Investasi (Menabung)

 Investasi (Menabung)

Investasi yang berarti menunda manfaat harta yang kita miliki pada saat ini, atau berarti menyimpan, mengelola dan mengembangkannya merupakan hal yang dianjurkan dalam Al-Qur’an, salah stunya ialah dengan menabung. Islam sangat menganjurkan seseorang untuk menabung, karena dengan menabung berarti seseorang muslim mempersiapkan diri untuk pelaksanaan perencanaan masa yang akan datang sekaligus untuk menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan.

“Dan hendaklah takut kepada Allah mereka yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap mereka. Maka hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.: (QS. Al-Nisa [4]: 9)

Ayat di atas memerintahkan kita agar tidak meninggalkan keturunan yang lemah, baik secara moril maupun materil, termasuk dalam bidang ekonomi. Maka salah satu cara mempersiapkan kesejahteraan ekonomi mereka ialah engan cara berinvestasi. Seperti yang dijelaskan dalam surat al-Hasyr ayat 18.

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah  diperbuatnya untuk hari esok; dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59]: 18)[2]

Kata hari esok bukan saja terkait kehidupan akhirat, tetapi juga kehidupan dunia atau di masa yang akan datang. Investasi akhirat dan dunia nampaknya menjadi suatu hal yang wajib bagi orang yang beriman kepada Allah dengan selalu taqwa kepada-Nya. Takwa dalam konteks ini dapat diartikan melindungi diri dari hal-hal yang menggangu atau merusak kehidupan di masa mendatang. Karena itu, untuk mengatasinya seseorang harus mempersiapkan diri sebaik mungkin melalui berinvestasi.[3]

Dalam bahasan tabungan pada ilmu ekonomi konvensional, dijelaskan bahwa tabungan merupakan selisih dari pendapatan dan konsumsi. Tanpa dijelaskan secara detil apa yang menjadi motifasi dari tabungan tersebut. Dalam teori konvensional ini, relatif terlihat bahwa tabungan merupakan sebuah konsekuensi dari pendapatan yang tidak digunakan. Sehingga fungsi tambahan menabung merupakan kecenderungan mengkonsumsi marjinal (Marginal Propensity to Consume) dari seorang individu.

Penjelasan kecenderungan tabungan ini juga disinggung dalam bahasan teori permintaan uang (Money Demand). Kita ketahui bahwa dalam wacana konvensional permintaan uang memiliki tiga motif utama, yaitu motif transaksi (transaction), motif berjaga-jaga (precautionary) dan motif spekulasi (speculation). Dalam Islam motif spekulasi tidak diakui, karena aktivitas ekonomi berupa spekulasi (maysir) dilarang secara syariah. Sehingga motif yang ada untuk memegang uang hanyalah motif untuk transaksi dan berjaga-jaga atau dengan kata lain motif untuk konsumsi (memenuhi kebutuhan) dan menabung.

sumber :
https://www.makassartv.co.id/hotel-transylvania-2-apk/