Wahyu pertama Nabi Muhammad Saw

Wahyu pertama Nabi Muhammad Saw

Wahyu pertama Nabi Muhammad Saw

Wahyu pertama Nabi Muhammad Saw
Wahyu pertama Nabi Muhammad Saw

Wahyu pertama

Menjelang usianya yang ke-40, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sering berkhalwat (menyendiri) ke Gua Hira, sekitar 6 km sebelah timur kota Mekah. Ia bisa berhari-hari bertafakur dan diberibadah disana. Suatu ketika, pada tanggal 17 Ramadhan/6 Agustus 611, ia melihat cahaya terang benderang memenuhi ruangan gua itu. Tiba-tiba Malaikat Jibril muncul di hadapannya sambil berkata, “Iqra’ (bacalah).” Lalu Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam menjawaban, “Mâ anâ bi qâri’ (aku tidak sanggup membaca).” Mendengar jawabanan Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, Jibril kemudian memeluk tubuh Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dengan sangat erat, kemudian melepaskannya dan kembali menyuruh Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam membaca. Namun sehabis dilakukan hingga 3 kali dan Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam tetap mempersembahkan jawabanan yang sama, Malaikat Jibril kemudian memberikan wahyu Allah Subhanahu Wa Ta’ala pertama, yang artinya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Menciptakan. Ia membuat insan dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah yang Paling Pemurah. yang mengajar (manusia) dengan mediator kalam. Dia mengajarkan kepada insan apa yang tidak diketahuinya.” (QS. 96: 1-5)

Saat itu Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam berusia 40 tahun 6 bulan 8 hari berdasarkan perhitungan tahun kamariah (penanggalan berdasarkan bulan), atau 39 tahun 3 bulan 8 hari berdasarkan perhitungan tahun syamsiah (penanggalan berdasarkan matahari). melaluiataubersamaini turunnya 5 ayat pertama ini, berarti Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam sudah dipilih oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai rasul.

Sesudah pengalaman luar biasa di Gua Hira tsb, dengan rasa ketakutan dan cemas Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam pulang ke rumah dan berseru pada Khadijah, “Selimuti aku, selimuti aku.” Sekujur tubuhnya terasa gerah dan hambar berganti-ganti. Sesudah lebih tenang, barulah ia menceritakan kepada istrinya. Untuk lebih menenangkan hati suaminya, Khadijah mengajak Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam hadir pada saudara sepupunya, Waraqah bin Naufal, yang banyak mengetahui kitab-kitab suci Katolik dan Yahudi. Mendengar kisah yang dialami Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam, Waraqah pun berkata, “Aku sudah bersumpah dengan nama Tuhan, yang dalam tangan-Nya terletak hidup Waraqah, Tuhan sudah memilihmu menjadi nabi kaum ini. An-Nâmûs al-Akbar (Malaikat Jibril) sudah hadir kepadamu. Kaummu akan menyampaikan bahwa engkau penipu, mereka akan memusuhimu, dan mereka akan melawanmu. Sungguh, sekiranya saya sanggup hidup pada hari itu, saya akan berjuang membelamu.”

Dakwah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam

Baca Juga: Ayat Kursi

Wahyu diberikutnya yaitu surat Al-Muddatsir: 1-7,
yang artinya: Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, kemudian diberilah peringatan! dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu membersihkankanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan tidakbolehlah engkau memdiberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah. (QS. 74: 1-7)

melalui atau bersamaini turunnya surat Al-Muddatsir ini, mulailah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam berdakwah. Mula-mula ia melakukannya secara sembunyi-sembunyi di lingkungan keluarga dan rekan-rekannya.
Orang pertama yang menyambut dakwahnya yaitu Khadijah, istrinya. Dialah yang pertama kali masuk Islam. Menyusul sehabis itu yaitu Ali bin Abi Thalib, saudara sepupunya yang kala itu gres berumur 10 tahun, sehingga Ali menjadi lelaki pertama yang masuk Islam. Kemudian Abu Bakar, sahabat akrab karibnya semenjak masa kanak-kanak. Baru kemudian diikuti oleh Zaid bin Haritsah, bekas budak yang sudah menjadi anak angkatnya, dan Ummu Aiman, pengasuh Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam semenjak ibunya masih hidup.

Abu Bakar sendiri kemudian berhasil mengislamkan beberapa orang mitra dekatnya, seperti, Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’d bin Abi Waqqas, dan Talhah bin Ubaidillah. Dari dakwah yang masih rahasia ini, belasan orang sudah masuk Islam.

Sesudah beberapa lama Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menjalankan dakwah secara diam-diam, turunlah perintah biar Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam menjalankan dakwah secara terang-terangan. Mula-mula ia mengundang kerabat karibnya dalam sebuah jamuan. Pada peluang itu ia memberikan ajarannya. Namun ternyata spesialuntuk sedikit yang menerimanya. Sebagian menolak dengan halus, sebagian menolak dengan kasar, salah satunya yaitu Abu Lahab.
Langkah dakwah seterusnya diambil Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam dalam pertemuan yang lebih besar. Ia pergi ke Bukit Shafa, sambil berdiri di sana ia berteriak memanggil orang banyak. Karena Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam yaitu orang yang terpercaya, penduduk yakin bahwa pastilah terjadi sesuatu yang sangat penting, sehingga mereka pun berkumpul di sekitar Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam.

Untuk menarik dan unik perhatian, mula-mula Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam berkata, “Saudara-saudaraku, kalau saya berkata, di belakang bukit ini ada pasukan musuh yang siap menyerang kalian, percayakah kalian?”
melaluiataubersamaini sekaligus mereka menjawaban, “Percaya, kami tahu saudara belum pernah berbohong. Kejujuran saudara tidak ada duanya. Saudara yang mendapat gelar al-Amin.” Kemudian Nabi Shallallahu Alaihi Wassalam meneruskan, “Kalau demikian, dengarkanlah. Aku ini yaitu seorang nazir (pemdiberi peringatan). Allah sudah memerintahkanku biar saya memperingatkan saudara-saudara. Hendaknya engkau spesialuntuk menyembah Allah saja. Tidak ada Tuhan selain Allah. Bila saudara ingkar, saudara akan terkena azabnya dan saudara nanti akan menyesal. Penyesalan kemudian tidak ada gunanya.”

Tapi khotbah ini ternyata membuat orang-orang yang berkumpul itu marah, bahkan sebagian dari mereka ada yang mengejeknya gila. Pada ketika itu, Abu Lahab berteriak, “Celakalah engkau hai Muhammad. Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?”

Sebagai tanggapan terhadap ucapan Abu Lahab tsb turunlah ayat Al-Qur’an yang artinya:
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya ia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak ia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) isterinya, pembawa kayu bakar. yang di lehernya ada tali dari sabut. (QS. 111: 1-5)