Manusia dalam Konsep Psikologi Humanistik

Manusia dalam Konsep Psikologi Humanistik

Psikologi Humanistik dianggap sebagai revolusi ketiga dalam psikologi revolusi pertama dan kedua adalah psikologi analsisis (manusia dipengaruhi oleh primitifnya) dan behaviorisme (manusia hanyalah mesin yang di bentuk lingkungan), dalam pandangan behafiorisme  manusia menjadi robot tanpa jiwa dan nilai, dalam psikoanalisis, seperti kata freud sendiri “we see a man as a savage beast” (1930:86) keduanya tidak menghormati manusia sebagai manusia, keduanya tidak dapat menjelaskan aspek eksistensi manusia yang positif dan menentukan, seperti cinta, kreatifitas, nilai, makna, dan pertumbuhan pribadi.

Psikologi humanistik lebih banyak mengambil dari fenomenologi dan eksistensiaisme, fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang di persepsi dan diinterprestasi secara subyektif yaitu setiap orang mengalami dunia dengan caranya sendiri, fenomenologi banyak mempengaruhi tulisan-tulisan Carl Rogers (Bapak Psikologi Humanistik), Abraham maslow menyebutkan “growth needs” eksistensialisme menekankan pentingnya kewajiban individu pada sesame manusia. Yang paling penting bukan apa yang di dapat dari kehidupan, tapi apa yang dapat kita berikan untuk kehidupan. Jadi hidup kita baru bermakna hanya apabila melibatkan nilai-nilai dan pilihan yang konstruktif secara sosial.

Manusia bukan saja pelakon dalam panggung masyarakat, bukan saja pencari identitas, tetapi juga pencari makna. Freud pernah mengirim surat pada princess Bonaparte dan menulis bahwa pada saat manusia bertanya apa makna dan nilai kehidupan, pada saat itu ia sakit.  Hal itu dai salahkan oleh Victor E. Frankl, manusia justru menjadi manusia ketika mempertanyakan apakah hidupnya bermakna. Frankl menyimpulkan asumsi-asumsi Psikologi Humanistik adalah keunikan manusia, pentingnya nilai dan makna, serta kemampuan manusia untuk mengembangkan dirinya. Adapun beberapa asumsi-asumsi pandangan humanistik yang di garisbesarkan oleh Carl Rogers yaitu:

sumber :