Kurikulum dengan Mata Pelajaran Berkolerasi

Kurikulum dengan Mata Pelajaran Berkolerasi

Kurikulum dengan Mata Pelajaran Berkolerasi

Kurikulum dengan Mata Pelajaran Berkolerasi

Untuk mengurangi kelemahan dengan adanya keterpisahan diantara berbagai mata pelajaran tersebut, diusahakanlah agar mata pelajaran tersebut tersusun dalam pola korelasi, sehingga lebih mudah dipahami olrh para siswa. Inilah yang dinamakan dengan kurikulum dengan mata pelajaran berkolerasi. Bentuk kolerasi ini terdiri atas dua pola, yaitu kolerasi informal dan kolerasi formal.

Dalam bentuk korelasi informal, seorang guru mata pelajaran meminta agar guru mata pelajaran lainnya mengorelasikan pelajaran yang akan diberikannya dengan bahan yang telah diberikan oleh guru pertama. Sebagai contoh, guru sejarah akan mengajarkan sejarah perang Diponegoro. Kemudian, guru ini meminta guru Ilmu Bumi agar membahas tentang daerah geografis terjadinya perang Diponegoro tersebut. Selanjutnya, guru bahasa diminta agar memberikan pelajaran bercerita tentang suasana masyarakat sewaktu terjadinya perang tersebut.

Agak berbeda dengan korelasi sebelumnya, dalam korelasi formal beberapa guru bersama-sama merencanakan untuk mengorelasikan mata pelajaran yang menjadi tanggungjwabnya masing-masing. Caranya, para guru yang bersangkutan terlebih dahulu menentukan suatu topik atau masalah. Misalnya, para guru menentukan topik “keluarga”. Kemudian, guru Bahasa memberikan cerita yang berkaitan dengan kehidupan keluarga, guru Menyanyi mengajarkan nyanyian pengantar tidur, guru Ilmu Berhitung memberikan cara pembuatan anggaran belanja dalam keluarga. Begitu seterusnya, sehingga para guru mata pelajaran lainnya dapat memberikan sumbangan terhadap pembahasan topik tersebut. Jadi, ciri-ciri kurikulum ini diantaranya adalah sebagai berikut :

  1. Berbagai mata pelajaran dikorelasikan satu dengan yang lainnya.
  2. Sudah dimulai adanya usaha untuk merelevansikan pelajaran dengan permasalahan kehidupan sehari-hari, kendatipun tujuannya masih penguasaan pengetahuan.
  3. Sudah mulai mengusahakan penyesuaian pelajaran dengan minat dan kemampuan para siswa, meski pelayanan terhadap perbedaan individual masih sangat terbatas
  4. Metode penyampaian menggunakan metode korelasi, meski masih banyak menghadapi kesulitan.
  5. Meski guru memegang peran aktif, namun aktifitas siswa sudah mulai dikembangkan
  6. Kurikulum Bidang Studi

Sebagian ahli berpandangan bahwa kurikulum bidang studi (broadfield curriculum) ini termasuk kedalam jenis kurikulum berkolerasi. Pandangan ini ada benarnya, karena bidang studi (broadfield) sudah merupakan perpaduan atau fusi sejumlah mata pelajaran sejenis, yang memiliki ciri-ciri yang sama. Batas-batas mata pelajaran yang telah berpadu tersebut sesungguhnya sudah tidak terlihat lagi.

Ciri-ciri umum dari kurikulum bidang studi adalah sebagai berikut:

  1. Kurikulum terdiri atas suatu bidang pengajaran, yang didalamnya terpadu sejumlah mata pelajaran sejenis dan memiliki ciri-ciri yang sama.
  2. Pelajaran bertitik tolak dari core subject yang kemudian diuraikan menjadi sejumlah pokok pembahasan.
  3. Berdasarkan tujuan kurikuler dan tujuan instruksional yang telah digariskan.
  4. Sistem penyampaiannya bersifat terpadu.
  5. Guru berperan selaku guru bidang studi.
  6. Minat, masalah, serta kebutuhan siswa dan masyarakat dipertimbangkan sebagai dasar penyusunan kurikulum, walaupun masih dalam batas-batas tertentu.
  7. Dikenal berbagai jenis bidang studi seperti Mateatika, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Bahasa, Pendidikan Moral Pancasila, Pendidikan Keterampilan, Pendidikan Kesehatan dan Olahraga, Ilmu Keguruan, dan sebagainnya.
  8. Kurikulum Terintegasi

Dalam kurikulum terintegrasi atau terpadu (Integrated curriculum) ini, batas-batas diantara semua mata pelajaran sudah tidak terlihat sama sekali, karena semua mata pelajaran sudah dirumuskan dalam bentuk masalah atau unik. Jadi semua mata pelajaran telah terpadu sebagai satu kesatuan yang bulat.

      Ciri-ciri kurikulum terintegrasi ini adalah sebagai berikut:

  1. Berdasarkan filsafat pendidikan demokrasi.
  2. Berdasarjan psikologi belajar Gestalt atau organismik.
  3. Berdasarka landasan sosiologisdan sosial kultural
  4. Berdasarkan kebutuhan, minat, dan tingkat perkembangan atau pertumbuhan siswa.
  5. Bentuk kurikulum ini tidak hanya ditunjang oleh mata pelajaran atau bidang studi yang ada, tetapi lebih luas. Bahkan, mata pelajaran atau bidang studi baru dapat saja muncul dan dimanfaatkan guna pemecahan masalah.
  6. Sistem penyampaian menggunakan sistem pengajaran unit, baik unit pengalaman (experience unit) atau unit pelajaran (subject matter unit)
  7. Peran guru sama aktifnya dengan peran murid. Bahkan, peran murid lebih menonjol dalam kegiatan belajar mengajar, dan guru bertindak selaku pembimbing.

sumber :

https://restaurantlediapason.com/popscene-apk/