Faedah Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah

Faedah Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah

Faedah mengetahui surat Makkiyah dan Madaniyah adalah:

Bukti ketinggian bahasa Al-Qur’an. Sebab di dalamnya Allah mengajak berbicara setiap kaum sesuai keadaan mereka baik  dengan menyampaikan yang keras maupun yang lembut.
Sebagai pelaksanaan syariat islam secara bertahap. Sebab Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur sesuai keadaan dan kesiapan umat di dalam menerima dan melaksanakan syariat yang di turunkan.
Sebagai pendidikan para dai untuk mengikuti metode al-qur’an dalam tata cara penyampaian tema, yaitu memulai dari perkara yang paling penting serta menggunakan kekerasan dan kelembutan sesuai kondisi.
Pembedaan antara nasikh dengan mansukh. Kalau ada dua ayat yaitu Madaniyah dan Makkiyah yang keduanya memenuhi naskh, maka ayat Madaniyah menjadi nasikh, sebab ayat Madaniyah datang setelah ayat Makkiyah.
Pengetahuan Mengenai Makkiyah dan Madaniyah
Untuk mengetahui dan menentukan Makki dan Madani para ulama bersandar pada dua cara utama; sima’I naqli (pendengaran seperti apa adanya) dan qiyasi ijtihadi (kias hasil ijtihad). Cara pertama didasarkan pada riwayat shahih dari para sahabat yang hidup pada saat dan menyaksikan turunnya wahyu; atau dari para tabi’in yang menerima dan mendengar dari para sahabat bagaimana, di mana, dan peristiwa apa yang berkaitan dengan turunnya wahyu itu.
Sebagian besar penentuan Makki dan Madani itu didasarkan pada cara pertama ini. Dan contoh-contoh di atas merupakan bukti paling baik baginya. Penjelasan tentang penentuan tersebut telah memenuhi kitab-kitab tafsir bil-ma’sur, kitab-kitab asbabun nuzul dan pembahasan-pembahasan mengenai ilmu-ilmu Qur’an. Namun demikian, tentang hal tersebut tidak terdapat sedikitpun keterangan Rasulullah, karena ia tidak termasuk suatu kewajiban, kecuali dalam batas yang dapat membedakan mana yang nasikh dan mana yang mansukh.
Qadi Abu Bakar Ibnut Tayyib al-Baqalani dalam al-Intisar menegaskan: “ Pengetahuan tentang Makki dan Madani itu mengacu pada hafalan para sahabat dan tabi’in. tidak ada suatu keterangan pun yang datang dari Rasulullah mengenai hal itu, sebab ia tidak diperintahkan untuk itu, dan Allah tidak menjadikan ilmu pengetahuan mengenai hal itu sebagai kewajiban umat. Bahkan sekalipun sebagian pengetahuannya dan pengetahuan menganai sejarah nasikh dan mansukh itu wajib bagi ahli ilmu, tetapi pengetahuan tersebut tidak harus diperoleh melalui nas dari Rasulullah.
Cara qi yasi ijtihadi didasarkan pada ciri-ciri Makki dan Madani. Apabila dalam surah Makki terdapat suatu ayat yang mengandung sifat Madani atau mengandung peristiwa Madani, maka dikatakan bahwa itu ayat Madani. Dan apabila dalam surah Madani terdapat terdapat suatu ayat yang mengandung sifat Makki atau peristiwa Makki, maka ayat tadi dikatakan sebagai ayat Makki.
Bila dalam satu surah terdapat ciri-ciri Makki, maka surah itu dinamakan surah Makki. Demikian pula bila dalam satu surah terdapat ciri-ciri Madani, maka surah tersebut dinamakan surah Madani. Inilah yang disebut dengan qiyas ijtihadi. Oleh karena itu, para ahli mengatakan: “Setiap surah yang didalamnya mengandung kewajiban atau ketentuan, surah itu adalah Madani, dan begitu seterusnya.”
Ja’bari mengatakan, “Untuk mengetahui Makki dan Madani ada dua cara:  sima’I (pendengaran) dan qiyasi (kias).” Sudah tentu sima’I pegangannya berita pendengaran, sedangkan qiyasi berpegang pada penalaran. Baik pendengaran maupun penalaran, keduanya merupakan metode pengetahuan yang valid dan metode ilmiah.
Perbedaan dan Ciri Khas dari Makkiyah dan Madaniyah
Perbedaan antara Makkiyah dan Madaniyah
Untuk membedakan Makki dan Madani, para ulama’ mempunyai tiga macam pandangan yang masing-masing mempunyai dasarnya sendiri. Pertama: Dari segi waktu turunnya. Makki adalah yang diturunkan sebelum hijrah meskipun bukan di Mekah. Madani adalah yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun bukan di Madinah. Yang diturunkan sesudah hijrah sekalipun di Mekah atau Arafah, adalah Madani, seperti yang diturunkan pada tahun penaklukan kota Mekah, misalnya firman Allah pada Q.S An-Nisa’ ayat 58 sebagai berikut:
Artinya “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampikan amanat kepada yang berhak…”.
Ayat ini diturunkan di Mekah, dalam Ka’bah pada tahun penaklukan Mekah; atau yang diturunkan pada haji Wada’, seperti firman Allah dalam Q.S Al-Maidah ayat 3 sebagai berikut:
Artinya “ Hari ini telah Kusempurnakanuntukmu agamamu, telah Kucukupkan agamamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridai Islam menjadi agama bagi agamamu”.
Pendapat ini lebik dari kedua pendapat berikut, karena ia lebih memberikan kepastian dan konsisten.

Pos-pos Terbaru