh wanita tersebut tidak berlaku sama sekali, walaupun akad itu sendiri memerlukan persetujuannya.
Sedangkan Imam Hanafi menyatakan bahwa wanita yang telah baligh dan berakal sehat boleh memilih sendiri suaminya, dan boleh pula melakukan akad nikah sendiri, baik dia perawan ataupun janda. Tidak ada seorangpun yang mempunyai wewenang atas dirinya tau menantang pilihannya, dengan syarat yang dipilihnya itu sekufu (sepadan) dengannya dan maharnya tidak kurang dari dengan mahar mitsil.

NIKAH TANPA WALI KAJIAN PSIKOLOGIS

Dengan memahami kembali definisi serta tujuan nikah, maka konsekuensi langsung dari akad nikah bila dihubungkan dengan laki-laki dapat memberikan hak kepemilikan yang secara khusus pada wanita yang dinikahinya. Dimana tidak halal laki-laki lain selain dirinya. Ketentuan ini menyikapi kosongnya paradigma hukum yang merestui sistem poliandri. Sedangkan konsekuensinya bila dihubungkan dengan pihak perempuan ialah memperbolehkan istimta’ tetapi tidak seperti hak milik yang secara khusus pada laki-laki. Sebab laki-laki punya hak poligami.

Dinamika

Dinamika perjalanan hidup manusia dengan karakteristik dan kondisi psikologis yang cenderung penuh dengan rasa ingin tahu membuat motivasi yang begitu membara sehingga potensi konflikpun menjadi problem yang terelakkan ketika keinginan mendapat reaksi tidak setuju dari pihak orang tua.

Ayah dalam kapasitasnya sebagai wali bagi putrinya bertanggung jawab menjaga dan memelihara masa depan anak, kebahagiaan, kemapanan bagi kelangsungan hidupnya merupakan point penting yang harus dijaga dengan tetap memelihara aspek-aspek normatif untuk menciptakan kesejahteraan hidup yang bermartabat.

Dengan memposisikan konsep perwalian sebagai dinamika perkembangan hidup yang sangat urgen dan diperlukan peranannya untuk ikut mengatur atau bahkan menentukan pernikahan seorang wanita, misi yang terkandung dalam interfensi wali adalah menjaga dan mengantisipasi kehormatan, martabat, dan kedudukan perempuan agar tidak terlanjur terpikat atau salah memilih jodoh yang tidak sepadan (sekufu) mengingat perempuan memiliki dorongan biologis yang lebih kuat, maka perlu ada manajemen yang secara sistematis sebagai kontrol.

Kesimpulan

Dari berbagai literatur bacaan, dapat disimpulkan bahwa salah satu dari tujuan perkawinan ialah untuk membentuk rumah tangga bahagia dengan penuh rasa kasih sayang, cinta mencintai yang mesra serta abadi, disertai dengan kerukunan dengan semua anggota keluarga, terutama dengan orang tua kedua belah pihak kalau masih hidup, kerukunan dengan tetangga dan handai taulan.

Mengingat kaum wanita sudah biasa menjadi sorotan kaum pria, jiwanya mudah tersinggung dan syahwat / keinginannya lebih kuat atau lebih banyak dari kaum pria, mudah dirayu dengan perkataan lemah lembut dan menarik hatinya, dan kaum wanita mudah tertarik dan mudah meniru keadaan yang dianggapnya aneh yang berada pada temannya, maka ketika eksistensi perwalian tidak lagi dianggap sebagai prasyarat nikah dalam artian wanita dianggap syah menikahkan dirinya sendiri, maka tidak ada lagi penghargaan terhadap orang tua yang notabene berkeinginan menjaga dan memelihara masa depan anak hingga ia menikah.

