Latar Belakang Masalah

Latar Belakang Masalah

Semua bangsa berusaha keras untuk melestarikan warisan pemikiran dan sendi-sendi kebudayaannya. Demikian juga umat Islam amat memperhatikan kelestarian risalah Nabi Muhammad SAW yang memuliakan semua umat manusia. Itu disebabkan risalah Nabi Muhammad SAW bukan sekedar risalah ilmu dan pembaharuan yang hanya diperhatikan sepanjang diterima akal dan mendapat respons manusia, tetapi di atas itu semua, ia agama yang melekat pada akal dan terpateri pada hati.
Oleh sebab itu, kita dapati para pengemban petunjuk yang terdiri atas para sahabat, tabi’in dan generasi sesudahnya meneliti dengan cermat tempat turunnya Al-Qur’an ayat demi ayat, baik dalam waktu ataupun tempatnya. Penelitian ini merupakan pilar kuat dalam sejarah perundang-undangan yang menjadi landasan bagi para peneliti untuk mengetahui metode dakwah, macam-macam seruan, dan pentahapan dalam penetapan hokum dan perintah. Mengenai hal ini antara lain seperti dikatakan oleh Ibn Mas’ud r.a:
“Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia, setiap surah Qur’an kuketahui di mana surah itu diturunkan; dan tiada satu ayat pun dari Kitab Allah kecuali pasti kuketahui mengenai apa ayat itu diturunkan. Sekiranya aku tahu ada seseorang yang lebih tahu daripadaku mengenai Kitab Allah, dan dapat kujangkau orang itu dengan untaku, pasti aku pacu untaku kepadanya.”
Dakwah menuju jalan Allah itu memerlukan metode tertentu dalam menghadapi segala kerusakan akidah, perundang-undangan, dan perilaku. Beban dakwah itu baru diwajibkan setelah benih subur tersedia baginya dan fundasi kuat telah dipersiapkan untuk membawanya. Dan asas-asas perundang-undangan dan aturan sosialnya juga baru digariskan setelah hati manusia dibersihkan dan tujuannya ditentukan, sehingga kehidupan yang teratur dapat terbentuk atas dasar bimbingan dari Allah.
Orang yang membaca Al-Qur’anul Karim akan melihat bahwa ayat-ayat Makkiyyah mengandung karakteristik yang tidak ada dalam ayat-ayat Madaniyyah, baik dalam irama maupun maknanya, sekalipun yang kedua ini didasarkan pada yang pertama dalam hukum-hukum  dan perundang-undangan.
Pada zaman jahiliyyah masyarakat sedang dalam keadaan buta dan tuli, menyembah berhala, mempersekutukan Allah, mengingkari wahyu, mendustakan hari akhir dan mereka mengatakan:
“Apabila kami telah mati dan telah menjadi tanah serta menjadi tulang-belulang, benarkah kami akan dibangkitkan kembali?”  (As-Saffat [37]:16).
“Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan yang akan membinasakan kita hanyalah waktu.” (Al-Jasiyah [45]:24).
Meraka ahli bertengkar yang sengit sekali, tukang berdebat dengan kata-kata pedas dan retorika luar biasa, sehingga wahyu Makki (yang diturunkan di Mekah) juga merupakan goncangan-goncangan yang mencekam, menyala-nyala seperti api yang memberi tanda bahaya disertai argumentasi sangat tegas dan kuat. Semua ini dapat menghancurkan keyakinan mereka pada berhala, kemudia

Sumber :

https://multi-part.co.id/natal-dan-tahun-baru-tarik-tunai-gopay-tutup-sementara/