Hukum Perkawinan Pada Islam

Hukum Perwakilan Pada Islam

Hukum Perkawinan Pada Islam

Hukum Perwakilan Pada Islam
Hukum Perwakilan Pada Islam

 PENGERTIAN PERKAWINAN

Perkawinan merupakan salah satu sunnatullah yang umum berlaku pada semua mahluk Allah, baik pada manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Semua yang diciptakan oleh Allah adalah berpasang-pasangan dan berjodoh-jodohan, sebagaimana berlaku pada mahluk yang paling sempurna, yakni manusia. Dalam surat Al-Dz’ariya’t ayat 49 disebutkan: “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah”.

Manusia tidak seperti binatang yang melakukan perkawinan dengan bebas dan sekehendak hawa nafsunya. Bagi binatang, perkawinan hanya semata-mata merupakan kebutuhan birahi dan nafsu syahwatnya, sedangkan bagi manusia perkawinan diatur oleh berbagai etika dan peraturan lainya yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang beradab dan berakhlak. Oleh karena itu perkawinan manusia harus mengikuti peraturan yang berlaku.

Tanpa perkawinan, manusia tidak dapat melanjutkan sejarah hidupnya karena keturunan dan perkembangbiakan manusia disebabkan oleh adanya perkawinan. Akan tetapi jika perkawinan manusia tidak didasarkan pada hukum Allah, sejarah dan peradaban manusia akan hancur oleh bentuk-bentuk perzinaan, sehingga manusia tidak berbeda dengan binatang yang tidak berakal dan hanya mementingkan hawa nafsunya.

Ada beberapa pengertian perkawinan antara lain:

  1. Menurut Undang-undang NO. 1 tahun 1974 tentang perkawinan pada BAB I DASAR PEWRKAWINAN pasal 1 dinyatakan bahwa: Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan KeTuhanan Yang Maha Esa (Anonimous, 2004:8).
  2. Menurut Kompilasi Hukum Islam pasal 2 menegaskan bahwa:
    Kawin/nikah adalah akad yang sangat kuat (misapon horizon) untuk mentaati perintah Allah dan pelaksanaannya merupakan ibadah.
  3. Menurut pasal 26 BW, undang-undang disana  ditegaskan bahwa perkawinan dipandang sebagai hubungan keperdataan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan.
  4. Menurut pasal 116 Decleration of human rights menyatakan dalam melangsungkan perkawinan tidak memandang suku, agama, ras, warna kulit, maupun kewarganegaraan.
  5. Menurut hukum adat, perkawinan itu merupakan suatu peristiwa paling
    penting dalam kehidupan selain kelahiran dan kematian dimana pelak-
    sanaannya tidak hanya melibatkan mempelai laki-laki, perempuan, dan keluarga bahkan melibatkan roh nenek moyang.

Perkawinan bukan hanya mempersatukan dua pasangan manusia, yakni laki-laki dan perempuan, melainkan mengikatkan tali perjanjian yang suci atas nama Allah bahwa kedua mempelai berniat membangun rumah tangga yang sakinah, tentram, dan dipenuhi oleh rasa cinta dan kasih sayang. Untuk menegakkan cita-cita kehidupan keluarga tersebut, perkawinan tidak cukup hanya bersandar pada ajaran-ajaran Allah dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang sifatnya global. Akan tetapi, perkawinan berkaitan pula pada hukum suatu negara. Perkawinan baru dinyatakan sah jika menurut hukum Allah dan hukum negara telah memenuhi rukun dan syarat-syaratnya.

