Tujuan Pendidikan Berdasarkan Sosial Budaya

Tujuan Pendidikan Berdasarkan Sosial Budaya

Sosiologi Pendidikan sebagaimana dikatakan oleh S. Nasution adalah ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk memperoleh perkembangan kepribadian individu. Adapun tujuan nya adalah sebagai berikut :

  1. Bertujuan untuk menganalisis proses sosialisasi anak, baik dalam keluarga, sekolah maupun dalam masyarakat.
  2. Bertujuan menganalisis perkembanagn dan kemajuan sosial. Banyak pakar berpendapat bahwa pendidikan memberikan kemungkinan yang besar bagi kemajuan masyarakat.
  3. Bertujuan menganalisis status pendidikan dalam masyarakat.
  4. Bertujuan menganalissi partisipasi orang terdidik/berpendidikan dalam kegiatan sosial.
  5. Bertujuan membantu menentukan tujuan pendidikan.
  6. Bertujuan memberi pendidik (termasuk peneliti dan mereka yang terkait dalam dunia pendidikan) dengan latihan yang efektif dalam bidang sosiologi sehingga dapat memberikan sumbangan solusi pada masalah pendidikan.

Tujuan sosiologi pendidikan pada dasarnya untuk mempercepat dan meningkatkan pencapaian tujuan pendidikan. Karena itu sosiologi pendidikan tidak menyimpang dari tujuan pendidikan. Pendidikan diselenggarakan untuk manusia Indonesia, sehingga memiliki kemampuan mengembangkan diri, meningkatan mutu kehidupan, meningkatkan martabat dalam rangka tujuan pendidikan nasional.

Saat kelahirannya, anak manusia dalam keadaan tak berdaya, karena naluri yang dibawa ketika kelahirannya relatif tidak lengkap. Anak manusia yang baru lahir, sekalipun ia telah mempunyai ascribed status (sebagai anak), namun ia belum tahu status dan peranannya itu. Ia juga belum tahu dan belum mampu melaksanakan berbagai status dan peranan lainnya di dalam masyarakat yang harus diraihnya (achieved status). Demikian pula mengenai kebudayaan masyarakatnya.Ia belum memiliki sistem nilai, norma, pengetahuan, adat kebiasaan, serta belum mengetahui dan belum dapat menggunakan dengan tepat berbagai benda sebagai hasil karya masyarakatnya. Anak manusia harus belajar dalam waktu yang relatif lebih panjang untuk mampu melaksanakan berbagai peranan sesuai statusnya dan sesuai kebudayaan masyarakatnya.

Berbagai peranan harus dipelajari oleh anak (individu anggota masyarakat) melalui proses sosialisasi; adapun mengenai kebudayaan perlu dipelajarinya melalui enkulturasi Jika anak tidak mengalami sosialisasi dan/atau enkulturasi, maka ia tidak akan dapat berinteraksi sosial, ia tidak akan dapat melakukan tindakan sosial sesuai status dan peranannya serta kebudayaan masyarakatnya

Apabila ditinjau dari sudut pandang sosiologi, pendidikan identik dengan sosialisasi, sedangkan apabila ditinjau dari sudut pandang antropologi, pendidikan identik dengan enkulturasi.Dalam kehidupan yang riil antara sosialisasi dan enkulturasi akan sulit untuk dapat dipisahkan, sebab di dalam proses sosialisasi hakikatnya terjadi juga proses enkulturasi, sebaliknya, bahwa di dalam proses enkulturasi juga terjadi proses sosialisasi. Sehubungan dengan itu, maka hendaknya dipahami bahwa pendidikan hakikatnya meliputi sosialisasi dan enkulturasi.

Selanjutnya perubahan sistem pengetahuan meyangkut lima aspek sekaligus, yaitusbb: (1) dari egosentrisme ke sivilitas, (2) dari pengabaian hukum ke kesadaran hukum,(3) dari fanatisme ke toleransi, (4)dari cukup diri ke saling bergantung, serta (5) darisejarah alamiah ke sejarah yang manusiawi. Di sisi lain perubahan budaya politik jugamenyangkut lima aspek sekaligus, yaitu sbb : (1) dari kawula ke warga negara, (2) dariparokial ke kenegaraan, (3) dari negara serba kuasa ke negara serba sahaja, (4) dariPancasila sebagai ideologi ke ilmu , dan (5) dari Pancasila yang terpisah ke yang satu.

Untuk menjalankan perubahan budaya tersebut diperlukan adanya dukunganpendidikan.Oleh karena dalam realitasnya kinerja pendidikan nasional kita masih rendahmaka persoalannya sekarang ialah bagaimana membenahi pendidikan itu sendiri untukmeningkatkan kualitas manusia supaya bisa berperan dalam mengubah budaya bangsaagar kondusif terhadap pembangunan nasional.

