Perkara yang Membatalkan Puasa

Perkara yang Membatalkan Puasa

  1.   Makan dan Minum

        Makan dan minum yang membatalkan puasa ialah dilakukan dengan sengaja. Kalau tidak  sengaja, misalnya lupa, tidak membatalkan puasa.

Memasukan sesuatu kedalam lubang yang ada pada badan, seperti lubang telinga, hidung, dan sebagainya, menurut sebagian ulama sama dengan makan dan minum, artinya membatalkan puasa. Mereka mengambil alas an dengan qias, diqiaskan (disamakan) dengan makan dan minum. Ulama yang lain berpendapat bahwa hal itu tidak membatalkan karena tidak dapat diqiaskan dengan makan dan minum. Menurut pendapat yang kedua itu, kemasukan air sewaktu mandi tidak membatalkan puasa, begitu juga memasukkan obat melalui lubang badan selain mulut, suntik, dan sebagainya, tidak membatalkan puasa karena yang demikian tidak dinamakan makan atau minum.

  1. Muntah yang disengaja, sekalipun tidak ada yang kembali kedalam. Muntah yang tidak disengaja tidaklah membatalkan puasa.

Sabda Rasulullah Saw :

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw, telah berkata, “ Barang siapa terpaksa muntah, tidaklah wajib mengqada puasanya, dan barang siapa yang mengusahakan muntah, maka hendaklah dia mengqada puasanya. “ Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban).

  1. Bersetubuh

Laki-laki yang membatalkan puasanya dengan bersetubuh diwaktu siang hari dibulan Ramadhan, sedangkan dia berkewajiban puasa, maka ia wajib membayar kafarat. Kafarat ini ada 3 tingkat :

  1. Memerdekakan hamba
  2. Kalau tidak sanggup memerdekakan hamba puasa dua bulan berturut-turut.
  3. Kalau tidak kuat puasa bersedekah dengan makanan yang mengenyangkan kepada enam puluh fakir miskin, tiap-tiap orang ¾ liter.
  4. Keluar darah haid (kotoran) atau nifas (darah sejabis melahirkan).

“ Dari Aisyah. Ia berkata, “ Kami disuruh oleh Rasulullah Saw. Mengqada puasa, dan tidak disuruhnya untuk mengqada shalat. “ (Riwayat Bukhari)

  1. Gila, jika gila itu dating waktu siang hari, batallah puasa.
  2. Keluar mani dengan sengaja (karena bersentuhan dengan perempuan atau lainnya). Karena keluar mani itu adalah puncak yang dituju orang pada persetubuhan, maka hukumnya disamakan dengan bersetubuh. Adapun keluar mani karena bermimpi, mengkhayal, dan sebagainya, tidak membatalkan puasa.

sumber :