Fenomena “kebebasan” pergaulan bukan tidak mungkin membawa dampak negatif yang cukup besar terhadap jiwa ketika perempuan mendapatkan legalitas menikahkan diri tanpa wali. Hal ini tentu sangat bersebrangan dengan tujuan nikah itu sendiri. Wallahu a’lam.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/

Penjelasan Tentang Menikah dan Wali Nikah

Penjelasan Tentang Menikah dan Wali Nikah

Penjelasan Tentang Menikah dan Wali Nikah

Penjelasan Tentang Menikah dan Wali Nikah
Penjelasan Tentang Menikah dan Wali Nikah

Penjelasan

Fiqh dirumuskan sebagai karya intelektual tentang hukum dengan basis teks-teks keagamaan terutama Al-Qur’an dan Hadits. Rumusan sistematis ini dan epistimologis tertentu terhadap gugus persoalan manusia baik dalam urusan personal maupun sosial.
Dalam prosesi pernikahan, aturan normatif yang mendasari konsep metode dan pelaksanaannya sersah dalam institusi hukum syariat menelurkan butir-butir keputusan yang titik sentralnya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Sebagaimana karakteristik masalah Fiqhiyyah lainnya. Aturan asasi pernikahan juga menyimpan banyak polemik. Salah satu prasyarat yang sangat krusial diperdebatkan adalah Eksistensi Perwalian dalam Nikah. Apakah salah satu elemen yang menentukan keabsahan prosesi nikah?.
Dengan metode perdekatan yang dipakai oleh para ulama dlaam menganalisa realitas sosial, sejarah pembentukan dan penerapan syariat memang sangat dipengaruhi kondisi daerah di mana syariat tersebut dirumuskan.

A. NIKAH

Arti nikah menurut istilah ilmu fiqh ialah akad antara seseorang calon suami dengan seorang wali nikah yang menjamin halalnya bersetubuh antara suami dan sitrinya dengan kalimat nikah / kawin.[1]
Dalam pengertian yang transparan, nikah didefinisikan sebagai suatu ikatan perjanjian yang secara lebih khusus legalitasnya dibentuk oleh Syari’ (Allah dan Rosul) dengan tujuan supaya mempelai lelaki mendapatkan hak kepemilikan terhadap mempelai wanita dalam istimta’. Sedangkan dipihak wanita mendapatkan izin resesi (halal) baginya istimta’ dengan si lelaki.

B. WALI NIKAH

Wali / perwalian dalam pernikahan adalah suatu kekuasaan atau wewenang syar’I atas segolongan manusian yang dilimpahkan kepada orang yang sempurna, karena kekurangan tertentu pada orang yang dikuasai itu demi kemaslahatannya sendiri. Pembahasan mengenai hal ini meliputi berbagai masalah dan persoalan yang mendapat banyak reaksi dari fuqoha’ dan melahirkan banyak kesimpulan yang berfariatif.

C. EKSISTENSI WALI DALAM NIKAH

Sebagaimana karakteristik masalah Fiqhiyah lainnya aturan asasi pernikahan juga menyimpan banyak polemik. Salah satu prasyarat yang sangat krusial diperdebatkan adalah eksistensi perwalian dalam nikah
Sekian banyak pendapat ulama’ tentang eksistensi perwalian dalam pernikahan dapat diklasifikasikan menjadi tiga bentuk hasil ijtihad ulama’, yaitu:
Versi pertama:
“Termasuk syarat prioritas akad nikah.” Pendapat ini didukung oleh Imam Malik dalam riwayat As Shoh serta Imam Syafi’i.
Versi kedua:
“Bukan termasuk syarat keabsahan pernikahan dilakukan antara sekufu (sepadan dalam tinjauan syara’)” pendapat ini didukung oleh Imam Abu Hanifah, Zufar, Al-Sya’bi dan Al-Zuhri.
Versi ketiga:
“Tafshil (perincian), termasuk syarat akad nikah bila mempelai wanita masih virgin (gadis) dan bukan termasuk syarat nikah bila mempelai wanita sudah janda”. Pendapat ini didukung oleh Abu Dawud A-Dhoriry.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/kumpulan-kultum-ramadhan/

Sejarah Dibalik Keutamaan Nabi Muhammad Atas Seluruh Nabi

Sejarah Dibalik Keutamaan Nabi Muhammad Atas Seluruh Nabi

Sejarah Dibalik Keutamaan Nabi Muhammad Atas Seluruh Nabi

Sejarah Dibalik Keutamaan Nabi Muhammad Atas Seluruh Nabi
Sejarah Dibalik Keutamaan Nabi Muhammad Atas Seluruh Nabi

Seperti Mukjizat Nabi Musa AS berupa tongkat yang dapat berubah menjadi ular dan bisa membelah lautan. Atau mukzizat Nabi Isa AS yang dapat menghidupkan orang yang sudah meniggal, ada juga Nabi Sulaiman yang dapat berbicara dengan para binatang. Sementara sang Nabi mukjizatnya berupa Alquran menggetarkan hati dan jiwa; sesuai dengan landasan akal manusia; dan tidak lekang oleh waktu. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya Kamilah yang  menurunkan Alquran,  dan pasti Kami (pula) yang  memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9).

