Pendidikan Aqidah dalam Islam

Pendidikan Aqidah dalam Islam

Pendidikan Aqidah dalam Islam

Pendidikan Aqidah dalam Islam
Pendidikan Aqidah dalam Islam

Pendidikan Aqidah

Aqidah merupakan materi pembinaan anak dalam Islam. Kata “aqidah” menurut bahasa berasal dari bahasa Arab yang berarti pengikat. Aqidah merupakan kepercayaan penuh kepada Allah SWT dengan segala sifatnya dan ia merupakan pembeda antara orang mukmin dan orang kafir.[9] Hasan Al Banna mengatakan: “aqidah Islam adalah landasan atau asas kepercayaan dimana diatasnya dibina iman yang mengharuskan hati meyakininya. Membuat jiwa menjadi tentram, bersih dari kebimbangan dan keraguan menjadi sendi pokok bagi kehidupan setiap manusia”.

Pendidikan Aqidah Bagi Anak

Pendidikan aqidah bagi anak.seperti yang telah kita ketahui bahwasannya aqidah Islam adalah sebagai berikut :

1. Beriman kepada Allah
2. Beriman kepada para malaikat
3. Beriman kepada kitab-kitab Allah
4. Beriman kepara para rasul
5. Beriman kepada hari akhir
6. Beriman kepada qadha’ dan qadar yang baik maupun yang buruk

Baca Juga: Rukun Islam

Dalil

Dan tentunya pendidikan aqidah ini lebih baik ditanamkan sedari kecil kepada anak-anak kita, karena fase anak-anak itulah kita harus memulai mengenalkan akan aqidah, bahwasannya setiap anak dalam kelahirannya mengakui bahwa Allah adalah Tuhannya sebagai mana firman Allah Ta’ala :

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُواْ بَلَى شَهِدْنَا أَن تَقُولُواْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا

“Dan (ingatlah) ketika Rabb-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman) ‘Bukankah Aku ini Rabb-mu?’ Mereka menjawab, ‘Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang yang lengah terhadap ini (keesaan Allah).” (QS. Al Α’raf: 172)

Adalah salah satu bagian dari karunia Allah SWT pada hati manusia bahwa Dia melapangkan hati untuk menerima iman di awal pertumbuhannya tanpa perlu kepada argumentasi dan bukti yang nyata, dan kita sebagai orang tua perlu membuat suasana lingkungan yang mendukung dan positif, memberi teladan pada anak, banyak berdoa untuk anak, dan hendaknya kita tidak melewatkan kejadian sehari-hari melainkan kita menjadikannya sebagai sarana penanaman pendidikan baik itu pendidikan aqidah maupun pendidikan lainnya.

Jadi aqidah merupakan landasan atau asas kepercayaan yang ditanamkan kedalam jiwa seseorang sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Lukmanul Hakim ketika mendidik putranya yang telah digambarkan dalam Al-Quran surah Lukman ayat:13
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ “dan ingatlah ketika Lukman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “ hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS. Lukman: 13)

Ayat diatas menunjukkan aqidah merupakan landasan utama dimana ditegakkan ajaran Islam. Dalam materi ini anak dibina dan ditanamkan rasa keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah SWT. Dengan menjelaskan dalil-dalilnya. Apabila para ayah dan ibu terus berusaha membangkitkan dan mencerahkan fitrah makrifatullah dan keyakinan tentang Tuhan dalam diri sang anak, niscaya nilai-nilai spiritual dan keutamaan akhlaknya menjadi hidup.

Keyakinan tentang adanya Allah dan Pencipta yang kita wujudkan dalam bentuk amal perbuatan, akan senantiasa menjaga sang anak dari perbuatan dosa dan menyimpangan. Dan setiap kali keyakinan tersebut menguat, penjagaan diri sang anak pun akan menguat pula.

Di antara tugas terpenting para orang tua terhadap anak-anaknya adalah mengajarkan kewajiban agama dan amal ibadah. Semua itu harus diajarkan sebelum sang anak memasuki masa baligh. Semasa itu ia harus diajari cara mempraktikkan amal ibadah. Itu dimaksudkan agar pada masa baligh dan seterusnya ia tidak mengalami kesulitan melakukannya.
Mengajarkan Al-Quran dan hadits Nabi SAW serta riwayat para imam maksum, juga merupakan tugas penting dan berpengaruh besar terhadap pendidikan agama sang anak. Hal lain yang patut diperhatikan orang tua adalah bahwa sang anak memiliki jiwa yang lembut dan sangat sensitif sehingga segenap bentuk motivasi dan perasaan kasih sayang menjadi sangat berarti baginya. Sebaliknya, sikap keras dan pelimpahan tugas-tugas yang berat, dalam waktu singkat akan menjadikan jiwa dan mental sang anak melemah, yang pada gilirannya akan menyebabkan semangat dan kecenderungan dirinya berkurang.

