Hukum, Hikmah dan Kadar zakat fitrah

Hukum, Hikmah dan Kadar zakat fitrah

Hukum, Hikmah dan Kadar zakat fitrah

Hukum, Hikmah dan Kadar zakat fitrah
Hukum, Hikmah dan Kadar zakat fitrah

Hukum Zakat Fitrah

Untuk menjelaskan hukum zakat fitrah ini, anda bisa melihat dalil dalil dibawah ini:
Dalil yang pertama yaitu Al-quran surat Al-A’la ayat 14-15 yang artinya:
“Sungguh berbahagialah orang yang mengeluarkan zakat (fitrahnya), menyebut nama Tuhannya (mengucap takbir, membesarkan Alloh) lalu ia mengerjakan sholat (iedul fitri)”.

Hadits

Menurut riwayat Ibnu Khuzaimah, ayat diatas diturunkan berkaitan dengan zakat fitrah, takbir hari raya, dan sholat ied (hari raya). Menurut Sa’id Ibnul Musayyab dan Umar bin Abdul Aziz: “Zakat yang dimaksudkan oleh ayat ini adalah zakat fitrah”. Menurut Al-Hafidh dalam “Fathul Baari”: “Ditambah nama zakat ini dengan kata fitri karena diwajibkan setelah selesai mengerjakan shaum romadhon.”

Lebih tegas lagi dalil tentang wajibnya zakat fitrah dalam sebuah hadits yang diterima oleh Ibnu Abbas yang artinya:
“Rosululloh SAW telah mewajibkan zakat fitrah untuk menyucikan orang yang shaum dari segala perkataan yang keji dan buruk yang mereka lakukan selama mereka shaum, dan untuk menjadi makanan bagi orang orang yang miskin. (H.R. Abu Daud)

Dengan hadits diatas jelas dan tegaslah bahwa hukum membayar zakat fitrah itu fardhu (wajib) ditunaikan oleh umat islam untuk membersihkan dan mensucikan diri serta membantu jiwa-jiwa kelaparan karena dibelit kemiskinan.

Hikmah Disyariatkan Zakat Fitrah

Zakat fitrah disyariatkan pada bulan Sya’ban tahun kedua hijrah sebagai penyuci bagi orang yang shaum dari perbuatan ataupun perkataan yang sia-sia dan dari perkataan-perkataan keji yang mungkin telah dilakukan pada saat menjalankan ibadah shaum. Hikmah lainnya juga sebagai penolong bagi orang-orang miskin agar dapat merasakan kebahagiaan pada saat Iedul fitri.

Kadar (Prosentase/Ukuran) Zakat Fitrah

Ukuran zakat fitrah yang harus dikeluarkan oleh setiap muslim adalah sebanyak satu Sha’ dari makanan pokok. hal ini sesuai dengan dua hadits berikut ini yang artinya:

“Kami mengeluarkan (zakat fitrah) di zaman Rosululloh SAW pada iedul fitri sebanyak satu Sha’ dari makanan”. (H.R. Bukhari) “Adalah kami (para sahabat) di masa Rosululloh SAW mengeluarkan zakat fitrah satu sha’ makanan atau satu sha’ tamar (kurma), atau satu sha’ sya’ir (padi belanda), atau satu sha’ aqith (susu yang telah kering yang tidak diambil buihnya, atau semacam makanan yang terbuat dari susu, dimasak, sesudah itu dibiarkan lalu diletakkan di kain perca agar menetes kebawah), atau satu sha’ zahib (kismis)”. (H.R. Bukhari)

Hadits diatas menyatakan bahwa kadar zakat fitrah itu satu sha’ makanan. Pada hadits diatas makanan yang dimaksud adalah: tamar, sya’ir, zabib, dan aqith. Itulah jenis makanan yang dikeluarkan untuk zakat fitrah pada masa Rosululloh SAW.

Baca Juga: