Sistem Akuntansi di Lingkungan

Sistem Akuntansi di Lingkungan

Sistem Akuntansi di Lingkungan

Sistem Akuntansi di Lingkungan
Sistem Akuntansi di Lingkungan

Pengaruh Lingkungan terhadap Bisnis dan Manajemen

Pentingnya dari pengaruh lingkungan terhadap praktek bisnis dan manajemen pertama kali ditemukan oleh Richard Farmer dan Barry Richman dalam judul International Business, sebuah analisis klasik tentang faktor pendidikan, budaya-sosial, hukum, dan politik dan ekonomi dalam proses menjalankan bisnis. Yang terpenting dari temuan ini adalah bagaimana pengaruh tersebut dapat menjelaskan sebuah bisnis dapat dikembangkan secara berbeda dari negara yang satu dengan negara yang lain. Dengan kata lain, perbedaan lingkungan nasional yang menaungi sebuah bisnis menjelaskan perbedaan operasi bisnis di tiap negara. Sebagai contoh, jika hukum sebuah negara yang melarang negara tersebut untuk membuat jumlah tenaga kerjanya berlebih setelah periode waktu tertentu sedangkan negara yang lain tidak punya hukum tersebut, maka praktek ketenagakerjaan di kedua negara tersebut pastilah berbeda. Sama halnya juga dengan praktek pasar modal yang ada di suatu negara tapi di negara lain tidak ada, maka metode perolehan model dari bisnis yang ada di kedua negara tersebut pasti berbeda.

Perlu diperhatikan bahwa sebuah korporasi (atau perusahaan) tidak perlu beradaptasi secara pasif pada lingkungan dimana bisnis itu beroperasi. Perusahaan itu dapat memodifikasi atau mengubah karakter lingkungan dari negara tersebut sambil mencoba menerapkan perubahan akuntansi yang dapat dipergunakan lebih efektif dan efisien. Sebagai contoh, sebuah hukum dapat menolak beberapa aktivitas bisnis maka perusahaan dapat merubah hukum tersebut dengan didukung oleh pihak-pihak tertentu yang mampu mengubah hukum itu atau dengan melakukan negosiasi terhadap negara yang bersangkutan.

Ada dua catatan penting yang harus diingat dari pembahasan bab ini tentang pengaruh lingkungan terhadap operasi akuntansi sebuah perusahaan. Pertama, analisis lingkungan dapat menjadi alat dalam menjelaskan dan memahami perbedaan bagaimana sebuah bisnis dioperasikan di negara yang berbeda.

Kedua, penyesuaian budaya negara yang berarti rasionalitas dari kebiasaan apapun di negara tersebut dinilai sebagai konteks budaya yang sebenarnya dan bukan dilihat dari sudut pandang yang lain. Misalnya, kita tidak bisa menilai rasionalitas budaya masyarakat Indonesia dari sudut pandang budaya dan nilai-nilai negara Amerika atau sebaliknya. Di dunia ini begitu banyak bisnis yang terlihat tidak logis dan irrasional, seperti proses negosiasi. Ketika terdapat pemahaman budaya di sebuah negara, yang terlihat tidak logis sebenarnya adalah logiskarena itulah kebiasaan yang berlaku di lingkungan tersebut.

Terlalu banyak asumsi tidak benar bahwa melakukan bisnis dengan cara negara asal lebih baik daripada dari cara di negara asing dan bila cara negara asal diubah menjadi cara di negara asing dimana korporasi beroperasi bisa lebih sukses. Kesimpulannya, asumsi ini dinyatakan salah menurut kerugian yang dialami korporasi daripada tingkat kontribusi yang sudah diberikan korporasi.

Sumber : https://merkbagus.id/