Syarat Rukun Puasa

Syarat Rukun Puasa

Syarat Rukun Puasa

Syarat Rukun Puasa
Syarat Rukun Puasa

Sebelum menjalankan ibadah puasa seseorang tentunya harus memiliki hal-hal yang terpenuhi yang disebut dengan syarat wajib puasa. Syarat wajib puasadimaksud yaitu: Islam, baligh, berakal, mampu berpuasa.
Selain syarat wajib ada juga yang disebut dengan syarat sah puasa , syarat sahnya puasa juga ada empat, yaitu : Islam, tamyiz, bersih dari haidl atau nifas, pada waktu yang diperbolehkan. (Tanwir al-Qulub, hal. 217)

Selain itu, setiap muslim dan muslimah wajib menjalankan puasa Ramadhan apabila :

Pertama:

Bulan Sya’ban telah genap 30 hari, atau telah melihat hilal, atau telah ada ketetapan hakim berdasarkan kesaksian orang adil yang telah melihat hilal, atau menyangka telah masuk bulan Ramadhan berdasar ijtihad yang dilakukan. (Nihayah al-Zain, hal.184)

Kedua:

Setelah syarat wajib dan syarat sah puasa terpenuhi, barulah seseorang bisa menjalankan sesuatu yang wajib dilakukan ketika menjalankan puasa itu, dan rukun puasa itu hanya ada 2 perkara, yaitu niat dan imsak, yaitu menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa.

1. Niat Puasa

Yaitu menyengaja didalam hati untuk melakukan puasa. Jika puasa yang akan dilakukan merupakan puasa wajib, maka pada saat niat harus menentukan jenis kefardhuan tersebut, misalnya puasa Ramadhan, puasa nadzar, puasa kafarot dll., dan niat wajib dilakukan setiap malam. Imam Daruquthni meriwayatkan:

“Barang siapa tidak menginapkan niat puasa sebelum fajar, maka tidak sah puasa baginya”.

Sedangkan mengucapkan lafadznya niat hukumnya sunnah, yaitu : “Aku niat puasa besok hari menunaikan fardlu bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta’ala”.

Atau cukup dengan:”Aku niat puasa Ramadhan”

Dan menurut sebagian ulama syafi’iyyah, boleh meniatkan puasa Ramadhan satu bulan sekaligus.

2. Menjaga dari hal-hal yang membatalkan puasa

Hal-hal yang dapat membatalkan puasa yang dimaksud adalah :

Memasukkan benda ke dalam lubang tubuh.
Berhubungan badan (jima’ atau wathi).
Mengeluarkan sperma.
Muntah.

Empat perkara tersebut dapat membatalkan puasa jika dilakukan dengan sengaja, tidak karena terpaksa dan sudah mengetahui bahwa hal tersebut dilarang. Oleh sebab itu, jika saat puasa makan, minum, keluar sperma, muntah, atau bersenggama, akan tetapi hal tersebut dilakukan karena lupa, atau karena dipaksa, atau karena belum tahu bahwa hal tersebut dilarang, maka puasanya tetap sah (tidak batal).

Selain itu, yang dapat membatalkan puasa adalah :

Membatalkan Puasa

Keluar darah haidl atau nifas.
Melahirkan.
Gila atau hilang akal, walaupun hanya sebentar.
Epilepsi atau ayan, jika menghabiskan seluruh waktu siang.
Mabuk, jika menghabiskan seluruh waktu siang.
Murtad atau keluar dari Islam. (Tanwir al-Qulub218)

Demikian uraian yang dapat kami sampakan terkait dengan syarat dan rukun puasasemoga bermanfaat dan barokah.Amiin.