Syariat yang dibawa Rasulullah merupakan syariat terakhir dan menjadi penyempurnaan dari syarat-syariat sebelumnya. Misalnya syariat shalat, zakat, puasa dan haji yang merupakan penyempurnaan dari model syariah para rasul terdahulu dan tidak diperkenankan perubahan di dalamnya sampai kapan pun.

Allah SWT berfirman, “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan agamamu dan Ku-cukupkan nikmat-Ku kepadamu serta Ku-ridhai Islam menjadi agama bagimu.” (QS. Al Maidah: 3).

Tepatlah kemudian jika Allah SWT menempatkan Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul terakhir karena kapabelitasnya dari semua segi. Semua peristiwa dan penyelesaian yang dilakukan oleh rasul-rasul terdahulu bahkan semua peristiwa masa lampau telah menjadi bekal dalam diri Muhammad SAW untuk menghadapi persoalan umatnya, sehingga di dalam mencari jalan penyelesaian beliau melakukan berbagai modifikasi untuk mendapatkan solusi terbaik.

Beberapa keutamaan Nabi Muhammad SAW yang tersebut dalam Al Qur’an adalah sbb:

  1. Dalam diri Nabi Muhammad SAW terdapat suri teladan yang baik.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS.33, Al-Ahzaab:21)

  1. Nabi Muhammad SAW adalah penutup para Nabi.

مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيماً

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.33, Al-Ahzaab:40)

  1. Karena keutamaanya yang besar, hingga Allah dan para malaikat-Nya pun bershalawat untuk Nabi Muhammad SAW.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS.33, Al-Ahzaab:56)

Baca juga artikel:

Hukum, Hikmah dan Kadar zakat fitrah

Hukum, Hikmah dan Kadar zakat fitrah

Hukum, Hikmah dan Kadar zakat fitrah

Hukum, Hikmah dan Kadar zakat fitrah
Hukum, Hikmah dan Kadar zakat fitrah

Hukum Zakat Fitrah

Untuk menjelaskan hukum zakat fitrah ini, anda bisa melihat dalil dalil dibawah ini:
Dalil yang pertama yaitu Al-quran surat Al-A’la ayat 14-15 yang artinya:
“Sungguh berbahagialah orang yang mengeluarkan zakat (fitrahnya), menyebut nama Tuhannya (mengucap takbir, membesarkan Alloh) lalu ia mengerjakan sholat (iedul fitri)”.

Hadits

Menurut riwayat Ibnu Khuzaimah, ayat diatas diturunkan berkaitan dengan zakat fitrah, takbir hari raya, dan sholat ied (hari raya). Menurut Sa’id Ibnul Musayyab dan Umar bin Abdul Aziz: “Zakat yang dimaksudkan oleh ayat ini adalah zakat fitrah”. Menurut Al-Hafidh dalam “Fathul Baari”: “Ditambah nama zakat ini dengan kata fitri karena diwajibkan setelah selesai mengerjakan shaum romadhon.”

Lebih tegas lagi dalil tentang wajibnya zakat fitrah dalam sebuah hadits yang diterima oleh Ibnu Abbas yang artinya:
“Rosululloh SAW telah mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang shaum dari segala perkataan yang keji dan buruk yang mereka lakukan selama mereka shaum, dan untuk menjadi makanan bagi orang orang yang miskin. (H.R. Abu Daud)

Dengan hadits diatas jelas dan tegaslah bahwa hukum membayar zakat fitrah itu fardhu (wajib) ditunaikan oleh umat islam untuk membersihkan dan mensucikan diri serta membantu jiwa-jiwa kelaparan karena dibelit kemiskinan.

