Pengertian dan sejarah singkat hermeneutika

Pengertian dan sejarah singkat hermeneutika

Secara etimologi, hermeneutika berasal dari kata “hermeneuin” yang berarti menafsirkan atau seni memberikan makna (the art of interpretation)[2])

Adapun istilah hermeneutika kerap dihubungkan dengan dengan kata hermes. Hermes dalam mitologi Yunani, adalah seorang dewa yang bertugas membawa pesan-pesan para dewa kepada manusia. Agar pesan itu dipahami manusia, maka hermes terlebih dahulu menafsirkan  lantas menyampaikannya ke dalam bahasa yang dapat dipahami atau dimengerti manusia.

Sebagai sebuah metode penafsiran, hermeneutika mulai dipakai (dalam konteks ilmu pengetahuan klasik) yaitu untuk menafsirkan makna yang terkandung kitab suci, dokumen, jurisprudensi dan juga teks-teks kuno. Adapun dalam focus analisis teks, maka penafsiran difokuskan  pada dua tingkat analisis, yakni :

  1. Pada tingkat pertama atau permukaan, yakni dengan mengemukakan komentar tentang  makna kata dan kalimat.
  2. Pada tingkat ke dua atau tingkat yang lebih dalam, yakni masuk pada analisis yang lebih dalam dengan mencari makna tersembunyi dalam teks (makna alegoris).[3])

Origins (185-254 M) adalah satu contoh tokoh yang mengembangkan model penafsiran  ini menjadi system penafsiran yang kompleks dalam teologi Kristen.

Dalam perkembangan selanjutnya , hermeneutika tidak saja digunakan sebagai  metode menafsirkan teks kitab suci. Pada masa Renaisans metode hermeneutika digunakan dalam rangka mempelajari kembali kebudayaan Yunani dan Romawi klasik. Kini hermeneutika berkembang sebagai metode penafsiran teks dalam pengertian luas yakni melingkupi : tanda, symbol, ritual keagamaan, karya seni, sastra, sejarah, psikologi dan lain-lain. Jadi, hermeneutika adalah metode analisis tentang segala sesuatu yang mengandung makna.[4])

  1. Ruang Lingkup Kajian Epistemologi Hermeneutika

Kajian filsafat pada masa sekarang telah banyak menyumbangkan pemikiran-pemikiran. Baik pemikiran-pemikiran tersebut dalam lingkup kajian-kajian lapangan ilmu-ilmu humaniora maupun ilmu-ilmu keislaman. Bahkan dalam Islam, telah banyak menggunakan metode-metode kajian filsafat yang dikembangkan oleh Barat. Metode-metode seperti Realisme, Empirisme dan Fenomenologi telah menjadi dasar berpikir dalam menemukan kebenaran. Begitu juga metode terbaru yang digunakan yakni metode hermeneutic. Suatu metode penafsiran dalam epistemologi yang menghadirkan cara baru dalam memahami ilmu pengetahuan.

sumber :
https://situsiphone.com/seva-mobil-bekas/