Baca Juga: 

Sunnah Sunnah Puasa

Sunnah Sunnah Puasa

Sunnah Sunnah Puasa

Sunnah Sunnah Puasa
Sunnah Sunnah Puasa

Ketika seseorang menjalankan ibadah puasa, ada hal-hal yang bersifat wajib dengan ketentuan apabila tidak dilakukan menyebabkan tidah sahnnya puasa, ada yang bersifat anjuran atau kesunnahan dengan mengikuti sunnah sunnah rasulullah SAW, dan ada juga yang bersifat kemakhruhan, hingga sampai pada yang bersifat ancaman yang apabila dilanggar mengakibatkan batalnya puasa bahkan mendapat dosa dan hukuman. Berikut kesunnahan kesunnahan puasa yang apabila kita mampu melaksanakannya akan mempertebal pahala di sisi Allah SWT. :

1.Ta’jil (menyegerakan berbuka)

Ketika yakin matahari telah benar-benar tenggelam, maka disunnahkan untuk segera berbuka. Dan jika belum yakin maka tidak boleh segera berbuka.

2.Berbuka dengan kurma

Artinya, saat berbuka sunnah mendahulukan makan kurma basah atau kurma kering dan dalam jumlah ganjil (tiga biji atau lebih). Dan jika tidak ada maka sunnah mendahulukan air atau manisan.

3.Berdo’a

Sebelum berbuka (menurut sebagian ulama setelah berbuka) puasa disunnahkan membaca do’a:

Syaikh Al-Wana’i meriwayatkan, barang siapa saat berbuka puasa membaca do’a berikut ini, maka dosa- dosanya akan diampuni oleh Allah SWT, yaitu :

4. Memberi makanan berbuka orang lain

Dalam Hadits Rosululloh SAW bersabda, “Barang siapa memberi makan berbuka terhadap orang yang berpuasa, maka dia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa itu”.

5. Sahur

Sesungguhnya Allah SWT memberikan rahmat kepada orang-orang yang menjalankan sahur, dan Malaikat mendo’akan terhadap orang yang sahur. Dalam riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim Rosululloh SAW bersabda: “Sahurlah kalian semua, (karena) sesungguhnya didalam sahur ada kebaikan”.

Waktu sahur adalah setelah pertengahan malam, dan lebih utama lagi jika dilakukan diahir malam (lebih mendekati fajar). Pahala sahur sudah dapat dihasilkan meskipun hanya minum seteguk air.

6. Mengakhirkan sahur

Rosulullah SAW telah bersabda: “Orang-orang senantiasa dalam kebaikan selagi mensegerakan puasa dan mengakhirkan sahur”. (HR. Bukhori & Muslim)

7. Mandi dari hadats besar sebelum fajar

Hal tersebut dimaksudkan, agar saat menjalankan ibadah puasa sudah dalam kondisi bersih. Selain itu, jika mandi besar dilakukan setelah fajar (siang) dikhawatirkan air masuk kedalam lubang tubuh. Namun hal tersebut bukan berarti tidak boleh melakukan mandi besar pada siang hari bulan Ramadlan. Selama mandi tersebut termasuk mandi wajib atau mandi sunnah, dan dilakukan dengan hati- hati serta tidak menyelam atau membenamkan kepala ke dalam air maka tetap diperbolehkan dan tidak membatalkan puasa.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/doa-sholat-dhuha-niat-dan-tata-caranya/

Tanda Tanda Puasa Yang Diterima Allah SWT

Tanda Tanda Puasa Yang Diterima Allah SWT

Tanda Tanda Puasa Yang Diterima Allah SWT

Tanda Tanda Puasa Yang Diterima Allah SWT
Tanda Tanda Puasa Yang Diterima Allah SWT

Seperti halnya kepompong, saat masih sebagai ulat ia menakutkan dan menjijikkan itu ibarat diri kita yang penuh dengan kotoran penyakit hati, saat menjadi kepompong hanya bisa diam menunggu waktu yang telah ditentukan, dan ketika sudah menjadi kupu-kupu yang cantik, itu ibarat diri kita yang sudah bersih hatinya dari segala kotoran, semua orang menyukainya. Ibadah puasa ,baik itu puasa wajib seperti puasa ramadhan ataupun puasa nadzar, dan puasa sunnah seperti puasa rajab , puasa senin kamis , dan puasa sunnah lainnya, merupakan sebuah proses untuk kembali kepada fitrah kita sebagai manusia. Bertingkah laku sebagai manusia yang berbudaya tinggi. Bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk seluruh alam karena kita adalah kholifah Allah di muka bumi. Itulah orang yang bertaqwa. Oleh karenanya tanda-tanda yang bisa dijadikan parameter untuk mengukur keberhasilan puasa kita adalah :

1. Badan lebih sehat

Puasa yang baik adalah puasa yang mampu mengubah pola makan seseorang secara lebih sehat. Dan orang yang bertaqwa adalah orang yang mampu mengendalikan diri dalam hal makan, minum dan gaya hidupnya. Dan kebiasaan itu terus dibawa walaupun di hari-hari selain bulan puasa.

