Ucapan Khulu’ dan Masa Iddah

Ucapan Khulu’ dan Masa Iddah

Ucapan Khulu’ dan Masa Iddah

Ucapan Khulu’

Mengenai ucapan atau lafadl khulu’ para ulama terbagi kepada dua kelompok. Pertama, kelompok yang berpendapat bahwa untuk sahnya khulu’ haruslah diucapkan dengan menggunakan kata khulu’ atau kata yang diambil dari kata khulu’ atau kata lain yang mempunyai arti seperti khulu’, umpamanya mubara’ah (membebaskan) atau fidyah (tebusan). Apabila tidak dengan kata khulu’ atau kata yang tidak bermakna khulu’ maka tidak termasuk khulu’, seperti suami berkata: “engkau tertalaq (anti taliqun)” sebagai imbalan barang/uang seharga …., lalu isteri mau menerimanya. Maka perbuatan ini adalah talak dengan imbalan harta. Talaknya jatuh tetapi uangnya bukan khulu’.
Ibnul Qayim membantah pendapat di atas, ia mengatakan: barangsiapa mau memikirkan hakekat dan tujuan aqad atau perjanjian, bukan hanya melihat kata-kata yang diucapkan saja, tentu akan menganggap khulu’ sebagai fasakh, walaupun diucapkan dengan kata apapun juga, dengan kata talaq sekalipun. Alasannya, bahwa dalam kasus isteri Tsabit bin Qais, Nabi menyuruh Tsabit bin Qais mentalak isterinya secara khulu’ dengan sekali talak dan Nabi menyuruh isteri Tsabit beriddah dengan satu kali haid. Hal ini secara jelas menunjukkan fasakh, sekalipunterjadinyaperceraian dengan ucapan talak. Allah juga menghubungkannya dengan fidyah, karenamemangadatebusannya.Sudah maklum bahwa fidyah tidak mempunyai pernyataan dengan kata-kata khusus dan Allah tidak menetapkan lafadh yang khusus untuk itu. Thalaq dengan tebusan sifatnya terbatas, dan tidak tergolong kedalam hukum thalaq yang dibolehkan ruju’ kembali dan beriddah dengan tiga kali masa bersih hadits seperti ketentuan sunnah yang sah.

Iddah Istri yang Dikhulu’

Dalam hadis riwayat an-Nasai’ dari Muawidz bin ‘Afra’ mengenai khulu’nya istri Tsabit bin Qais :
خذ الذي لها عليك و خل سبيلها قال نعم فامرها رسول الله صلى الله عليه وسلم انتتربص حيضة وا حدة فتلحق با هلها (رواه النسا ء)
Ambillah miliknya untukmu dan mudahkanlah urusannya. Tsabit menjawab : ya. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan istri Tsabit beriddah satu kai haid dan dikembalikan kepada keluarganya.
Menurut hadis di atas bahwa iddahnya istri yang dikhulu’ itu hanya satu kali haid. Demikianlah pendapat Usman bin Affan, Ibnu Abbas, Abdullah bin Umar, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih (guru Imam Bukhari), Ibnu Taimiyah. Sedangkan jumhur ulama berpendapat bahwa iddahnya istri yang dikhulu’ ialah tiga kali quru’ kalau mereka masih haid.
Menurut Ibnu Taimiyah, dalam talak biasa iddah itu tiga kali quru’ adalah untuk memperpanjang masa ruju’, agar suami bisa berpikir panjang untuk dapat meruju’ istrinya dalam masa iddah. Sedangkan dalam khulu’ ruju’ itu tidak ada, maka iddahnya hanya satu kali haid, ssdimaksudkan hanya untuk membersihkan kandungan saja.

Baca Juga: