KAJIAN ORIENTALIS TENTANG HADIS

KAJIAN ORIENTALIS TENTANG HADIS

KAJIAN ORIENTALIS TENTANG HADIS
KAJIAN ORIENTALIS TENTANG HADIS

Hadis merupakan segala sesuatu yang mengandung ucapan, perbuatan dan ketetntuan yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Sehingga bagi orientalis, hadis adalah sebuah kajian yang mudah bagi mereka untuk memutar balikkan kebenarannya secara keseluruhan.

Sejak awal, para orientalis tampaknya memiliki ambisi untuk merumuskan penemuan-penemuan, pengalaman-pengalaman, dan wawasan-wawasan mereka secara tepat dalam istilah-istilah modern, untuk mempertemukan gagasan-gagasan tentang Timur dengan realitas-realitas modern.

Gugatan orientalis terhadap hadis bermula pada pertengahan abad ke-19 M, dimana hampir seluruh bagian Dunia Islam telah masuk alam cengkeraman kolonialisme bangsa-bngasa Eropa. Alois Sprenger, adalah orang yamg pertama kali mempersoalkan status hadits dalam Islam. Orintalisme terhadap hadis ini berjalan dengan lancar bertahap, dan terencana. Ada yang menyerang matannya, ada yang menyerang sanadnya dan ada juga yang menyerang hadis sejarah yang dihubungkan dengan sirah.

Dalam hal ini, terdapat tiga hal yang sering dikemukakan kaum orientalis dalam penelitian mereka terhadap al-Hadis, yaitu tentang kepribadian Nabi Muhammad SAW, Aspek Asanid (Rangkaian perawi hadis), dan Aspek Matan.

a. Aspek Pribadi Nabi Muhammad

Argumen pertama orientalis meragukan otentisitas hadits adalah bahwa hadits-hadits itu buatan manusia dan bukan wahyu. Menurut orientalis pribadi Muhammad perlu dipertanyakan, mereka membagi status Muhammad menjadi tiga, sebagai rasul, kepala negara dan pribadi biasa sebagaimana orang kebanyakan. Sesuatu yang didasarkan dari Nabi Muhammad baru disebut hadits jika sesuatu tersebut berkaitan dengan hal-hal praktis keagamaan, karena jika tidak hal itu tidak layak disebut hadits, karena bisa saja hal itu hanya timbul dari status lain seorang Muhammad.

b. Aspek Asanid (Rangkaian Perawi)

Orientalis memiliki kesimpulan bahwa semua asanid itu fiktif atau bahwa yang asli dan yang palsu itu tidak bisa dibedakan secara pasti. Isnad yang sampai kepada Nabi Muhammad jauh lebih diragukan ketimbang isnad yang sampai kepada sahabat. Para orientalis sering mempertanyakan tentang para perawi yang banyak meriwayatkan hadis dari Rasulullah. seperti yang kita ketahui bersama para sahabat yang terkenal sebagai perawi bukanlah para sahabat yang yang banyak menghabiskan waktunya bersama Rasullah seperti Abu bakar, Umar, Usman dan Ali. Namun yang banyak meriwayatkan hadis adalah sahabat-sahabat junior dalam artian karena mereka adalah orang “baru” dalam kehidupan Rasulullah.

Baca Juga: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-ayat-kursi-beserta-terjemahan-dan-keutamaannya-lengkap/

c. Aspek Matan

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa ktirik isnad adalah satu-satunya metode yang dipraktekkan ahli-ahli hadits untuk menyaring mana hadits yang shahih dan hadits mana yang tidak shahih. Menurut orientalis matan hampir tidak pernah dipertanyakan, hanya jika isi sebuah hadits yang isnad-nya shahih jelas bertentangan dengan Al-Qur‟an, baru ditolak kalau isinya dapat diinterpretasikan sedemikian sehingga menjadi selaras dengan Al-Qur‟an dan hadits-hadits lain, hadits itu tidak dikritik