2. Emosi lebih rendah

Puasa yang benar itu tidak hanya menahan rasa lapar dan haus, tapi melatih emosi agar selalu dalam kendali akal. Emosi adalah manifestasi dari ego seseorang . Emosi biasanya terkait dengan kepentingan pribadi yang tidak kesampaian. Misalnya marah, dendam, iri, dengki dan sebagainya. Puasa yang baik adalah yang dapat mengendalikan itu semua.

3. Pikiran lebih jernih

Pikiran yang jernih disebabkan oleh dua hal. Pertama, makan yang tidak terlalu banyak, sehingga menyebabkan kerja otak terganggu oleh rasa kantuk. Dan yang kedua, emosi yang rendah. Oleh karenanya orang yang tidak terlalu kenyang dibarengi dengan emosi yang rendah, pikirannya jadi jernih dalam menghadapi berbagai macam persoalan. Dan pikiran yang jernih menyebabkan akal kita berjalan secara profesional. Orientasinya mengarah kepada kemanfaatan dan kemaslahatan bersama.

4. Sikap lebih bijaksana

Dari pikiran yang jernih itulah menimbulkan sikap bijaksana. Orang yang tidak bisa berfikir jernih, bisa dipastikan tidak bijaksana. Yang ada dibenaknya adalah kepentingan-kepentingan sempit. Misalnya hanya berpihak pada diri sendiri atau golongannya saja, atau berpikir jangka pendek saja.

5. Hati lebih lembut dan peka

Hati lembut dan peka sebenarnya dua hal yang terkait. Jika hatinya lembut, pasti juga peka. Hati ini adalah hati yang mudah tersentuh, punya kepedulian tinggi dan kepekaan terhadap penderitaan orang-orang di sekitarnya. Seperti hati para Nabi dan Rasul.

6. Ibadahnya lebih bermakna

Seseorang yang bisa mengontrol dirinya dengan baik, dia bahkan bisa meresapi makna ibadahnya. Karena makna ibadah adalah penyerahan sepenuhnya kepada Allah, merasa dirinya diperhatikan oleh Allah, dan bahkan merasa dekat dan dapat berdialog dengan Allah. Itulah makna ibadah.

7. Lebih tenang dan tawadhu’

Berpuasa adalah tingkat keikhlasan yang tinggi, karena ibadah ini tidak ada yang tahu kecuali Allah dan dirinya. Ketika seseorang mencapai tingkat keikhlasan yang tinggi, hatinya tidak bakal pernah gelisah dan khawatir. Ia telah dapat merasakan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ini adalah kehendak-Nya belaka. Karena itu dia bisa mengikhlaskannya.

Demikian tentang tanda tanda seseorang yang menjalankan puasa dengan baik. Semoga bisa menjadi tolok ukur bagi ibadah kita. Amiin.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/niat-sholat-fardhu/

Harta suami dan istri tetap terjaga dalam islam

Harta suami dan istri tetap terjaga dalam islam

Harta suami dan istri tetap terjaga dalam islam

Harta suami dan istri tetap terjaga dalam islam
Harta suami dan istri tetap terjaga dalam islam

ditemani seorang Anshar

Dengan ditemani seorang Anshar, Zainab mendatangi Rasullullah untuk menanyakan sesuatu, Ketika berada didepan rumah beliau, mereka bertemu dengan sahabat Bilal ra.

“hai zainab, mau kemana kalian?” tanya bilal.

“katakan kepada Rasullullah, bahwa ada dua orang wanita yang punya kepentingan sama dan ingin menghadap beliau,” jawab zainab.

“Kalian mau menanyakan perihal apa?”

“Apakah cukup jika harta kami diberikan kepada suami-suami kami dan anak yatim dirumah-rumah kami?”

“baiklah.” sahut bilal.

pesan zainab

“tetapi, tolong jangan kau katakan kepada Rasullullah siapa kami ini,”pesan zainab.

bilal kemudian masuk dan menghadap Rasullullah meneruskan pertanyaan kedua wanita itu.

