Nikah Tanpa Wali Kajian Psikologis

Nikah Tanpa Wali Kajian Psikologis

Nikah Tanpa Wali Kajian Psikologis

Nikah Tanpa Wali Kajian Psikologis
Nikah Tanpa Wali Kajian Psikologis

NIKAH TANPA WALI

Imam Syafi’I, Maliki dan Hambali berpendapat jika wanita baligh dan berakal sehat itu masih gadis, maka hak mengawinkan dirinya ada pada wali. Akantetapi jika ia janda maka hak itu ada pada keduanya. Wali tidak boleh mengawinkan wanita janda itu tanpa persetujuannya. Sebaliknya wanita itupun tidak boleh mengawinkan dirinya tanpa restu sang wali. Akad yang diucapkan hanya oleh wanita tersebut tidak berlaku sama sekali, walaupun akad itu sendiri memerlukan persetujuannya.
Sedangkan Imam Hanafi menyatakan bahwa wanita yang telah baligh dan berakal sehat boleh memilih sendiri suaminya, dan boleh pula melakukan akad nikah sendiri, baik dia perawan ataupun janda. Tidak ada seorangpun yang mempunyai wewenang atas dirinya tau menantang pilihannya, dengan syarat yang dipilihnya itu sekufu (sepadan) dengannya dan maharnya tidak kurang dari dengan mahar mitsil.

NIKAH TANPA WALI KAJIAN PSIKOLOGIS

Dengan memahami kembali definisi serta tujuan nikah, maka konsekuensi langsung dari akad nikah bila dihubungkan dengan laki-laki dapat memberikan hak kepemilikan yang secara khusus pada wanita yang dinikahinya. Dimana tidak halal laki-laki lain selain dirinya. Ketentuan ini menyikapi kosongnya paradigma hukum yang merestui sistem poliandri. Sedangkan konsekuensinya bila dihubungkan dengan pihak perempuan ialah memperbolehkan istimta’ tetapi tidak seperti hak milik yang secara khusus pada laki-laki. Sebab laki-laki punya hak poligami.

Dinamika

Dinamika perjalanan hidup manusia dengan karakteristik dan kondisi psikologis yang cenderung penuh dengan rasa ingin tahu membuat motivasi yang begitu membara sehingga potensi konflikpun menjadi problem yang terelakkan ketika keinginan mendapat reaksi tidak setuju dari pihak orang tua.

Ayah dalam kapasitasnya sebagai wali bagi putrinya bertanggung jawab menjaga dan memelihara masa depan anak, kebahagiaan, kemapanan bagi kelangsungan hidupnya merupakan point penting yang harus dijaga dengan tetap memelihara aspek-aspek normatif untuk menciptakan kesejahteraan hidup yang bermartabat.

Dengan memposisikan konsep perwalian sebagai dinamika perkembangan hidup yang sangat urgen dan diperlukan peranannya untuk ikut mengatur atau bahkan menentukan pernikahan seorang wanita, misi yang terkandung dalam interfensi wali adalah menjaga dan mengantisipasi kehormatan, martabat, dan kedudukan perempuan agar tidak terlanjur terpikat atau salah memilih jodoh yang tidak sepadan (sekufu) mengingat perempuan memiliki dorongan biologis yang lebih kuat, maka perlu ada manajemen yang secara sistematis sebagai kontrol.

Kesimpulan

Dari berbagai literatur bacaan, dapat disimpulkan bahwa salah satu dari tujuan perkawinan ialah untuk membentuk rumah tangga bahagia dengan penuh rasa kasih sayang, cinta mencintai yang mesra serta abadi, disertai dengan kerukunan dengan semua anggota keluarga, terutama dengan orang tua kedua belah pihak kalau masih hidup, kerukunan dengan tetangga dan handai taulan.

Mengingat kaum wanita sudah biasa menjadi sorotan kaum pria, jiwanya mudah tersinggung dan syahwat / keinginannya lebih kuat atau lebih banyak dari kaum pria, mudah dirayu dengan perkataan lemah lembut dan menarik hatinya, dan kaum wanita mudah tertarik dan mudah meniru keadaan yang dianggapnya aneh yang berada pada temannya, maka ketika eksistensi perwalian tidak lagi dianggap sebagai prasyarat nikah dalam artian wanita dianggap syah menikahkan dirinya sendiri, maka tidak ada lagi penghargaan terhadap orang tua yang notabene berkeinginan menjaga dan memelihara masa depan anak hingga ia menikah.

Fenomena “kebebasan” pergaulan bukan tidak mungkin membawa dampak negatif yang cukup besar terhadap jiwa ketika perempuan mendapatkan legalitas menikahkan diri tanpa wali. Hal ini tentu sangat bersebrangan dengan tujuan nikah itu sendiri. Wallahu a’lam.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/