Hikmah Disyariatkan Zakat Fitrah

Zakat fitrah disyariatkan pada bulan Sya’ban tahun kedua hijrah sebagai penyuci bagi orang yang shaum dari perbuatan ataupun perkataan yang sia-sia dan dari perkataan-perkataan keji yang mungkin telah dilakukan pada saat menjalankan ibadah shaum. Hikmah lainnya juga sebagai penolong bagi orang-orang miskin agar dapat merasakan kebahagiaan pada saat Iedul fitri.

Kadar (Prosentase/Ukuran) Zakat Fitrah

Ukuran zakat fitrah yang harus dikeluarkan oleh setiap muslim adalah sebanyak satu Sha’ dari makanan pokok. hal ini sesuai dengan dua hadits berikut ini yang artinya:

“Kami mengeluarkan (zakat fitrah) di zaman Rosululloh SAW pada iedul fitri sebanyak satu Sha’ dari makanan”. (H.R. Bukhari) “Adalah kami (para sahabat) di masa Rosululloh SAW mengeluarkan zakat fitrah satu sha’ makanan atau satu sha’ tamar (kurma), atau satu sha’ sya’ir (padi belanda), atau satu sha’ aqith (susu yang telah kering yang tidak diambil buihnya, atau semacam makanan yang terbuat dari susu, dimasak, sesudah itu dibiarkan lalu diletakkan di kain perca agar menetes kebawah), atau satu sha’ zahib (kismis)”. (H.R. Bukhari)

Hadits diatas menyatakan bahwa kadar zakat fitrah itu satu sha’ makanan. Pada hadits diatas makanan yang dimaksud adalah: tamar, sya’ir, zabib, dan aqith. Itulah jenis makanan yang dikeluarkan untuk zakat fitrah pada masa Rosululloh SAW.

Baca Juga: 

Kumpulan Dalil Tentang Zakat

Kumpulan Dalil Tentang Zakat

Kumpulan Dalil Tentang Zakat

Kumpulan Dalil Tentang Zakat
Kumpulan Dalil Tentang Zakat

Dalil Tentang Zakat

Kata zakat didalam Al-Quran terdapat pada 26 ayat yang tersebar pada 15 surat. Ayat dan surat tersebut yaitu sebagai berikut:
Didalam Q.S Al Baqoroh ayat: 42, 84, 110, 177, 277.
Didalam Q.S Annisa ayat: 77 dan 162.
Didalam Q.S Al-Maidah ayat: 12 dan 55.
Didalam Q.S Al-A’raaf ayat: 156.
Didalam Q.S At-Taubah ayat: 5, 11, 18, dan 71
Didalam Q.S Al-Anbiya ayat: 73
Didalam Q.S Al-Hajj ayat: 41 dan 78.
Didalam Q.S An-Nur ayat: 37 dan 56.
Didalam Q.S Annaml ayat: 3.
Didalam Q.S Luqman ayat: 4.
Didalam Q.S Al-Ahzab ayat: 37.
Didalam Q.S Fushilat ayat: 7.
Didalam Q.S Al-Mujadillah ayat: 13.
Didalam Q.S Al Muz’amil ayat: 20.
Didalam Q.S Al-Bayyinah ayat: 5.
Silahkan anda buka Al-Quran lalu cari ayat-ayat tersebut diatas untuk memastikannya, jangan lupa juga baca terjemahnya. Selengkapnya tentang dalil tentang zakat anda bisa lihat dibawah ini:

Dalil Wajib Zakat

Berikut ini adalah dalil dalil yang menunjukkan mewajibkan kita untuk berzakat:

خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Alloh maha mendengar lagi maha mengetahui”. (Q.S At-Taubah ayat 103)

Juga hadits riwayat muttafaqun alaihi yang artinya: “Islam didirikan diatas lima dasar: Mengikrarkan bahwa tidak ada tuhan selain Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh, mendirikan sholat, membayar zakat, menunaikan haji, dan berpuasa pada bulan Romadhon”. (H.R. Muttafaq ‘alaih)

Dari dalil dalil diatas jelaslah bahwa zakat itu benar perintah Alloh SWT. Oleh karena itu kita harus tunduk dan mengikuti perintah Alloh yang satu ini, apalagi zakat adalah termasuk rukun islam yang ke 3.