“siapa kedua wanita itu?” tanya Rasullullah setelah mendengar laporan bilal.

“Zainab dan seorang wanita anshar,” jawab bilal.

“Zainab? Zainab yang mana?”

“Zainab istri Abdullah bin Mas’ud,” jawab bilal.

Zainab adalah seorang wanita kaya

dari jawaban itu Rasullullah mulai memahami. Zainab adalah seorang wanita kaya. Dia menikah dengan Abdullah bin Mas’ud yang tergolong fakir. Zainab yang kaya ingin menyedekahkan harta kekayaannya kepada suaminya, sebab dalam hukum islam tak mengenal harta gono-gini seperti dalam hukum waris jawa.

Hasil usaha sang istri adalah menjadi hak sang istri, dan bukang langsung menjadi hak bersama alias gono-gini. Soal kemudian istri rela dan memberikan harta itu kepada suami, itu persoalan lain, yang hukumnya temasuk sedekah.

“mereka berdua (Zainab dan wanita anshar) akan mendapat dua pahala. Yang satu pahala ibadah, satulnya lagi pahala sedekah, “sabda Rasullullah, seperti diriwatkan dalam Hadist Bukhari dan Muslim.

Baca Juga:

Sakit Karena Takut

Sakit Karena Takut

Sakit Karena Takut

Sakit Karena Takut
Sakit Karena Takut

Karena Takut

Seorang imam yang zuhud, Yak’kub al-kisai, mengkisahkan: ketika hasim bin walid tergolek di atas ranjang, keluarganya segera memanggil seorang tabib untuk mengobatinya.

“ia tidak menderita sakit apa – apa,” kata sang tabbib setelah memeriksa tubuh hasim. ” coba kalian tanyakan kepadanya apa yang dikeluhkannya mengenai sakitnya itu. Sebab seseorang itu lebih tahu tentang keadaan dirinya sendiri.”

kemudian keluarganya bertanya kepada hasim.

“Aku memang tak sedang menderita sakit,” jawab hasim.

rasa takut kepada ALLAH

“sakitku adalah rasa takut kepada ALLAH Yang Maha Mulia dan Maha Memberi. Takut membanggakan amal. Takut perhitungan masalah amal. Takut kehilangan iman dari sanubariku. Takut aku akan menjadi golongan yang menerima adzab. Alangkah beruntungnya orang yang wafat dengan membawa iman. dan melangkah menuju pintu surga.

Semoga kisah ini menambah keimanan kita dan menjadikan kita pribadi yang lebih taat lagi kepada Rabb kita.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/tata-cara-sholat-tahajud-niat-doa-dan-keutamaan-lengkap/

Menghindari Fitnah

Menghindari Fitnah

Menghindari Fitnah

Menghindari Fitnah
Menghindari Fitnah

Khalifah Ustman bin Affan

Ketika khalifah Ustman bin Affan mengutus seorang kurir ke negara tetangga untuk menjalin hubungan diplomatik, umi kaltsum , istri khalifah titip bingkisan minyak wangi untuk istri raja itu.

pulangnya, si kurir ganti membawa bingkisan balan dari istri raja berupa mutiara dan permata.

melihat kiriman itu, khalifah Ustsman bin Affan langsung menyita hadiah itu dan dianggap menjadi milik negara.

“kalau kau bukan istri khalifah, takmungkin kau akan menerima bingkisan ini,” kata khalifah kepada istrinya, umi kaltsum.

“yang kuterima itu hadiah balasan pribadi dari istri raja,” jawab umi kaltsum.

“benar, tetapi untuk urusan kirim – mengirim ini telah menggunakan fasilitas negara lewat kurir ke khalifahan,” ujur khalifah.

saling tak mau mengalah

karena saling tak mau mengalah, suami istri itu kemudian sepakat untuk menyelesaikan urusan itu lewat jalur hukum, maka diserahkan bingkisan hadiah itu kepada hakim.

setelah melewati persidangan yang panjang, akhirnya hakim memutuskan bingkisan hadiah itu sah menjadi milik pribadi Umi Kaltsum.

“sudah kuduga sebelum aku akan kalah dalam persidangan perkara ini,” kata khalifah Ustman .

