Strategi pada Subsistem Hilir

Strategi pada Subsistem Hilir

  1. Memfasilitasi tersedianya RPH skala kecil dan menengah yang memiliki fasilitas pendingin (cold storage) memadai untuk penyimpanan daging segar/beku yang tidak terserap pasar (2006-2010).
  2. Meningkatkan efisiensi, higienis dan daya saing dalam pengolahan daging, jerohan dan kulit disesuaikan dengan permintaan/ keinginan konsumen (2006-2010).
  3. Mengembangkan diversifikasi produk olahan daging oleh pihak swasta (2007-2010).
  4. Pengembangan industri kompos dan meningkatkan mutu pengolahan limbah dan kotoran lainnya sehingga mempunyai nilai tambah lebih (melibatkan rakyat dan swasta) (2006-2010).
  5. Pengembangan pembuatan biogas sebagai sumber energi lokal yang berkelanjutan bagi keperluan bahan bakar keluarga (2006-2010).
  6. Strategi pada Subsistem Perdagangan Dan Pemasaran
  7. Peningkatan efisiensi pemasaran ternak sapi dan hasil ikutannya melalui usaha pemasaran bersama dan melakukan pemendekan rantai pemasaran. Oleh karena itu kelembagaan kelompok petani-ternak dan sistem pemeliharaan kelompok perlu diperkuat/dikembangkan (2006-2010).
  8. Fasilitas transportasi untuk mendukung pemasaran ternak antar daerah atau antar pulau perlu dikembangkan/ditingkatkan (2006-2010).
  9. Mengembangkan pola usaha peternakan yang mendekati pasar dengan sistem/pola inti-plasma yang dimodifikasi agar lebih berpihak kepada peternak rakyat (2006-2010).
  10. Promosi dan positioning product bahwa daging sapi lokal merupakan produkorganic farming(2006 – 2010).
  11. Strategi pada Subsistem Penunjang dan Kebijakan
  12. Kebijakan teknis :

  13. Mengembangkan agribisnis sapi pola integrasi tanamanternak berskala besar dengan pendekatan LEISA danzerowaste, terutama di perkebunan.
  14. Mengembangkan dan memanfaatan sapi lokal unggul sebagai bibit melalui pelestarian, seleksi dan persilangan dengan sapi introduksi.
  15. Mengevaluasi kelayakan penerapan persilangan, teknologi IB, pengembangan BIB Daerah, teknologi embrio transfer secara selektif.
  16. Memanfaatkan teknologi veteriner untuk menekan angka kematian sapi
  17. Mengembangkan dan memanfaatkan produksi biogas dan kompos secara masal untuk memperoleh nilai tambah ekonomis bagi peternak.
  18. Pengembangan SNI produk kompos.
  19. Kebijakan regulasi :
  20. Mencegah terjadinya pemotongan hewan betina produktif dan ternak muda dengan ukuran kecil yang jumlahnya masih sangat tinggi. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan peraturan yang berlaku melalui pendekatan sosial-budaya masyarakat setempat.
  21. Melarang ekspor sapi betina produktif, terutama sapi lokal yang sudah terbukti keunggulannya (terutama sapi Bali), karena selain memicu terjadinya pengurasan sapi di dalam negeri juga ekspor bibit sapi tersebut akan memberi kesempatan negara pengimpor untuk mengembangkan plasma nutfah Indonesia dan menjadi kompetitor produsen sapi di kemudian hari.
  22. Mencegah dan melarang masuknya daging dari negara yang belum bebas penyakit berbahaya, terutama PMK, BSE dan penyakit lainnya sesuai anjuran OIE, serta memberantas masuknya daging illegal yang tidak ASUH.


III.              Kesimpulan

3.1       Kesimpulan

1 . Laju pertambahan  penduduk   yang   semakin   meningkat,   mempengaruhi   akan     meningkatnya   permintaan daging sapi secara Nasional.

  1. Produksi sapi bakalan belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri,sehingga Volume import sapi bakalan dan daging sapi  tahun 2005-2009 masih relatif tinggi dan berfluktuatif,karena usaha peternakan sapi masih didominasi oleh peternakan rakyat.
  2. Kinerja Agribisnis Sapi Potong di Indonesia masih rendah,sehingga diperlukan strategi untuk mempercepat agribisnis sapi potong melalui sistem pembibitan yang baik,efektif dan efisien.

4.- Strategi dan Implementasi agribisnis sapi potong ditempuh melalui program pemerintah dengan menerapkan sistem agribisnis  mulai dari Hulu,Hilir, perdagangan dan pemasaran serta unsur penunjang lainnya.

sumber :
https://apartemenjogja.id/diamo-xl-10-apk/