Menghindari Fitnah

Menghindari Fitnah

Menghindari Fitnah

Menghindari Fitnah
Menghindari Fitnah

Khalifah Ustman bin Affan

Ketika khalifah Ustman bin Affan mengutus seorang kurir ke negara tetangga untuk menjalin hubungan diplomatik, umi kaltsum , istri khalifah titip bingkisan minyak wangi untuk istri raja itu.

pulangnya, si kurir ganti membawa bingkisan balan dari istri raja berupa mutiara dan permata.

melihat kiriman itu, khalifah Ustsman bin Affan langsung menyita hadiah itu dan dianggap menjadi milik negara.

“kalau kau bukan istri khalifah, takmungkin kau akan menerima bingkisan ini,” kata khalifah kepada istrinya, umi kaltsum.

“yang kuterima itu hadiah balasan pribadi dari istri raja,” jawab umi kaltsum.

“benar, tetapi untuk urusan kirim – mengirim ini telah menggunakan fasilitas negara lewat kurir ke khalifahan,” ujur khalifah.

saling tak mau mengalah

karena saling tak mau mengalah, suami istri itu kemudian sepakat untuk menyelesaikan urusan itu lewat jalur hukum, maka diserahkan bingkisan hadiah itu kepada hakim.

setelah melewati persidangan yang panjang, akhirnya hakim memutuskan bingkisan hadiah itu sah menjadi milik pribadi Umi Kaltsum.

“sudah kuduga sebelum aku akan kalah dalam persidangan perkara ini,” kata khalifah Ustman .

“lalu mengapa Khalifah tetap mengajak ke pengadilan,” jawab Umi Kaltsum, istrinya.

jika tidak diselesaikan

“jika tidak diselesaikan lewat jalur hukum, aku khawatir perkara ini menjadi fitnah,” ujar khalifah.

“fitnah bagaimana?”

“orang akan berkata : lihatlah itu, istri khalifah menggunakan kesempatan dan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi. Alasan lain, aku khawatir caramu itu akan ditiru oleh istri-istri penjabat yang lain,” jawab khalifah.

Meskipun hal itu tidak apa – apa, tetapi bisa menimbulkan hal – hal yang tak diinginkan atau kesan negatif. Oleh sebab itu  harus dihindari oleh seorang muslim.

Setelah direnungkan dalam – dalam oleh Umi Kaltsum, kekhawatiran suaminya itu cukup beralasan. Maka, atas kesadarannya sendiri, malam itu juga ia menyerahkan bingkisan hadiah itu ke baitul maal, menjadi milik negara.

“Seseorang tidak akan sampai pada tingkatan taqwa yang tinggi sehingga rela meninggalkan hal – hal yang sepertinya tidak apa – apa, tetapi bisa menimbulkan apa – apa,”

Demikian sabda Rasullullah dalam hadistnya.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/bacaan-tawasul-ringkas-dan-lengkap-hadhorot/