“lalu mengapa Khalifah tetap mengajak ke pengadilan,” jawab Umi Kaltsum, istrinya.

jika tidak diselesaikan

“jika tidak diselesaikan lewat jalur hukum, aku khawatir perkara ini menjadi fitnah,” ujar khalifah.

“fitnah bagaimana?”

“orang akan berkata : lihatlah itu, istri khalifah menggunakan kesempatan dan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Alasan lain, aku khawatir caramu itu akan ditiru oleh istri-istri penjabat yang lain,” jawab khalifah.

Meskipun hal itu tidak apa – apa, tetapi bisa menimbulkan hal – hal yang tak diinginkan atau kesan negatif. Oleh sebab itu  harus dihindari oleh seorang muslim.

Setelah direnungkan dalam – dalam oleh Umi Kaltsum, kekhawatiran suaminya itu cukup beralasan. Maka, atas kesadarannya sendiri, malam itu juga ia menyerahkan bingkisan hadiah itu ke baitul maal, menjadi milik negara.

“Seseorang tidak akan sampai pada tingkatan taqwa yang tinggi sehingga rela meninggalkan hal – hal yang sepertinya tidak apa – apa, tetapi bisa menimbulkan apa – apa,”

Demikian sabda Rasullullah dalam hadistnya.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-tawasul-ringkas-dan-lengkap-hadhorot/

Faktor Khilafiyah Dalam Pernikahan Tanpa Wali

Faktor Khilafiyah Dalam Pernikahan Tanpa Wali

Faktor Khilafiyah Dalam Pernikahan Tanpa Wali

Faktor Khilafiyah Dalam Pernikahan Tanpa Wali
Faktor Khilafiyah Dalam Pernikahan Tanpa Wali

 

Dalil Utama

Tidak diketemukannya dua sumber dalil primer Al-Qur’an dan Hadits yang dalam tampilan teksnya menampakkan (dzohir) ketentuan hadirnya wali dalam prosesi akad nikah, lebih-lebih tampilan yang menjelaskan secara transparan (nash). Bahkan sumber-sumber dalil yang bisa digunakan refernsi oleh pendukung semuanya dalam kapasitas tak pasti (muhtamil) sebaliknya landasan ayat dan hadits yang dipakai sebagai hujjah oleh versi yang tidak setuju wali sebagai syarat akad nikah dalam kapasitas ayng bersifat tidak pasti. Sehingga semua denotasi referensi ayat maupun hadits tersebut selai kandungan teksnya tidak pasti juga keotentikannya (keshohihannya) masih diperdebatkan.

Wali Sebagai Prasyarat Nikah

Hujjah dari versi yang setuju hadirnya wali sebagai prasyarat nikah (versi pertama), Firman Allah SWT yang Artinya: “Apabila kamu mentalak istri-istrimu, lalu habis masa idahnya. Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya apabila telah terdapat kerelaan diantara mereka dengan cara yang ma’ruf” (Q.S. Al-Baqoroh : 232)
Konteks ayat ini merupakan seruan dengan ditujukan pada wali pengantin perempuan dalam kapasitas sebagai pihak yang punya hak atau wewenang menikahkan.

Analisis

Persepsi ini dapat dianalisir dengan ada apa di balik larangan tersebut kecuali sang mukhatab (orang yang mendapat seruan) punya kemampuan menghalang-halangi yang dalam hal ini yang tepat adalah wali perempuan, sebab jika perempuan bisa menikahkan dirinya sendiri tentu keberadaan wali tidak akan mampu menghalang-halangi. Hadits yang Artinya: Rasulullah saw bersabda: siapa perempuan yang menikah tanpa izin dari wali, maka nikahnya batil, batil, batil. Apabila ia menjima’nya maka waib mahar baginya sebab apa yang tertimpa padanya. Apabila mereka (para wali) menolak (menikahkan) paka sulthan sebagai wali seseorang yang tidak ada walinya. (H.R. Tirmidzi)

Hujjah

Hujjah versi yang tidak setuju hadirnya wali dalam prosesi nikah sebagai prasyarat nikah (versi kedua). Firman Allah SWT yang Artinya: “Kemudian apabila telah habis masa idahnya maka tiada dosa bagimu membiarkan mereka berbuat terhadap mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.” (Q.S. Al-Baqoroh : 234)
Dari referensi hadits ini versi Abu Dawud Al-Dzohiri (versi ketiga) dengan analisa fundamentalitas (harfiyah) memilih persyaratan wali hanya pada pernikahan anak yang masih gadis. Tidak pada janda.

Baca Juga: 

Nikah Tanpa Wali Kajian Psikologis

Nikah Tanpa Wali Kajian Psikologis

Nikah Tanpa Wali Kajian Psikologis

Nikah Tanpa Wali Kajian Psikologis
Nikah Tanpa Wali Kajian Psikologis

NIKAH TANPA WALI

Imam Syafi’I, Maliki dan Hambali berpendapat jika wanita baligh dan berakal sehat itu masih gadis, maka hak mengawinkan dirinya ada pada wali. Akantetapi jika ia janda maka hak itu ada pada keduanya. Wali tidak boleh mengawinkan wanita janda itu tanpa persetujuannya. Sebaliknya wanita itupun tidak boleh mengawinkan dirinya tanpa restu sang wali. Akad yang diucapkan hanya oleh wanita tersebut tidak berlaku sama sekali, walaupun akad itu sendiri memerlukan persetujuannya.
Sedangkan Imam Hanafi menyatakan bahwa wanita yang telah baligh dan berakal sehat boleh memilih sendiri suaminya, dan boleh pula melakukan akad nikah sendiri, baik dia perawan ataupun janda. Tidak ada seorangpun yang mempunyai wewenang atas dirinya tau menantang pilihannya, dengan syarat yang dipilihnya itu sekufu (sepadan) dengannya dan maharnya tidak kurang dari dengan mahar mitsil.

NIKAH TANPA WALI KAJIAN PSIKOLOGIS

Dengan memahami kembali definisi serta tujuan nikah, maka konsekuensi langsung dari akad nikah bila dihubungkan dengan laki-laki dapat memberikan hak kepemilikan yang secara khusus pada wanita yang dinikahinya. Dimana tidak halal laki-laki lain selain dirinya. Ketentuan ini menyikapi kosongnya paradigma hukum yang merestui sistem poliandri. Sedangkan konsekuensinya bila dihubungkan dengan pihak perempuan ialah memperbolehkan istimta’ tetapi tidak seperti hak milik yang secara khusus pada laki-laki. Sebab laki-laki punya hak poligami.

Dinamika

Dinamika perjalanan hidup manusia dengan karakteristik dan kondisi psikologis yang cenderung penuh dengan rasa ingin tahu membuat motivasi yang begitu membara sehingga potensi konflikpun menjadi problem yang terelakkan ketika keinginan mendapat reaksi tidak setuju dari pihak orang tua.

Ayah dalam kapasitasnya sebagai wali bagi putrinya bertanggung jawab menjaga dan memelihara masa depan anak, kebahagiaan, kemapanan bagi kelangsungan hidupnya merupakan point penting yang harus dijaga dengan tetap memelihara aspek-aspek normatif untuk menciptakan kesejahteraan hidup yang bermartabat.

Dengan memposisikan konsep perwalian sebagai dinamika perkembangan hidup yang sangat urgen dan diperlukan peranannya untuk ikut mengatur atau bahkan menentukan pernikahan seorang wanita, misi yang terkandung dalam interfensi wali adalah menjaga dan mengantisipasi kehormatan, martabat, dan kedudukan perempuan agar tidak terlanjur terpikat atau salah memilih jodoh yang tidak sepadan (sekufu) mengingat perempuan memiliki dorongan biologis yang lebih kuat, maka perlu ada manajemen yang secara sistematis sebagai kontrol.

Kesimpulan

Dari berbagai literatur bacaan, dapat disimpulkan bahwa salah satu dari tujuan perkawinan ialah untuk membentuk rumah tangga bahagia dengan penuh rasa kasih sayang, cinta mencintai yang mesra serta abadi, disertai dengan kerukunan dengan semua anggota keluarga, terutama dengan orang tua kedua belah pihak kalau masih hidup, kerukunan dengan tetangga dan handai taulan.

Mengingat kaum wanita sudah biasa menjadi sorotan kaum pria, jiwanya mudah tersinggung dan syahwat / keinginannya lebih kuat atau lebih banyak dari kaum pria, mudah dirayu dengan perkataan lemah lembut dan menarik hatinya, dan kaum wanita mudah tertarik dan mudah meniru keadaan yang dianggapnya aneh yang berada pada temannya, maka ketika eksistensi perwalian tidak lagi dianggap sebagai prasyarat nikah dalam artian wanita dianggap syah menikahkan dirinya sendiri, maka tidak ada lagi penghargaan terhadap orang tua yang notabene berkeinginan menjaga dan memelihara masa depan anak hingga ia menikah.