KEDUDUKAN  PERKAWINAN  DALAM  ISLAM

  • Wajib kepada orang yang mempunyai nafsu yang kuat sehingga boleh menjatuhkan kelembah maksiat (zina dan sebagainya) sedangkan ia seorang yang mampu, disini mampu yang dimaksud adalah ia mampu membayar mahar (mas perkawinan/dower) dan mampu nafkah kepada bakal istrinya. Dalam masa ini boleh didahulukan perkawinan dari naik haji karena gusar penzinaan akan berlaku, tetapi jika dapat dikawal nafsu, maka ibadat haji yang perlu didahulukan, karena beliau seorang yang berkemampuan dalam segala aspek.
  • Sunat kepada orang yang mampu tetapi dapat mengawal nafsunya.
  • Harus kepada orang yang tidak ada padanya galakan dan bantahan untuk berkawin dan ini merupakan hukum asal perkawinan.
  • Makruh kepada orang yang tidak berkemampuan dari segi nafkah batin dan lahir tetapi sekedar tidak memberikan kemudaratan bagi istri, sama ada ia kaya atau tiada nafsu yang kuat.
  • Haram kepada orang yang tidak berkemampuan untuk memberikan nafkah
    batin dan lahir, dan ia sendiri tidak berkuasa (lemah), tidak punya keinginan. untuk berkawin serta akan menganiaya istri jika dia berkawin.

 

MASALAH  PERKAWINAN

Pada umumnya salah satu tanda kegagalan suami-istri dalam mencapai kebahagiaan perkawinan adalah perceraian. Perceraian adalah akumulasi dari kekecewaan yang berkepanjangan yang disimpan dalam alam bawah sadar individu. Adanya batas toleransi pada akhirnya menjadikan kekecewaan tersebut muncul kepermukaan, sehingga keinginan untuk bercerai begitu mudah.

Masalah diseputar perkawinan atau kehidupan berkeluarga antara lain:

  • Kesulitan ekonomi keluarga yang kurang tercukupi.
  • Perbedaan watak.
  • Temperamen dan perbedaan kepribadian yang sangat tajam antara  suami dan istri.
  • Ketidakpuasan dalam hubungan seks.
  • Kejenuhan rutinitas.
  • Hubungan antara keluarga besar yang kurang baik.
  • Adanya istilah WIL (wanita idaman lain) atau PIL (pria idaman lain).
  • Masalah harta warisan.
  • Menurunnya perhatian kedua belah pihak.
  • Domonasi dan intervensi orang tua atau mertua.
  • Kesalahpahaman antara kedua belah pihak.

Dari salah satu masalah diatas yaitu

Kesalahpahaman yang menyebabkan pasangan menjadi tersinggung, sehingga terkadang memicu adanya perceraian, merupakan masalah yang sering terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Karena kesalahpahaman itulah yang terkadang pasangan enggan untuk membuka komunikasi dengan pasangannya yang kemudian menimbulkan misskomunikasi. Tanpa mereka sadari dengan keadaan seperti itu malah akan membuat mereka sulit dalam menghadapi problem apapun. Komunikasi yang intern dan baik akan melahirkan saling keterbukaan dan suasana keluarga yang nyaman. https://www.dosenpendidikan.com/contoh-teks-laporan-hasil-observasi/
Allah juga memerintahkan kepada suami-istri untuk selalu berbuat baik.
Suami dan istri sering beranggapan bahwa masalah yang timbul akan
selesai dengan sendirinya, asalkan bersabar dan menyediakan waktu yang panjang.

Namun kenyataannya masalah yang didiamkan bukan membaik, malah memburuk seiring berjalannya waktu yang lama. Kejengkelan makin menumpuk dan penyelesaian makin jauh di mata, kareana masalah menjadi seperti benang kusut dan tidak tahu lagi harus memulainya dari mana. Tabungan cinta cenderung menyusut seiring dengan berkecamuknya masalah dengan berkurangnya cinta dan kasih sayang, berkurang pulalah semangat untuk menyelesaikan masalah. Pada akhirnya ketidakpedulian menggantikan cinta dan makin menyesuaikan diri dalam kehidupan yang tidak sehat ini. Dengan kata lain antara suami dan istri sudah menemukan cara yang efektif untuk menyelesaikannya tapi tidak dilakukan sehingga dapat menimbulkan perceraian.