Dalil Zakat Fitrah

“Sungguh berbahagialah orang yang mengeluarkan zakat (fitrahnya), menyebut nama Tuhannya (mengucap takbir, membesarkan Alloh) lalu ia mengerjakan sholat (iedul fitri)”. (Q.S. Al-A’la ayat 14-15)

“Rosululloh SAW telah mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang shaum dari segala perkataan yang keji dan buruk yang mereka lakukan selama mereka shaum, dan untuk menjadi makanan bagi orang orang yang miskin. (H.R. Abu Daud)

Dalil dalil diatas menunjukkan wajibnya zakat fitrah untuk setiap orang muslim.

Dalil Zakat Harta/Mal

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلاَ يُنفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللّهِ فَبَشِّرْهُم بِعَذَابٍ أَلِيمٍ. يَوْمَ يُحْمَى عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ فَتُكْوَى بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَـذَا مَا كَنَزْتُمْ لأَنفُسِكُمْ فَذُوقُواْ مَا كُنتُمْ تَكْنِزُونَ
Artinya: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allâh, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dahi, lambung dan punggung mereka dibakar dengannya, (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu”. (QS. at-Taubah/9:34-35)

Ayat diatas menerangkan tentang siksaan yang diberikan kepada orang-orang yang menyimpan harta tapi tidak mau menafkahkannya pada jalan Alloh (berzakat). Dengan demikian ayat ini juga menunjukkan bahwa zakat harta atau zakat mal itu wajib hukumnya.

Dalil Golongan Yang Berhak Menerima Zakat

إِنَّمَا ٱلصَّدَقَٰتُ لِلْفُقَرَآءِ وَٱلْمَسَٰكِينِ وَٱلْعَٰمِلِينَ عَلَيْهَا وَٱلْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَٱلْغَٰرِمِينَ وَفِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَٱبْنِ ٱلسَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِّنَ ٱللَّهِ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu´allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Itulah dalil yang menerangkan siapa saja yang berhak menerima zakat, yaitu orang fakir, orang miskin, Amilin, Muallaf, Riqob, Ghorimin, Fii Sabilillah, dan Ibnu sabil.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/5-rukun-nikah-dalam-islam-yang-harus-diketahui/

Hukum Mengeluarkan Zakat

Hukum Mengeluarkan Zakat

Hukum Mengeluarkan Zakat

Hukum Mengeluarkan Zakat
Hukum Mengeluarkan Zakat

Hukum Zakat

Mengeluarkan zakat hukumnya wajib dan zakat termasuk rukun islam melengkapi syahadat, sholat, shaum dan haji. Hal ini jelas sekali diterangkan pada ayat-ayat dan hadits berikut ini:

Al-Qur’an

“Dirikanlah oleh kalian sholat dan keluarkanlah zakat dan ruku lah bersama orang-orang yang ruku”. (Q.S. Al-Baqoroh: 43)

(Q.S. Al-Anbiya: 73)

“Dan kami jadikan mereka ketua-ketua yang memimpin manusia dengan perintah kami, dan kami wahyukan kepada mereka perbuatan-perbuatan baik yang mendirikan sholat dan mengeluarkan zakat dan mereka orang-orang yang beribadah kepada kami”.

“Dan ia jadikan aku orang berbakti dimana saja aku berada dan ia wajibkan aku sembahyang dan zakat selama aku hidup”. (Q.S. Maryam: 31)

“Dan ia menyuruh ahlinya mendirikan sholat dan mengeluarkan zakat dan adalah ia seorang yang diridhoi tuhannya”. (Q.S. Maryam: 55)

“Ambilah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka. Dan Alloh maha mendengar lagi maha mengetahui”. (Q.S. At-Taubah: 103)

Hadits

“Dari Abu Hurairah r.a. Sesungguhnya seorang arab datang kepada Nabi SAW. Lalu bertanya, “Tunjukkanlah kepadaku atas amal amal yang jika aku mengamalkannya aku akan masuk surga,” Rosululloh SAW menjawab, “Beribadahlah engkau kepada Alloh SWT jangan menyekutukan-Nya sedikitpun, engkau mendirikan sholat maktubah, engkau menunaikan zakat mafrudhoh, dan engkau laksanakan shaum ramadhan,” Ia berkata, “Demi yang jiwaku di genggaman-Nya, aku tidak akan menambah atas ini. Dan ketika orang itu pergi, Rosululloh SAW bersabda, “Siapa yang ingin melihat seorang ahli surga, lihatlah orang ini.” (H.R. Al bukhori)

“Islam didirikan diatas lima dasar: Mengikrarkan bahwa tidak ada Tuhan selain Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh, mendirikan sholat, membayar zakat, menunaikan haji, dan berpuasa pada bulan Romadhon”. (H.R. Mutafaqun Alaihi)

Berdasarkan ayat ayat dan hadits hadits diatas jelas sekali bahwa zakat itu merupakan ibadah mahdhoh yang sejajar dengan sholat. Artinya zakat itu adalah ibadah wajib yang harus kita ta’ati dan tidak boleh kita meninggalkannya (zakat).

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-teks-khutbah-nikah-bahasa-arab-latin-dan-terjemahannya/

HUKUM MENGELUARKAN ZAKAT DENGAN NILAI (UANG)

HUKUM MENGELUARKAN ZAKAT DENGAN NILAI (UANG)

HUKUM MENGELUARKAN ZAKAT DENGAN NILAI (UANG)

HUKUM MENGELUARKAN ZAKAT DENGAN NILAI (UANG)
HUKUM MENGELUARKAN ZAKAT DENGAN NILAI (UANG)

Hukum Zakat

Hukum asal zakat adalah mengeluarkan zakat sesuai dengan yang telah ditentukan oleh syariat, akan tetapi diperbolehkan jika dia tidak bisa mendapatkan batasan zakat yang dikeluarkan atau memang ada kondisi yang mendesak maka diperbolehkan mengeluarkan zakat senilai kadar zakat yang harus dikeluarkan.
Hal ini berdasarkan dalil nash, atsar dan dalil analogis sebagai berikut:

a. Dalil Nash

Yaitu berdasarkan surat Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu yang disebutkan di dalamnya:
“Orang yang berkewajiban membayar zakat dengan bintu makhad akan tetapi dia tidak memilikinya, sedangkan dia memiliki bintu labun, maka diperbolehkan baginya untuk membayar zakat dengannya dan diterima dengan syarat orang muzakki menambah dengan dua ekor kambing atau senilai dua puluh dirham.”
Dari sini, kita mengetahui bolehnya mengganti dua ekor kambing dengan dirham.

b. Dalil Atsar

– Atsar Thawus bahwa Muadz radhiyallahu ‘anhu ketika di Yaman berkata, “Berikanlah kepadaku gamis atau pakaian lainnya yang aku ambil dari kalian sebagai ganti sedekah, hal itu lebih mudah bagi kalian dan lebih baik untuk kaum Muhajirin di Madinah.”
Dalam sanad hadits ini terdapat sanad yang terputuus kemudian Imam Bukhari menyebutkan secara ta’liq dengan lafal jazm dan memberikan bab khusus.
Thawus adalah imam di Yaman dan orang yang lebih tahu dengan keadaan Muadz radhiyallahu ‘anhu. Beliau dekat dengan masa-masa periwayatan haditsdan berguru-kepada guru-guru yang adil. Semua indikasi penguat ini menunjukkan bahwa atsar di atas bisa diterima.
– Atsar Mu’awiyah, beliau berkata mengomentari tepung dari Syam:
“Aku berpendapat bahwa dua mud tepung dari Syam menyamai satu sha’ kurma” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Nasa’I, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).
Kesetaraan ini diukur dengan nilai.

c. Dalil Analogis

Ketika tidak mendapatkan kadar zakat tertentu yang harus dikeluarkan, maka maslahat muzakki harus diperhatikan, sehingga ia tidak dibebani membeli kadar zakat tertentu yang harus dikeluarkan, sebagaimana pula ketika orang fakir sangat membutuhkan maka harus diperhatikan maslahatnya dengan memberukan nilainya. Pendapat ini pendapat yang dipilih oleh syaikhul islam Ibnu Taimiyah. Wallahu a’lam.