Fenomena “kebebasan” pergaulan bukan tidak mungkin membawa dampak negatif yang cukup besar terhadap jiwa ketika perempuan mendapatkan legalitas menikahkan diri tanpa wali. Hal ini tentu sangat bersebrangan dengan tujuan nikah itu sendiri. Wallahu a’lam.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/

Penjelasan Tentang Menikah dan Wali Nikah

Penjelasan Tentang Menikah dan Wali Nikah

Penjelasan Tentang Menikah dan Wali Nikah

Penjelasan Tentang Menikah dan Wali Nikah
Penjelasan Tentang Menikah dan Wali Nikah

Penjelasan

Fiqh dirumuskan sebagai karya intelektual tentang hukum dengan basis teks-teks keagamaan terutama Al-Qur’an dan Hadits. Rumusan sistematis ini dan epistimologis tertentu terhadap gugus persoalan manusia baik dalam urusan personal maupun sosial.
Dalam prosesi pernikahan, aturan normatif yang mendasari konsep metode dan pelaksanaannya sersah dalam institusi hukum syariat menelurkan butir-butir keputusan yang titik sentralnya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits. Sebagaimana karakteristik masalah Fiqhiyyah lainnya. Aturan asasi pernikahan juga menyimpan banyak polemik. Salah satu prasyarat yang sangat krusial diperdebatkan adalah Eksistensi Perwalian dalam Nikah. Apakah salah satu elemen yang menentukan keabsahan prosesi nikah?.
Dengan metode perdekatan yang dipakai oleh para ulama dlaam menganalisa realitas sosial, sejarah pembentukan dan penerapan syariat memang sangat dipengaruhi kondisi daerah di mana syariat tersebut dirumuskan.

A. NIKAH

Arti nikah menurut istilah ilmu fiqh ialah akad antara seseorang calon suami dengan seorang wali nikah yang menjamin halalnya bersetubuh antara suami dan sitrinya dengan kalimat nikah / kawin.[1]
Dalam pengertian yang transparan, nikah didefinisikan sebagai suatu ikatan perjanjian yang secara lebih khusus legalitasnya dibentuk oleh Syari’ (Allah dan Rosul) dengan tujuan supaya mempelai lelaki mendapatkan hak kepemilikan terhadap mempelai wanita dalam istimta’. Sedangkan dipihak wanita mendapatkan izin resesi (halal) baginya istimta’ dengan si lelaki.

B. WALI NIKAH

Wali / perwalian dalam pernikahan adalah suatu kekuasaan atau wewenang syar’I atas segolongan manusian yang dilimpahkan kepada orang yang sempurna, karena kekurangan tertentu pada orang yang dikuasai itu demi kemaslahatannya sendiri. Pembahasan mengenai hal ini meliputi berbagai masalah dan persoalan yang mendapat banyak reaksi dari fuqoha’ dan melahirkan banyak kesimpulan yang berfariatif.

C. EKSISTENSI WALI DALAM NIKAH

Sebagaimana karakteristik masalah Fiqhiyah lainnya aturan asasi pernikahan juga menyimpan banyak polemik. Salah satu prasyarat yang sangat krusial diperdebatkan adalah eksistensi perwalian dalam nikah
Sekian banyak pendapat ulama’ tentang eksistensi perwalian dalam pernikahan dapat diklasifikasikan menjadi tiga bentuk hasil ijtihad ulama’, yaitu:
Versi pertama:
“Termasuk syarat prioritas akad nikah.” Pendapat ini didukung oleh Imam Malik dalam riwayat As Shoh serta Imam Syafi’i.
Versi kedua:
“Bukan termasuk syarat keabsahan pernikahan dilakukan antara sekufu (sepadan dalam tinjauan syara’)” pendapat ini didukung oleh Imam Abu Hanifah, Zufar, Al-Sya’bi dan Al-Zuhri.
Versi ketiga:
“Tafshil (perincian), termasuk syarat akad nikah bila mempelai wanita masih virgin (gadis) dan bukan termasuk syarat nikah bila mempelai wanita sudah janda”. Pendapat ini didukung oleh Abu Dawud A-Dhoriry.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/kumpulan-kultum-ramadhan/