Dampak Kehadiran VOC Di Nusantara

Dampak Kehadiran VOC Di Nusantara

Dampak Kehadiran VOC Di Nusantara

Dampak Kehadiran VOC Di Nusantara
Dampak Kehadiran VOC Di Nusantara
  1. Kehidupan Ekonomi

Ada beberapa tindakan VOC yang sangat merugikan rakyat. Untuk bisa memonopoli perdagangan rempah-rempah, VOC tidak jarang menggunakan ancaman kekerasan terhadap penduduk dan orang-orang non-Belanda yang berdagang di sekitar kawasan tersebut. Penduduk di Kepulauan Banda yang terus menjual biji palanya kepada pedagang Inggris dibunuh oleh pasukan Belanda.

Bahkan, penduduk di kepulauan tersebut dipindah ke luar pulau dan diganti dengan para pembantu atau budak-budak yang dipekerjakan di perkebunan. Dalam perkembangannya, para pedagang VOC terus memperkuat kedudukan dengan membuat benteng pertahanan, intervensi ke dalam kerajaan, dan memperbudak rakyat. Bahkan, mereka semakin memperluas pengaruh dan kekuasaan hingga ke berbagai pulau di Nusantara. Pada tahun 1605, armada VOC bersekutu dengan Hitu untuk menyerang kubu pertahanan Portugis di Ambon. Imbalannya adalah VOC berhak sebagai pembeli tunggal rempah-rempah Hitu. Perlahan-lahan, VOC berhasil membuka kantor dagang di Sulawesi Selatan dan menyerang Banten, selanjutnya menjadikan Jayakarta sebagai pelabuhan dengan nama Batavia. Kita tahu bahwa Banten adalah pusat penghasil lada terbesar di Indonesia bagian barat. Dengan langkah itu, VOC berhasil memonopoli perdagangan rempah-rempah di Indonesia Timur dan perdagangan lada di Indonesia bagian barat. (http://bpbd.lampungprov.go.id/blog/contoh-teks-laporan-hasil-observasi/)

  1. Kehidupan Politik

Jauh sebelum VOC datang di Kepulauan Nusantara, kerajaan- kerajaan Islam menguasai jaringan perdagangan, seperti peran Kerajaan Aceh, Banten, Demak, Gowa, Mataram, Ternate dan Tidore. Masing-masing kerajaan memiliki wilayah kekuasaan hingga ke luar pulau. Namun, setelah VOC datang di Banten abad XVI, peran dan kedudukan kerajaan-kerajaan itu semakin hilang.

Awal mula intervensi VOC di dalam kehidupan politik di Nusantara dimulai pada tahun 1601. Pieter Both berhasil membujuk Pangeran Jakarta untuk membangun benteng pertahanan di Batavia. Kontrak antara VOC dengan Pangeran Jakarta itu antara lain VOC diizinkan membuat bangunan dari batu bata dan kayu di daerah  pecinan. Sebagai gantinya, VOC membayar 1.200 real kepada Pangeran Jakarta. Dari situlah, VOC mengoperasikan seluruh kepentingan politik ekonominya ke seluruh daerah di Nusantara.

Ada beberapa faktor yang mempermudah VOC membangun imperiumnya di Nusantara. Selain telah menguasai jaringan perdagangan lada, cengkih, dan rempah-rempah, VOC juga berhasil memanfaatkan pergolakan yang terjadi di dalam kerajaan-kerajaan itu. Satu demi satu: Makassar, Banten, dan Mataram jatuh ke tangan VOC. Apalagi ada pihak-pihak kerajaan yang mau menerima bantuan dan kerja sama VOC.

Secara garis besar, berikut kronologi bagaimana VOC masuk dan menaklukkan daerah-daerah di Nusantara.

  1. 1569 Armada Belanda datang di Pelabuhan Banten.
  2. 1602 Pedagang Belanda mendirikan kongsi dagang dengan nama VOC.
  3. 1605 VOC bersekutu dengan Hitu menyerang Portugis dengan imbalan VOC memperoleh monopoli rempah.
  4. 1609 VOC membuat kantor dagang di Sulawesi Selatan namun dihadang oleh Raja Gowa.
  5. 1610 Ambon dijadikan pusat aktivitas VOC dengan dipimpin oleh seorang gubernur jenderal.
  6. 1619 J.P. Coen menyerang Banten dan membangun Batavia sebagai pusat aktivitas.
  7. 1620 VOC membantai penduduk Banda dan mengganti dengan para pendatang.
  8. 1630 Belanda mulai memegang hegemoni perdagangan laut di Indonesia.
  9. 1637 Gubernur Jenderal VOC (Antonio van Diemen) menyerang Ternate di Hoamoal.
  10. 1643 Arnold de Vlaming memaksa Raja Ternate Mandarsyah untuk menandatangani perjanjian yang melarang penanaman pohon cengkih di semua wilayah kecuali Ambon atau yang dikuasai VOC.
  11. 1656 Seluruh penduduk Ambon dibuang dan VOC memusnahkan seluruh tanaman cengkih.
  12. 1660 Tiga puluh kapal armada VOC menyerang Gowa dan terlibat perang dengan pasukan Gowa.
  13. 1667 Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian dengan VOC.
  14. 1674 Wabah kelaparan merajalela di Jawa dan kondisi rakyat semakin memprihatinkan.
  15. 1683 Keuangan VOC mulai kacau karena korupsi (dari 23 kantor hanya 3 yang produktif).
  16. 1740 Sepuluh ribu orang Tionghoa dibunuh oleh VOC.
  17. 1755 VOC menandatangani Perjanjian Giyanti.
  18. 1800 VOC secara resmi dibubarkan.

Itulah kronologi singkat bagaimana VOC meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan rakyat Indonesia. Ada beberapa fakta yang bisa kita temukan. Pertama, dengan hak istimewa yang dimilikinya VOC mampu menguasai dan memonopoli produksi dan jaringan perdagangan rempah-rempah di Nusantara serta meraih keuntungan. Kedua, bandar-bandar pelabuhan dan kekuasaan kerajaan Islam jatuh ke tangan VOC. Ketiga, rakyat di Nusantara jatuh ke dalam kehidupan yang memprihatinkan. Keempat, raja-raja di Nusantara berusaha melawan dominasi dan monopoli asing dalam beragam bentuk. Kelima, karena korupsi dan manipulasi VOC mengalami kebangkrutan.