Manpulasi atau Kebohongan

Manpulasi atau Kebohongan? Sama saja

Sesungguhnya tidak ada subsidi BBM yang diterima rakyat sebagaimana sebagaimana yang di katakan pemerintah, yang dimaksud dengan subsidi oleh pemerintah adalah selisih antara harga jual pasar BBM dengan harga yang dijual di dalam negeri. padahal tidak semua produk minyak yang dikonsumsi nasional diperoleh diperoleh dari sumber impor. selain itu perusahaan nasional dalam hal ini pertamina beroperasi sebagai perusahaan swasta pada tingkat ekonomi yang menguntungkan.

Banyak pihak yang mempertanyakan berapa besarnya biaya produksi BBM. Kwik Kian Gie, salah seorang pengamat dan juga mantan menteri perekonomian pada masa pemerintahan Megawati menyatakan bahwa biaya produksi BBM, dari proses eksplorasi hingga tiba di tangan konsumen sesungguhnya sangat rendah dan berbeda sekali dengan logika umum yang diwacanakan oleh kalangan bisnis dan pemerintah.

Berdasarkan data seluruh produksi Pertamina pada tahun 2007, sebesar 392 juta barel, maka biaya yang dibutuhkan untuk memproduksi setiap liter BBM hanya sebesar Rp. 3.740 per liter. Angka tersebut diperoleh dari pembagian antara seluruh biaya produksi yang dikeluarkan dalam proses produksi BBM dengan jumlah produksi BBM.

Komponen terbesar dalam biaya produksi BBM adalah penyediaan bahan baku. Bahan baku diperoleh Pertamina dari perusahaan perusahaan asing di sektor hulu yang memproduksi minyak mentah. Sebagaimana diketahui bahwa kegiatan eksplorasi dan eksploitasi di sektor hulu oleh perusahaan-perusahaan baik oleh Pertamina maupun perusahaan asing di Indonesia untuk mendapatkan minyak mentah, dibiayai oleh pemerintah. Perusahaan-perusahaan tersebut memperoleh pengganti seluruh biaya produksi mereka melalui cost recovery.

Jika kita menganggap biaya cost recovery yang dikelurkan oleh Negara sebagai biaya bahan baku yang ditanggung oleh Pertamina, maka biaya pengadaan BBM untuk setiap liternya hanya sebesar Rp 293,6 per liter BBM. Nilai tersebut diperoleh dengan membagi jumlah produksi dengan biaya yang dikeluarkan Pertamina, diluar biaya bahan baku. Sementara jika komponen crude oil import saja yang dimasukkan sebagai komponen bahan baku yang harus dikeluarkan Pertamina, yaitu nilai pembelian 166 juta barel minyak mentah, maka biaya produksi per liter BBM hanya sebesar Rp. 2.361 per liter.

Memperhatikan struktur biaya dan pendapatan perusahaan yang bergerak dalam pengusahaan BBM di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perusahaan produsen BBM yang saat ini seluruhnya adalah entitas bisnis dengan perolehankeuntungan yang sangat besar. Didukung oleh daya serap pasar yang besar bagi produk BBM yang sangat luas dan tingkat keketrgantungan masyarakat yang sangat tinggi, maka dapat dipastikan bahwa BBM yang diproduksi sudah pasti laku terjual habis.