Baca juga: 

ZAKAT PROFESI DAN KETENTUANNYA

ZAKAT PROFESI DAN KETENTUANNYA

ZAKAT PROFESI DAN KETENTUANNYA

ZAKAT PROFESI DAN KETENTUANNYA
ZAKAT PROFESI DAN KETENTUANNYA

Dasar Hukum

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (QS. Adz Dzariyat:19)

Orang miskin yang tidak mendapat bagian Maksudnya ialah orang miskin yang tidak meminta-minta.

Terjemahnya: “…dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya…(QS. Al Hadiid:7).

>> Yang dimaksud dengan menguasai di sini ialah penguasaan yang bukan secara mutlak. hak milik pada hakikatnya adalah pada Allah. manusia menafkahkan hartanya itu haruslah menurut hukum-hukum yang telah disyariatkan Allah. karena itu tidaklah boleh kikir dan boros.

Terjemahnya: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Baqarah: 267)

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Bila suatu kaum enggan mengeluarkan zakat, Allah akan menguji mereka dengan kekeringan dan kelaparan (HR. Thabrani). Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda “Bila zakat bercampur dengan harta lainnya maka ia akan merusak harta itu” (HR. Al Bazaar & Baihaqi).

Hasil Profesi

Hasil profesi (PNS, swasta, konsultan, dokter, notaries, dll) merupakan sumber pendapatan (kasab) yang tidak banyak dikenal di masa salaf (generasi terdahulu). Oleh karenanya bentuk kasab ini tidak banyak dibahas, khususnya yang berkaitan dengan zakat.

Bentuk kasab yang lebih populer pada saat itu, seperti pertanian, peternakan, dan perniagaan mendapat porsi pembahasan yang sangat memadai dan detail. Meskipun demikian bukan berarti harta yang didapat dari hasil profesi tersebut bebas dari zakat, sebab zakat pada hakikatnya adalah pungutan harta yang diambil dari orang-orang kaya kepada orang-orang miskin diantara mereka sesuai dengan ketentuan syara’.

Apabila seseorang dengan hasil profesinya ia menjadi kaya, maka wajib atas kekayaannya itu dizakati. Jika hasilnya tidak mencukupi kebutuhan hidup dan keluarganya, maka ia menjadi mustahiq (penerima zakat), sedang jika hasilnya hanya sekedar untuk menutupi kebutuhan hidupnya atau lebih sedikit, maka baginya tidak wajib zakat. Kebutuhan hidup yang dimaksud adalah kebutuhan pokok yakni pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan dan biaya yang diperlukan untuk menjalankan profesinya.

Ketentuan Zakat Profesi

Zakat profesi memang tidak dikenal dalam khasanah keilmuan Islam, sedangkan hasil profesi yang berupa harta dapat dikategorikan ke dalam zakat harta (simpanan/kekayaan). Dengan demikian hasil profesi seseorang apabila telah memenuhi ketentuan wajib zakat, maka wajib baginya untuk menunaikan zakat.

Contoh: Abdullah adalah seorang karyawan swasta yang berdomisili di Makassar. Mempunyai seorang isteri dan dua orang anak yang masih kecil. Penghasilan bersih per bulan sebesar satu juta lima ratus ribu rupiah.

Perhitungan zakatnya

Rekapitulasi keuangan dalam satu tahun
a) Pemasukan: Gaji Rp !.500.000,-/bulan (Rp. 18.000.000,-/tahun)
b) Pengeluaran:
– suami: Rp.150.000,-/bulan (Rp. 1.800.000,-/tahun)
– isteri: Rp. 150.000,-/bulan (Rp. 1.800.000,-/tahun)
– anak (2) @ Rp. 150.000,-/bulan (Rp. 3.600.00,-/tahun)
– total pengeluaran Rp. 7.200.000,-
c) Pemasukan – Pengeluaran (a-b) Rp. 10.800.000,-
Zakat = 2,5 x Rp. 10.800.000,- = Rp. 270.000,-

Dalam hal ini zakat dapat dibayar setiap bulan sebesar 2,5% dari saldo bulanan, atau 2,5% dari saldo tahunan dan dibayar setiap tahun.

Sumber: https://www.catatanmoeslimah.com/2018/09/kumpulan-bacaan-sholawat-nabi-muhammad-saw.html