Pendekatan Hermeneutika dalam Pendidikan Islam

Pendekatan Hermeneutika dalam Pendidikan Islam

Sebagaimana kita ketahui bahwahermeneutika adalah filsafat ilmu yang berasal dari Yunani. Kita juga ketahui bahwa ciri-ciri  filsafat atau berpikir filosofi adalah bersifat radikal, sistematik, konsisten dan bebas. Dari ciri berfikir filosofi ini, mungkinkah epistemology hermeneutika dapat digunakan dalam pendidikan Islam ?

Untuk menjawab pertanyaan ini, penulis mengemukakan beberapa pendapat sebagai rujukan untuk mengkaji lebih jauh tentang hermeneutika sebagai metode pendekatan dalam Islam.

  1. Menurut Ibnu Sina dengan teori kemungkinan (kontingensi) yang dikutip Toto Suharto,  dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam  bahwa : “ alam ini wujud yang boleh ada dan boleh tidak ada. Karena alam merupakan wujud yang boleh ada, maka alam bukan wujud niscaya. Namun, karena alam juga boleh tidak ada, ia dapat juga disebut  wujud mustahil. Akan tetapi nyatanya alam ini ada  maka ia dipastikan sebagai wujud yang mungkin. Terma “mungkin” menurut Ibnu sina adalah potensial, kebalikan dari actual. Dengan mangatakan bahwa alam ini mungkin pada dirinya, berarti sifat dasar alam adalah potensial, boleh ada dan tidak bias mengada dengan sendirinya. Karena alam itu potensial, ia tidak mungkin ada (mewujud) tanpa adanya sesuatu yang telah actual, yang telah mengubahnya dari potensial menjadi aktualitas. Sesuatu yang actual yang telah mengubah alam potensial menjadi aktualitas, itulah Tuhan yang Wujud Niscaya”.[7])
  2. Prof. Dr. Amsal Bkhtiar, dalam bukunya Filsafat Ilmu, mengemukakan bahwa : “upaya rekonsiliasi (mendekatkan dan mempertemukan)filsafat Yunani dengan pandangan keagamaan dalam Islam (ilmu Islam) sering menimbulkan benturan-benturan. Para filosof muslim mulai dari Al-Kindi sampai Ibnu Rusyd terlibat dalam upaya rekonsiliasi tersebut, dengan cara mengemukakan pandangan-pandangan yang relative unik dan menarik. Usaha-usaha mereka pada gilirannya menjadi alat dalam penyebaran filsafat dan penetrasinya ke dalam studi-studi keislaman lainnya, dan tak diragukan lagi upaya rekonsiliasi oleh para filosof muslim ini menghasilkan afinitas dan ikatan yang kuat antara filsafat arab dan filsafat Yunani”.[8]
  3. Komarudin Hidayat dalam bukunya Memahami Bahasa Agama, sebuah kajian hermeneutic, berpendapat bahwa: “teks-teks keagamaan yang lahir sekian abad yang lalu di Timur Tengah ketika hadir di tengah masyarakat Indonesia kontemporer tentu saja merupakan sesuatu yang asing. “Keterasingan”  inilah yang menjadi perhatian utama hermeneutic. Tugas utama hermeneutic adalah bagaimana menafsirkan sebuah teks klasik  atau teks asing sehingga menjadi milik kita yang hidup di zaman  dan tempat serta suasana budaya yang berbeda”.[9]

sumber :

https://apkmod.co.id/seva-mobil-bekas/