Pendidikan yang Merdeka

Pendidikan yang Merdeka

Pendidikan yang Merdeka

Pendidikan yang Merdeka
Pendidikan yang Merdeka

Tak berlebihan untuk menilai bahwa Mendikbud yang masih belia ini adalah news maker,

paling tidak hingga saat ini. Idenya membuat heboh.

Tidak sedikit yang sinikal dan jengkel tapi banyak juga yang menanggapinya dengan tenang dan bahkan menyambutnya dengan baik. Bahkan belakangan tidak sedikit pelaku pendidikan seperti guru dan dosen serta pimpinan perguruan tinggi yang mendukung ide “kemerdekaan pendidikan” Mendikbud.
Tak kurang, ormas Islam yang paling berpengalaman mengelola pendidikan (termasuk pendidikan tinggi) yaitu Muhammadiyah sedang menyiapkan tanggapan konstruktif. Idenya influensial, paling tidak telah menghangatkan perdebatan dan wacana pendidikan di Indonesia.
Artikel ini tidak dimaksudkan untuk membahas langkah-langkah birokratik-teknokratik yang ditetapkan Mendikbud atau bahkan mengusulkan langkah-langkah lain yang terkait dengan ide “Merdeka Belajar” dan “Kampus Merdeka.” Penulis ingin mengurai sisi lain dari isu ini.
Semantika Merdeka
“Merdeka” adalah technical term yang digunakan oleh Mendikbud dalam gagasannya, bukan kata yang lain misalnya “mencerahkan.” Kalau kita baca Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata merdeka mempunyai tiga arti, yaitu: (1). Bebas dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya, berdiri sendiri (2). Tidak terkena atau lepas dari tuntutan; dan (3). Tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu, leluasa.

Dengan demikian, ide “merdeka belajar” bisa diasumsikan muncul karena pendidikan

kita telah terhambakan, terjajah, sangat tergantung, telalu banyak tuntutan dan tidak leluasa. Tentu perlu pembuktian yang kuat dan diskusi khusus terkait dengan asumsi bahwa pendidikan kita ini terjajah dan menjajah, terbelenggu dan membelenggu dan tentu tidak melahirkan orang-orang yang merdeka tapi melahirkan orang-orang yang “bermental kalah” dan bukan petarung gigih. Riset empirik sangat diperlukan soal ini.
Dalam vocabulary Nusantara, pernah dikenal kata “Mardijkers” (abad ke 17-18) yang berarti “budak yang telah dimerdekakan”. Kata ini sebetulnya serapan dari kata Sanksekerta “Maharadhika” yang berarti “senang dan sejahtera”. Mereka adalah penduduk Batavia para tawanan yang dijadikan budak-belian oleh Belanda. Mereka bekerja sebagai pembantu tukang-tukang Belanda membuat mebel. Mereka dijanjikan akan diberikan kebebasan dengan syarat mau menjadi anggota Gereja Reformasi, gereja bagi penganut agama Kristen, oleh karena itu mereka disebut Mardijker atau “orang yang dimerdekakan”.
Jadi, merdeka adalah “terbebas atau pembebasan dari perbudakan” supaya semakin “senang dan sejahtera”. Jika mengikuti arti kata ini, maka kata merdeka yang digunakan Mendikbud bisa dimaksudkan sebagai upaya “memerdekakan atau membebaskan masyarakat dari berbagai bentuk perbudakan yang sudah dipastikan membelenggu agar masyarakat memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan.”

Seperti di atas, perlu keyakinan penuh dengan evidence yang kuat bahwa masyarakat kita ini memang

“sedang diperbudak dalam berbagai bidang” oleh pikiran atau suatu kekuatan dan karena itu diperlukan perjuangan panjang untuk “melawan, membebaskan” pikiran dan kekuatan itu sekaligus “menawarkan” kehidupan baru yang “menyenangkan dan mensejahterakan” di masa depan melalui pendidikan yang tepat.
Dalam Bahasa Inggris ada beberapa kata yang bermakna “merdeka” antara lain ialah independent, free, sovereign, autonomous, self-reliant, self-sufficient, emancipation, liberation. Jika dikaitkan dengan wacana Mendikbud, maka vocabulary Inggris di atas bisa juga menjadi prinsip-prinsip penting yang semestinya bisa diterapkan dalam dunia pendidikan kita.

 

Sumber :

https://www.kakakpintar.id/