Belum memuaskannya kinerja pendidikan di negara kita tidak lepas dari visi kepemimpinan kolektif pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah. Sangat Ironis,negara Indonesia yang sangat kaya dengan sumber daya alam ternyata kurang memilikipemimpin yang mempunyai visi kepemimpinan jauh ke depan serta komitmen yang tinggiuntuk membangun bangsa melalui pendidikan[

  1. Tujuan Pendidikan Berdasarkan Ekonomi

Jika berbicara mengenai ekonomi dan pendidikan maka tidak terlepas dari  “Suatu kegiatan mengenai bagiamana manusia dan masyarakat memilih, dengan atau tanpauang, untuk memanfaatkan sumber daya produktif yang langka untuk menciptakan berbagai jenis pelatihan, pengembangan pengetahuan, keterampilan, pikiran, watak, dan lain-lain, terutama melalui sekolah formal dalam suatu jangka waktu dan mendistribusikannya, sekarang dan kelak, di kalangan masyarakat”. Intinya, ekonomi pendidikan berkaitan dengan :

  1. Proses pelaksanaan pendidikan
  2. Distribusi pendidikan di kalangan individudan kelompok yang memerlukan
  3. Biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat atau individu untuk kegiatan pendidikan, dan jenis kegiatan apa yang dibutuhkan.

Masalah-Masalah Pokok Ekonomi Pendidikan Karena proses pendidikan melibatkan penggunaan sejumlah sumber daya yang langka, timbulah sejumlah permasalahan yang jawabannya harus dipandang dari sudut analisa ekonom. Untuk dapat menemukan solusi yang memadai, diperlukan pemikiran-pemikiran Ekonom dan kerja sama dari para ahli pendidikan, sosiologi, psikologi dan sebagainya. Terdapat lima pokok permasalahan yang berkaitan dengan persoalan ini, yaitu :

  1. Identifikasi dan pengukuran nilai-nilai ekonomi pendidikan, Dalam hal ini, meliputi bagaimana perhitungan atau estimasi dari biaya pendidikan yang dikeluarkan dan keuntungan pendidikan yang diperoleh
  2. Alokasi sumber daya dalam pendidikan Proses pendidikan meliputi hasil keluaran proses pendidikan dari penetapan sejumlah input dalam pendidikan
  3. Gaji guru Disesuaikan dengan tingkat dan faktor penentu kemampuan yang dimilikinya
  4. Anggaran/Keuangan pendidikan. Siapakah yang harus membayar pendidikan ? Apakah pemerintah harus mendukung pendidikan di sektor pemerintah adan swasta ? Jika ya, Pada level yang yang mana pemerintah harus mengambil bagiannya ? Jika ada subsidi, apakah harus diberikan pada lembaga pendidikannya atau pada peserta didiknya ?
  5. Perencanaan pendidikan, Meliputi pembahasan perencanaan pelaksanaan pendidikan yang masuk akal, berbagai macam pendekatan terhadap perencanaan, dan beberapa makro dan mikro dari model perencanaan yang tersedia/disediakan. Ada hal yang perlu diperhatikan, yaitu pada tatanan filosofis bahwa pendidikan itu merupakan lembaga non profit, oleh karena itu kegiatan ekonomi yang bersifat ekploitatif dengan menempatkan kegiatan pendidikan sebagi lahan yang menghasilkan nilai dengan uang adalah salah

Tujuan pendidikan tidaklahdapat tercapai apabila tidak ada unsur ekonomi yang melatarbelakanginya. Sebaliknya, ekonomi tidak akan dapat berkembang dan stabil apabila tidak didukung oleh Pendidikan sebagai pencetak SDM yang dibutuhkan oleh suatu bangsa.

  1. Tujuan Pendidikan Berdasarkan Politik

Pendidikan dan politik adalah dua elemen penting dalam sistem sosial politik disetiapp negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Lembaga dan proses pendidikan berperan penting falam membentuk perilaku politik masyarakat di negara tersebut. Begitu juga sebaliknya, lembaga dan proses politik disutau negara mambawa dampak besar pada karakteristik pendidikan di negara tersebut.

            Sebagaicontoh di negara Islam, keterkaitan antara pendidikan dan politik jelas terlihat. Sejarah peradaban Islam banyak ditandai dengan kesungguhan para ulama dalam memperhatikan persoalan pendidikan dalam upaya memperkuat posisi sosial politik kelompok dan pengikutnya. Mislanya yang terjadi dalam kasus madrasah Nizhamiyah :

baca juga ;