Pengawasan dalam Pandangan Islam

Pengawasan dalam Pandangan Islam

Pengawasan dalam pandangan Islam dilakukan untuk meluruskan yang tidak lurus, mengoreksi yang salah, dan membenarkan yang hak. Pengawasan (control) dalam ajaran Islam (hukum syariah), terbagi menjadi dua hal berikut.

Pertama, control yang bersal dari diri sendiri, yang bersumber dari tauhid dan keimanan kepada Allah swt. Seseorang yakin bahwa Allah pasti mengawasi hambaNya, ia akan bertindak hati-hati.

Ini adalah control yang paling efektif yag berasal dari diri sendiri. Ada sebuah hadis yang menyatakan, “Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kamu berada…”

Taqwa tidak mengenal tempat. Taqwa bukan sekedar di masjid, bukan sekedar  di atas sajadah, melainkan uga ketika beraktifitas di kantor, meja perundingan, dan sebagainya. Taqwa semacam inilah yang mampu menjadi konntrol yang paling efektif. Taqwa seperti ini hanya mungkin tercapai jika para manajer bersama-sama dengan para karuyawan, melakukan kegiatan-kegiatan ibadah secara intensif. Intinya adalah mengahadirkan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, pengawaasan akan lebih efektif jika system pengawasan tersebut juga dilakukan dari luar diri sendiri. System pengawasan itu dapat terdiri atas mekanisme pengawasan dari pemimpin yang berkaitan dengan penyelsaian tugas yang telah didelegasikan, kesesuaian antara pennyelsaian tugas dan perencanaan tugas, dan lain-lain.


  1. Pengawasan yang Baik

Pengawasan yang baik adalah pengawasan yang telah built in ketika menyusun sebuah program. Dalam menyusun program harus ada unsur control di dalamnya. Tujuanna adalah seseorang yang melakukan sebuah pekerjaan merasa bahwa pekerjaannya itu diperhatikan oleh atasan, bukan pekerjaan yang tidak diacuhkan atau dianggap enteng, oleh karena itu, pengawasan terbaik adalah pengawasan yang dibangun dari dalam diri orang yang diawasi dan dari system pengawasan yang baik.

System pengawasan yang baik tidak dapat dilepaskan dari pemberian hukuman (punishment) dan imbalan (reward). Seorang karyawan yang melakukan pekerjaanya dengan baik sebaiknya diberi reward. Bentuk rewad tidak mesti materi, tetapi dapat pula dalam bentuk pujian, penghargaan yang diutarakan di depan karyawan lain, atau bahkan promosi, baik promosi belajar maupun promosi naik pangkat atau jabatan.

Demikian pula, karyawan yang melakukan pekerjaan dengan berbagai kesalahan, bahkan hingga yang merugikan perusahaan harus diberi punishment. Bentuk punishment pun tidak selalu identic dengan kekerasan fisik, melainkan berbentuk teguran, peringatan, skors, bahkan hingga pemecatan. Reward dan punishment itu merupakan pengawasan yang sangat penting.

sumber :